Sabtu, 23 November 2019

H-1 TABLIGH AKBAR MIFTAHUL JANNAH LAA ILAAHA ILLALLOH | HASMI JATENG


🔘 *H-1 TABLIGH AKBAR MIFTAHUL JANNAH LAA ILAAHA ILLALLOH | HASMI JATENG*

💐Saudaraku kaum muslimin dan muslimah dimanapun berada..
💐Mari berbondong-bondong hadiri Tabligh Akbar yg mulia ini, raih kunci Surga-Nya dengan Laa Ilaaha Illalloh..!!!

🔖In syaa Allohu Ta'ala,
Kegiatan super akbar ini akan terlaksana berkah dukungan, support dan kerjasama dari;
•AR-RISALAH PEDULI = 1.000 PAKET SNACK
•SUMRINGAH = 500 PAKET MAKAN SIANG
•BERAS KETAN FOOD
•AN-NISA ROSY BAKERY = 250 PAKET SNACK
•KOKOH BLANGKON = 50 PAKET MAKAN SIANG PANITIA
•Radio RDS FM 101.4 MHz | Dengan Syariah Hidup Menjadi Lebih Indah..
•Radio Isykarima FM 99.9 MHz | Sahabat Anda Belajar Al-Qur'an
•Radio TOP FM Sukoharjo
•Video Shoting RESTU LARAS | Channel Restu Laras
•ASSAFAR TOUR & TRAVEL
•CV. SAFARI TEKNIK SUKSES
•Struktur & Anggota USROH HASMI Se-Jawa Tengah
•Seluruh Crew Panitia Tabligh Akbar HASMI JATENG 2019
•Dll

Melalui pesan ini kami mengucapkan,
*"Jazakumullohu khoyron katsiro..!!"*

Semoga Alloh Ta'ala memberkahi harta dan jiwa raga semua pihak yg ikut serta terlibat dlm suksesi kegiatan dakwah yg mulia ini..!! Aamiin..

TTD
*Panitia*

Jumat, 22 November 2019

SERUAN CREW PANITIA TABLIGH AKBAR MIFTAHUL JANNAH LAA ILAAHA ILLALLOH | HASMI JATENG



🔘 *SERUAN CREW PANITIA TABLIGH AKBAR MIFTAHUL JANNAH LAA ILAAHA ILLALLOH*

💐Saudaraku kaum muslimin dan muslimah yg dirahmati Alloh subhanahu wata'ala.. 

✔Surga nan penuh kenikmatan dan kebahagiaan hanya akan diraih oleh para hamba-Nya yg berilmu, *terutama ilmu tentang Laa Ilaaha Illalloh..*
✔Barangsiapa yg di akhir kalimatnya adalah Laa Ilaaha Illalloh, *niscaya masuk Surga..!!*


💐Melalui risalah ini kami saudara anda dari *HASMI | Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami* mengharapkan kehadiran anda semua khususnya umat Islam di wilayah Solo Raya dan sekitarnya untuk mengikuti kegiatan Tabligh Akbar bertemakan; *"MIFTAHUL JANNAH LAA ILAAHA ILLALLOH" | Kunci Surga adalah Laa Ilaaha Illalloh*. Kegiatan akbar yg mulia ini akan dilaksanakan pada, 

📆 *Ahad, 24 November 2019*
⏰Pukul. *08.30 WIB* - Selesai
🕌Di *Masjid Jami' Baitul Makmur* - Solo Baru Grogol Sukoharjo Jawa Tengah. (Depan POLSEK GROGOL)


🎤Narasumber:
Ustadz *DR. Muhammad Sarbini, M.H.I,* hafidzahulloh (Ketum HASMI).


💐Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda,
*مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا ، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَة*
_"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan jalannya menuju Surga." *(HR. Muslim)*_

Demikian harapan besar ini kami sampaikan, semoga Alloh Ta'ala senantiasa memberikan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua untuk dapat menghadiri kegiatan akbar yg mulia ini. Dan semoga Alloh Ta'ala mengumpulkan kita semua kelak di Surga-Nya, melalui sebab washilah kalimah *Laa Ilaaha Illalloh..!!!* Aamiin..
_________________________
*HASMI JAWA TENGAH*
📞CP. 0813-1616-6416 *(Abu 'Abdillah)*


Minggu, 15 September 2019

RISALAH KEBANGKITAN UNTUK PUTRA-PUTRI UMAT YANG TERLUKA DI AKHIR ZAMAN

RISALAH KEBANGKITAN UNTUK PUTRA-PUTRI UMAT YANG TERLUKA DI AKHIR ZAMAN

Saudara-saudara kaum muslimin yang kami hormati dimanapun anda berada... 

Kebangkitan sejati adalah kebangkitan ruhani yang kuat dan menyeluruh, yaitu terwujudnya di masyarakat kita dominasi penitian Sirotulmustaqim, penitian jejak-jejak Rosululloh dan para sohabatnya. 
Kebangkitan ini terwujud dengan lenyapnya keterpurukan ruhani yang elemen-elemennya adalah: 
1. Kepercayaan-kepercayaan dan amal-amal kesyirikan. 
2. Kepercayaan-kepercayaan dan amal-amal bid’ah.
3. Kemaksiatan kolektif atau terbuka yang terbiarkan. 
4. Kezholiman-kezholiman sesama yang tidak dicegah dan tidak dihentikan. 
Jalan pelenyapan yang utama adalah pencerahan jiwa-jiwa dengan dakwah yang memadai. Dakwah kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, golongan yang selamat, manhaj Islam yang murni melalui suatu usaha yang terorganisir yang terus berkembang sampai menjadi lebih kuat dari tantangan dan rintangan yang ada.

Jiwa-jiwa yang tercerahkan dengan dakwah yang benar akan bangkit dan bergerak meninggalkan semua elemen-elemen keterpurukan tadi serta akan menggantikannya dengan penitian Sirotulmustaqim secara kaffah di seluruh lapangan kehidupan. Mereka yang bangkit adalah mereka yang berakidah benar dan beramal benar! Mereka yang demikianlah yang benar-benar takut kepada Alloh dan siksa-Nya, sehingga akan teguh menjaga amanah dan tidak mengkhianatinya apa pun bentuk amanah itu. Mereka akan takut menzholimi sesama dan jika terjadi kezholiman, mereka akan segera bertaubat. Mereka yang bangkit akan rindu kepada Alloh dan surga-Nya. Dengan demikian mereka akan berlomba-lomba untuk mengerjakan kebaikan. Semua ini sudah cukup untuk menjadi jaminan kemajuan duniawi di samping harapan keselamatan di akhirat. 

Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menjanjikan kecemerlangan dunia, ketika kebangkitan ruhani terwujudkan. Diantaranya firman Alloh subhanahu wata'ala:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

_”Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka”. (QS. al-A’rof [7]: 96)

Dengan risalah ini, kami saudara-saudara anda di Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami (HASMI), menghimbau anda semua untuk ikut bergabung dengan kami, sebagai bentuk partisipasi dan perjuangan anda dalam mewujudkan kebangkitan ummat tercinta ini. 

Mewujudkan kebangkitan total, Yaa... itulah tujuan kami. Kebangkitan yang bermahkotakan berdirinya ”masyarakat Islami”. Masyarakat yang dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam, satu-satunya agama Alloh . Masyarakat yang secara kolektif atau orang perorangan, bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam meniti sirotulmustaqim. Masyarakat yang didominasi oleh istiqomah, kejujuran, kebersihan ruhani dan saling kasih mengasihi. 

Mari bergabung bersama kami untuk mencapai tujuan ini dengan strategi para nabi dan rasul yaitu strategi dakwah. Mendakwahi saudara-saudara kita untuk bersama-sama beristiqomah. Bekerja dengan tenang melalui usaha-usaha sederhana, tentram dan terorganisir. Jangan anda berkecil hati untuk ikut berpartisipasi di dalam menuju tujuan yang sangat besar dan agung ini. Karena strategi utama pencapaian tujuan pada HASMI adalah terbentuknya jaringan orang-orang yang bertekad untuk meniti sirotulmustaqim! Karena jaringan seperti ini yang sangat luas dan terpupuk secara Islami terus menerus akan mampu mewarnai masyarakat dengan warna penitian sirotulmustaqim, untuk kemudian mengkristalkan detil penitian itu secara bertahap dan selangkah demi selangkah, sampai terbentuk masyarakat yang Islami sebelum musuh-musuh Islam terbangun dari tidurnya.

Kami akan berusaha membantu anda sebatas kemampuan untuk lebih memperjelas rambu-rambu Sirotulmustaqim di diri anda dan membantu dalam menitinya dengan cara kebersamaan kita. Yang terbesar adalah ”semoga anda tercatat di sisi Alloh sebagai pejuang Islam” walaupun hanya dengan partisipasi seadanya. Karena sisi terberat suatu amal di dalam Islam adalah sisi keikhlasan niat dan tekad. 
Yang kedua... semoga Alloh mengkaruniakan anda kebangkitan jiwa yang besar dalam meniti sirotulmustaqim dan memudahkan penitian itu. 
Yang ketiga... perjuangan ini akan anda rasakan dalam bentuk penambahan keimanan anda dan juga akan dirasakan manfaatnya oleh anak keturunan anda. 


DPP HASMI | HIMPUNAN AHLUSSUNNAH UNTUK MASYARAKAT ISLAMI
Http://www.hasmi.org 
____________________________________________________
FORMAT PENDAFTARAN ANGGOTA HASMI WILAYAH SOLO RAYA
Ketik: HASMI#NAMA#DOMISILI#NO.HP
Kirim ke: 081-1441-8184

Minggu, 04 Agustus 2019

.:: 40 Wasiat Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam- Untuk Muslimah (Bagian Pertama).


