Senin, 04 Januari 2010

GELOMBANG KEBANGKITAN DAN KETERPURUKAN DALAM SEJARAH

Kehidupan umat manusia timbul dan tenggelam dalam samudera sejarah. Keterpurukan dan kebangkitan datang silih berganti.
Nabi Adam  yang telah bangkit kembali dari sebuah “keterjatuhan kecil”, turun sebagai “Insan bangkit” dengan status sebagai seorang nabi. Sepuluh generasi setelah turunnya Adam  ke bumi, manusia berada di dalam kehidupan tauhid, berkat penjagaan dari Alloh   dan perjuangan para ulama dan da’i yang mengobarkan cahaya petunjuk serta mengawalnya. Sampai datang suatu ketika sebuah generasi tergelincir dan terpuruklah generasi yang sesudahnya.
Kemudian Alloh   mengutus Nuh  untuk membangkitkan kaumnya dari keterpurukan ruhani total. Mereka telah menghinakan diri mereka sendiri dengan menyembah berhala-berhala mati dan mengikuti selain syariat Alloh . Nuh  pun mendakwahi kaumnya selama 950 tahun, tetapi yang beriman hanyalah sedikit, belasan orang menurut suatu riwayat dan delapan puluhan menurut riwayat lainnya. Mereka yang tidak beriman pun terbinasakan. Suatu keter-purukan duniawi yang diakibatkan oleh keengganan untuk bangkit dari keterpurukan ruhani. Sedangkan keterpurukan ukhrawi yang menanti mereka jauh lebih dahsyat. Kemudian kehidupan manusia pun berlanjut dalam kebangkitan untuk terpuruk sekali lagi di rentang generasi-generasi yang selanjutnya. Para Rosul dan nabi pun diutus untuk mempelopori gerakan kebangkitan di negeri masing-masing. Manusia pun timbul dan tenggelam antara keterpurukan dan ke-bangkitan silih berganti. Sampai datang suatu zaman, ketika mereka kembali terpuruk dan menjadi hamba-hamba untuk berhala-berhala terhina serta mengikuti syariat pemujaan setan dan beban-beban dari selain hukum Alloh .
Maka diutuslah  Ibrahim  untuk merintis sebuah gerakan ke-bangkitan, mendakwahkan kaumnya untuk bangkit meninggalkan keterpurukan total, yaitu kesyirikan. Berimanlah yang beriman dan kafirlah yang kafir. Kemudian gelombang gerakan-gerakan kebangkitan yang dipimpin para Rosul dan nabi pun berlangsung terus. Sampai saatnya Musa  diutus untuk menyadarkan Fir’aun dan kaumnya serta menyelamatkan Bani Isroil dari keterpurukan ruhani dan duniawi. Fir’aun yang membangkang dengan segenap bala tentaranya ditenggelamkan di laut. Setelah Musa  wafat terpecahlah kaumnya. Satu golongan konsisten mengikuti jejak Musa ,,, yaitu jejak kemurnian. Sedangkan 70 golongan lagi terpuruk di keterpurukan nisbi (tidak sampai keluar dari Islam) dan sisanya terpuruk di keterpurukan total (keluar dari Islam).
Kemudian diutuslah Isa bin Maryam . Bangkitlah mereka yang beriman kepada Isa  dari keterpurukan dan tetaplah yang tidak beriman berada dalam keterpurukan total. Setelah Isa  diangkat oleh Alloh   ke langit, selama beberapa generasi kaum yang beriman kepadanya pun terpecah dalam 72 golongan, satu golongan konsisten mengikuti jejaknya; jejak kemurnian, sedangkan yang 71 golongan dan selebihnya terpuruk di antara keterpurukan nisbi dan total.
Setelah itu secara bertahap umat manusia pun mulai tenggelam ke dalam keterpurukan total dan kemurnian pun pudar…
Sengsaralah umat manusia, sampai tiba waktunya fajar baru menyingsing… Fajar yang takkan hilang cahayanya secara total walaupun di beberapa tempat memudar untuk beberapa lama… untuk kemudian bersinar lagi… Itulah fajar Muhammadi , fajar Islam terakhir…
Rosululloh  pun memulai lagi suatu gerakan kebangkitan, meneruskan gerakan-gerakan kebangkitan para nabi sebelumnya yang di waktu itu nyaris padam atau bahkan telah padam. Manusia di seantero bumi waktu itu sudah dalam keterpurukan total kecuali segelintir manusia-manusia tak berdaya yang berserakan di sana sini. Cahaya dakwah beliau pun tambah lama tambah menguat sampai menerangi seluruh Jazirah Arab. Kebangkitan yang dahsyat pun terjadi! Semua berhala di Makkah runtuh! Manusia datang berbondong-bondong dari seluruh penjuru Jazirah Arab menuju Makkah dan Madinah untuk mengumumkan keislaman mereka. Kebangkitan terbesar dalam sejarah manusia! Kemudian keberkahan kebangkitan ini pun melimpah ke seluruh benua sepanjang tahun-tahun dan abad-abad berikutnya. Berjuta manusia terselamatkan dari cengkraman iblis, cengkraman keterpurukan. Terselamatkan dari neraka Jahannam.
Tetapi semua itu tidaklah terjadi tanpa pengorbanan besar-besaran. Harta dan darah, keringat dan kucuran air mata serta pengorbanan lainnya yang telah diberikan oleh para pahlawan Islam. Semua itu dimulai oleh seorang pribadi dengan merintis jalan dakwah pada mulanya… Berjuang fii sabilillah… membangun kebangkitan total.
Setelah beliau wafat, perjuangan beliau diteruskan oleh para sahabat dan pahlawan-pahlawan Islam pada generasi-generasi selanjutnya. Perjuangan itu sukses dengan hasil yang gemilang! Kerajaan Islam pun kian meluas dan menguat, kerajaan iman kian berkuasa dan perkasa. Sedangkan kerajaan setan yang diwakili oleh dua kerajaan utamanya yaitu Persia Majusi dan Romawi Salibis, kian terdesak, terpuruk dan tak berdaya. Kerajaan Persia Majusi punah! Api-api setan yang disembah dan dipuja pun padam! Umat manusia pun memasuki agama Alloh  dengan berbondong-bondong. Terselamatkan dari penggiringan massal menuju pintu-pintu Jahannam dan terselamatkan dari eksploitasi sesama manusia, bahagia di bawah naungan hukum Ilahi.
Kerajaan kaum Salibis terus-menerus terdesak dan dipaksa hengkang dari daerah-daerah kekuasaannya, hingga terpaksa pulang ke kandang semula, Eropa.
Ratusan juta manusia dibebaskan oleh ekspansi Islam dari cengkraman kesyirikan, Iblis pun menjerit dan terpental dari banyak kekuasaannya. Pertempuran terus berlangsung! Kemenangan demi kemenangan diraih oleh kaum muslimin...
Tetapi pada babak terakhir, terjadi pergeseran tragis dan sangat tragis! Kemurnian Islam mulai suram… Kesyirikan mulai merajalela di tubuh umat ini… Sunnah pun pasal demi pasal digantikan dengan bid'ah. Kaum Kufar mendapat angin segar untuk merusak umat dari dalam tubuh umat sendiri.
Sehingga pada akhirnya lembaga politik dan militer umat di Istambul jatuh dan terkapar, berantakan menjadi puing-puing yang berserakan. Negeri-negeri Islam pun terbagi-bagi dan terpecah-pecah berupa potongan-potongan geografis yang sangat terbatas. Jauh sebelum sosok khilafah gugur sebagai puing-puing yang berserakan, ketika kaum Salibis tidak mampu berhadapan Face to face” dengan armada Islam, mereka pun berputar menyerbu daerah-daerah di belakang punggung khilafah, yaitu kawasan Asia. Gugurlah kerajaan-kerajaan Islam di daerah itu, termasuk kerajaan-kerajaan Islam di kepulauan Nusantara tercinta.

