Minggu, 22 Januari 2012

.:: Dituduh Menyusup, Pasukan Israel Kembali Ciduk Tiga Warga Palestina.

YERUSALEM – Tiga orang penduduk Palestina dengan serta merta ditangkap oleh tentara Israel karena mereka menuding bahwa tiga orang warga Palestina itu telah berusaha menyusup memasuki daerah pemukiman Yahudi di jalur Gaza Selatan.
“Larut malam kemarin, tiga orang mendekati pagar perbatasan dari Gaza selatan untuk menyusup ke Israel. Mereka ditangkap oleh pasukan tak lama setelah menyebrang.” Ungkap salah seorang juru bicara.
“Kami menemukan sebuah granat fragmentasi pada salah seorang dari mereka. Mereka di tangkap dan ditahan untuk diinterogasi,” tambahnya.
Satu sumber keamanan Palestina mengklaim bahwa insiden itu melibatkan dua orang dan mengatakan, mereka ditangkap kemarin malam di dalam wilayah Gaza oleh pasukan khusus Israel.
Menurut pejabat itu, pasukan Israel memasuki Rafah dan membawa dua warganya ke sebuah lokasi yang tidak diketahui dan tidak ada keterangan mengenai apa yang terjadi pada mereka. Seorang saksi mengatakan, pasukan khusus menangkap dua pemuda, Akram dan Ismail al-Sufi, di dekat rumah mereka tidak jauh dari daerah perbatasan sebelah timur Rafah.
Hingga kini, belum diketahui bagaimana nasib warga Palestina ini di tangan Israel. (Admin-HASMI/rep).

.:: Perbaiki ‘Image’ Negatif, Generasi Muda Muslim Amerika Ambil Peran Jadi Imam.

AMERIKA – Ummat Muslim Amerika tak patah arang untuk tetap menghadapi berbagai cobaan di Negara berjuluk “super power” itu. Dalam upaya memperbaiki ‘image’ negatif dikalangan publik  Amerika, generasi muda Muslim Amerika mulai mengambil peran sebagai Imam atau (pemimpin komunitas).
 “Kami mulai memiliki sejumlah besar anak-anak muda Amerika yang mengambil studi Islam dan menjadi imam,” kata Yvonne Haddad, seorang profesor sejarah Islam dan hubungan Kristen-Muslim di Georgetown University.
Baru-baru ini, pemuda 27 tahun bernama Asif Umar, ditunjuk menjadi imam baru di Masjid Darul Islam di daerah St. Louis.
“Sekarang jika Anda melihat iklan lowongan imam, mereka meminta imam yang menguasa bahasa Inggris, dapat berhubungan dengan kelompok-kelompok antaragama, dan berkomunikasi dengan generasi muda,” kata Haddad. “Mereka tidak ingin kehilangan generasi muda.”
Tumbuh di Amerika, Umar, lahir dari imigran India, berbeda dengan imam-imam lainnya di daerah St. Louis yang sudah tua. Dia juga pernah belajar di Akademi Katolik Hati Kudus. “Tidak setiap imam pernah sekolah ke sebuah sekolah Katolik di pinggiran kota,” katanya.
Bagi Muslim Amerika, imam seperti Umar adalah duta potensial yang diharapkan dapat menyajikan gambaran yang benar tentang Islam kepada masyarakat Amerika.
“Dia [Imam Umar] adalah tipe pria yang kita inginkan mewakili wajah Islam Amerika,” kata Muhammad Dalal, 20, mahasiswa University of Missouri-St. Louis, setelah menjadi makmum saat Umar memimpin sholat Jumat pertama sebagai imam. “Dia dibesarkan di sini dan dia wakil komunitas Muslim-Amerika.”
Menghafal Al-Qur’an di Institut Pendidikan Islam di Elgin, Illinois, Umar menjadi seorang hafidz. Dia juga mempelajari matematika dan sastra. Umar meneruskan studi di bidang keislaman dan mempelajari dalam fiqh  –prinsip-prinsip hukum Islam.
Tahun 2008, Umar ke Afrika Selatan untuk meraih gelar master dalam bidang hukum Islam dan meraih gelar “mufti.” Ia juga studi selama enam bulan di Kairo pada 2009 untuk belajar bahasa Arab, kemudian dia pindah ke Springfield, Va, untuk mengajar hukum Islam di sebuah sekolah yang sama saat ia lulus dari di Illinois. (Admin-HASMI/Mel/ddhk/pus).

ARSIP HASMI SOLO