Minggu, 13 November 2011


Tata Cara Ringkas Sholat Jenazah menurut Sunnah!



Fatwa Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Soal:
Bagaimana tata cara menyalatkan mayit?

Jawab:
Urutan tata cara menyalatkan mayit :
  1. Melakukan takbiratul ihram (takbir pertama).
  2. Tanpa perlu membaca istiftah langsung berta’aawudz (أَعُوّْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ) dan membaca basmalah.
  3. Diikuti dengan bacaan Al-Fatihah.
  4. Melakukan takbir kedua dan diikuti dengan ucapan shalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam semisal shalawat yang dibaca pada tasyahud akhir dalam shalat fardhu.
  5. Melakukan takbir ketiga dan mendoakan si mayit dengan doa-doa yang terdapat dalam hadits-hadits yang shahih.(*)
  6. Selepas berdoa kemudian melakukan takbir terakhir (takbir keempat), berhenti sejenak, lalu salam ke arah kanan dengan satu kali salam.

(*) Di antara bentuk doa-doa tersebut adalah:


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ


“Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah dia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, lindungilah dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR. Muslim)


Jika yang dishalatkan itu mayit perempuan, orang yang shalat mengucapkan,


اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا


Yaitu dengan mengubah semua dhamir-nya menjadi dhamir muannats (kata ganti jenis perempuan).


Adapun bila yang dishalatkan itu anak kecil, doa yang dibaca yaitu,


اللّهُمَّ اجْعَلْهُ لِوَالِدَيْهِ فَرَطًا وَأَجْرًا وشَفِيعًا مُجَابًا‏


“Ya Allah, jadikanlah dia sebagai simpanan, pahala, dan sebagai syafaat yang mustajab untuk kedua orang tuanya.” (HR. Al-Bukhari)


اللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا، وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُورَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِينَ، وَاجْعَلْهُ فِي كَفَالَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيمِ‏


“Ya Allah, perberatlah karenanya timbangan kebaikan kedua orang tuanya, perbanyaklah pahala kedua orang tuanya, dan kumpulkanlah dia bersama orang-orang shalih terdahulu dari kalangan orang yang beriman, masukkanlah dia dalam pengasuhan Ibrahim, dan dengan rahmat-Mu, peliharalah dia dari siksa neraka Jahim.”


Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/7086?ref=p-top

Jumat, 11 November 2011

HUKUM PARA PEMIMPIN YANG MENGHINDAR DARI KEPERLUAN RAKYATNYA!


Nabi Muhammad shollallohu 'alayhi wasallam berdo'a:

اللَّهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِ

“Ya Allah, barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan barangsiapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka, maka bersikaplah lembut kepadanya”. (HR. Muslim, no.1828)Rosululloh shollallohu 'alayhu wasallam bersabda:

"Setiap kamu adalah pemimpin (pengatur) dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin (pengatur) dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang laki-laki (kepala rumah tangga) adalah pemimpin (pengatur) terhadap keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang wanita (ibu rumah tangga) adalah pemimpin (pengatur) di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang pelayan adalah pemimpin (pengatur) pada harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya” (HR. Al-Bukhari, no. 2558)

“Barangsiapa memimpin suatu urusan manusia, lantas menyembunyikan diri dari yang lemah dan dari yang mempunyai keperluan, maka Allah akan menyembunyikan diri darinya pada hari kiamat”. (HR Ahmad)

“Barangsiapa memimpin urusan manusia kemudian ia menutup pintunya bagi orang yang miskin atau bagi orang yang dizhalimi atau bagi orang yang mempunyai keperluan, maka Allah akan menutup pintu kasih sayangnya bagi orang tersebut”. (HR Ahmad)

"Pemimpin yang mengemban urusan kaum muslimin, lalu ia menghindar dari kebutuhan, keperluan dan orang-orang faqir rakyatnya, Allah pasti akan menutup diri darinya ketika ia kekurangan, kebutuhan dan faqir". (HR. Abu Daud)

Abu Maryam Al-Azdi berkata: “Aku menemui (penguasa) Mu’awiyah, lalu dia berkata, ‘Kami senang bertemu denganmu, apa yang menyebabkan kamu menemuiku hai Abu Fulan?’ -itu adalah ungkapan yang biasa diucapkan oleh bangsa Arab- Aku menjawab, ‘Sebuah hadits yang pernah aku dengar, aku akan memberitakan kepadamu. Aku telah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Barangsiapa dijadikan oleh Allah sebagai pemimpin yang mengurusi sesuatu dari urusan kaum Muslimin, lalu dia menutupi diri dari keperluan, kebutuhan, dan kefakiran mereka, niscaya Alldh menutupi diri dari keperluan, kebutuhan, dan kefakirannya”. Dia berkata, ‘Kemudian Mu’awiyah menetapkan seseorang untuk mengurusi kebutuhan-kebutuhan rakyat’. (HR. Abu Dawud, no. 2948; dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Kamis, 10 November 2011

SILSILAH TARBIYYAH SUNNIYYAH III

TUGAS & TUJUAN

Oleh Sebuah Gerakan Kebangkitan pada 04 September 2011 jam 0:27
  • TITIK MULA SEBUAH PERJALANAN
Titik mula perjalanan ini adalah saat penciptaan manusia pertama, bapak seluruh manusia yaitu Nabi Adam a.s yang diciptakan Alloh   dari tanah dengan tangan-Nya sendiri. Kemudian ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya. Para malaikat pun bersujud kepada Adam sebagai  bukti ketaatan mereka kepada Alloh   dan penghormatan mereka kepada Adam . Namun pada saat yang sama, terjadilah suatu kedurhakaan yang besar sekali berupa pembangkangan Iblis terhadap Alloh dengan menolak untuk bersujud kepada Adam  seraya takabur atas dasar klaim bahwa bahan asal penciptaan dirinya, yaitu api yang dianggapnya lebih mulia dari bahan asal penciptaan Adam , yaitu tanah. Murkalah Alloh  dan terkutuklah Iblis.