KETERPURUKAN DI MUARA SEJARAH

Sejak kurang dari seratus tahun yang lalu, khilafah struktural yang diperankan oleh khilafah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki telah runtuh. Diruntuhkan oleh keterpurukan ruhani sebelum dihancurkan oleh gempuran invasi militer musuh!
Berikut adalah saduran bebas dan singkat dari buku: "Daulah Utsmaniyyah" yang disusun oleh DR. 'Ali Muhammad as-Sollabi, cetakan ke-4 2006 M oleh "Darul Ma'rifah"- Beirut , yang memberi gambaran singkat tentang keterpurukan ruhani di waktu itu:
"Daulah Utsmaniyyah yang sejak berdirinya pada tahun 700 H-1300 H, berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah, memerangi kesyirikan, bid'ah-bid'ah dan khurofat serta menegakkan hukum-hukum syariat Islamiyyah dan berjihad menyebarkan Islam di seluruh bumi ini, telah mulai tenggelam pada kesyirikan, bid'ah dan tahayul pada akhir-akhir masa hidupnya di abad ke-13 H (19 M) dan awal abad ke-14 H (20 M).”
Kesyirikan dalam peribadatan berbentuk do'a-do'a, nadzar-nadzar, penyerahan kurban-kurban kepada kuburan-kuburan, pohon-pohon, batu-batu dan benda-benda mati lainnya, telah menyebar di pelosok Khilafah pada umumnya dan di Turki pada khususnya. Senjata-senjata peninggalan nenek moyang banyak yang menjadi sesembahan dan tempat meminta kesembuhan dari berbagai penyakit. Demikian juga bid'ah telah merasuk di kehidupan umat. Segala macam ritual aneh dan tidak berdalil menjadi bagian dari peribadatan sehari-hari, membangun masjid dan kubah di atas kubur sudah menjadi bagian dari keterpurukan. Negara pun tak ketinggalan dalam membangun masjid-masjid di atas kuburan-kuburan "keramat". Sebagai contoh ikutnya negara dalam keterpurukan ini: pada tahun 1305 H (±1900M) Sultan Abdul Hamid II  memerintahkan untuk memasang kelambu-kelambu mewah masing-masing untuk kuburan Zubair bin Awwam dan Utbah bin Ghozwan. Kelambu-kelambu itu terbuat dari sutra merah yang mewah tersulam dengan perak. Lalu memberinya dua pedupa dan kubah dari perak pada kedua kuburan itu. Waktu diperintahkannya hal itu oleh Sultan Abdul Hamid II adalah waktu-waktu terakhir runtuhnya khilafah, di mana beliau naik tahta ketika kaum sekuler agen-agen Freemason sudah menguasai pemerintahan. Konon Sultan Abdul Hamid II berniat untuk membangun khilafah kembali dan mengusir kaum sekuler dari tampuk pemerintahan. Kalau hal ini benar, maka mungkin saja perintahnya ini untuk menghias kedua makam itu adalah untuk "mengambil simpati" kaum Sufi yang sudah menguasai kehidupan beragama ummat hampir di seluruh dunia Islam, bahkan extrem Sufi-lah yang telah menjadi pionir dalam menanamkan dan mengembangbiakkan kesesatan pada waktu itu. Kekuatan Sufiyyah waktu itu digambarkan oleh Syaikh Muhammad Qutub di buku beliau "Waqiuna al Muasir" halaman 155 sebagai berikut:
"Sufiyah sudah mulai menyebar pada waktu khilafah Abbasiyyah. Tetapi pada waktu itu mereka masih berupa kelompok-kelompok yang terasingkan dari masyarakat dan bersifat tertutup. Tetapi pada dua abad terakhir dari khilafah Utsmaniyyah, Sufiyyah sudah merupakan pengganti Islam. Sampai pribahasa "barangsiapa yang tidak mempunyai Syaikh (maksudnya syaikh tarekat) maka syaikhnya adalah setan" sudah menjadi pegangan kehidupan para orang awam. Maka jadilah Sufiyyah untuk orang awam pintu gerbang Islam, tidak bisa memasuki Islam dari pintu selain pintu itu bahkan Sufiyyah sudah  menjadi aplikasi dari Islam itu sendiri".
Kemurnian mulai runtuh di khilafah Utsmaniyyah dengan menjamurnya aliran-aliran sesat seperti Sufiyyah, Bahaiyyah, Ismailiyyah dan lain-lain. Penjamuran ini memang tidak lepas dari makar-makar musuh-musuh Islam dari luar, tetapi tidak akan meluas, bahkan tidak akan tetap ada kalau di "otak" dan "syaraf" negara, kemurnian masih dalam kadar yang cukup. Penyisihan kemurnian melahirkan semua elemen-elemen keterpurukan ruhani yang kemudian melahirkan keterpurukan peran dengan disisihkannya hukum Islam dan ditegakkannya hukum-hukum buatan manusia dan runtuhlah segalanya..!!
Setelah perang dunia kedua berakhir sistem penjajahan pun dirubah, dari sistem penjajahan langsung ke sistem penjajahan tidak langsung. Penjajahan dan cengkraman yang didasarkan atas keunggulan militer, ekonomi dan teknologi para penjajah, melalui sistem keuangan dan pengawalan wilayah yang kuat.
Di bawah cengkaraman Yahudi dan Salibis internasional itu, kaum muslimin pun terpuruk di semua lapangan kehidupan. Hukum Islam adalah hal utama dan pertama yang harus disingkirkan dari kehidupan umat ini. Pendidikan dijauhkan dari norma-norma Islam. Sekulerisme dipupuk dan didukung habis-habisan, nasionalisme dijadikan dasar persaudaraan. Wanita ditipu besar- besaran untuk keluar dari peranannya yang sebenarnya, digiring dan diseret dengan segala bentuk rayuan ke dalam jurang penderitaan lahir dan batin dijadikan bumerang untuk merusak umat sendiri dengan iming-iming emansipasi. Anak-anak belia diracuni dengan segala macam perusakan akhlak, narkoba, dan lain-lain dan pada akhirnya dijadikan musuh-musuh agama mereka sendiri. Dakwah-dakwah iblis diperkuat tanpa batas. Semua itu dalam lingkup internasional (seluruh negara-negara kaum muslimin) dalam rangka memenangkan pergulatan merebut kedaulatan atas kehidupan manusia untuk dipersembahkan kepada iblis! Negara-negara kaum Muslimin pun tidak banyak berdaya melawan tekanan-tekanan Salibis Internasional ini.
Umat ini adalah umat yang kuat dan jaya. Kekuatan dan kejayaan yang bersandarkan kepada satu-satunya agama pencipta alam semesta Yang Maha Berkuasa yang telah menjanjikan kemenangan untuk umat ini. Sejarah pun telah membuktikan! Tetapi mengapa kita sekarang menjadi kaum terbelakang dan tertindas?!
Jawabannya adalah karena kita bukanlah kita lagi!! Sebelum benteng terakhir umat ini runtuh pun, mayoritas kita sudah berjalan di luar kemurniaan Islam dan cinta dunia sudah merasuk ke dalam hati. Cinta dunia sudah menjauhkan kita dari cinta juang! Sehingga kaum muslimin sangat takut kalau ia harus kehilangan satu-satunya nyawa untuk membela dinullah yang haq ini! Menjadikan kehidupan akhirat di hati-hati kita hampir-hampir hanya sekedar dongeng sebelum tidur!!
Umatpun tenggelam di keterpurukan yang kelam...