Setelah ayat-ayat al-Qur’an al-Karim, yang sepatutnya dipelajari dan dikaji untuk kemudian diamalkan dan didakwahkan oleh setiap muslimah adalah hadits-hadits Rosululloh -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam- dan ucapan atau atsar dari para saha-batnya. Di antara hadits dan atsar tersebut yang merupakan wasiat khusus bagi Muslimah (Susunan hadits dan atsar dalam buku ini adalah himpunan dan susunan Syaikh Muhammad ibn Syākir al-Syarīf dalam kutayyib (buku saku) berjudul al-Arba’ūn an-Nisā‘iyyah terbitan Dār Thay-yibah al-Khadhrā’, Mekkah al-Mukarramah. ) adalah

HADITS KE-1
Dari (‘Abdullah) bin ‘Umar Radiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam- ber-sabda:
(( لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ ))
“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk mendatangi masjid-masjid, akan tetapi rumah-ru-mah mereka adalah lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah; shahih).

Faedah Hadits: berdiam dirinya seorang wanita di rumah-nya adalah lebih baik dari keluarnya, walaupun untuk pergi ke masjid (shalat). Namun seorang suami juga tidak diper-bolehkan melarang istrinya pergi ke masjid.
HADITS KE-2
Dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, dari Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam-, bahwa beliau bersabda:
(( قَدْ أُذِنَ أَنْ تَخْرُجْنَ فِي حَاجَتِكُنَّ ))
“Telah diizinkan bagi kalian (para wanita) untuk ke-luar (rumah) memenuhi kebutuhan kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Faedah Hadits: kebolehan bagi wanita untuk keluar ru-mah demi memenuhi kebutuhannya.
HADITS KE-3
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘anhu, dari Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam-; bahwa beliau bersabda:
(( إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُوْنُ مِنْ وَجْهِ رَبِّهَا وَهِيَ فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا ))
“Sesungguhnya wanita adalah aurat. Apabila keluar rumah, ia akan diintai oleh setan (yang berusaha menggelincirkannya). Karenanya, tempat yang lebih mendekatkan dirinya dengan Rabbnya adalah ketika ia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah; shahih).

Faedah Hadits: adanya bahaya yang muncul manakala wanita keluar rumah, yaitu ambisi setan untuk menggoda dan menjerumuskannya dalam kehancuran.
HADITS KE-4
Dari (‘Abdullah) bin ‘Umar Radiyallahu ‘anhuma, bahwa salah seorang istri ‘Umar menghadiri shalat jama’ah Shubuh dan ‘Isya di masjid. Maka dikatakan padanya: ‘Kenapa engkau keluar ke masjid, padahal engkau tahu bahwa ‘Umar tidak me-nyukainya dan cemburu karenanya?’ Ia berkata, ‘Apa yang menghalangi ‘Umar untuk melarangku?’ Ibnu ‘Umar Radiyallahu ‘anhuma berkata: “Yang menghalanginya adalah sabda Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam- :
(( لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ ))
“Janganlah kalian melarang hamba-hamba Alloh (wa-nita) dari masjid-masjid-Nya.” (HR. al-Bukhari)
Faedah Hadits: seorang wanita tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya, sehingga bila suami tidak mengizin-kan, maka ia tidak pergi.
HADITS KE-5
Dari Abu Musa al-Asy’ari Radiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam- bersabda:
(( إِذَا اسْتَعْطَرَتِ الْمَرْأَةُ فَمَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ قَوْلاً شَدِيدًا )). وَفِي لَفْظٍ: (( فَهِيَ زَانِيَةٌ ))
“Jika seorang wanita mengenakan parfum, lalu ia melewati sekelompok orang agar mereka mencium bau wanginya, maka ia adalah begini dan begitu. Be-liau telah berkata dengan perkataan yang sangat ke-ras.” Dan dalam sebagian lafadz disebutkan “Maka wanita itu adalah pelacur.” (HR. Abu Daud, at-Tirmi-dzi dan Nasa’i; hasan shahih)
Faedah Hadits:  larangan menggunakan parfum bagi wa-nita ketika keluar rumah, baik ke masjid atau tempat lainnya.
HADITS KE-6
Dari Fadhalah bin ‘Ubaid Radiyallahu ‘anhu, dari Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam- bahwa beliau bersabda:
(( ثَلاَثَةٌ لاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ؛ رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا، وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ، وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْهُمْ ))
“Tiga orang (golongan) yang engkau tidak usah menanyakan lagi tentang keadaan mereka, yaitu: (1) orang yang memisahkan diri dari jama’ah kaum Muslimin dan ia durhaka kepada imamnya (khali-fah) hingga meninggal dalam kondisi tersebut; (2) seorang budak yang lari dari tuannya, lalu ia meninggal; dan (3) seorang wanita yang ketika suaminya pergi telah dicukupi kebutuhan hidupnya namun ia bertabarruj; maka jangan engkau tanya-kan lagi tentang (keburukan) mereka.” (HR. Ahmad, Hakim dan Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad; shahih)
Faedah Hadits: larangan untuk menampakkan aurat atau perhiasan (tabarruj) saat keluar.
HADITS KE-7
Dari Ibnu ‘Abbas Radiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam-  bersabda:
(( لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ، وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ )). فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا وَكَذَا وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ. فَقَالَ: (( اُخْرُجْ مَعَهَا ))
“Janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya, dan jangan sampai ada laki-laki yang masuk menemuinya kecuali ia bersama mahramnya.” Kemudian salah seorang sahabat berkata: ‘Wahai Rosululloh, sesungguhnya saya hendak pergi bersama pasukan ini dan itu, sedangkan istriku ingin pergi haji. Maka Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam-  bersabda: “Pergilah bersamanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Faedah Hadits: larangan bagi wanita untuk mengadakan perjalanan atau bepergian tanpa mahram.
HADITS KE-8
Dari Nafi’, dari (‘Abdullah) bin ‘Umar Radiyallahu ‘anhuma berkata: Rosululloh -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam-  bersabda:
(( لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ )). قَالَ نَافِعٌ: ( فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ حَتَّى مَاتَ )
“Kalau saja kita tinggalkan pintu ini khusus untuk wanita”. Nafi’ berkata: ‘Sejak saat itu Ibnu ‘Umar tidak lagi masuk lewat pintu itu hingga wafat’.” (HR. Abu Dawud; hasan)
Faedah Hadits: menyediakan pintu khusus di masjid untuk keluar masuknya jama’ah Muslimah.

HADITS KE-9
Dari Hamzah bin Abi Usaid al-Anshari Radiyallahu ‘anhu, dari bapak-nya, bahwa ia telah mendengar Rosululloh -Shalallahu ‘alaihi wa Sallam-  bersabda ke-pada para wanita (saat itu beliau berada di luar masjid, dan terlihat laki-laki dan wanita berbaur di jalan):
(( اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ، عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ )). فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ.
“Menepilah ke pinggir, karena tidak layak bagi kalian untuk berjalan di tengah. Kalian harus berjalan di pinggir.” Sejak saat itu, ketika para wanita berjalan keluar, mereka berjalan merapat ke tembok. Bahkan baju-baju mereka sampai tertambat di tembok, kare-na begitu rapatnya mereka dengan tembok ketika berjalan.” (HR. Abu Dawud; hasan)
Faedah Hadits: wanita tidak berjalan di tengah jalan, karena yang terbaik adalah lewat pinggir.
HADITS KE-10
Dari Ibnu Juraij Rahimahullah berkata: ‘Atha Rahimahullah telah memberitahu-kan padaku dengan berkata (hal itu ketika Ibnu Hisyam melarang wanita untuk thawaf bersama laki-laki):
( كَيْفَ يَمْنَعُهُنَّ وَقَدْ طَافَ نِسَاءُ النَّبِيِّ  مَعَ الرِّجَالِ. قُلْتُ: أَبَعْدَ الْحِجَابِ أَوْ قَبْلُ. قَالَ: إِي لَعَمْرِي لَقَدْ أَدْرَكْتُهُ بَعْدَ الْحِجَابِ. قُلْتُ: كَيْفَ يُخَالِطْنَ الرِّجَالَ. قَالَ: لَمْ يَكُنَّ يُخَالِطْنَ، كَانَتْ عَائِشَةُ  تَطُوفُ حَجْرَةً مِنَ الرِّجَالِ لاَ تُخَالِطُهُمْ )
“Bagaimana mungkin ia melarang para wanita untuk thawaf bersama laki-laki, padahal para istri Nabi telah tha-waf bersama laki-laki?” Aku katakan padanya: “Apakah hal itu setelah turun perintah hijab atau sebelumnya?” Ia ber-kata: “Sungguh aku mendapatinya setelah turunnya perin-tah hijab.” Maka aku katakan: “Bagaimana mungkin para istri Nabi berbaur dengan laki-laki,” Ia berkata: “Mereka memang tidak berbaur dengan laki-laki, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha saat itu thawaf di sisi para laki-laki dan tidak berbaur dengan mereka.” (HR. al-Bukhari)

Faedah Hadits: thawafnya wanita adalah tidak berbaur dengan laki-laki. (Red-HASMI).