Alloh  berfirman (artinya) :  
“(Ingatlah) ketika Robbmu berfirman kepada para  malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.’ Maka apabila telah Ku-sempurnakan penciptaannya dan Ku-tiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kalian bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat pun bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan jadilah dia termasuk orang-orang yang kafir. Alloh berfirman: ‘Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?’ Iblis berkata: ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ Alloh berfirman: ‘Keluarlah kau dari surga! Sesungguhnya kau adalah makhluk yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (QS. Shod [38]: 71-78)

  • TERGODA DAN TURUN KE BUMI 
Setelah Adam  dianugerahi seorang istri yang Alloh  ciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam  sendiri, mereka berdua pun dipersilahkan untuk menghuni surga dengan diberikan dua pesan yaitu agar berhati-hati jangan sampai musuh mereka Iblis menipu mereka dan mengeluarkan mereka dari surga dan pesan kedua agar tidak mendekati salah satu pohon surga. Tetapi pada kenyataannya, Adam  terpedaya oleh tipuan Iblis yang membujuk dan merayunya. Maka didekatinya pohon itu bahkan kemudian mereka berdua mencicipi buahnya.Adam   dan Hawa pun menyesal serta mengakui kesalahan mereka, lalu meminta ampun kepada Alloh   dan Alloh   pun mengampuni mereka. Kemudian Alloh  memerintahkan mereka untuk keluar dari surga dan turun ke bumi.

Alloh  berfirman (artinya) :  
“Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zholim’.” (QS. al-Baqoroh [2]: 35)
“Maka Kami berkata: ‘Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka’.” (QS. Thoha [20]: 117) 

“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari aurat mereka  dan setan berkata: ‘Robb kalian  tidak melarang kalian untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya. ‘Sesungguhnya saya adalah seorang penasehat bagi kalian berdua.’ Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah mencicipi buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-aurat mereka, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Robb mereka menyeru mereka: ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepada kalian: ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?” (QS. al-A'rof [7]: 20-22)

Demikianlah godaan, bujukan dan rayuan Iblis kepada Adam  dan istrinya Hawa, yang menyebabkan keduanya dikeluarkan dari surga dan diturunkan untuk mendiami bumi.

  • PESAN DI GERBANG SURGA 
Bersamaan dengan turunnya Adam   dan Hawa dari surga ke bumi, Iblis pun diturunkan dari surga untuk kemudian tinggal di bumi yang sama dengan keduanya. Dalam pelepasan kedua jenis makhluk Alloh   itu, Alloh   pun memberi pesan terakhir kepada mereka sebelum menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang sebelumnya, yaitu kehidupan dunia yang penuh dengan liku-liku kesedihan dan kesulitan. Kehidupan yang penuh cobaan dan pertarungan di antara kedua jenis makhluk itu.

Alloh  berfirman (artinya) :  
“Turunlah kalian semua dari surga! Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian lainnya. Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan akan Kami kumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha [20]: 123-124)

“Kami berfirman: ‘Turunlah kalian semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’ Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqoroh [2]: 38-39)

Turunlah Adam  dan istrinya untuk menjalankan tugas yang memang telah ditentukan sebelumnya.

  • AMANAT BESAR
Turunlah pasangan manusia pertama untuk menjalankan tujuan penciptaan dan tugas utamanya yaitu menunaikan amanat yang telah diterimanya dengan sukarela, padahal  langit, bumi dan gunung-gunung menolak dan merasa ngeri untuk memikulnya.

Alloh  berfirman (artinya) :  
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zholim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab [33]: 72)

Ibnu Katsir  meriwayatkan bahwa Al Oufi  (salah seorang murid Ibnu ‘Abbas ) meriwayatkan bahwasanya Ibnu Abbas   berkata:
“Yang dimaksud dengan amanat adalah “ketaatan”. Alloh  telah menawarkan kepada makhluk-makhluk itu (yaitu langit, bumi dan gunung-gunung) sebelum menawarkannya kepada Adam . Maka Alloh  berfirman kepada Adam : Aku telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, akan tetapi mereka tidak bersedia memikulnya. Apakah engkau siap memikulnya? Adam  pun bertanya: “Wahai Robb, apakah kandungannya? Alloh  pun berfirman: “Jika engkau berbuat baik maka engkau akan diganjar kebaikan sebaliknya jika engkau berbuat buruk, maka engkau akan dihukum (siksa)”, maka Adam  pun menerima amanat itu.”