GERAKAN KEBANGKITAN DI INDONESIA

Di Indonesia, sejak awal abad ke-20 sampai sekarang gerakan-gerakan Islam terus bermunculan. Gerakan-gerakan yang berdiri pada zaman penjajahan pada umumnya berkonsentrasi pada lapangan pendidikan formal dan pesantren. Sedangkan gerakan-gerakan yang terlahirkan setelah kemerdekaan kebanyakan berkonsentrasi kepada gerakan massa. Selain gerakan-gerakan yang memang murni produk Indonesia, ada juga gerakan-gerakan yang merupakan “gerakan anak” dari harokah-harokah di Timur Tengah, seperti misalnya Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir.
Seperti halnya banyak gerakan-gerakan di luar Indonesia, gerakan-gerakan Islam di Indonesia pun banyak yang masih mengidap beberapa pandangan dasar yang masih harus sangat dipertanyakan, di antaranya:  
1.          Tujuan gerakan banyak berorientasi pada problematika duniawi saja. Dengan demikian keterpurukan ruhani kurang mendapat perhatian. Padahal keterpurukan ruhanilah induk dari segala keterpurukan dan ancaman akhirat atas umat yang mengidap keterpurukan ruhani jauh lebih dahsyat daripada penderitaan atau keterpurukan duniawi. Orientasi seperti ini akan melahirkan strategi yang tak bisa dipercaya akan sanggup mewujudkan kebangkitan total.     
2.         Walaupun hampir semua aktifis gerakan-gerakan itu adalah putra-putra Ahlus Sunnah, tetapi jarang sekali didapat gerakan yang mengusung manhaj Ahlus Sunnah sebagai suatu manhaj yang harus dianut oleh umat secara keseluruhan.
Dengan dalih persatuan atau dengan maksud mengumpulkan anggota sebanyak-banyaknya, perhatian terhadap penyaringan manhaj tidak mendapat porsi yang cukup. Bahkan di antara organisasi-organisasi itu tidak sedikit yang terang-terangan mengakui keabsahan atau bahkan mengaku sebagai penganut aliran-aliran yang bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah seraya mengklaim bahwa organisasi mereka adalah organisasi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ada pula yang menjadikan penentangan terhadap Ijma’ Ahlus Sunnah tentang penerimaan hadits-hadits ahad, sebagai salah satu dasar penting dalam akidah mereka. Dengan demikian kemurnian yang menjadi suatu dasar penting untuk kebangkitan ruhani dan kekhilafahan telah terinjak-injak, maka bagaimana mungkin kebangkitan sejati bisa tercapai?
Ketika orientasi kepada “kebangkitan ruhani” dan “kemurnian” melemah, sulit dibayangkan usaha-usaha kebangkitan bisa menghasilkan kebangkitan sejati yang menjadikan penitian Sirotulmustaqim mendominasi kehidupan umat ini.
Orientasi kepada hal-hal yang diperlukan dari kebangkitan ruhani seperti jilbab, pengucapan salam, cara berpakaian dan sebagainya memang ada. Tetapi isi yang lebih dalam dari kebangkitan ruhani seperti kemurnian akidah pengikutan sunnah, pemahaman yang benar dalam membaca realita dan sebagainya sangatlah lemah.

