- Otentisitas al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab suci kaum Muslimin dan rujukan pertama dalam memahami Islam.
Keimanan kepada al-Qur'an merupakan salah satu rukun dari rukun iman yang enam. Ahlus Sunnah wal Jama'ah meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa al-Qur‟anul Karim adalah kalamulloh yang terpelihara dari perubahan, penambahan atau pengurangan. Karena, Alloh telah berfirman:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur‟an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. al-Hijr[15]: 9) Alloh telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya al-Qur‟an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Alloh . Maka tidak mungkin jika al-Qur‟an yang telah disaksikan oleh Alloh akan kebenarannya itu ternyata mengalami perubahan meskipun sedikit. Imam Ibnu Hazm juga berkata, “Barangsiapa berpendapat bahwa al-Qur'an telah dikurangi satu huruf setelah wafatnya Rosululloh, atau ditambah satu huruf, atau dirubah satu huruf, maka ia telah kafir dan keluar dari agama Islam karena hal itu berarti menyelisihi kalamulloh, sunnah Rosululloh dan ijma‟ kaum Muslimin.”
- Keyakinan Sesat Syi'ah terhadap al-Qur'an. Syi‟ah berkeyakinan bahwa tidak ada yang mengumpulkan al-Qur‟an dengan lengkap selain Ali bin Abi Tholib dan para imam sesudahnya. Al-Qur‟an (mushaf Fathimah) yang asli ini tiga kali lebih tebal daripada al-Qur‟an yang ada di tangan kaum Muslimin saat ini, dan mushaf tersebut akan kembali hadir ke dunia dengan dibawa oleh Imam yang ke-12 yaitu Imam Mahdi al-Muntadzor.
Al-Kulaini, meriwayatkan dalam Ushuul al-Kaafi dari Abu Bashir dari Abu Abdillah ia berkata:
“Sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah -‘alaihas salam-. Tahukah mereka apakah Mushaf Fathimah-‘alaihas salam- itu ?” Saya men-jawab, “Apakah Mushaf Fathimah itu?” Ia berkata, “Di dalamnya terda-pat seperti al-Qur‟an kalian ini sebanyak tiga kalinya. Demi Alloh, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari al-Qur'an kalian.”
- Bantahan Sebagian Syi’ah sebagai Tindakan Taqiyyah. Kaum Syi‟ah berusaha menyangkal keyakinan Syi‟ah yang jelas-jelas terdapat dalam kitab rujukan utama mereka, yaitu Ushul al-Kaafi. Ini mereka lakukan karena taqiyyah (menyembunyikan hakikat yang sebenarnya). Mereka berkata, “Tidak ada satupun dalam Ushul al-Kaafi yang menga-takan tentang Qur‟an Fathimah.” Tetapi riwayat berikut ini membantah perkataan di atas.
Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Kaafi:
“Abu Bashir berkata kepada Abu Abdillah , „Semoga aku menjadi tebusan bagimu, firman Alloh : “Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang yang kafir terhadap kewalian Ali yang tidak seorangpun dapat menolak azab itu”. Sesungguhnya kami tidak membacanya seperti itu. Maka Abu Abdillah berkata, “Demi Alloh, seperti itulah Jibril menurunkannya kepada Muhammad, dan demi Alloh, seperti itu pula yang termaktub dalam Mushaf Fathimah.” (Al-Kaafi, jilid 8, (Ar-Raudhah) hlm. 49) Sementara bunyi ayat tersebut dalam al-Qur'an yang asli adalah:
“Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.” (QS. al-Ma’arij [70]: 1-2)
- Contoh al-Qur'an yang Menurut Syi’ah Mengalami Perubahan.
Adapun di antara ayat-ayat yang berbeda dengan apa yang diturunkan oleh Alloh adalah firman-Nya:
“Hai Rosul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu tentang Ali, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (Dalam al-Qur‟an yang asli ayat itu berbunyi sebagai berikut:
“Hai Rosul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Robbmu, dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. al-Ma’idah[5]: 67)
Juga firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman terhadap keluarga Muhammad, Alloh sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka।” (Dalam al-Qur'an yang asli ayat itu berbunyi sebagai berikut:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Alloh sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka.” (QS. an-Nisa’[4]: 168)
- Kesimpulan akan Kufurnya Syi’ah. Tidak ada keraguan lagi bahwa keyakinan semacam ini telah mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Karena, barangsiapa yang meyakini bahwa al-Qur'an telah dirubah sepeninggal Nabi , maka itu berarti mendustakan ayat-ayat al-Qur‟an. Dan barangsiapa yang mendustakan al-Qur‟an, maka ia telah kafir. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Hazm yang telah berfatwa, “Barangsiapa berpendapat bahwa al-Qur‟an telah dikurangi satu huruf setelah wafatnya Rosululloh , atau ditambah satu huruf, atau dirubah satu huruf... maka ia telah kafir dan keluar dari agama Islam karena hal itu berarti menyelisihi kalamulloh, sunnah Rosululloh dan ijma‟ kaum Muslimin.”
- Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain berlepas diri dari anggapan adanya al-Qur’an lain selain dari al-Qur’an yang ada.
Satu hal yang perlu ditegaskan di sini bahwa Ahlulbait sendiri khususnya Ali bin Abi Tholib, Fathimah, Hasan dan Husain berlepas diri dari keyakinan Syi‟ah yang sesat di atas. Jika memang benar bahwa Ali bin Abi Thalib memiliki al-Qur‟an yang berbeda dengan al-Qur‟an yang ada, niscaya beliau akan mengumumkan hal itu di saat beliau menjabat sebagai kholifah kaum Muslimin. Ketika itu tidak ada alasan bagi beliau untuk menyembunyikan al-Qur‟an yang berbeda jika memang benar ada. Hal ini karena Syi‟ah mengklaim bahwa Ali sengaja tidak menampakkan al-Qur‟an yang asli karena taqiyyah (menyembunyikan kebenaran karena ketakutan atau ancaman). Ketika beliau menjadi kholifah maka ketakutan apa yang dikhawatirkan oleh Ali ? Cukuplah ini sebagai bukti bahwa Ali bin Abi Thalib dan keluarganya tidak pernah memiliki atau menyimpan al-Qur‟an yang berbeda dengan al-Qur‟an yang ada di tangan kaum Muslimin pada umumnya.
__________________________________________________________
(Lihat: Kekufuran Syi'ah; Bab I; SILSILAH TARBIYYAH HASMI)