Kita perhatikan ayat tersebut dengan seksama dan memperhatikan pula penafsiran Ibnu ‘Abbas  tersebut dengan tidak dirinci isi dan konsekuensi amanat tersebut. Yang ada adalah penetapan status “perhitungan”. Tetapi Ibnu Katsir  setelah meriwayatkan perkataan dari beberapa ulama salaf yang kemudian beliau menyimpulkan bahwa amanat itu adalah “tugas, perintah-perintah dan larangan-larangan”.
Pesan di gerbang surga pun mengandung janji bahwa Alloh   akan menurunkan hidayah-Nya (petunjuk-Nya) dan menjanjikan ganjaran yang baik untuk mereka yang mengikuti petunjuk itu serta ancaman hukuman untuk mereka yang menolaknya. Petunjuk yang Alloh   turunkan adalah Islam itu sendiri.
  1. Jadi amanat itu adalah ajaran-ajaran Islam. Yaitu, Islam yang murni bukan Islam yang dirasuki oleh kepalsuan-kepalsuan.
  2. al-Qur’an telah menjelaskan dua hal yang menjadi cakupan amanat ini secara tersirat, yaitu tujuan hidup dan tugas (jabatan) manusia (kekhilafahan).
Jadi amanat itu adalah penerapan Islam dalam pelaksanaan tujuan hidup dan penunaian tugasnya.
  
  • TUGAS DAN TUJUAN 
1. Tujuan Hidup Manusia.

Alloh  berfirman (artinya) : 
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)

Ayat ini menjelaskan dengan gamblang namun masih bersifat global tentang tujuan hidup (penciptaan) manusia, yaitu “beribadah hanya kepada Alloh   saja” dan yang demikian ini dinamakan tauhid (mengesakan Alloh ).

2. Tugas Manusia yaitu: 

Khilafah atau kekhilafahan (penguasaan dan kepengurusan) bumi. Setelah beriman dan bertauhid, manusia dituntut untuk menjadi penyelenggara penegakan tauhid di atas bumi dengan menerapkan hukum-hukum Alloh  atas diri-diri mereka dan atas orang-orang yang tidak beriman serta makhluk-makhluk bumi selain manusia yang berada di bawah kekuasaannya. Yaitu bumi dan apa yang ada di atasnya. Itulah tugas kekhilafahan. Dengan demikian orang-orang yang beriman harus menjadi “polisi” bumi, tetapi tidak boleh sewenang-wenang. Mereka harus terikat oleh hukum-hukum Alloh  dan bukan menuruti hawa nafsu dalam menghukum atau mengikuti hukum-hukum selain hukum Alloh .
Selain tercakup dalam banyak ayat al-Qur’an, tugas dan peranan ini pun dikandung oleh nama yang Alloh   berikan bagi jenis manusia, yaitu khalifah.

Alloh  berfirman (artinya) :  
“Ingatlah ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’." … (QS. al-Baqoroh [2]: 30)

Untuk lebih jelasnya tentang masalah khalifah dan khilafah, maka ikutilah dalam pembahasan selanjutnya.

  • KHALIFAH DAN KHILAFAH
A.      Khalifah
Arti kata khalifah dapat diperjelas dengan uraian berikut:
  • Khalifah secara umum berarti penguasa yang dipertuan di muka bumi. Predikat ini untuk seluruh manusia atas makhluk-makhluk bumi lainnya. Manusia diberi Alloh   akal dan semua kemampuan untuk itu. Kenyataan manusia di bumi yang dari hari ke hari bisa mengungguli makhluk-makhluk  bumi lainnya dan mengatasi banyak kendala-kendala dan rintangan-rintangan hidupnya, membuktikan arti ini. Penafsiran penguasa, pengurus dan yang dipertuankan secara umum ini didukung pula oleh arti kedua dan ketiga dari kata khalifah ini.
Dari ayat-ayat berikut kita juga bisa menangkap arti itu tersirat  jelas di dalamnya.

Alloh  berfirman (artinya) :  
“Ingatlah ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’." … (QS. al-Baqoroh [2]: 30)

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan kata “khalifah” adalah Adam  dan keturunannya, yaitu jenis manusia.

Alloh  berfirman (artinya) :  
“Dia-lah yang menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Robbnya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” (QS. Fathir [35]: 39)

Ayat ini lebih jelas lagi dari ayat sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan “khalifah-khalifah” adalah jenis manusia, baik mu’min maupun kafir.

Alloh  berfirman (artinya) : 
“Tidakkah kalian perhatikan, sesungguhnya Alloh telah menundukkan untuk (kepentingan) kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin....”  (QS. Luqman [31]: 20)

Dalam ayat ini diterangkan betapa Alloh  telah “menun-dukkan” semua yang ada di alam semesta untuk jenis manusia, makhluk yang dipertuankan.

Rosululloh  bersabda:

(( إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ ))
“Sesungguhnya dunia itu manis dan indah, dan sesungguhnya Alloh menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, kemudian Alloh mengawasi apa yang kalian perbuat.” (HR. Muslim)
Adapun tafsir kata khalifah dengan arti “kaum yang saling menggantikan generasi atas generasi sebelumnya” memang begitulah keadaan manusia. Akan tetapi hal ini bukan khusus untuk manusia, binatang pun demikian.
  • Khalifah dalam arti syar’i adalah: makhluk penguasa bumi yang berperan sebagai penyelenggara tauhid. Hal ini hanya berlaku untuk orang-orang yang beriman agar menegakkan tauhid dan syariatnya serta berdakwah dan berjihad untuk memasukkan umat manusia ke dalam agama Alloh , juga untuk menegakkan syariah atas semua makhluk bumi.
Ketika manusia dituntut untuk menunaikan sisi pertama dari amanat, tujuan dari penciptaannya (hidupnya), yaitu hanya beribadah kepada Alloh  saja, maka kata khalifah dalam arti pertama harus berjalan di atas syariat tauhid (syariat Islam). Ini berarti bahwa manusia-manusia yang tidak bertauhid, walaupun menyandang nama dan sifat kekhilafahan bukanlah khalifah-khalifah yang  sebenarnya (seperti yang dituntut oleh al-Qur’an). Demikian juga orang-orang Islam yang tidak ikut dalam usaha menegakkan syariat tauhid di muka bumi. Walaupun kedua golongan ini sangat berbeda dalam keterpurukan masing-masing.

