Golongan pertama adalah
orang-orang yang konsisten dan istiqomah dalam mengerjakan shalat.
Manusia yang masuk dalam kelompok ini sangat memahami bahwa yang
diinginkan oleh syariat tidak hanya sekedar melaksanakan shalat tanpa
makna, akan tetapi shalat yang dapat memunculkan efek positif bagi para
pelakunya.
Saudaraku, perhatikan firman Allah SWT,
“...dan dirikinlah shalat, karena sesungguhnya shalat dapat mencegah
perbuatan keji dan munkar...” (al-Ankabut: 45). Inilah
yang diinginkan Allah SWT, mendirikan shalat, bukan sekedar melaksanakan
shalat. Ketika seorang muslim telah mendirikan shalat, maka dipastikan
ia akan menjadi seorang yang shaleh moralnya.
Selanjutnya golongan kedua
adalah yang dapat memenej diri sehingga tidak banyak berkeluh kesah,
gelisah, dan bakhil sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Ma’arij:
24-25, yang artinya, “Dan orang-orang yang dalam hartanya
tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan tidak
mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).”
Diantara sekian banyak golongan manusia
yang terselamatkan dari tabiat negatif umumnya manusia adalah
orang-orang yang secara konsisten mendirikan shalat dan senantiasa
menyisihkan sebagian hartanya
untuk orang-orang yang membutuhkan. Bisa dikatakan bahwa informasi ini
mengandung muatan perintah. Perintah mendirikan shalat secara konsisten,
langsung diikuti dengan perintah bersedekah. Para sahabat begitu
perhatian dengan masalah shalat dan sedekah, sehingga tak ada satu orang
pun dari mereka yang menganggap remeh keterkaitan antara shalat dan
zakat.
At-Thabarani meriwayatkan dari Abdullah
bin Mas’ud ra. Ia berkata, “Kami telah diperintahkan untuk menegakkan
shalat dan menunaikan zakat. Barang siapa tidak menunaikan zakat
, maka ia tidak mendapatkan pahala shalat”. Pernyataan ini menunjukkan
betapa eratnya hubungan shalat dan sedekah yang sekali waktu diartikan zakat,
hingga shalat seseorang yang enggan bersedekah tidak dianggap bermakna.
Mengapa demikian? Karena shalat tersebut tidak mempunyai efek
sedikitpun dalam membentuk pribadi berakhlak pelakunya. Ia hanya saleh
untuk dirinya sendiri dengan shalatnya, akan tetapi ia tidak mempunyai
kontribusi kebaikan yang dapat dirasakan orang lain dengan dermanya.
Saudaraku, disinilah kita semakin paham,
ibadah shalat dikaitkan dengan sedekah. Shalat sebagai salah satu
pondasi dasar bangunan Islam kala didirikan secara maksimal, sudah tentu
akan membentuk berbagai karakter positif seorang muslim. Salah satunya
sifat dermawan. Kedermawanan yang menghujam dalam diri seorang muslim
terbentuk melalui proses pendekatan ibadah kepada Allah. Kala hati
seorang muslim telah dekat dengan Rabb-nya, maka janji-janji Rabb-nya
tentang keutamaan sedekah pasti akan ia respon dengan cepat. Ia
betul-betul yakin bahwa sedekahnya tak akan membuatnya miskin. Ia yakin
bahwa sedekahnya akan dibalas Allah SWT dengan balasan yang
berlipat-lipat. Ia yakin bahwa sedekahnya akan menaikkan status dirinya
menjadi hamba terkasih Allah SWT. (http://lazmm.org/tausiyah-islami/shalat-dan-sedekah-ibarat-dua-sisi-mata-uang)