1. Hadits adalah Wahyu.
Umat Islam sejak zaman Rosululloh sampai sekarang tidak pernah berbeda pendapat bahwa as-Sunnah atau al-Hadits adalah sumber kedua dalam Islam. Tidak ada yang meragukan tentang hal ini. Ia sudah menjadi suatu kebenaran yang pasti. Sama pastinya dengan kebenaran bahwa Muhammad adalah Nabi yang diutus oleh Alloh .
Alloh berfirman:
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm [53]: 3-4)
Dalam ayat yang lain Alloh berfirman:
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat nadinya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami), dari melakukan hal itu.” (QS. al-Haqqah [69]: 44-47) Apa saja yang beliau ucapkan yang berkaitan dengan tasyri‘ (syariat) adalah wahyu dari sisi Alloh , baik wahyu yang berupa ayat-ayat al-Qur„an ataupun wahyu yang maknanya dari sisi Alloh sedangkan kata-katanya dari susunan Rosululloh (al-Hadits). Jadi, al-Qur„an dan Hadits kedua-duanya adalah wahyu dari Alloh .
2. Wajibnya berpegang Kepada Hadits-Hadits Rosululloh .
Perintah ketaatan kepada Rosululloh dikaitkan dengan ketaatan kepada Alloh . Dalam beberapa ayat yang lain, ketaatan kepada Rosululloh disebutkan secara tersendiri.
a. Allah berfirman:“Barangsiapa yang mentaati Rosululloh, maka sesungguhnya ia telah mentaati Alloh. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan), maka Kami tidak mengutusmu sebagai pemelihara atas mereka.” (QS. an-Nisa’[4]: 80)
b. Alloh berfirman:“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rosul-Nya agar Rosul menghukum di antara mereka ialah ucapan, „Kami mendengar, dan Kami patuh„. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. an-Nur [24]: 51) Imam Ahmad berkata, “Aku mengamati al-Qur„an dan aku dapati di situ perintah untuk taat kepada Rosululloh diulang sebanyak tiga puluh tiga kali.” Beliau bersabda:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka, dengan berpegang teguh pada keduanya kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabulloh dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dan Hakim, dihasankan oleh al-Albani)
3. Kaidah Ilmiah dalam Menyaring Hadits.
Untuk membuktikan bahwa sebuah hadits itu shohih, para ulama hadits telah meletakkan suatu kaidah penyaringan hadits yang sangat ketat dan sangat ilmiah serta bisa dipertanggungjawabkan. Kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan ilmu Mustholahul Hadits. Inti dari kaidah tersebut adalah penelitian sanad. Setiap perawi di dalam sanad tersebut diteliti untuk dipastikan keabsahan riwayatnya. Perawi yang diketahui sebagai pendusta atau tidak adil akan ditolak riwayatnya. Demikian pula perawi yang majhul (tidak diketahui jelas) biografinya, riwayatnya tidak diterima. Kesimpulannya, sebuah riwayat dari Rosululloh harus benar-benar disampaikan oleh orang-orang yang ‘adil (terpercaya), sempurna hafalan-nya, dengan sanad yang bersambung, dan selamat dari cacat atau cela yang bisa menurunkan kualitas riwayat tersebut. Jika tidak demikian maka hadits tersebut tertolak. Dan penelitian semacam ini telah dilakukan oleh para ulama hadits dengan mengerahkan jerih payah ilmiah yang sangat besar yang belum pernah ada seperti itu dalam sejarah.
4. Kekufuran Syi’ah terhadap Hadits.
Kaum Muslimin telah bersepakat dan bahkan ijma‟ akan keshohihan Kitab Shohih Bukhori dan Kitab Shohih Muslim. Kedua kitab ini telah diterima oleh umat Islam di seluruh dunia dengan penerimaan yang baik. Tidak ada yang menyelisihi ijma‟ ini selain Syi‟ah. Dalam pandangan Syi‟ah, kitab Shohih Bukhori tidak ada nilainya meskipun seberat sayap lalat. Apa alasan kaum Syi‟ah tidak mau menerima hadits-hadits Rosululloh yang sudah jelas-jelas shohih itu? Alasannya adalah Syi‟ah tidak menerima „adaalah (integritas pribadi) para sahabat Nabi . Dengan kata lain, mereka tidak percaya bahwa para sahabat Nabi adalah orang-orang yang ‘uduul (istiqomah dan bisa dipercaya). Syi‟ah berkata: “Adapun semacam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh, Samuroh bin Jundub, Marwan bin Hakam, Amran bin Haththon, „Amr bin „Ash, maka di sisi Syi‟ah mereka itu tidak memiliki sedikit nilai walau senilai lalat sekali pun.”