Jumat, 01 Februari 2019

MANHAJ BUKAN FIGURITAS

Pondasi tarbiyyah yang amat penting adalah hendaknya seorang da`i bersungguh-sungguh dalam tarbiyyah, dengan cara menguatkan hubungannya dengan Allah Subhanahu Wata'ala. Hendaknya kekokohan hubungan tersebutpun dijalin dengan manhaj-Nya, bukan bergantung kepada manusia, karena manusia sangat dipastikan dapat berubah. Sedangkan Allah Subhanahu Wata'ala adalah Dzat Yang Maha Hidup, tidak akan mati ataupun berubah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata'ala:

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu minta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan” [QS. ar-Rahmān (55): 29]

Sesungguhnya masalah ketergantungan kepada figuritas memiliki sisi negatif, di an-taranya: Seseorang dapat berubah dikarenakan perubahan sosok figurnya. Oleh karena itu al Qur’an datang untuk mengikrarkan hakekat utama tersebut; yaitu hakikat bergantung atau berpegang kepada manhaj dan mem-buang bergantung kepada figuritas, walau-pun mereka seorang rasul. Di dalam surat Ali ‘Imran yang menceritakan perang Uhud, Allah Subhanahu Wata'ala berfirman:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya be-berapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi ba-lasan kepada orang-orang yang bersyukur” [QS. Āli ‘Imrān (3): 144]

Sesungguhnya dakwah lebih utama dari pada sosok seorang da’i, sebagaimana al Qur’-an telah membina para shahabat dan umat ini untuk senantiasa berpegang pada manhaj serta membenci figuritas. Inilah manhaj Rosululloh Salallahu Alaihi Wasalam, dan manhaj seluruh orang yang menyeru kepada Allah di atas bashirah (ilmu).

Beberapa Contoh Nyata:

1. Dari ‘Irbadh bin Sariyah rda, ia berkata:

“Rasulullah menasehati kami dengan sebuah nasehat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata, maka kami berkata:

“Ya Rasulullah seolah-seolah ini adalah nasehat terakhir (yang engkau tinggalkan), maka beri-lah kami wasiat!”, maka beliau bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta untuk mendengar dan taat walaupun yang memerintahkan kalian seorang budak. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, niscaya ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para al-khulafa ar-rasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah hal tersebut dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat”

2. Dari Jabir rda, bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:

“Hendaknya kalian mengambil manasik haji dariku, karena aku tidak tahu barangkali aku tidak berhaji lagi setelah tahun ini…”

Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam mewasiatkan mereka untuk berpegang teguh dengan sunnahnya dan mengikuti petunjuknya, yaitu agama yang disampaikan dari Allah Subhanahu Wata'ala. Beliau mengi-kat para shahabat dengan manhaj Allah Subhanahu Wata'ala, bukan dengan figuritas, walaupun beliau masih hidup di tengah-tengah mereka.

Dahulu para shahabat saling membimbing satu dengan yang lainnya. Hal itu bukan sesuatu yang aneh, karena Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam telah mentarbiyyah mereka untuk saling meng-ingatkan satu dengan yang lainnya, tentang hakikat bergantung kepada manhaj dan de-ngan membuang figuritas.

Di saat muncul kecenderungan dan simpati terhadap figuritas tertentu, di saat itu pula jiwa menjadi lemah dan menurun. Hal itu nampak dalam contoh berikut:

1. Ibnu Abi Najih, dari bapaknya, ia berkata:

“Bahwa ada seorang laki-laki dari golongan Muhajirin lewat di hadapan seseorang dari golongan Anshar, dalam ke-adaan berlumuran darah, maka ia berkata kepadanya: “Wahai fulan, apakah kamu merasa bahwa Rasulullah telah terbunuh? Dan hal ini terjadi pada saat perang Uhud, maka orang Anshar tadi berkata:

“Apabila Muhammad terbunuh, sungguh ia telah menyampaikan risalah-Nya. Maka berperanglah dengan agama kalian”.

2. Ketika perang Uhud, semua orang lari cerai-berai, namun Anas bin Nadhar rda tidak ikut lari, hingga terdengar di telinga ‘Umar bin Khaththab RadhiallahuAnhu dan Thalhah bin Ubaydillah rda bahwa para pahlawan dari golongan Muhajirin dan Anshar pun telah membuang senjata-senjata mereka, maka Anas bin Nadhar berkata:

“Apa yang membuat kalian duduk?, mereka berkata: “Rasulullah telah terbunuh”.

Kemudian beliau berkata:

“Apa yang akan kalian perbuat dalam kehidupan sepeninggalnya? Bangkitlah kalian dan matilah kalian di atas kematian yang telah membuat wafat Rasulullah”.

Kemudian beliau terjun bertempur meng-hadapi kaum musyrikin, seraya mengham-piri Sa’ad bin Mu’adz dan berkata:

“Wahai Sa’ad, oh... harumnya bau surga, sungguh aku telah mendapatkannya di Uhud”

Kemudian beliau bertempur hingga ter-bunuh, dan ditemukan dalam tubuhnya lebih dari 72 tusukan pedang sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menge-nalinya, kecuali saudara perempuannya.

Sesungguhnya kewajiban seorang murabbi atau seseorang yang dijadikan panutan ada-lah agar ia mendidik pengikutnya untuk senantiasa bergantung kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan menghilangkan ketergantungan pada figuritas.

Gambaran Keterkaitan Terhadap Figuritas

1. Meninggalkan kesungguhan ketika sang murrabi pergi, dipenjara atau wafat.

2. Meninggalkan amal shalih karena sang murabbi jauh darinya.

3. Tidak sabar ketika berpisah dengan sang murabbi.

4. Menerima semua pendapat murabbi, padahal pendapatnya tidak sebanding dengan pendapat-pendapat ulama yang menjadi rujukan ummat.

5. Menganggap remeh berbagai kesalahan dengan alasan karena murabbinyapun mengerjakannya.

6. Mengagungkan, memuji serta menyan-jung murabbi hingga sangat berlebihan.

7. Justifikasi berbagai macam kesalahan murabbi, dan tidak menerima pendapat bahwa murabbi pun bisa salah, justru menganggap murabbi sebagai orang yang selalu benar.

8. Tidak mau berdiskusi dengan murabbi dalam beberapa permasalahan tarbiyah yang belum dipahami, dengan alasan takut murabbinya marah apabila ia mendebatnya.

9. Tidak adanya kejelasan dalam segala urusannya, dengan alasan mungkin mu-rabbinya telah merubah pandangannya.

10. Menyembunyikan sebagian perbuatan dan perkara jelek yang tidak seharusnya, termasuk perbuatan maksiat, dengan alasan bahwa murabbinya bisa marah ke-padanya, sehingga akan berubah pandangan terhadapnya.

11. Ketaatan membabi buta terhadap murabbi hingga terhadap kesalahan-kesalahannya.

12. Membela murabbi dari serangan orang lain, hingga terhadap kesalahannya seka-lipun.

13. Lebih mengutamakan kemaslahatan duniawi murabbi, dibandingkan kemash-lahatan orang tua dan keluarganya.

14. Taqlid terhadap sifat-sifat buruk murabbi.

15. Berbenturan dengan realitas murabbi, apabila muncul kesalahan darinya hingga mengakibatkan kemunduran dalam sisi keagamaan.

Maka seorang mutarabbi (mad’u binaan) menjadikan ketergelinciran murabbi sebagai alasan untuk menjauhi kebenaran.

Imam Sufyan bin ‘Uyaynah mensifati me-reka yang menjadikan ketergelinciran murabbi-nya sebagai alasan untuk menjauhi kebenaran sebagai sifat al-hamaqah (kedunguan atau ketololan). Kemudian ada salah seorang yang melirik kepadanya, dengan kasar dan keras ia bertanya kepadanya:

“Sesungguhnya ada sekelompok kaum yang mendatangimu dari berbagai penjuru, kemudian apabila engkau memarahi mereka, maka aku khawatir mereka akan pergi mening-galkanmu”, maka beliau membalas dengan berkata:

“Mereka adalah orang-orang dungu se-pertimu, mereka meninggalkan hal yang ber-manfaat bagi mereka dikarenakan keburukan akhlakku”

Kemudian Sufyan memberikan sebuah pemahaman kepada penanya dengan sebuah kaidah, yaitu:

“Bergantunglah kepada kebenaran dan tinggalkanlah ketergantungan kepada figuritas”

Dengan demikian, seorang murabbi atau publik figure, bukanlah merupakan perwu-judan sebuah kebenaran ataupun dakwah, artinya; ketika kita menemukan aib atau ke-salahan pada diri seorang murabbi pastilah berbeda dengan menemukan kesalahan atau khilaf dalam sebuah kebenaran.

Sebab Kronisnya Penyakit Figuritas

Intinya adalah karena adanya sifat-sifat kemanusiaan seseorang, di antaranya adalah:

1. Munculnya daya tarik seorang murabbi (kefasihan berbicara, pandai, cerdik, dan lain-lain).

2. Banyaknya pertemuan tanpa target yang jelas dan dibangun hanya atas dasar kesa-maan tabiat.

3. Kehilangan sosok figur semenjak beranjak dewasa.

4. Tidak diikatnya peserta didik dengan tela-dan ma`shumnya yaitu Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam.

5. Tidak diikatnya peserta didik untuk memelihara hubungan dengan Allah dan ber-gantung hanya kepada agana-Nya.

6. Mengutamakan emosional atau sensitifitas dalam bermuamalah dengan murabbi, dan menjadikan hal ini sebagai hukum.

7. Tidak adanya perhatian terhadap sebagian kaidah-kaidah dakwah dan tarbiyyah (per-bedaan cinta kepada Allah Subhanahu Wata'ala dengan cinta kepada individu, dan antara cinta di jalan Allah Subhanahu Wata'ala dengan cinta bersama Allah Subhanahu Wata'ala).