 Alloh  berfirman (artinya) : 
“Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan mengkhalifahkan mereka (menjadikan mereka berkuasa) di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengganti (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur [24]: 55)

Ibnu Katsir  dalam tafsirnya berkata:
“Ini adalah janji Alloh  kepada Rosul-Nya, yaitu akan menjadikan umat beliau sebagai pemimpin seluruh manusia, memperbaiki keadaan negeri-negeri, dan seluruh manusia pun tunduk kepada mereka.”

Ayat di atas dan tafsirnya sangat jelas dan selaras dengan arti kedua ini, dengan adanya kalimat-kalimat:
  1. Orang-orang yang beriman dan beramal soleh
  2. Berkuasa (khalifah)
  3. Keamanan
  4. Beribadah hanya kepada Alloh  saja (tauhid).
  • Khalifah dalam arti “pelaksana hukum-hukum Alloh   dalam memutuskan seluruh perkara yang terjadi di antara makhluk di bumi ini. Sebagaimana yang dikandung oleh arti ayat berikut.
Alloh  berfirman (artinya) : 
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka putuskanlah (semua perkara) di antara manusia dengan adil (yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah hukum Alloh ) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad [38]: 26)

Selain secara langsung mendukung arti ketiga ini, ayat ini pun mendukung arti kedua dengan mengaitkan kata “khalifah” dengan tugas (ingat, ayat ini berisi perintah) untuk menjalankan “hukum” di mana  hal ini menuntut adanya kekuasaan. “Bil Haq” di sini adalah hukum Alloh . Ayat ini juga mengandung ancaman dahsyat untuk penguasa-penguasa yang tidak menerapkan hukum Alloh  (dengan kata lain menerapkan hukum yang bukan syariat Islam).
Kesimpulan:
Arti pertama ada pada setiap jenis manusia baik mukmin ataupun kafir. Arti kedua adalah penyandang peranan penegakan penyelenggaraan tauhid melalui (pencapaian) kekuasaan. Peranan ini bagi seluruh orang yang beriman. Mereka wajib melaksanakan peranan ini sebagai suatu kewajiban yang tercakup dalam amanat kubro dan dituntut oleh al-Qur’an. Sedangkan arti ketiga adalah peran, hak dan kewajiban pemerintahan, pemimpin dan negara Islam.

B.      Khilafah
Khilafah adalah sifat dari khalifah (pelaku khilafah). Jadi khilafah adalah kepenguasaan dan kepengurusan dan karena itu khilafah terbagi atas tiga macam.
  • Arti khilafah secara umum sejalan dengan arti khalifah secara umum, yaitu kesuperioritasan (hegemoni) manusia atas makhluk-makhluk bumi lainnya.
  • Arti khilafah secara khusus pun selaras dengan arti khalifah secara khusus, yaitu penyelenggaraan tauhid di bumi ini.
  • Khilafah dalam arti yang ketiga bisa juga dinamakan Khilafah Struktural dan artinya selaras dengan arti ketiga dari khalifah, yaitu pemerintahan atau negara Islam. Negara Islam dan pemerintahannya adalah penata, pemimpin, dan pengendali pelaksanaan tugas-tugas kekhilafahan. Walaupun tugas kekhilafahan tetap menjadi amanat untuk seluruh orang yang beriman, akan tetapi karena posisi pemerintah yang khusus, maka istilah ini disematkan kepada pemerintah dari sebuah negara Islam.

