Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari al-Ju’fi. Akan tetapi beliau lebih terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, karena beliau lahir di kota Bukhara, Turkistan.
Al-Imam Al Bukhori sangat terkenal akan kecerdasan dan kekuatan hafalannya. Dikisahkan, bahwa suatu ketika para imam hadits menguji pengetahuan imam Bukhori tentang sanad hadits (kredibilitas para perawi dan susunannya) yang jarang diketahui oleh para ulama hadits. Beliau diberikan catatan yang berisikan hadits dan sanad yang telah dicampuradukkan, dan dibolak-balikkan susunan perawinya. Beliau pun membetulkan dan menertibkan para perawi semua hadits-hadits itu dengan hafalannya seperti semula.
Beliau
mempunyai karya monumental di bidang hadits yaitu kitab beliau yang diberi judul Al Jami’ al-Musnad atau Shahih al-Bukhari. Karena karya monumental itulah, beliau mendapat gelar Amir mukminin dalam hadits. Namun bukan soal gelar itu yang sejatinya membuat kita menaruh hormat terhadap beliau, tetapi atas ketekunan, keteguhan, intelektualitas yang tinggi, dan tentu saja yang lebih penting adalah komitmen beliau untuk senantiasa menjaga kemurnian Islam sehingga melahirkan sikap kehati-hatian di dalam memilih dan memilah hadits-hadits yang beliau tulis. Bahkan beliau tidak pernah menulis satu hadits pun kecuali setelah sholat istikhoroh dua rakaat untuk meminta pertolongan kepada Alloh
.
Maka, setelah penelitian seluruh para ahli hadits terhadap hadits-hadits dalam kitab Shohih al-Bukhori, mereka pun berbondong-bondong menyepakati akan kebenaran semua hadits-hadits yang tercantum didalamnya, sehingga karya Imam Bukhori ini menjadi rujukan utama setelah kitab suci al-Qur'an Al-Karim.
Selain itu, ketakwaan dan keshalihan al-Imam al-Bukhari merupakan sisi lain yang patut kita jadikan tauladan. Sulaim
berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail.”
Pada akhirnya, sampai akhir hayat menjelang, tepatnya pada malam Idul Fitri 256 H di usia 62 tahun, keteguhan beliau untuk menjaga kemurnian salah satu sumber Islam tidak pernah bergeser sedikit pun.
Subhanallah... Sebuah usaha besar dalam menjaga sumber hukum kedua setelah al-Qur’an yang dipadukan dengan kewara’an, kezuhudan dan ketakwaan kepada Alloh
menjadikan jejak beliau patut senantiasa kita telusuri dan aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari kita. Dan senantiasa perlu direnungi dan dipertanyakan pada diri kita masing-masing. Apa kita sudah memberikan sesuatu yang berharga untuk umat ini?
Al-Imam Al Bukhori sangat terkenal akan kecerdasan dan kekuatan hafalannya. Dikisahkan, bahwa suatu ketika para imam hadits menguji pengetahuan imam Bukhori tentang sanad hadits (kredibilitas para perawi dan susunannya) yang jarang diketahui oleh para ulama hadits. Beliau diberikan catatan yang berisikan hadits dan sanad yang telah dicampuradukkan, dan dibolak-balikkan susunan perawinya. Beliau pun membetulkan dan menertibkan para perawi semua hadits-hadits itu dengan hafalannya seperti semula.
Beliau
mempunyai karya monumental di bidang hadits yaitu kitab beliau yang diberi judul Al Jami’ al-Musnad atau Shahih al-Bukhari. Karena karya monumental itulah, beliau mendapat gelar Amir mukminin dalam hadits. Namun bukan soal gelar itu yang sejatinya membuat kita menaruh hormat terhadap beliau, tetapi atas ketekunan, keteguhan, intelektualitas yang tinggi, dan tentu saja yang lebih penting adalah komitmen beliau untuk senantiasa menjaga kemurnian Islam sehingga melahirkan sikap kehati-hatian di dalam memilih dan memilah hadits-hadits yang beliau tulis. Bahkan beliau tidak pernah menulis satu hadits pun kecuali setelah sholat istikhoroh dua rakaat untuk meminta pertolongan kepada Alloh
. Maka, setelah penelitian seluruh para ahli hadits terhadap hadits-hadits dalam kitab Shohih al-Bukhori, mereka pun berbondong-bondong menyepakati akan kebenaran semua hadits-hadits yang tercantum didalamnya, sehingga karya Imam Bukhori ini menjadi rujukan utama setelah kitab suci al-Qur'an Al-Karim.
Selain itu, ketakwaan dan keshalihan al-Imam al-Bukhari merupakan sisi lain yang patut kita jadikan tauladan. Sulaim
berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail.” Pada akhirnya, sampai akhir hayat menjelang, tepatnya pada malam Idul Fitri 256 H di usia 62 tahun, keteguhan beliau untuk menjaga kemurnian salah satu sumber Islam tidak pernah bergeser sedikit pun.
Subhanallah... Sebuah usaha besar dalam menjaga sumber hukum kedua setelah al-Qur’an yang dipadukan dengan kewara’an, kezuhudan dan ketakwaan kepada Alloh
menjadikan jejak beliau patut senantiasa kita telusuri dan aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari kita. Dan senantiasa perlu direnungi dan dipertanyakan pada diri kita masing-masing. Apa kita sudah memberikan sesuatu yang berharga untuk umat ini?