8. Tidak ada peringatan kepada para peserta didik tentang bahaya figuritas.

9. Menunda-nunda dalam memberikan peringatan tentang bahaya figuritas dengan alasan untuk menarik perhatian peserta didik dan agar mereka tidak lari ketika mereka baru meniti dakwah.

10. Tidak adanya perhatian murabbi terhadap masalah ini, bahkan menganggapnya se-bagai hal sepele.

11. Tidak adanya kejujuran dari tiap individu yang terfitnah masalah ini.

12. Bisikan syetan kepada para murabbi dengan menganggap dirinya sebagai orang publik figur yang penting.

13. Adanya kesalahan dalam menilai seorang individu.

14. Mengabaikan sisi tarbiyyah dzatiyyah (jati diri), atau lebih mengutamakan tarbiyyah kolektif daripada tarbiyyah fardiyyah.

Dampak Negatif Penyakit Figuritas

1. Meninggalkan kesungguhan secara total setelah murabbi pergi, dipenjara ataupun wafat.

2. Meninggalkan amal shalih karena jauhnya murabbi.

3. Terjerumus dalam kultus individu.

4. Terkadang siap berbuat maksiat kepada orang tua (durhaka), demi mendahulukan murabbi.

5. Kehilangan jati diri (tidak pede, minder).

6. Melahirkan generasi yang rapuh, yang di-dominasi emosional dan sensitifitas pri-badi.

7. Menjadikan emosi atau perasaan individu sebagai hukum dalam memutuskan.

8. Tidak mau menerima upaya penegakan agama yang jauh dari jangkauan murabbi-nya.

9. Riya dan tidak mau beramal kecuali di bawah pengawasan murabbinya.

10. Tidak mau menasehati murabbi ketika ber-buat salah.

11. Terjerumus dalam kesembronoan, ketergesagesaan dan kecerobohan yang meru-pakan cerminan murabbinya.

Obat Mujarab Menghindari Figuritas

1. Pada tahun-tahun pertama tarbiyyah, hen-daknya diberikan perhatian tentang makna dan hakikat bergantung kepada Allah Subhanahu Wata'ala serta makna hakiki tentang kecintaan ke-pada Nya.

2. Memberikan perhatian tentang pokok-pokok keimanan dan makna syirik dalam kecintaan kepada selain Allah Subhanahu Wata'ala.

3. Kejujuran dari tiap individu yang terfitnah masalah ini, dan jangan menunda-nunda-nya hingga parah.

4. Kewaspadaan seorang murabbi terhadap masalah tersebut dengan memberikan peringatan tentang bahayanya kepada se-tiap peserta didik secara rutin.

5. Ketergantungan pribadi hanya kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan kepada manhaj-Nya.

6. Mendiskusikan masalah-masalah tersebut di forum-forum terbuka yang melibatkan seluruh peserta didik.

7. Mengikat para mutarabbi (peserta didik) dengan qudwah (suri teladan) utama me-reka, yaitu Rasululah Salallahu Alaihi Wasalam.

8. Memberikan perhatian terhadap tarbiyyah dzatiyyah (pembinaan jati diri).

9. Memberikan perhatian terhadap keikhlasan dan amal perbuatan yang tidak di-peruntukkan melainkan hanya kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Barangsiapa yang amal perbuatannya di-peruntukkan hanya kepada Allah Subhanahu Wata'ala, maka amal tersebut akan langgeng dan kekal. Sebaliknya, barangsiapa amal per-buatannya diperuntukan kepada selain-Nya, maka amal itu akan hilang tiada ber-bekas, bahkan hanya akan berujung kepada penyesalan yang tiada guna.

10. Menyebarkan semangat beramal dan beretos kerja hanya untuk agama, di manapun dan kapanpun kita berada.

Kemudian,…ketahuilah!!

1. Ketahuilah, bahwa salah satu bentuk kesalahan dalam tarbiyyah adalah ketergan-tungan pada figuritas dengan tidak mem-perdulikan sisi manhaj.

2. Ketahuilah, bahwa al-Qur’an yang mulia telah menetapkan sebuah hakikat, yaitu bergantung hanya kepada manhaj dan membuang jauh-jauh berbagai ragam ben-tuk figuritas.

Demikian halnya dengan manhaj Nabi Salallahu Alaihi Wasalam dan manhaj para penyeru di jalan Allah Subhanahu Wata'ala, semuanya berjalan di atas bashirah.

3. Ketahuilah, bahwa ujung kehidupan ma-nusia adalah menuju kefanaan (kematian), sedangkan akhir sebuah aqidah adalah menuju kekekalan dan keabadian.

4. Ketahuilah, bahwa wujud sebuah dakwah lebih utama dan lebih kekal dari pada wu-jud seorang da’i.

5. Ketahuilah, bahwa manhaj Allah Subhanahu Wata'ala ada-lah manhaj yang berdiri sendiri, terlepas dan tidak terkait dengan orang-orang yang membawa dan menyampaikannya.

6. Ketahuilah, bahwa seluruh sumber daya yang dimiliki wajib dibangun di atas dasar hubungan yang kuat dengan Allah Subhanahu Wata'ala.

7. Ketahuilah, bahwa sangat mungkin bagi seorang manusia untuk berubah, akan tetapi Allah Subhanahu Wata'ala adalah Dzat Yang Maha Hidup, yang tidak akan pernah mati, Dia-lah yang sanggup untuk merubah sesuatu dan Dia sendiri tidak akan pernah berubah.

(www.hasmi.org).

Kamis, 17 Januari 2019

SILSILAH TARBIYYAH SUNNIYYAH I - "TERPECAH..!! YANG BENAR HANYA SATU..!!"

TERPECAH..!! YANG BENAR HANYA SATU..!!

Oleh Sebuah Gerakan Kebangkitan pada 2 September 2011 pukul 23:24
"Pada bab ini kami akan membahas dan menyajikan dalil-dalil kuat dengan pemahaman yang shohih dalam rangka menunjukan kepada Anda seperti apakah satu golongan yang selamat itu. Ketika kita sudah mengetahui satu golongan yang selamat tersebut, maka dengan sendirinya kita pasti akan mengetahui 72 golongan lain (yang sesat) sebagaimana telah dikhabarkan oleh Rosululloh shollallohu 'alayhi wasallam kepada kita semua seluruh ummatnya."
  • YANG BENAR HANYALAH ISLAM
Untuk beribadah kepada Alloh  dan untuk mencapai keridoan-Nya, Alloh  hanya menurunkan satu agama kepada hamba-hamba-Nya, sejak awal penciptaan manusia hingga hari kiamat kelak, yaitu agama Islam. Seluruh nabi, dari Nabi Adam  sampai Nabi Muhammad , hanya membawa dan mendakwahkan agama Islam. Itulah sirotulmustaqim.
Alloh   berfirman:
“Sesungguhnya agama (yang diridoi) di sisi Alloh hanyalah Islam.”  (QS. ali ‘Imron [3]: 19)
Inti agama Islam adalah “berserah diri secara total kepada Alloh , mengesakan-Nya, mengagungkan-Nya dan mencintai-Nya dengan mengikuti wahyu dan syariat-Nya”. Hakikat sesuatu yang diajarkan oleh Islam tidak akan pernah berubah, sejak Nabi Adam  sampai Nabi Muhammad  dan hingga hari kiamat. Adapun syariat yang diturunkan Alloh , yaitu cara beribadah, tempat dan kadar peribadatan serta peraturan kemasyarakatan, bahkan hukum halal dan haram, masih bisa berbeda antara satu rosul dengan yang lainnya. Oleh karena itu, walaupun berbeda dalam syariat di beberapa bagian detail atau rinciannya (mayoritas syari’at global sama saja), namun aqidah para nabi dan ajaran mereka adalah sama, yaitu Islam.         
Nabi Musa  adalah nabi Islam, beragama Islam dan mendakwahkan Islam serta para pengikutnya adalah orang-orang Islam, bukan orang-orang Yahudi.
Sedangkan agama Yahudi adalah agama batil yang dianut oleh orang-orang yang menyelisihi ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa .
 “Musa Berkata: ‘Wahai kaum, jika kalian beriman kepada Alloh, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar orang-orang Islam (muslimin).” (QS. Yunus [10]: 84)
Demikian pula halnya dengan Nabi Isa  dan para pengikutnya yang setia, mereka adalah kaum muslimin sedangkan para penyelisihnya yang dinamakan umat Kristiani dengan agama mereka (Kristen), mereka adalah kaum musyrikin.                  
 “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail), ia berkata: ‘Siapakah yang siap menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?’, para hawariyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam.” (QS. ali ‘Imron [3]: 52)           
“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: ‘Berimanlah kalian kepada-Ku dan kepada rosul-Ku’. Mereka menjawab: ‘Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rosul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam (muslimun).” (QS. al-Ma’idah [5]: 111)          