  • KEMULIAAN 
Kemuliaan yang besar telah diberikan kepada jenis manusia sejak penciptaannya. Manusia pertama, walaupun diciptakan untuk bumi, tetapi penciptaannya berlangsung di atas langit dan disaksikan oleh para malaikat yang mulia. Tubuhnya dibentuk sebaik dan seindah-indahnya bentuk oleh tangan Alloh  sendiri. Ruhnya pun ditiupkan ke dalam jasadnya oleh Alloh  sendiri pula. Kemudian Alloh  membekalinya dengan dasar-dasar seluruh ilmu, yaitu ilmu tentang nama-nama seluruh makhluk. Setelah itu para malaikat yang suci dan mulia diperintahkan untuk bersujud kepadanya. Jadi manusia sejak diciptakan adalah makhluk yang mulia dan bukan sama sekali bermula dari kera seperti yang dikatakan oleh Yahudi Darwin. Barangsiapa yang percaya pada teori Darwin ini, maka dia telah kafir.
Setelah Adam  terpuruk pun karena melanggar satu-satunya larangan pada waktu itu, Alloh  segera mengilhaminya taubat dan mengajarkannya kata-kata yang harus diucapkannya agar taubatnya diterima dan bisa bangkit kembali dari keterpurukan itu. Taubatnya pun diterima dan Adam  pun bangkit ke derajatnya semula. Inilah kisah keterpurukan dan kebangkitan pertama untuk jenis manusia. Jika Adam tidak bangkit waktu itu, maka dia dan keturunannya bisa jadi akan terpuruk selama-lamanya seperti halnya Iblis yang enggan untuk bangkit setelah keterpurukan yang dahsyat.
Dia dan keturunannya pun diberikan ilmu yang menerangi perjalanan hidupnya dalam menuju kampung halaman tempat dia diciptakan untuk menemui dan memandang wajah penciptanya Yang Maha Indah sambil menjalani kehidupan surga abadi yang penuh  dengan kelezatan dan kenikmatan yang tidak akan pernah putus, bertetangga dengan sang pencipta. Suatu kemuliaan yang luar biasa!
Turunlah Adam  ke bumi. Dia dan keturunannya memang dipersiapkan untuk menjadi penguasa dan pengurus bumi (khalifah). Alloh  telah menciptakan tubuhnya dari tanah (bumi) sementara malaikat yang tubuhnya diciptakan dari cahaya dan jin yang jasadnya diciptakan dari api, tidak terpilih untuk tugas ini. Walaupun mereka sudah ada sebelum Adam . Suatu kemuliaan yang besar sekali!
Bumi pun telah dipersiapkan untuk menerima kedatangan sang khalifah. Semua yang ada di bumi telah ditundukkan dan diselaraskan dengan struktur tubuh dan jiwa sang khalifah. Seluruh komponen alam semesta yang ada di antara bumi dan langit diorbitkan untuk melayani makhluk baru ini dan menjadi pendukung bumi agar tetap kondusif untuk manusia. Pepohonan di atas bumi seakan-akan para pekerja pembuat makanan, minuman dan oksigen untuk manusia. Binatang-binatang ternak seakan-akan sebagai pengawet daging-daging yang menempel di tubuhnya sampai tiba waktunya bagi manusia untuk memakannya. Semua telah tersedia! Lagi-lagi kemuliaan yang tak tertandingi oleh makhluk-makhluk lainnya... Tak ada lagi alasan bagi manusia untuk tidak dapat menjalani tugas!!
Tugas dan tujuan penciptaannya itulah dasar dari kemuliaannya. Kemuliaan demi kemuliaan itu hanya bisa diraih dan dipertahankan dengan cara konsisten menjalankan amanat, yaitu tauhid dan khilafah... Jika dia mengabaikannya, maka kemuliaan akan tergantikan dengan kehinaan! Na’udzubillahi min dzalik!

  • SIROTULMUSTAQIM
Alloh  hanya membentangkan satu jalan untuk dititi oleh hamba-hamba-Nya dalam perjalanan menuju Dzat-Nya, keridhoan-Nya, surga-Nya, keselamatan di akhirat dan bahkan keselamatan di dunia. Jalan itu adalah jalan yang lurus, Sirotulmustaqim yaitu Islam yang murni, satu-satunya agama yang diterima Alloh . Tetapi pada zaman kita sekarang ini, kita dapati banyak Islam”. Berdasarkan prinsip asasi bahwa Islam yang benar hanyalah satu, maka di antara yang banyak itu, hanya satu Islam saja yang benar-benar Islam dan murni.
Demikianlah sudah menjadi takdir Alloh  bahwa umat ini akan terpecah menjadi banyak golongan dan memang sudah terpecah! Namun hanya satu yang benar, dan yang lain salah!  

1. Satu-satunya jalan keselamatan.
Hanya satu yang benar! Yang meniti Sirotulmustaqim, sedangkan yang lain telah mencampuradukkan jalan penitian mereka terhadap Sirotulmustaqim dengan kepalsuan-kepalsuan.

Rosululloh  bersabda:
(( لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله،ِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: اَلجَمَاعَةُ ))
“Sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Satu golongan di dalam surga dan 72 golongan di dalam neraka. Ditanyakan kepada beliau: ‘Siapakah mereka (yang satu golongan) itu wahai Rosululloh?’ Maka beliau menjawab: ‘al-Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Abi ‘Ashim dan Lalika’i)

(( وَإِنَّ بَنِىْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قَالُوا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلىَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي ))
“Sesungguhnya bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 kelompok keagamaan, dan umatku akan berpecah-belah menjadi 73 kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Mereka (para sohabat) bertanya: “Siapakah satu kelompok itu wahai Rosululloh?” Maka beliau menjawab: Mereka yang mengikuti jejakku dan dan jejak para sohabatku.  (HR. at-Tirmidziy, al-Hakim dan al-Lalika’iy)

Itulah Islam yang murni...! Memahami dan menerapkan Islam sesuai dengan pemahaman dan penerapan Rosululloh   dan para sohabatnya, itulah Sirotulmustaqim.
Sirotulmustaqim, Islam yang murni dan sempurna ini, mencakup manhaj pelaksanaan kedua tugas utama manusia “beribadah hanya kepada Alloh  saja” dan “pengembanan amanat khilafah di bumi”. Barangsiapa yang menyelisihi Islam yang murni, dia telah menyalahi tujuan hidupnya, amalnya tidak akan diterima dan dia tidak akan sanggup untuk mengemban tugas khilafah di bumi ini.

2. Golongan Yang Selamat (Firqotun Najiyah).
Maksudnya adalah golongan yang tidak memasuki neraka sebelum memasuki surga. Hal ini telah dikabarkan oleh Rosululloh  dalam hadits-hadits beliau yang disebutkan di atas. Dalam hadits-hadits tersebut telah dijelaskan sifat-sifat global dari golongan tersebut, di antaranya:         
“Mereka yang mengikuti jejakku dan para sohabatku.”
Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah “mereka yang mengikuti ajaran-ajaranku dan para sohabatku dalam memahami dan melaksanakan Islam (dengan kata lain mengikuti Sunnah dan Jama’ah).” Kalimat ini juga mencakup mengikuti jejak beliau  dan para sohabat  dalam mengemban amanat kehilafahan dengan berjihad untuk mendirikan dan menyelenggarakan kekhilafahan itu.

3. Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah nama dari Firqotun Najiyah (golongan yang selamat). Karena itu arti dari nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah pun sama dengan definisi Firqotun Najiyah, yaitu mereka yang mengikuti jejak dan ajaran-ajaran Rosululloh  serta para sohabatnya dalam memahami Islam dan menerapkannya (sekali lagi pengikutan jejak ini juga berarti pengembanan tugas kekhilafahan).
Mereka menamakan diri Ahlus Sunnah wal Jama'ah atau sering disingkat dengan "Ahlus Sunnah" saja, adalah berdasarkan hadits-hadits Rosululloh  yang kita sebutkan di bab sebelum ini, yaitu mengikuti Rosululloh  (sunnah) dan para sohabatnya (jama'ah). Itulah manhaj mereka.
Semua golongan-golongan sesat yang mempunyai manhaj-manhaj yang berbeda satu sama lain, mempunyai dua kriteria yang sama antar mereka, yaitu: menyelisihi sunnah dan jama'ah (sohabat) dalam meniti Islam.

  • KETERPURUKAN
A. KETERPURUKAN PERTAMA
Telah kita ketahui bahwasanya Iblis yang semula dimuliakan, hidup di alam ketinggian bersama para malaikat yang suci, dekat dengan Robbnya dan diberikan kesempatan mendengar suara Alloh  serta berdialog dengan-Nya, terusir dari kedudukan itu dan tercampakkan dari kemuliaannya menjadi terkutuk selama-lamanya hanya” karena satu kesalahan saja, enggan dan sombong melaksanakan suatu perintah yang dianggap merendahkan martabatnya. Adam  pun telah dikeluarkan dari surga hanya karena pelanggaran satu larangan saja dan karenanya harus melakoni kehidupan dunia yang penuh tantangan dan kesulitan.
Keduanya sama-sama terpuruk. Yang satu karena menolak satu perintah dan yang lainnya karena melanggar satu larangan. Dengan rahmat Alloh , Adam  segera bangkit dengan taubat nasuha dan kembali meraih kemuliaannya walaupun harus meninggalkan surga. Sedangkan Iblis enggan untuk bertaubat dan terpuruklah dia ke dalam keterpurukan yang seburuk-buruknya.
Ketika Adam  ditegur oleh Alloh  :
“Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu? Dan Aku katakan kepada kalian bahwa sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian? .”
Maka Adam  pun berkata:
“Wahai Robb kami, kami telah menzholimi diri kami sendiri. Jika Engkau tak sudi mengampuni dan merahmati kami, pasti kami akan menjadi golongan orang-orang yang rugi! .”

Pengakuan... perendahan diri... permohonan...itulah taubatan nasuha!

Sedangkan Iblis, ketika Alloh   berfirman “Apa yang mencegahmu untuk sujud, ketika Aku sudah memerintahkanmu?” Jawabannya adalah kesombongan dan penolakan!
Alloh   berfirman:
“Apa yang mencegahmu untuk sujud, ketika Aku sudah memerintahkanmu?” Maka Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’.” (QS. Al-A’roof [7]: 12)

Jadi, keterpurukan yang sebenarnya adalah jatuhnya posisi atau derajat seseorang di sisi Alloh  dan sebab keterpurukan adalah penyelisihan Sirotulmustaqim, baik dalam bentuk pengabaian perintah, pelanggaran larangan karena kelemahan atau yang lebih hebat yaitu pelanggaran dasar-dasar utama dari agama ini.
Inilah sebenar-benarnya keterpurukan! Sedangkan kesulitan-kesulitan dan kerendahan-kerendahan lainnya walaupun kita namakan sebagai sebuah keterpurukan, maka ia hanyalah buah dari keterpurukan sejati ini, yaitu keterpurukan ruhani.
Adam   telah melanggar larangan karena kelemahan.

Alloh   berfirman (Artinya) :
“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya keteguhan yang cukup.” (QS. Tohaa [20]: 115)

Sedangkan Iblis telah menolak perintah, karena dia berprinsip bahwa perintah Alloh  harus disaring terlebih dahulu! Yang mana bisa diterima oleh akal pikirannya dan mungkin dilaksanakan, sedangkan yang tidak bisa diterima oleh akal pikirannya akan ditolaknya!
Adapun jalan kebangkitan adalah jalan yang ditempuh Adam , yaitu bertaubat dan kembali meniti jalan penyerahan. Bukan jalan yang ditempuh Iblis, yaitu tetap meneruskan kesalahan dan penyelisihan.

B. Macam-macam Keterpurukan:
Mayoritas aktifis Islam di seluruh dunia bersepakat bahwa pada dewasa ini secara umum umat berada dalam keterpurukan. Akan tetapi terdapat perbedaan sudut pandang tentang arti atau yang dimaksud dengan keterpurukan itu sendiri. Kalau kita sepakati bahwa arti umum dan global dari keterpurukan adalah lawan dari arti kemuliaan dan kebahagiaan, maka akan lebih jelas rinciannya ketika kita membagi-bagi keterpurukan menurut jenis dan macam-macamnya.