KETERPURUKAN RUHANI DI NEGERI KITA


Realita keterpurukan ruhani di negeri kita pun sudah sangat mengerikan dan sudah banyak berpotensi mengundang adzab dari Alloh  . Bahkan adzab-adzab itu memang sudah berdatangan bertubi-tubi bagaikan gelombang lautan yang terus menerus bergantian menghempas pantai.
Bukankah kita dapati banyak sekali "tuhan-tuhan palsu" yang dinobatkan untuk diibadahi oleh banyak orang? Kuburan-kuburan tempat berdo'a, pohon-pohon tempat bermohon, keris-keris yang dipelihara karena mengharapkan penjagaannya, simbol-simbol yang dipasang di atap-atap rumah untuk menolak bahaya dan lain-lain.
Bukankah semua kita tahu bahwa figur fiktif yang mungkin juga adalah seorang makhluk halus dan diberi nama Nyi Roro Kidul dipuja banyak orang dan dipersembahkan untuknya sesajen-sesajen?
Bukankah sampai sekarang ruwatan desa atau kampung dengan mempersembahkan sesajen kepada para "penguasa ghaib" masih terus berjalan dari waktu ke waktu demi "menyelamatkan" desa atau kampung? Sedangkan kita sudah mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya selain Alloh   dan ditangan-Nya lah semua keputusan. Dia-lah satu-satunya yang berkuasa menentukan apa saja di bumi  ini, tiada Tuhan selain Dia!
Bukankah sihir, yang tak mungkin didapat tanpa menyembah setan, banyak sekali menyebar di pelosok-pelosok negeri? Bahkan media televisi kita yang cukup banyak, gemar sekali menampilkan tayangan-tayangan kesyirikan. Media-media cetak kita memasang iklan-iklan penawaran pelayanan-pelayanan mistik dan semua media memuat ramalan-ramalan nasib manusia di masa depan, suatu kesyirikan menandingi Alloh   di ilmu ghaib-Nya dan masih banyak sekali yang semacam itu. Semua ini menunjukkan adanya kepercayaan batil yang sangat bertentangan dengan kebenaran dan bertentangan dengan kemuliaan manusia. Inilah biang segala keterpurukan!!
Kemudian kita dapati banyak sekali ritual-ritual dan acara-acara keagamaan karangan manusia dimasukkan ke dalam kehidupan beragama kita, baik yang dilakukan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri. Perayaan-perayaan, peringatan-peringatan, haul-haul, ziarah “makam-makam keramat”, dzikir-dzikir berjama’ah yang tidak pernah diajarkan ataupun dianjurkan apalagi diperbuat oleh Rosululloh  dan para sahabatnya. Semua itu sudah dianggap bagian dari Islam, padahal Islam sama sekali tidak mensyariatkannya. Ritual-ritual yang dikondisikan sedemikian rupa agar bisa menguras air mata para peserta dan “memberi kesejukan” kepada mereka. Peringatan-peringatan setelah kematian dan kelahiran dalam hitungan-hitungan hari tertentu yang sebenarnya adalah warisan Hindu-Budha, sudah menjadi keharusan. Semua itu menjadikan Islam suatu beban yang berat untuk para pemeluknya dan menarik mereka ke dalam kesedihan, kerugian, dan pengorbanan sia-sia. Seluruhnya dilakukan untuk mendapat “ganjaran dunia” walaupun dalam bentuk ketenangan hati. Yang paling celaka dari semua itu adalah bahwasanya para pencetus dan pengarang ritual-ritual itu telah menyaingi Alloh   dalam menentukan substansi Islam. Menyaingi Alloh   dalam mengarahkan manusia bagaimana seharusnya mereka berbuat! Para pencetus, pengarang dan penyelenggara semua kepalsuan-kepalsuan itu dengan seenaknya saja ”ikut” membentuk Islam baru yang tidak pernah diketahui oleh Muhammad ibnu Abdillah dan tidak pernah dibawa oleh Jibril , sehingga para pengikut ikut berdosa besar ketika mengikuti karangan palsu itu.
Para penantang Alloh   dari anak-anak kaum Muslimin pun tambah menjamur di universitas-universitas kita. Ada yang berani menulis “daerah bebas Tuhan” ada pula yang berani menginjak-injak lafazh nama Alloh , ada pula yang berani mendakwahkan bahwa al-Qur’an adalah budaya manusia.
Kelompok-kelompok sesat menjamur dengan pesat. Ada yang mengaku sebagai Nabi perempuan dan anaknya adalah “titisan” Jibril atau Nabi Isa , ada pula yang membatalkan kewajiban solat atau membolehkan solat dengan bahasa Indonesia dan lain-lain.
Tidak heran bila pada masyarakat yang berakidah demikian, kita dapati banyak sekali pelanggaran-pelanggaran susila dari pameran aurat wanita sampai pada perzinaan. Korupsi besar-besaran yang semakin lama semakin marak, narkoba dan miras yang semakin turun lapangan penggunaannya mengarah ke tingkat anak-anak SD.
Para banci dan kaum homoseksual dengan beraninya memancing korban-korban mereka di perempatan jalan kota-kota besar dan hati-hati mereka yang melihat fenomena ini tidak tergerak untuk mengingkarinya. Tayangan TV? Ooh... ini adalah suatu bencana akhlak yang besar sekali!!
Semua itu adalah keterpurukan ruhani yang akan mengakibatkan keterpurukan duniawi dan keterpurukan ukhrawi (akhirat) kelak, yaitu ancaman siksa pedih dan abadi di akhirat nanti serta menjadi sebab tidak mampunya kita mengemban khilafah tauhid di bumi ini.