Pada waktu yang sama, Alloh  menolak semua agama selain Islam, walaupun bertujuan atau ditujukan untuk mendapatkan keridoan-Nya.           
 “Barangsiapa menganut agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. ali-‘Imron [3]: 85)           
 “…Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku ridoi Islam itu jadi agama kalian….” (QS. al-Ma’idah [5]: 3)
  • TERPECAH… YANG BENAR HANYALAH SATU
Alloh  adalah satu-satunya Robb (Tuhan) yang benar, dan Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Tetapi pada zaman kita sekarang ini, kita dapati “banyak Islam”. Berdasarkan prinsip asasi bahwa Islam yang benar hanyalah satu, maka di antara yang banyak itu, hanya satu Islam yang benar-benar Islam dan murni.          
Alloh  telah menegaskan bahwa jalan-Nya hanyalah satu sirot, dan bukan subul (banyak jalan).   
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah sirotulmustaqim (jalan-Ku yang lurus), maka ikutilah jalan ini, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalannya. Demikianlah wasiat Alloh kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al-An’am [6]: 153).
Selain Islam yang benar lagi murni, maka tidak akan dapat menyampaikan kepada keridoan Alloh . Semakin bertambah kekurangmurnian Islam pada diri seseorang, maka semakin bertambah terancam pula tujuannya dalam mendapatkan keridoan Alloh  yang mutlak. Semakin bertambah ketidakmurnian keislaman seseorang, maka semakin bertambah pula kejauhannya dari Alloh . Ini semua terjadi ketika kekurangmurnian keislaman seseorang masih dalam lingkaran umum Islam. Tetapi ketika ketidakmurnian terus melebar, hal ini bisa mengantarkan seseorang kepada kekafiran.
Umat ini akan terpecah menjadi banyak golongan. Dan memang sudah terpecah! Namun hanya satu yang benar, dan yang lain salah! Hanya satu yang akan selamat dari api neraka, sedangkan yang lain akan memasuki neraka terlebih dahulu!
(( لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله،ِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: اَلجَمَاعَةُ ))
“Sesungguhnya umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Satu golongan di dalam surga dan 72 golongan di dalam neraka. Ditanyakan kepada beliau: ‘Siapakah mereka (yang satu golongan) itu wahai Rosululloh?’, maka beliau menjawab: ‘al-Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Abi ‘Ashim dan al Lalika’i).
(( وَإِنَّ بَنِىْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً، وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قَالُوا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلىَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي ))
“Sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 kelompok keagamaan, dan umatku akan berpecah-belah menjadi 73 kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Siapakah satu kelompok itu wahai Rosululloh?’, maka beliau menjawab: ‘Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak para sahabatku.” (HR. Tirmidzi, Hakim dan al Lalika’). 

Dari penjelasan tersebut di atas, gugurlah teori Pluralisme di dasar Jahannam yang paling dalam!        
Yang benar hanya satu!  
Maka sangat wajiblah bagi kita untuk mempelajari yang satu tersebut dan menghindar dari yang lainnya!                                                                                          
A. Arti Iftiroq (perpecahan).
Arti dari iftiroq atau perpecahan dalam konteks ini adalah meninggalkan garis lurus sirotulmustaqim dan mengikuti garis-garis sesat yang banyak dan bercabang-cabang.
Dengan kata lain, iftiroq berarti memilih jalan-jalan lain (alternatif) dalam memahami dan menerapkan Islam, selain dari jalan Rosululloh  dan para sahabatnya. Mereka “menolak”, baik sengaja ataupun tidak manhaj ittiba’, yaitu jalan pengikutan kepada Rosululloh .    
B. Sebab-Sebab Penyimpangan.
Sebab utama dari perpecahan tersebut adalah karena hawa nafsu dan kejahilan (kebodohan) Pengikutan kepada hawa nafsu (terutama hawa nafsu berpendapat) dan kejahilan, telah menimbulkan sebab-sebab perpecahan lainnya yang banyak sekali.
C. Sejarah Awal Perpecahan.
Firoq dollah berarti golongan-golongan yang sesat, dalam arti salah memilih jalan dalam menempuh Islam. Kesesatan bisa berarti bid’ah dan juga bisa berarti kekafiran.
Tetapi dalam konteks ini, yang dimaksud dengan kesesatan adalah bid’ah, yaitu salah memilih jalan dalam meniti Islam. Yang seharusnya mereka memilih jalan yang telah ditempuh oleh Rosululloh  dan para sahabatnya, yaitu jalan Sunnah, tetapi mereka malah memilih jalan lainnya yang tercampur padanya hal-hal yang bukan berasal dari Sunnah Rosululloh  . Adapun mereka yang sudah keluar dari Islam, maka walaupun mereka adalah golongan-golongan sesat pada umumnya, tetapi mereka bukanlah orang-orang yang dimaksud dalam pembahasan ini. Seperti yang dikabarkan oleh Rosululloh dalam hadits-hadits yang lalu, bahwa firqoh dollah tersebut akan bermunculan sampai bilangannya mencapai 72 (tujuh puluh dua) golongan.    
Begitulah yang mulai terjadi pada masa-masa terakhir khulafa’urrosyidin (empat kholifah yang mendapat petunjuk). Walaupun bibit-bibit furqoh (perpecahan) dan firoq (kelompok-kelompok) sudah mulai bersemi sebelum kekhilafahan ‘Ali bin Abi Tolib  ,  akan tetapi munculnya golongan sesat pertama yang mengkristal sebagai sebuah kelompok, baru terjadi pada zaman kekhilafahan beliau. ‘Ali bin Abi Tolib  diangkat menjadi kholifah setelah terbunuhnya kholifah ‘Utsman bin ‘Affan  di tangan segerombolan ahlul fitnah pada tahun 35 H. Ketika itu terjadilah perselisihan pendapat tentang cara penyelesaian bagi kasus pembunuhan tersebut, antara ‘Ali bin Abi Tolib  sebagai kholifah dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan  , yang pada waktu itu menjabat sebagai gubernur Syam (Syiria dan sekitarnya). Perselisihan tersebut bertambah runcing hingga terjadi peperangan di antara kedua pihak. Manhaj Ahlus Sunnah dalam hal perselisihan di antara para sahabat adalah tidak mencampuri apa-apa yang terjadi di antara mereka, bahkan kita harus mendoakan kebaikan bagi mereka semua.         
Dalam suatu pertempuran antara pendukung ‘Ali bin Abi Tolib  dan pendukung Mu’awiyah  , terjadi suatu kesepakatan untuk berunding menyelesaikan masalah tersebut dengan damai. Maka diangkatlah dari setiap pihak seorang hakim untuk menerapkan hukum Alloh  dalam menyelesaikan masalah yang pelik ini. Di sinilah munculnya firqoh sesat pertama yang keluar dari jalan Sunnah dan keluar dari Jama’ah kaum muslimin. Firqoh ini dinamakan Khowarij, yang berarti orang-orang yang keluar. Mereka keluar dari Sunnah dan Jama’ah, tidak lagi sebagai bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ketika mereka memahami masalah yang ada dari dalil al-Qur’an tentangnya bukan dengan manhaj Ahlus Sunnah. Mereka menyatakan bahwa dengan mengangkat seorang hakim, ‘Ali bin Abi Tolib  telah memberi hak tasyri’ (membuat hukum) kepada makhluk, yang berarti suatu kesyirikan yang nyata. Maka mulailah mereka mengkafirkan ‘Ali bin Abi Tolib  dan para sahabat pendukungnya. Pada hakikatnya kedua hakim tersebut tidak diberi mandat untuk membuat suatu hukum, tetapi hanya diangkat untuk menghakimi kedua pihak dengan hukum Alloh . Sebenarnya masalah pengangkatan kedua hakim tersebut sangat sederhana dan dapat dipahami dengan mudah. Oleh karena itu, selain karena kebodohan yang nyata pada mayoritas mereka (kaum Khowarij pada waktu itu), disinyalir pula ada niat buruk dari sebagian pemimpin mereka yang menggerakkan keluarnya mereka dari jama’atul muslimin. Ketika mereka keluar dan berkumpul di suatu tempat yang dikenal dengan nama Haruro (dari tempat ini pula mereka dinamakan haruriyin), bertambah luaslah kesesatan mereka dengan adanya saling isi-mengisi kesesatan di antara mereka. Setelah melalui waktu yang cukup panjang dan dari kurun ke kurun, manhaj ini pun mulai berkembang dan mencakup hampir seluruh segi agama.           