5. Hadits-hadits Syi’ah tidak ada yang bisa diterima.Syi‟ah tidak bersandar kepada hadits-hadits Nabi kecuali hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Ahlul bait. Mereka menolak setiap hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul bait. Mereka tidak memperhatikan keshohihan sanad, tidak juga kaidah-kaidah ilmiah untuk menyeleksi riwayat. Di kalangan Syi‟ah tidak dikenal ilmu Mustholahul Hadits. Oleh karena itu, setiap riwayat yang mereka terima, asal dinisbatkan kepada Ahlul bait akan mereka percayai. Sering sekali terdapat dalam kitab-kitab referensi Syi‟ah hadits yang diriwayat-kan dengan sanad sebagai berikut:
“Dari Muhammad bin Isma‟il dari sebagian para sahabat kami dari seseorang yang meriwayatkan darinya bahwa ia berkata....” Sanad seperti di atas jelas ditolak dan tidak dianggap sama sekali karena di dalamnya terdapat dua perawi yang majhul (tidak dikenal). Hal ini diakui sendiri oleh Ibnu Abil Hadid, penyusun Syarah Nahjul Balaghoh, ia berkata dalam kitabnya tersebut, “Sesungguhnya sumber kepalsuan dalam hadits-hadits fadhail adalah berasal dari Syi‟ah. Mereka telah mengarang hadits-hadits tentang keutamaan para imam mereka. Mereka melakukan semua itu karena kebencian mereka terhadap lawan-lawan mereka.” (Syarah Nahjul Balaghoh, jilid I hal.789).
6. Kedustaan Syi’ah atas Nama Ahlul bait.Al-Majlisi dalam kitabnya, Haqqul Yaqiin, bahwa hamba sahaya Ali bin Husain berkata kepadanya, “Bagiku atasmu hak pelayanan, ceritakan kepadaku tentang Abu Bakar dan Umar.” Maka ia menjawab, “Mereka berdua adalah kafir, dan orang yang cinta kepadanya juga termasuk kafir.”
Riwayat di atas tidak diragukan lagi kebohongannya. Sebab bagaimana mungkin Ali bin Husain (yang dijuluki Zainal „Abidin) itu mengkafirkan Abu Bakar dan Umar padahal kakeknya yaitu „Ali bin Abi Tholib telah membai‟at kedua khalifah tersebut dengan sukarela, bahkan menjadi penasihat bagi keduanya. Sebagai bukti kecintaan Ali kepada tiga khalifah sebelumnya ialah beliau memberi nama seorang puteranya dengan Abu Bakar, seorang lagi dengan nama Umar, dan seorang lagi dengan nama Utsman. (Tarikh al-Ya’qubi). Di samping itu Ali bin Abi Tholib juga menikahkan puterinya yaitu Ummu Kultsum dengan Umar bin Khoththob . Mungkinkah „Ali menikahkan puterinya dengan seorang kafir? Salah satu hadits dusta karangan Syi‟ah atas nama Ahlul Bait adalah: Sayid Fathulloh al-Kasyani meriwayatkan dalam Tafsir Minhajus Shodiqin dari Nabi sesungguhnya beliau bersabda, “Barangsiapa yang melaku-kan mut‟ah satu kali, maka derajatnya seperti Husain . Barangsiapa yang melakukan mut‟ah dua kali, maka derajatnya seperti derajat Hasan . Barangsiapa yang melakukan mut‟ah tiga kali, maka derajatnya seperti Ali bin Abi Tholib dan barangsiapa yang melakukan mut‟ah empat kali, maka derajatnya seperti derajatku.”
7. Kesimpulan akan Kufurnya Syi’ah.Dengan sikapnya yang menolak ribuan hadits-hadits shohih tersebut, maka Syi'ah telah kafir dan keluar dari agama Islam. Karena, landasan utama Islam adalah al-Qur'an dan hadits. Keduanya adalah wahyu Alloh . Menolak salah satunya berarti kafir. Alloh telah menegaskan bahwa orang yang beriman tidak akan memiliki alternatif lain dari apa yang telah diputuskan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Alloh berfirman:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. al-Ahzab [33]: 36)
____________________________________________________
(Lihat: Kekufuran Syi'ah, Bab II; SILSILAH TARBIYYAH HASMI 10)