KETERPURUKAN DUNIAWI DALAM REALITA


Adapun bencana-bencana yang bermunculan akibat pelanggaran tersebut sudah bukan rahasia lagi. Tentunya buku setebal apapun tidak akan cukup jika kita ingin mencatat semua musibah yang menimpa negeri ini walaupun hanya sejak kemerdekaan sampai akhir abad ke-20 lalu saja.
Di antara rentang waktu antara proklamasi kemerdekaan sampai pemberontakan-pemberontakan yang banyak menelan harta dan jiwa yang tak terhitung banyaknya sampai krisis moneter di penghujung abad ke-20 itu, banyak sekali musibah-musibah berupa bencana-bencana alam yang saling susul menyusul.
Bencana-bencana yang tambah cepat jarak waktu dari satu bencana ke bencana lainnya terus berdesakan sejak kita memasuki abad ke-21 ini. Di antaranya Tsunami yang menelan lebih dari dua ratus ribu jiwa dan memporak-porandakkan habis-habisan sebagian dari negeri ini.
Goyangan-goyangan gempa yang mematikan dan letusan-letusan gunung-gunung berapi yang membakar anak-anak bangsa hidup-hidup serta melenyapkan harta benda milik mereka yang tersisa hidup.
Banjir yang bukan hanya menghancurkan banyak dari infrastruktur negeri ini, akan tetapi juga menjadikan para korban yang masih hidup terpaksa menyandang profesi baru sebagai pengemis, karena kehilangan harta milik mereka.
Jatuhnya pesawat terbang dengan korban-korbannya, kebakaran yang seakan-akan tak akan pernah berhenti, sampai-sampai terjadi di atas laut yang luas, membakar kapal berpenumpang penuh. Sampai sekarang samudera masih terus menggertak dan menakut-nakuti kota Jakarta dengan banjir yang muncul dari waktu ke waktu. Seakan-akan memberi peringatan bahwa amarahnya sudah mendekati batas maksimal. Seakan terdengar lamat-lamat geretakan gigi-giginya, sambil bergumam mengancam: "Aku sudah siap, tinggal menunggu perintah Tuhanku..!!!".
Lalu... Lapindo... ya Rawa Lapindo yang sangat aneh! Tidak bisa dicerna oleh akal secara jelas! Menelan korban harta yang tak terhitung banyaknya, terus merayap entah bagaimana jadinya.
Semua ini adalah akibat keterpurukan ruhani yang ditambah buruk lagi oleh keterpurukan peran.
Benarkah?
Mari kita simak firman Ilahi dari sumber tersuci yang tidak ada dusta padanya atau keraguan sedikitpun juga.
Alloh subhanahu wata'ala  berfirman (artinya):
“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh menimpakan  mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan kalian sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. As-Syuro [42]: 30)

Semua itu dari perbuatan kita sendiri!
Benarkah??? Bagaimana bisa tidak benar!!??
Bukankah itu adalah firman Pencipta alam semesta!?! Bukankah kita sudah beriman kepadanya?! Ataukah kita lebih mempercayai perkataan-perkataan para ilmuwan, para intelektual dan para orang-orang pandai yang sangat jahil dalam timbangan agama?!? Yang selalu melupakan ayat-ayat ini dalam analisa-analisa mereka.
Mari kita simak firman-firman Robbul 'Alamin yang lebih merincikan hubungan antara amal perbuatan buruk manusia dengan bencana-bencana yang ada di dunia ini.

Bencana Massal
Alloh subhanahu wata'ala  berfirman (artinya):
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Israa' [17]: 16)

Angin Topan
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. Mereka berkata: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah adzab yang kalian minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Robbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang penuh dosa.” (QS. Al-Ahqof [46]: 24-25)

Banjir, gempa bumi, halilintar
Alloh subhanahu wata'ala  berfirman (artinya):
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Alloh sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al'ankabut [29]: 40)

Kelaparan dan ketakutan (ketidakamanan)
Alloh subhanahu wata'ala  berfirman (artinya):
 “Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Alloh; Karena itu Alloh merasakan kepada mereka kondisi kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl [16]: 112).