Di antara kesalahan yang termasyhur dari manhaj Khowarij adalah pengkafiran para pelaku dosa besar. Sebagai reaksi dari kesalahan ini (paham Khowarij), muncullah pemahaman yang menolak hubungan antara amal dan kekufuran. Manhaj ini dinamakan manhaj irja’ (penganutnya dinamakan Murji’, pluralnya adalah Murji’ah), mereka menyatakan bahwa iman seseorang tidak berkaitan dengan amal. Jadi bagaimanapun buruknya perbuatan seseorang, orang itu tidak akan menjadi kafir selama di dalam hatinya masih ada kepercayaan dan lisannya masih mengucapkan dua kalimat syahadat. Kedua kelompok tadi enggan mengikuti manhaj sahabat yang pada waktu itu banyak yang masih hidup, maka sesatlah mereka.         
Pada waktu bersamaan dengan munculnya Khowarij, benih-benih Syi’ah sebenarnya sudah ada. Bahkan penggagas firqoh Syi’ah, ‘Abdulloh bin Saba’ seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam, sudah bekerja di bawah tanah dengan gigih di masa khilafah ‘Utsman bin ‘Affan  . Yahudi inilah yang menjadi pemimpin gerakan pembunuhan terhadap ‘Utsman  .  Firqoh Syi’ah yang dicetuskan oleh ‘Abdulloh bin Saba’ adalah firqoh sesat yang kesesatannya sampai pada taraf kesyirikan, yaitu dengan menuhankan ‘Ali bin Abi Tolib  . Sedangkan firqoh-firqoh Syi’ah yang pada akhirnya seakan-akan berkembang dengan merayap, pada mulanya hanya terbatas pada sikap mengutamakan ‘Ali bin Abi Tolib  atas Abu Bakar  dan ‘Umar . Hal ini bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan urutan afdoliyah (keutamaan) mereka sama persis seperti urutan kekilafahan mereka. ‘Ali bin Abi Tolib  sendiri sebagai salah satu pelopor Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak menyetujui tentang lebih diutamakannya beliau atas Abu Bakar dan ‘Umar , bahkan beliau akan menghukum cambuk orang-orang yang berpendirian demikian. Hingga batas pemahaman seperti ini, Syi’ah pada waktu itu hanya sebagai suatu kelompok politik yang mendukung kholifah ‘Ali bin Abi Tolib  dan anak-anak keturunannya. Arti kata Syi’ah sendiri adalah pendukung. Tetapi kesalahan pemahaman yang kelihatannya sepele ini kemudian mulai mengembang sampai pada kesesatan yang sangat mengerikan bahkan pada banyak kelompok-kelompok Syi’ah, ada yang sampai pada kekufuran yang nyata sekali.
Kemudian setelahnya, bermunculanlah firqoh-firqoh sesat lain yang menyandarkan manhaj mereka kepada produk-produk akal mereka dan filsafat Yunani serta menjauhkan diri dari manhaj sahabat yang mulia.
Di waktu yang sama, sahabat dan para pengikut mereka yang setia, yaitu tabi’in dan tabi’ut-tabi’in pun senantiasa gigih mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak ada satu pun dari sahabat yang masuk ke dalam salah satu firqoh-firqoh tersebut. Istilah Ahlus Sunnah, pengikutan pada sunnah dan yang semisalnya, sebelum itu pun sudah menjadi istilah resmi di antara para penuntut ilmu. Tetapi tidak dimaksudkan sebagai firqoh tersendiri dalam tubuh kaum muslimin, sebab seluruh kaum muslimin pada waktu itu adalah Ahlus Sunnah. Tetapi ketika firqoh-firqoh yang meninggalkan manhaj Sunnah dan keluar dari Jama’ah mulai bermunculan, maka salafussoleh pun memakai nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai identitas resmi dan nama bagi firqotunnajiyah (golongan selamat), golongan yang senantiasa komitmen dalam mengikuti jejak Rosululloh  dan para sahabatnya.   
Sebab utama dari penyimpangan firoq dôllah pada waktu itu sebenarnya berakar pada dua hal, yaitu:
  1. Tidak mengikuti metode sahabat dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.     
  2. Berpedoman kepada sumber-sumber lain selain kepada al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah dalam mengambil hukum-hukum Islam, seperti bersandar kepada akal, mimpi, filsafat dan lain-lainnya.
Kedua sebab tersebut dilahirkan oleh hawa nafsu dan kejahilan (kebodohan), yang kemudian bercabang menjadi sebab-sebab yang banyak.
  • FIRQOTUNNAJIYAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
A. Firqotunnajiyah.
Arti dari firqotunnajiyah adalah golongan yang selamat. Maksudnya adalah golongan yang tidak memasuki neraka sebelum memasuki surga. Hal ini telah dikabarkan oleh Rosululloh  dalam hadits-haditsnya. Dalam hadits-hadits tersebut telah dijelaskan sifat-sifat global dari golongan tersebut, di antaranya:                                                                    
مَنْ كَانَ عَلىَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Mereka yang mengikuti jejakku dan para sahabatku.”
Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah “mereka yang mengikuti ajaran-ajaranku dan para sahabatku dalam memahami dan melaksana-kan Islam (dengan kata lain mengikuti Sunnah)”.     
B. Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah nama dari firqotunnajiyah (golongan selamat). Karena itu arti nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah pun sama dengan definisi firqotunnajiyah, yaitu mereka yang mengikuti jejak dan ajaran-ajaran Rosululloh  serta para sahabatnya dalam memahami Islam dan menerapkannya.
Mereka juga sangat berpegang pada manhaj para imam dari tiga generasi setelah Rosululloh  yang mana ilmu dan pengarahan-pengarahan mereka sebagai generasi terbaik dalam sejarah dunia, sangat dibutuhkan dalam meniti jejak Rosululloh  dan para sahabatnya.      
Sedangkan ahlul bid’ah adalah mereka yang berpegang kepada satu atau lebih dari prinsip-prinsip bid’ah, baik dalam sumber agama atau metode pemahamannya atau pemahamannya itu sendiri, atau orang-orang yang berlumuran bid’ah dalam kehidupan keagamaan sehari-harinya, walau tidak mengerti sedikitpun tentang prisip-prinsip bid’ah.            
Dari sini kita dapat memahami bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah seluruh kaum muslimin yang bukan ahlul bid’ah, walaupun kejahilannya cukup berat.    
Ahlus Sunnah adalah golongan inti (utama) dan mayoritas dari kaum muslimin, dan bukanlah suatu organisasi tertentu.           
Jadi pemahaman bahwa NU (Nahdhatul Ulama) adalah Ahlus Sunnah sedangkan Muhammadiyah, atau Persis, atau lainnya bukan Ahlus Sunnah, adalah pemahaman yang salah lagi keliru. Setiap organisasi harus diukur berdasarkan manhajnya, apakah manhaj ittiba’ atau bukan? Demikian juga personal-personalnya, masing-masing diukur berdasarkan manhaj keagamaannya.
Kalau ada organisasi yang ternyata menganut manhaj bid’ah, seperti mentabanni (mengadopsi/menerima) tarekat-tarekat bid’ah, maka belum tentu seluruh personalnya sebagai ahlul bid’ah. Walaupun organisasi tersebut dikategorikan sebagai organisasi bid’ah sekalipun, tetapi dalam banyak kasus, kita dapati hanya segelintir pemimpinnya saja yang ahlul bid’ah, sedangkan mayoritas anggotanya masih Ahlus Sunnah, meskipun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang jahil (bodoh).      
   