1. Keterpurukan Ruhani:
Yaitu keterpurukan yang berbentuk penyelisihan Sirotulmustaqim. Penyelisihan ini adalah pengabaian atau kelemahan dalam menunaikan sisi pertama amanat yang dipikul oleh manusia, yaitu sisi pelaksanaan tujuan hidup, peribadatan hanya kepada Alloh  saja, tauhid, sunnah dan syariat-Nya. Pada pasal sebelumnya telah kita dapati bahwa penunaian amanat ini adalah dasar utama untuk kemuliaan manusia. Ketika hal ini ditinggalkan atau diselewengkan atau diabaikan, terhinalah manusia dan inilah keterpurukan utama. Bukan hanya sampai di situ saja, akan tetapi jenis keterpurukan ini (keterpurukan ruhani) adalah induk semang yang akan melahirkan keterpurukan-keterpurukan yang lain.
Demikian buruknya keterpurukan ruhani ini sehingga potret yang sebenarnya akan terproyeksikan di Jahannam nanti dalam bentuk siksaan-siksaan yang tak terperikan.

2. Keterpurukan Peran:
Keterpurukan ini berbentuk pengabaian atau peninggalan atau melemahnya pelaksanaan sisi kedua dari al-amanat, yaitu peranan sebagai penyelenggara syariat tauhid atas semua makhluk yang ada di bumi dengan menegakkan syariat itu dan memperlakukan semua makhluk dengan kandungannya menurut jenis masing-masing makhluk.
Keterpurukan ini dilahirkan oleh induk keterpurukan, yaitu keterpurukan ruhani. Tulang punggung sisi amanat yang satu ini adalah kekuasaan dan dasarnya adalah kebangkitan ruhani.

Alloh   berfirman (Artinya) :
“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kalian, ketika mereka berbuat kezholiman padahal Rosul-Rosul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak mau beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami jadikan kalian khalifah-khalifah  di muka bumi sesudah mereka, dan Kami akan mengamati bagaimana kalian berbuat.” (QS. Yunus [10]: 13-14)

Mereka yang dibinasakan di ayat ini adalah para khalifah di muka bumi yang terbinasakan karena keterpurukan ruhani (kezholiman dan tidak mau beriman) kemudian digantikan oleh umat Muhammad  untuk kemudian hukuman yang sama bisa terjadi bila sebab-sebabnya terulang lagi. Ketika terjadi, keterpurukan peran ini akan  melahirkan kekacauan kehidupan Islami dan menjadikan darah, harta, dan akidah kaum muslimin tidak terlindungi dengan semestinya serta menghancurkan sendi-sendi amar ma’ruf nahi munkar. Dalam konteks poin yang terakhir ini, keterpurukan ini pun akan menjadi sebab dari kedua keterpurukan selanjutnya.

3. Keterpurukan Duniawi:
Keterpurukan duniawi adalah musibah-musibah yang terjadi akibat dari kedua keterpurukan di atas. Baik dalam bentuk bencana-bencana alam, kemiskinan yang menyiksa, wabah penyakit, kehancuran generasi muda, kelemahan, penindasan dan lain-lain.

4. Keterpurukan Ukhrawi:
Keterpurukan ini adalah keterpurukan yang maha dahsyat yang diakibatkan oleh keterpurukan ruhani dan juga bisa karena imbas dari keterpurukan peran. Keterpurukan ukhrawi sangat luar biasa deritanya. Kehidupan penuh siksa dan kesengsaraan dalam lubang-lubang dan gumpalan-gumpalan api Jahannam yang panasnya 69 kali lebih panas dari api dunia, ditambah lagi dengan bermacam-macam siksaan dan penderitaan.
Demi menghindari keterpurukan ukhrawi inilah gerakan-gerakan kebangkitan seharusnya berusaha sekuat-kuatnya mewujudkan kebangkitan ruhani. Adapun keterpurukan-keterpurukan lainnya akan dengan sendirinya teratasi, ketika kebangkitan ruhani telah terwujud.


  • KEBANGKITAN SEJATI
Kebangkitan sejati adalah kebangkitan ruhani yang kuat dan menyeluruh, yaitu terwujudnya dominasi penitian Sirotulmustaqim jejak-jejak Rosululloh  dan para sohabatnya, penitian manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada umat ini.
Kebangkitan ini terwujud dengan lenyapnya keterpurukan ruhani yang elemen-elemennya adalah:
  1. Kepercayaan-kepercayaan dan amal-amal syirik.
  2. Kepercayaan-kepercayaan dan amal-amal bid’ah.
  3. Kemaksiatan kolektif atau terbuka yang terbiarkan.
  4. Kezholiman-kezholiman sesama yang tidak dicegah dan tidak dihentikan.
Jalan pelenyapan yang utama adalah pencerahan jiwa-jiwa dengan dakwah yang memadai. Dakwah kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, golongan yang selamat, manhaj Islam yang murni melalui suatu usaha yang terorganisir yang terus berkembang sampai menjadi lebih kuat dari tantangan dan rintangan yang ada. Jika usaha ini dibantu oleh kekuasaan maka akan sempurnalah usaha itu. Sedangkan kekuasaan tanpa dakwah tak akan mampu mewujudkan kebangkitan sekecil apapun juga.
Jadi dakwah adalah syarat mutlak sedangkan kekuasaan adalah syarat penyempurna. Jiwa-jiwa yang tercerahkan dengan Hikmah (Ilmu) dan mau’izotilhasanah akan bangkit dan bergerak meninggalkan semua elemen-elemen keterpurukan tadi serta akan menggantikannya dengan penitian Sirotulmustaqim secara kaffah di seluruh lapangan kehidupan. Mereka yang bangkit adalah mereka yang berakidah benar dan beramal benar! Mereka yang demikianlah yang benar-benar takut kepada Alloh  dan siksa-Nya, sehingga akan teguh menjaga amanah dan tidak mengkhianatinya apa pun bentuk amanah itu. Mereka  akan takut menzholimi sesama dan jika terjadi kezholiman, mereka akan segera bertaubat. Mereka yang bangkit akan rindu kepada Alloh  dan surga-Nya. Dengan demikian mereka akan berlomba-lomba untuk mengerjakan kebaikan. Semua ini sudah cukup untuk menjadi jaminan kemajuan duniawi selain harapan keselamatan di akhirat.
Cermatilah kandungan ayat di bawah ini yang mengandung potret jiwa-jiwa yang bangkit.
Alloh   berfirman (Artinya) :
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Balasannya untuk mereka itu ialah ampunan dari Robb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran [3]: 135-136)