STRATEGI KEBANGKITAN

Seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini, bahwa gerakan-gerakan Islam yang berorientasi kepada pembangkitan umat saling berbeda pandangan atau persepsi tentang realita umat sekarang dan tentang pangkal penyebab realita itu. Perbedaan ini telah melahirkan perbedaan strategi dalam mencapai tujuan setiap harokah. 
A.    Pandangan dan strategi pertama :
Bahwasanya umat hanya mengalami keterpurukan duniawi yang terbatas pada keterbelakangan pada mayoritas bidang kehidupan. Kemudian keterbelakangan ini melahirkan keterpurukan-keterpurukan lainnya seperti kemiskinan dan kelemahan sampai kepada pembantaian di mana-mana. Menurut pandangan ini, semua itu tidak ada hubungannya dengan keterpurukan ruhani seperti tidak ada hubungan antara keterpurukan ruhani dan bencana-bencana alam yang terjadi.
Sebab dari keterpurukan duniawi menurut penganut pandangan ini adalah kepincangan dalam memanajemen umat dan solusinya adalah memperbaiki manajemen tersebut. Adapun keterpurukan ruhani, mereka anggap harus diterima sebagai suatu bentuk keragaman (pluralitas) dan warna-warninya kehidupan. Pandangan ini tidak akan melahirkan "usaha-usaha Islami". Karena itu strategi pelaksanaannya tidak masuk dalam pembahasan buku ini. 
B.    Pandangan dan strategi kedua :
Pandangan ini mengakui adanya keterpurukan ruhani, peran dan duniawi. Para peyakin pandangan ini berbeda pendapat dalam menilai bobot masing-masing keterpurukan dan hubungan di antaranya. Malah ada organisasi yang berpendapat bahwa keterpurukan terbesar adalah keterpurukan pemikiran dan politik. Hanya saja semua mereka sependapat bahwa penyebab semua ini adalah tidak dimanajemennya umat dengan sistem Islami atau dengan kata lain "tidak adanya negara Islam" baik dalam taraf nasional, maupun internasional (khilafah).
Para peyakin pandangan ini tidak atau kurang mendasarkan strategi mereka pada keyakinan bahwa keterpurukan ruhani adalah sebab segala-galanya dan kebangkitan ruhani akan menjadi ibu dari semua kebangkitan.
Tsaqofah mereka terkonsentrasi pada "wajibnya mendirikan negara Islam" yang setelah berdiri akan melahirkan "kejayaan umat". Jadi solusi keterpurukan adalah berdirinya negara Islam. Karena itu penganut pandangan ini berusaha keras untuk menggenggam tampuk kekuasaan dan mencurahkan seluruh potensi yang dimiliki untuk mencapainya. Strategi ini kita namakan strategi tampuk kekuasaan.
 Dalam menentukan strategi mencapai tujuan, secara global para penganut pandangan ini terbagi dalam dua kelompok yang sama besarnya:
1.  Kelompok pertama :
Kelompok ini memilih jalan politik Parlementer untuk mencapai tampuk kekuasaan.
2.  Kelompok kedua :
Kelompok ini memilih jalan kekerasan untuk meraih tampuk kekuasaan.
Catatan :
Adapun Hizbut Tahrir yang telah menyatakan organisasinya sebagai sebuah organisasi (partai?) politik dan bukan organisasi dakwah, serta memilih strategi tampuk kekuasaan, telah menolak jalan politik parlementer. Akan tetapi posisinya dari jalur kekerasan tidaklah jelas. Walaupun dalam teori (menurut yang kita dapati di buku-buku Hizb), kekerasan adalah jalan penuntasan yang mereka pilih, akan tetapi yang  jelas mereka tidak mempunyai kegiatan kekerasan yang riil. Jadi strategi Hizbut Tahrir tidak cukup jelas untuk bisa dikategorikan di salah satu dari dua strategi dari pembahasan ini. 
C.    Pandangan dan strategi ketiga :
Pandangan ini adalah rangkuman dari butir-butir berikut :
  1. Umat Islam secara global dewasa ini berada di dalam keterpurukan ruhani, peran dan duniawi.
  2. Keterpurukan ruhani adalah ibu dari semua keterpurukan.
  3. Keterpurukan ruhani pun mengancam berjuta umat di akhirat nanti dengan keterpurukan ukhrawi yang sangat dahsyat.
  4. Kebangkitan ruhani adalah kembalinya umat secara jama’i meniti Sirotulmustaqim. Ini berarti dominasi manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah secara utuh atas kehidupan umat bermasyarakat.
  5. Tak ada jalan untuk keselamatan ukhrawi dan terwujudnya kebangkitan peran dan duniawi tanpa kebangkitan ruhani.
  6. Jalan kebangkitan total harus dirintis dengan dakwah yang bertarget kebangkitan ruhani secara kaffah.
Mereka yang meyakini pandangan ini memilih jalan dakwah sebagai "strategi menuju perubahan". Straregi ini kita namakan "Strategi Dakwah"
Di samping usaha-usaha Islami dari gerakan-gerakan Islamiyyah yang bersifat luas dan bermuatan kebangkitan yang tinggi, ada pula usaha-usaha lainnya yang sejalan, namun tidak sama dalam sifat (keluasan) dan muatannya. Walaupun tidak bisa diandalkan untuk melahirkan suatu kebangkitan, akan tetapi pengaruh positifnya dalam mencegah melajunya kemerosotan pun tidak bisa disangkal. Contoh dari usaha-usaha seperti ini misalnya pengajian-pengajian Islami, ceramah-ceramah, penulisan buku-buku Islami dan lain-lainnya. Tidak masuknya usaha-usaha ini dalam kategori bermuatan kebangkitan dikarenakan beberapa sebab, di antaranya (ketika) dilakukan secara parsial, tidak terorganisir, tidak mempunyai tujuan-tujuan strategis yang tertata serta meluas dalam menghadapi realita keterpurukan. Ditambah lagi dengan "kekurangpekaan" dalam membaca realita.
Demikian juga orientasi hanya kepada lembaga-lembaga pendidikan, karena mayoritas dari lembaga-lembaga ini tidak menitikberatkan pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dan tidak mengarah pada penghimpunan umat menuju kebangkitan.

HASMI (Harakah Sunniyyah Untuk Masyarakat Islami)