C. Arti Kata “Sunnah” dan “Jama’ah”.  
a. Sunnah:
Sunnah memiliki beberapa arti. Makna “kata” dari sunnah adalah jalan atau cara. Salah satu arti dari istilah sunnah adalah:         
“Amal perbuatan yang bila dikerjakan, maka pelakunya akan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan, tidak mendapat dosa".
Dalam konteks ini yang dimaksud sunnah adalah “jalan, serta cara dan substansi dari pemahaman dan penerapan Rosululloh  tentang Islam.”   
b. Jama’ah:
Jama’ah dalam bahasa ‘Arab bisa berarti kaum yang bersatu, yaitu berdiri dalam satu landasan, dan juga bisa berarti persatuan itu sendiri.
Dalam konteks ini yang dimaksud jama’ah adalah “jama’ah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan juga kebersatuan mereka (di atas kebenaran)”.
D. Nama Umat Ini.
Umat ini dinamakan “muslimun” dan personalnya bernama “muslim”. Ini adalah nama satu-satunya untuk umat ini dalam menggambarkan kepribadian mereka secara syar’i dan untuk membedakan umat ini dengan umat-umat kafir.
Alloh  telah langsung menamakan umat ini dengan dengan nama tersebut.            
 “Dia (Alloh) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini….” (QS. al-Hajj [22]: 78)
Kita tidak mempunyai mandat untuk menyandang nama lain untuk “menggantikan” nama ini.
E. Asal Usul Nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. 
Munculnya kedua kalimat Sunnah dan Jama’ah dalam hadits-hadits Rosululloh  tentang keselamatan, dipahami oleh para sahabat bahwa keduanya (Sunnah dan Jama’ah) adalah pilar-pilar keselamatan.                                                                
Di antara hadits-hadits tersebut misalnya:
(( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِي ))
 “Ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaurrosyidin sepeninggalku....” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)
(( فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي ))
 “Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukanlah dari golonganku!” (HR. Bukhori)   
(( تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ ))
 “Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara, dengan keduanya kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu kitabulloh dan sunnahku....” (HR. Hakim)   
(( مَنْ فَارَقَ اْلجَمَاعَةَ وَخَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ فَمَاتَ فَمِيْتَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ ))
 “Barangsiapa yang meninggalkan jama’ah dan memberontak dari ketaatan lalu mati, maka cara matinya adalah mati jahilliyah.” (HR. Muslim)     
(( وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى اْلجَمَاعَةِ ))
 “Berpegang teguhlah kalian kepada jama’ah, karena sesungguhnya tangan Alloh di atas jama’ah.” (HR. Tirmidzi)                                                          
(( وَإِنَّ هَذِهِ اْلِملَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي اْلجَنَّةِ، وَهِيَ اْلجَمَاعَةُ  ))
 “Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam neraka dan satu golongan di dalam surga, yaitu al-Jama’ah.” (HR. Ahmad dan lainnya. al-Hafiz menggolongkannya sebagai hadits hasan)        
(( عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ اْلوَاحِدِ، وَهُوَ مِنَ اثْنَيْنِ أَبْعَدُ ))
“Ikutilah jama’ah dan jangan berpecah-belah! Sesungguhnya setan bersama yang sendirian dan dia lebih jauh dari yang berdua!” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)     
Ketika terjadi perpecahan pada awal perjalanan umat ini, terlihat jelas bahwa pembelotan terjadi karena para pembelot melepaskan tali “sunnah” dan “jama’ah”.
Karena para pembelot “belum bisa” dikeluarkan dari nama Islam atau muslimun, maka salafussoleh telah berijtihad dengan menamakan golongan yang mengikuti Islam yang murni dengan nama “Ahlus Sunnah wal Jama’ah” sering disingkat dengan “Ahlus Sunnah” saja, dan golongan pembelot dinamakan “ahlul bid’ah”.
Nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah nama yang dipakai ketika berhadapan dengan golongan-golongan pembelot di dalam Islam dan tidak sekali-kali dipakai untuk menghadapi kaum kuffar. Itulah sebabnya di zaman Rosululloh , Abu Bakar , dan ‘Umar , nama ini tidak dipakai, karena di masa mereka tidak didapatkan golongan-golongan pembelot. Yang terjadi di masa mereka adalah “gelombang kemurtadan” di beberapa wilayah dari Jazirah ‘Arab dan kaum yang murtad itu sudah keluar dari Islam sehingga tidak dinamakan “muslim” lagi.       
Dalam penggunaan umum, nama “Ahlus Sunnah” sering dipakai sebagai lawan dari “Syi’ah”. Ini berarti, dalam penggunaan umum firqoh-firqoh bid’ah selain Syi’ah masih mengakui nama Ahlus Sunnah sebagai nama mereka. Hal ini dikarenakan kebid’ahan Syi’ah yang jauh lebih buruk dan lebih sesat dari firqoh-firqoh tersebut dan bukan sekali-kali bahwa firqoh-firqoh bid’ah tersebut berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah!
Nama Ahlus Sunnah benar-benar sudah dikenal sejak zaman salafussoleh dan juga telah digunakan secara resmi oleh mereka. Kita akan lebih meyakini hal tersebut Insya Alloh, setelah menyimak hal-hal berikut:
Ketika mentafsirkan QS. ali ‘Imron ayat; 106 :
“Pada hari yang di waktu itu ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah-wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kalian kafir sesudah kalian beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiran kalian itu!”, maka Ibnu ‘Abbas  berkata: 
(( تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ اْلبِدَعِ ))
“Ketika memutih wajah-wajah Ahlus Sunnah dan menghitam wajah-wajah ahlul bid’ah”
Ibnu ‘Abbas  juga berkata:
“Memandang wajah seseorang dari Ahlus Sunnah, yang mendak-wahkan sunnah dan melarang bid’ah adalah suatu ibadah!”
Hasan Basri  berkata:
“Wahai Ahlus Sunnah, berlemah-lembutlah (dengan sesama), karena kalian paling sedikit jumlah dan bilangannya!”
Ayub Sikhtiyani  berkata:
“Adalah suatu kebahagiaan bagi seorang pemuda dan seorang ‘Ajam (Non ‘Arab), ketika Alloh memberinya taufik untuk dibina oleh seorang ‘alim dari Ahlus Sunnah”
Muhammad bin Sirin  berkata:
“Sebelum terjadi fitnah (bid’ah), masalah isnad (atau sanad) tidak pernah dipertanyakan. Setelah terjadi fitnah, mulailah dipertanyakan. Jika sanad (hadits) dari Ahlus Sunnah, maka diambillah riwayatnya. Namun jika sanadnya dari ahlul bid’ah, maka ditolak riwayatnya.
Abu Hatim  dan Abu Zur’ah  berkata:
“Kami mengikuti Sunnah dan Jama’ah.”
Dari sini kita melihat dengan jelas bahwa para salafussoleh telah menggunakan istilah “Ahlus Sunnah”.
F. Ahlus Sunnah Dalam Realita.
Pada umumnya semua kaum muslimin adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kecuali mereka yang berpegang teguh pada bid’ah pada salah satu dasar penting dalam Islam, atau mayoritas kehidupan keagamaan mereka berlumuran bid’ah. Sedangkan orang Islam yang terkadang jatuh ke dalam suatu bid’ah, atau mereka salah kira sehingga mengira suatu bid’ah adalah sunnah, maka orang-orang yang demikian bukanlah ahlul bid’ah.
Dalam hal yang berhubungan dengan bid’ah dan sunnah, umat ini dalam realitanya terbagi menjadi beberapa tingkatan:
  1. Alim Sunnah (yang mengerti dan memahami benar tentang Sunnah).
  2. Penuntut ilmu Sunnah.                                       
  3. Jahil (bodoh) Sunnah, tetapi tidak jatuh kepada bid’ah. Macam ini sedikit sekali, karena kebanyakan jahil Sunnah mudah terjatuh kepada bid’ah. Walaupun tidak terjatuh, tetapi posisinya kritis sekali.         
  4. Jahil sunnah yang terkadang jatuh kepada bid’ah.
Keempat macam golongan di atas adalah bagian dari Ahlus Sunnah, bukan dari ahlul bid’ah.   
  1. Jahil Sunnah yang tergenang dan berenang dalam kubangan bid’ah. Macam ini sudah termasuk ahlul bid’ah.           
  2. Ahlul bid’ah yang berilmu dan berbuat bid’ah pada dasar-dasar penting Islam, karena salah pengertian atau taqlid.                                         
  3. Ahlul bid’ah Zindiq, yaitu orang-orang yang sengaja berjalan di atas bid’ah dengan tujuan untuk mempermainkan agama. Macam seperti ini adalah golongan munafik yang sudah keluar dari Islam. Sayangnya macam seperti ini banyak yang menjadi pemimpin bagi kaum muslimin.
  • DASAR-DASAR MANHAJ AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
Dalam meniti sirotul mustaqim Ahlussunnah Wal Jama’ah berpegang teguh pada rambu-rambu sirotul mustaqim berikut dan menjadikannya sebagai dasar-dasar manhaj mereka:
A. Tauhidulloh (Mengesakan Alloh ).
1. Arti Tauhid.
Tauhid adalah mengesakan Alloh  dalam rububiyah-Nya, yaitu dalam perbuatan-perbuatan ketuhanan-Nya, dan dengan mengesakan dan memuliakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta mengesakan Alloh  pada hak-hak-Nya sebagai Ilah (Tuhan) untuk seluruh alam.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
2. Lawan tauhid adalah syirik.
Yaitu menyekutukan Alloh  dalam rububiyah-Nya atau dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta hak-hak ke-Ilahan-Nya, atau menyekutukan pada salah satu atau sebagiannya.      
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh  mengharamkan atasnya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zôlim itu seorang penolong pun.” (QS. al-Ma’idah [5]: 72)           
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa’ [4]: 48)  
B. Ittiba’ ( Nabi Muhammad n .)
1. Arti ittba’.
Ittiba’ berarti “pengikutan”. Ittiba’ yang dimaksud sebagai dasar agama Islam adalah pengikutan kepada Rosululloh  dalam memahami Islam dan menerapkannya. Karena Rosululloh  sendiri hanya komitmen terhadap pengikutan kepada wahyu Ilahi, maka pada hakikatnya ittiba’ adalah mengikuti wahyu dari Alloh .
2. Ittiba’ pengawal kemurnian.
Tidak akan mungkin kita dapat menjaga kemurnian Islam kecuali dengan tetap konsisten (sangat tegas) kepada ittiba’. Meninggalkan ittiba’ secara keseluruhan berarti keluar dari Islam. Sedangkan meninggalkan sebagian dasar dari ittiba’, berarti masuk ke dalam lingkaran bid’ah, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.
C. Sumber yang benar dalam hukum dan pemahaman.
Salah satu dasar manhaj Ahlus Sunnah yang sangat penting adalah menimba pemahaman Islam atau hidâyah dari sumber yang benar. Satu-satunya sumber yang mutlak benar dalam Islam adalah wahyu Alloh  yang berbentuk al-Qur’an dan al-Hadits (as-Sunnah), yang harus dirujukkan (disandarkan pemahamannya) kepada Alloh  dan Rosul-Nya.   
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh  (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh  dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ [4]: 59) 
      