Dengarlah janji-janji Alloh  yang pasti terlaksana untuk mereka yang bangkit.
Alloh   berfirman (Artinya) :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. Al-A’rof [7]: 96)

Kebangkitan duniawi untuk umat Islam tidak bisa dicapai tanpa kebangkitan ruhani, karena kebangkitan duniawi pada umat ini berbeda bentuk dan substansinya dengan yang ada pada umat lain. Kebangkitan duniawi pada umat ini haruslah bersih dari kemaksiatan. Adapun kebangkitan duniawi” yang kita lihat pada masyarakat-masyarakat Nashoro di Barat, bukanlah ukuran untuk umat ini. Kebangkitan tersebut bagi umat Islam adalah suatu keterpurukan. Tentunya ada sisi-sisi positif dalam kebangkitan mereka”, tetapi negatifnya terlalu lebih besar bahkan bisa menghancurkan. Memakan makanan dan meminum minuman-minuman yang lezat-lezat tetapi haram adalah suatu keterpurukan. Mempergunakan ilmu pengetahuan dunia untuk memperbudak umat-umat lain dan menyebar kerusakan adalah suatu keterpurukan. Menjadi tawanan tuntutan materi juga suatu keterpurukan!! Walaupun di Barat sana semua itu terhitung bagian dari kebangkitan duniawi.

  • KEBANGKITAN RUHANI IBU DARI SEMUA KEBANGKITAN
Kebangkitan ruhani adalah ibu dari kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
1. Hubungan antara kebangkitan ruhani dengan kebangkitan duniawi.
Alloh   berfirman (Artinya) :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’roof: 96)

Keimanan dan ketakwaan (kebangkitan ruhani) menjadi penyebab pasti untuk mendapat keberkahan dari langit dan bumi. Keberkahan dari langit ditafsirkan hujan dan keberkahan dari bumi adalah tumbuh-tumbuhan. Jadi yang dimaksud adalah hujan dan hasil bumi yang penuh berkah, yaitu yang penuh dengan kebaikan dari segala seginya, baik untuk kesehatan, kekuatan ataupun segi-segi lainnya dari kebaikan adapun hujan atau tumbuh-tumbuhan tanpa keberkahan bisa menimbulkan malapetaka yang bermacam-macam.

Alloh   berfirman (Artinya) :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Dalam ayat ini amal soleh (yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah – kebangkitan ruhani) akan menjadi sebab untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan ganjaran yang melimpah di akhirat. Hidup yang baik adalah hidup yang penuh kebahagiaan.

Alloh   berfirman (Artinya) :
“Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Nuh  menyeru kaumnya untuk meminta ampun. Meminta ampun berarti tekad yang bulat untuk meninggalkan dosa-dosa masa lalu dan memulai hidup bersih (semua ini adalah kebangkitan ruhani) menjadi sebab dari anugerah Ilahi yang berupa hujan-hujan yang penuh berkah, harta yang mencukupi dan putra-putri yang soleh serta mandapat sungai-sungai dan kebun-kebun pertanian yang indah serta bermanfaat. Bukan sungai-sungai yang keruh penyebab banjir dan hutan-hutan yang selalu kebakaran terjadi padanya dari waktu ke waktu dan pencurian oleh para koruptor tak pernah berhenti.

2. Hubungan antara kebangkitan ruhani dengan kebangkitan peran.
Alloh   berfirman (Artinya) :
“Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”  (QS. An-Nur: 55)

Ayat ini berisikan janji yang pasti bahwa mereka yang beriman dan beramal soleh (mereka yang bangkit ruhaninya) akan menjadi pemimpin-pemimpin dunia. Bukankah kita sekarang beriman dan beramal soleh? Ya.. benar! Tetapi iman kita banyak disisipi kesyirikan dan kebid’ahan serta pembangkangan-pembangkangan.

3. Hubungan antara kebangkitan ruhani dengan kebangkitan ukhrawi.
Alloh   berfirman (Artinya) :
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136)

Siapakah orang-orang yang jika berbuat keji atau menzholimi diri-diri mereka atau sesama mereka, kemudian ketika mengingat Alloh  maka segera mereka meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang demikian dan segera pula bertaubat?
Merekalah orang-orang yang selalu cepat bangkit ruhaninya setiap kali terjadi keterpurukan!
Merekalah yang selalu bergegas mengejar surga dengan beramal soleh, berinfaq di jalan Alloh  dan saling mema’afkan di antara mereka. Maka Alloh  pun menjanjikan mereka ampunan dan kekekalan di dalam surga yang mengalir padanya sungai-sungai. Dengan demikian mereka terselamatkan dari keterpurukan ukhrawi. Kebangkitan ruhani adalah ibu dari keselamatan ukhrawi. Kebangkitan ruhani adalah ibu dari seluruh kebangkitan.

Facebook: TUGAS & TUJUAN

ARSIP HASMI SOLO