HASMI :: Sebuah Gerakan Kebangkitan
HASMI adalah organisasi Islam yang murni kelahiran Indonesia, berpusat di Indonesia dan bukan sekali-kali organisasi lintas negara[1] seperti halnya Hizbut Tahrir, Jama'ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan lain-lainnya.
Berikut ini kami mencoba membuka sisi-sisi dari jati diri HASMI, untuk lebih mengenalnya:
  • Dasar Pergerakan HASMI :
Dasar keseluruhan HASMI adalah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, manhaj kebenaran sesuai dengan kemurnian Islam. Manhaj wahyu Ilahi, al-Qur'an dan Sunnah serta mengikuti pemahaman dan penerapan Salafussoleh. Hal ini tidak berarti sama sekali bahwa HASMI mengklaim tidak pernah atau tidak akan mempunyai kesalahan. Sebagai manusia, kesalahan adalah sekutu yang permanen. Hal ini hanya sebatas kebulatan tekad penitian Sirotulmustaqim. HASMI mengusung dan mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah serta memandang tidak adanya pencanangan yang jelas tentang hal ini pada suatu gerakan, merupakan keaiban pada gerakan tersebut apalagi jika gerakan tersebut memang benar-benar tidak mendakwakan manhaj ini, maka hal itu merupakan bencana untuk umat. 
  •  Tujuan HASMI :
Tujuan HASMI adalah terwujudnya kebangkitan total melalui usaha perwujudan ruhani yang bermahkotakan "Berdirinya masyarakat Islami di Indonesia" sebagai perwujudan dari kebangkitan peran yaitu masyarakat yang secara kolektif atau perorangan dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam yang suci. 
  •  Strategi
HASMI memilih strategi dakwah dalam meniti jalan perjuangan menuju tujuan.
Dasar-dasar pemilihan “strategi dakwah” :
  1. Dakwah pada dasarnya merupakan strategi para nabi dalam misi penyelamatan mereka terhadap umat manusia. Sedangkan jihad bersenjata adalah salah satu jalan dari jalan-jalan dakwah yang dilakukan hanya pada kondisi-kondisi tertentu.
  2. Al-Qur'an telah menyatakan dengan tegas bahwa Alloh  tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah apa-apa yang ada pada jiwa-jiwa mereka. Maka kita harus merubah keterpurukan ruhani menjadi kebangkitan ruhani dengan mendakwahi umat.
  3. Keyakinan yang kuat, seperti telah dipaparkan sebelumnya, bahwa keterpurukan ruhani adalah ibu dari semua keterpurukan khususnya keterpurukan ukhrawi yang maha dahsyat. Tidak ada jalan untuk melenyapkan keterpurukan ruhani selain jalan dakwah.
  4. Kita berada di tengah-tengah umat Islam yang sangat membutuhkan penerangan dan di waktu yang sama kesempatan serta pintu-pintu dakwah sangat terbuka lebar di negeri ini.
  5. Rosululloh  telah memulai misinya dengan strategi dakwah sampai berhasil mendirikan negara Islam pertama di Madinah tanpa kekerasan sedikit pun juga dan itulah manhaj Rosululloh  di periode pra-negara (periode harokah). Kita wajib mengikutinya! Bahkan dakwah adalah jalan inti yang dititi oleh beliau dan menjadi ukuran standar untuk membedakan antara pengikut beliau dan mereka yang tidak mengikuti beliau.Alloh subhanahu wata'ala  berfirman (artinya):
    “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, mengajak (kalian) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf [12]: 108)
 HASMI tidak memilih strategi “tampuk kekuasaan” bukan karena berpendapat bahwa kekuasaan tidak diperlukan untuk menyelamatkan umat dari keterpurukan. HASMI menyadari bahwa tampuk kekuasaan adalah sarana yang sangat kuat untuk mencapai kebangkitan tetapi ia bukanlah kebangkitan itu sendiri. Di waktu yang sama terpegangnya tampuk kekuasaan berpotensi mengundang ancaman atas dakwah kalau tidak sanggup dipertahankan dan untuk mempertahankannya membutuhkan basis dan perangkat Islami yang sangat kuat. Benar bahwa tampuk kekuasaan bukan hanya sekedar sarana yang kuat untuk kebangkitan tapi juga berarti berdirinya kedaulatan hukum Alloh . Tetapi kedaulatan itu sendiri hanya akan berdiri di atas suatu kebangkitan ruhani yang sejati. Jadi tampuk kekuasaan harus dilahirkan oleh kebangkitan yang dihasilkan oleh dakwah untuk kemudian menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan, memperluas dan mengawal kebangkitan itu sendiri.
HASMI tidak memilih strategi tampuk kekuasaan di dua jalurnya berdasarkan pertimbangan analisa sebagai berikut:
  • Penolakan jalur parlemen :
  1. Banyak sekali hal-hal syar'i yang terlanggar bila kita masuk ke gelanggang parlemen, sebab sistem ini bukanlah sistem Islam. Sistem ini adalah sistem yang mengedepankan suara terbanyak daripada syari'at Alloh  serta mendaulat manusia bukan mendaulat Alloh .
  2. Fakta telah menunjukkan bahwa para aktifis partai Islam terpacu untuk mengejar suara sebanyak-banyaknya yang mana hal ini mengakibatkan:
-       Tertinggalnya dakwah kepada agama Alloh , karena sibuk dengan "dakwah mencari suara". Akibatnya banyak sekali orang yang mati dalam kesesatan karena kekosongan dakwah.
-       Tertinggalnya pengawalan terhadap kemurnian Islam, karena harus memperbesar toleransi dan tutup mulut terhadap banyak pihak penoda kemurnian. Jika kemurnian agama dikorbankan demi mendapatkan kemenangan, apakah arti sebuah kemenangan?! Itupun kalau menang...!
3.  Fakta sejarah kontemporer di banyak negeri juga dengan gamblang menunjukkan kepada kita kegagalan jalan ini dalam mewujudkan cita-cita umat.
Catatan:
Penolakan strategi ini tidak berarti kita menjadi apa yang dinamakan “Golput”. Ikut tidaknya seseorang dalam memilih di sebuah pemilu tergantung pada bagaimanakah hukum Islam dalam hal itu dan tidak ada hubungannya dengan penolakan strategi tampuk kekuasaan. Penolakan strategi parlementer tidak juga berarti kita membantah adanya faidah-faidah dari amal parlementer, tapi yang kita maksudkan adalah kita yakin bahwa keikutsertaan sebagai pemain di gelanggang parlementer tidak bisa dijadikan strategi yang bisa mewujudkan kebangkitan umat. Adanya faidah-faidah yang ada pada jalur parlementer tidak berarti sama sekali bahwa strategi parlementer adalah tepat.
  • Penolakan jalur kekerasan:
HASMI juga menolak jalur kekerasan dengan segala bentuknya dalam mengadakan perubahan masyarakat muslim menuju masyarakat Islami. Hal itu didasarkan atas hal-hal berikut:
  1. Kekerasan seharusnya hanya digunakan untuk para penghalang dakwah, sedangkan negeri ini masih memberi peluang dakwah yang sangat luas. Kalau alasan kekerasan adalah amar ma’ruf nahi munkar karena negara tidak melakukannya, maka hal ini harus sesuai dengan kaidah amar ma’ruf nahi munkar yaitu hasilnya diprediksikan dengan kuat tidak akan melahirkan munkar yang lebih besar lagi.
  2. Umat berada di marhalah tarbiyah dan ta'lim sedangkan kekerasan tidak bisa membuka hati manusia.
  3. Mayoritas orang di negeri ini adalah umat Islam dan tidak terjadi agresi dari negara kaum kafir.
  4. Menempuh jalan kekerasan di kondisi zaman dan tempat yang tidak tepat akan menimbulkan banyak kerusakan dan pertumpahan darah yang tidak dibenarkan oleh Islam.
  5. Yang terpenting dan sangat jauh lebih penting adalah strategi yang dijalankan oleh Rosululloh  pada periode sebelum hijrah (periode harokah/periode sebelum negara) adalah strategi dakwah dan kita wajib mengikuti strategi beliau .
Tetapi perlu diingat dengan jelas, kami sama sekali tidak anti jihad yang benar!! Bahkan kami percaya barangsiapa yang anti syari'at jihad, berarti dia telah keluar dari Islam! Kami juga percaya barangsiapa yang membenci mujahidin, maka orang itu sudah terjangkiti penyakit nifaq! Barangsiapa yang membantu kaum kafir dalam memerangi umat ini, maka dia pun telah kafir! Kami mendukung sepenuhnya jihad di banyak negeri Islam dalam mengusir para agressor Yahudi, Salibis, Hindu dan Komunis.
Yang kami maksudkan dalam penolakan cara kekerasan adalah penggunaannya di negeri seperti Indonesia ini di mana dakwah masih mendapat kebebasan mutlak, tidak ada agressor dan umat sangat membutuhkan pembelajaran dan dakwah demi terwujudnya kebangkitan ruhani.
  • Syubhat dan jawabannya:
Syubhat yang muncul pada banyak aktifis ketika tidak mengerti penjelasan di atas atau bahkan tidak menyetujuinya, adalah karena mereka mencampuradukkan tiga masalah di bawah ini:
  1. Hukum jihad secara umum.
  2. Jihad yang sedang berlangsung di beberapa negeri Islam dewasa ini, seperti Afghanistan, Irak, Palestina, Chechnya dan lain-lain.
  3. Jihad di Indonesia dan negeri-negeri Islam semisalnya.
Hukum Jihad secara umum terbagi empat dan setiap bagian hanya diterapkan pada kondisi-kondisinya yang sudah ditetapkan melalui analisa hubungan antara penerapan Jihad Rosululloh  pada zaman beliau dengan waktu turunnya penerapan ayat-ayat yang menjadi dasar untuk bagian-bagian hukum itu. Maksudnya adalah bahwa setiap hukum dari keempat hukum itu mempunyai dalil yang akan tetap berlaku sampai akhir zaman dan diterapkan pada kondisinya masing-masing.
Keempat hukum itu adalah:
1.      Jihad dilarang. Jangankan menyerang, membela diri dengan kekerasan pun tidak boleh.
2.     Jihad dibolehkan untuk membela diri.
3.     Jihad diwajibkan terhadap negeri-negeri tetangga apabila mereka tidak mau menerima Islam.
4.     Jihad diwajibkan terhadap seluruh manusia.
Catatan :
Kewajiban yang ada pada hukum ke-3 dan ke-4 hanya ketika negeri itu tidak mau tunduk kepada kekuasaan Islam.
Ketika sekelompok kaum muslimin (khususnya yang masih lemah) berada di bawah kekuasaan "kekafiran total" tanpa syubhat (seperti waktu Rosululloh  di Makkah) periode ini bisa kita namakan periode harokah (periode pra-negara) dan hukum jihad yang diterapkan adalah hukum yang pertama, seperti Rosululloh  sendiri menerapkannya sebelum hijrah ke Madinah.
Kondisi Indonesia masih jauh kurang dari kondisi seperti di atas dari segala sisinya. Maka di Indonesia lebih harus diterapkan hukum pertama. Apalagi kalau kita tambahkan banyaknya syubhat-syubhat, mayoritas rakyat Indonesia adalah kaum muslimin, bahkan hujjah kepada para pelindung sistem non Islam yang berjalan belum ditegakkan dan para aktifis sendiri belum mempunyai ilmu Islam yang cukup untuk mengendalikan masyarakat Islami. Apalagi kalau masalah yang sangat mendasar yaitu terwujudnya kebangkitan ruhani dimasukan kedalam perhitungan.
Jihad adalah masalah besar yang berakibat besar pula. Karena itu tidak bisa dirumuskan secara sederhana oleh orang-orang tidak menyandang predikat ulama apalagi di zaman yang serba unik dan serba sulit seperti zaman kita ini.  

HASMI merangkul seluruh personel umat yang siap meniti sirotul mustaqim, dan menerima mereka baik pria atau wanita, tua atau muda, sebagai anggota tanpa mensyaratkan tingkatan minimal pendidikan atau persyaratan lainnya.
Islam untuk kita semua..

  •  Keanggotaan HASMI berarti :
  1. Ikut dalam usaha penyelamatan umat dari makar-makar musuh Islam dan dari jebakan-jebakan kesesatan dalam satu barisan yang berjalan di jalan yang lurus menuju terbentuknya masyarakat Islami.
  2. Mengikuti program-program ta'lim dan tarbiyyah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
  3. Mendapat bimbingan-bimbingan Islami yang benar dalam menyikapi fenomena-fenomena yang membingungkan di masyarakat.
  4. Sudah mendapatkan pendukung yang terpercaya dalam mendidik keluarga baik selagi hidup maupun setelah kematian.

ARSIP HASMI SOLO