D. Metode Pemahaman yang benar.
Ahlus Sunnah berpegang teguh kepada pemahaman dan metode pemahaman para sahabat, karena mereka adalah umat yang telah mendapat “serfitikat kebenaran” dari Alloh  melalui banyak ayat-ayat al-Qur’an. Demikian pula jika mereka telah berijma’ terhadap suatu masalah, maka ijma’ mereka adalah hukum yang wajib diikuti dan tidak boleh memilih pilihan lain selain pilihan mereka.
Selain memberikan “serfitikat kebenaran” tersebut, Alloh  pun telah mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka. Untuk lebih jelasnya, marilah kita renungkan hal-hal berikut:
“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami leluasakan dia di kesesatannya yang telah dijalaninya itu, dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115)
 “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh.” (QS. ali-‘Imron [3]: 110)  
 “Sesungguhnya Alloh telah rido terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh  me-ngetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. al-Fath [48]: 18)  
 “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam penentangan (kesesatan). Maka Alloh  akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 137)     
  • FIRQOH-FIRQOH SESAT UTAMA
A. Syi’ah
Syiah pada mulanya merupakan kata bahasa yang berarti pengikut dan pendukung setia seseorang. Mereka pada asalnya adalah para pengikut dan pendukung Ali . Sedangkan orang-orang yang meyakini Ali sebagai Tuhan, atau Ali akan kembali di akhir zaman, atau Ali bersifat ma`sum dikenal sebagai kelompok sabaiyyah. Akan tetapi bersamaan dengan berlalunya waktu, justru keyakinan Sabaiyyah inilah yang menjadi prinsip-prinsip dan keyakinan Syi`ah. Bahkan, di zaman ini prinsip-prinsip dan keyakinan Syi`ah telah bertambah sesatnya sampai-sampai menjadi agama baru yang bukan lagi Islam.
1. Penyimpangan Syi`ah dalam Sumber.
Syi`ah telah mengganti sumber ajaran Islam. Al-Qur`an dan Sunnah Rosululloh  (yang telah dijaga secara akurat oleh para sohabat Nabi   dan ulama-ulama Islam) digantikan oleh al-Qur`an dan Ahlul Bait (walaupun pengakuan riwayat ahlul bait pun jelas-jelas penuh riwayat dusta atau sama sekali bukan dari ahlu bait). Bahkan, Syi`ah mengklaim bahwa al-Qur`an yang sekarang berada di tangan kaum muslimin, bukanlah al-Qur`an yang sesungguhnya atau tidak lengkap. Al-Qur`an yang lengkap diturunkan kepada Fathimah atau yang diajarkan turun-temurun kepada ahlul bait.
2. Penyimpangan Syi`ah dalam Tauhid.
Keyakinan-keyakinan Syi’ah telah dipenuhi oleh beragam kesyirikan. Syiriknya keyakinan Syi`ah dapat dilihat dari keyakinan mereka bahwa Alloh itu bersifat bada` (Dia tau tentang segala sesuatu setelah sebelumnya tidak tahu), mencaci maki para Sahabat Rosululloh , bahkan menuduh dengan sangat keji bahwa para sohabat telah kufur setelah beliau  wafat. Bagitu juga keyakinan ‘ismah (kema’suman) para imam mereka telah dipenuhi oleh keyakinan syirik, Imam bisa mengetahui yang goib, memiliki hak penataan alam semesta sesuai kehendak mereka, penentu dikabulnya do’a, penentu hidayah bagi manusia, perantara antara manusia dengan Alloh,  dan lain-lain. Begitu juga pengakuan cinta kepada ahlul bait dipenuhi dengan berbagai kedustaan dan kepalsuan. Padahal, mereka sama sekali bukan pecinta ahlul bait, karena merekalah sesungguhnya yang membunuh Husein  dengan penuh jiwa pengkhianatan.
3. Penyimpangan Syi`ah dalam Ittiba`.
Demikian pula dengan ajaran-ajaran bid`ah yang sama sekali tidak diajarkan Islam. Hari `asyuro yang dipenuhi dengan menyakiti tubuh, merobek-robek pakaian dan berbagai sikap ratapan yang kesemuanya merupakan ajaran-ajaran jahiliyyah. Kawin mut`ah yang merupakan zina terselubung telah menjadi bagian dari ajaran bid`ah buruk Syiah. Sholat yang harus mengahadap tanah karbala, adzan yang ditambah dengan kalimat “as solatu ala khoirul amal” dan masih banyak lagi ajaran sesatnya. Ajaran-ajaran inilah yang saat ini menjadi agama Syi`ah itsna `asyariyah (Syi`ah 12 imam) atau Syi`ah rofidoh, Syi`ah Iran yang mempelopori gerakan revolusi Iran dengan tokohnya Khomaeni.
B. Khowarij.
Khowarij pada mulanya adalah orang-orang yang keluar dari sunnah dan jama`ah (para sohabat) saat terjadi peristiwa tahkim yang dilaksanakan untuk menentukan hukum Alloh demi perdamaian antara dua kelompok ummat yang berperang pada zaman Sohabat. Yaitu kelompok Ali bin Abi Tholib  dan kelompok Mu`awiyah bin Abi Sufyan . Kedua belah pihak sepakat untuk membentuk lajnah (panitia)penerapan hukum Alloh atas perdamaian yang mereka inginkan. Kaum Khowarij mengatakan bahwa dengan mengangkat seorang hakim (anggota panitia dari pihak Ali rda), maka Ali bin Abi Tholib telah memberi hak membuat hukum (hak tasyri`) kepada makhluk yang berarti suatu kesyirikan yang nyata. Inilah yang membuat mereka keluar dari sikap para sohabat, sehingga mereka mengkafirkan Ali bin Abi Tholib dan para sohabat pendukungnya.  Memang benar, bahwa memberikan seseorang hak untuk membuat hukum di luar koridor hukum Alloh adalah suatu kesyirikan dan kekufuran yang nyata. Akan tetapi, yang dilakukan oleh Ali  bukanlah demikian. Yang beliau lakukan adalah mengangkat seorang hakim yang bertugas memutuskan masalah yang terjadi dengan hukum Alloh . Jadi bukan sama sekali menyingkirkan hukum Alloh dan menggantinya dengan hukum yang lainnya.
Menurut Khowarij, semua dosa besar dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Mereka dengan sangat mudah mengkafirkan orang-orang (secara langsung personalnya) yang mereka anggap murtad tanpa melihat syarat-syarat dan halangan-halangannya. Karena semua itu, mereka terkenal lebih sering memerangi ummat Islam sendiri dibanding memerangi orang-orang kafir. Hal ihwal mereka telah dikhabarkan Rosululloh  sebelum beliau wafat. Sikap guluw (melampaui batas-batas syari`ah) inilah yang telah menjadikan faham khowarij menjadi faham yang sangat ekstrim, tanpa rahmah. Seperti firqoh-firqoh sesat lainnya, dasar penyimpangan mereka adalah karena penyelisihan terhadap sunnah Rosululloh  dan para Sohabatnya dalam memahami hukum-hukum Islam.
C. Sufiyah.
Pada mulanya, kelahiran tasawwuf sama sekali tidak bercampur dengan aqidah umat Islam yang masih murni mengikuti para salafus solih. Tasawwuf hanya mengajarkan parktek-praktek zuhud (hidup sederhana), keketatan ibadah dan sikap akhlak (suluk) yang terkadang melampaui batas-batas syari`ah. Dengan demikian telah memasuki daerah kebid’ahan. Akan tetapi semakin hari, ajaran Tasawwuf dipenuhi dengan barbagai keyakinan yang bercampur aduk, ada paganisme, Yahudi, Kristen, hindu, budha, Majusi, dan firoq-firoq dollah yang banyak sekali.
1. Penyimpangan Sufiyah dalam Sumber.
Sumber agama Islam, yaitu al-Qur`an dan Sunnah telah ditambah-tambah dengan  berbagai sumber-sumber lain, bahkan sumber-sumber lain inilah yang lebih mendominasi al-Qur`an dan Sunnah itu sendiri. Mimpi, kasyaf (penerawangan alam gaib) dan hadis-hadis palsu dan munkar justru telah menjadi sumber utama bagi para penganut tasawwuf.
2. Penyimpangan Sufiyah dalam Tauhid.
Aqidah tasawwuf telah banyak dicampuri oleh ajaran-ajaran syirik. Keyakinan mereka tentang Nabi Muhammad  juga banyak yang melampaui batas syari`at. Mereka berkeyakinan bahwa nabi Muhammad  diciptakan sebelum adanya alam semesta, bahkan semua alam semesta diciptakan dari cahayanya dan untuknya. Prinsip-prinsip kewalian yang dipenuhi dengan sihir, bahkan ada yang sampai kepada prinsip wihdatul wujud (manunggaling kawulo lan gusti) yang mengajarkan penyatuan Dzat Alloh dengan seluruh alam semesta yang dalam hal ini menyatu dengan sang wali. Wali yang tidak pernah berbuat salah, kalaupun secara kasat mata salah tapi hakikatnya sama sekali tidak salah, setelah mati mereka masih hidup sehingga bisa mendengar keluhan dan rintihan pengikutnya, mereka memiliki banyak karomah sampai ada yang bisa terbang, bisa ada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan, dipercaya atau bahkan mengklaim memiliki kemampuan mengetahui sesuatu yang gaib dan keyakinan-keyakinan syirik lainnya.
Kuburan-kuburan dan tempat-tempat keramat penuh dengan legenda-legenda kesucian dan kekaromahan penghuninya juga telah menjadi ajaran bid`ah yang sangat jelas. Sehingga situasi kuburan dan tempat-tempat keramat dipenuhi oleh orang-orang yang berziarah untuk mencari berkah atau meminta berbagai kebutuhan dalam kehidupan yang ini merupakan kesyirikan yang jelas sekali.
3. Penyimpangan Sufiyah dalam Ittiba`.
Begitu juga ajaran-ajaran ta`abbud dan suluk mereka telah banyak sekali dipenuhi oleh berbagai tata aturan bid`ah. Sholawat bid`ah yang berbagai ragam sesuai dengan tarekatnya, cara solat yang dipenuhi dengan sikap semedi yang bebeda-beda, sikap dzikir yang memiliki tata aturan yang bermacam-macam yang sama sekali tidak diajarkan oleh Rasululloh saw. Begitu pula dalam tata olah bathin yang sama sekali tidak merujuk kepada manusia yang paling bertaqwa, yaitu Rosululloh . Amalan-amalan yang harus dipenuhi oleh para penganut tasawwuf untuk membersihkan jiwa telah dipenuhi berbagai bid`ah yang justru menjadi racun qolbu. Sampai-sampai untuk mengejar penyucian jiwa, mereka diwajibkan meninggalkan menuntut ilmu-ilmu syar`i  yang diajarkan dalam al-Qur`an dan Sunnah. Lalu, ilmu yang mereka dapat dari hasil dzikir dan riyadhoh itulah yang akan melahirkan cahaya ilmu ladunni (diklaim sebagai ilmu yang langsung datang dari Alloh  melalui bisikan jiwa).

Facebook : TERPECAH..!! Yang BENAR Hanya SATU..!!
Top of Form

ARSIP HASMI SOLO