Selasa, 31 Juli 2012

"SIROTULMUSTAQIM", Jalan Yang Lurus & Murni..!!




Shirothulmustaqim.. suatu jalan lurus yang penuh rahmat dan selaras dengan fitroh manusia yang menjadi dasar formasi jiwa dan tubuh manusia. Selain jalan ini, semuanya adalah jalan kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat. Shirothulmustaqim.. jalan satu-satunya yang akan menghantarkan penitinya ke tempat pertemuan dengan Pencipta jiwa dan raga manusia. Pencipta Yang Maha Agung, Maha Rahim dan Maha baik tak terhingga. Pertemuan yang merupakan puncak kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kebahagiaan abadi..yang tiada tara..!! Hanya dengan meniti jalan ini, seseorang bisa menemui-Nya, setelah masuk ke dalam surga-Nya. Seluruh jalan selain jalan ini akan menghantarkan para penitinya ke gerbang-gerbang Jahannam, menenggelamkan mereka di lembah-lembah api yang berkobar-kobar dan penderitaan yang tak tertahankan. Hanya Shirothulmustaqim-lah jalan yang diakui Alloh dan Shirothulmustaqim itu adalah Islam itu sendiri.. Ya, Islam itu sendiri...tetapi Islam yang murni. Demikian tingginya nilai jalan yang lurus ini... demikian pentingnya mendapatkan jalan ini untuk kemudian menitinya sampai akhir. Karena sangat penting dan sangat tingginya nilai jalan ini, maka wajiblah bagi kita semua untuk memusatkan seluruh daya yang kita miliki untuk mengenal jalan ini dan mempelajari rambu-rambunya. Sebelum itu dan lebih utama dari itu semua, hendaknya kita selalu memanjatkan do'a kepada Penguasa hati-hati kita dan Pemilik petunjuk yang benar agar Dia selalu melimpahkan hidayah-Nya bagi kita sehingga kita mendapatkan Shirothulmustaqim dan menitinya dengan mantap dan benar, serta tidak tergelincir hingga di penghujung jalan.

Sudah seharusnya kita mempelajari dengan seksama "Rambu-rambu Utama Jalan Ini" satu persatu dan selalu bersentuhan dengan pengarahan-pengarahan yang bersangkutan dengan ranmbu-rambu ini agar rambu-rambu tersebut selalu menjadi pengiring kehidupan kita sampai akhir nafas kita ini terhembuskan.

Berpegang teguhlah kepada tauhid, rambu pertama dan utama. Barangsiapa yang konsisten berpegang teguh kepada tauhid yang benar, maka Alloh menjamin surga baginya, walau seberat apapun dosa-dosanya. Tetapi kita tidak bisa berpegang kepada tauhid dan menjauhi lawanya yaitu syirik, tanpa mempelajarinya dengan seksama. Semua tenaga dan waktu yang dicurahkan untuk mempelajari tauhid tidaklah seberapa di bandingkan dengan manfa'at tauhid yang kita peroleh dari hasil pengkajian tersebut.

Yang kedua, Tauhid akan menjadi benar bila dikawal dengan Ittiba', yaitu pengikutan dalam memahami tauhid dan menerapkannya. Ittiba' adalah unsur utama dan satu-satunya yang mampu mengawal kemurnian agama Islam ini. Tanpa ittiba' dalam hal tauhid, maka tauhid bisa berbalik menjadi syirik! Tidak adanya pengawalan ittiba' dalam hal peribadatan, bahkan dalam hal aqidah sekalipun, berarti jatuh ke dalam kebid'ahan. Bid'ah sangatlah buruk! Bid'ah adalah pengubahan Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ..!! Bidah adalah meninggalkan Islam secara parsial dan pembunuhan terhadap Islam selangkah demi selangkah.

Rambu Shirothulmustaqim yang ketiga adalah sumber Islam yang benar. Perbedaan antara Islam dan agama-agama sesat atau antar agama-agama sesat itu sendiri sebenarnya disebabkan oleh perbedaan sumber pengambilan substansi agama-agama tersebut. Ketika sumber pengambilan substansi agama berbeda, maka ajaran agama-agama secara keseluruhan berbeda, walaupun secara parsial bisa saja ada komponen-komponen yang sama. Oleh karena itu, memilih sumber yang benar dalam agama Islam tanpa memasukkan sumber-sumber tambahan sangatlah penting sekali. Jika tidak tepat dalam menentukan sumber atau bertoleransi apalagi menerima masuknya sumber-sumber lain, maka yang terjadi adalah kebid'ahan. Ini berarti runtuhnya komponen-komponen Islam yang benar untuk diganti dengan komponen-komponen yang tidak datang dari Alloh dan tidak pernah diajarkan oleh Rosululloh . Sumber yang benar dalam Islam yang murni adalah wahyu Alloh , karena agama ini adalah dari Alloh . Wahyu pertama yang berupa Al-Qur'an, baik lafaz-lafaznya maupun huruf-hurufnya secara murni adalah dari Alloh . Sedangkan wahyu kedua adalah hadits-hadits Rosululloh yang substansi (makna)nya berasal dari Alloh tetapi disampaikan oleh perkataan Rosululloh , perbuatan dan ketetapannya.

Rambu Shirothulmustaqim yang keempat yang tidak kalah pentingnya adalah pengikutan kepada para sohabat dalam memahami Al-Qur'an dan hadits serta dalam memahami ajaran-ajaran Rosululloh , yang berarti mengikuti mereka dalam menerapkan ittiba'. Sebagai contoh dan untuk lebih memperluas pengertian kita tentang hal ini, Rosululloh bersabda :

"Sholat berjama'ah lebih utama daripada sholat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits ini tidak ditentukan apakah sholat yang dimaksudkan adalah sholat wajib ataukah sholat sunnah atau bahkan keduanya. Dari penerapan sohabat tentang sholat, kita dapati hadits ini umumnya untuk sholat wajib. Maka kita tidak berjama'ah dalam sholat tahiyyatul masjid serta sunnah qobliyah dan ba'diyah. Demikian juga banyak hal yang serupa dalam hadits-hadits lainnya, misalnya tentang keutamaan berjama'ah yang tidak diterapkan pada ibadah dzikir, karena para sohabat tidak menerapkannya walaupun ada hadits Rosululloh yang berbunyi :

"Tidaklah duduk suatu kaum berdzikir menyebut Alloh kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat Alloh meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka dan Alloh menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim)

Hadits ini tidak difahami oleh para sohabat sebagai suatu izin untuk dzikir bersama dengan satu paduan suara atau di bawah satu komando. Hal ini jelas kita lihat, karena mereka tidak menerapkannya. Dalam rangka menerapkan rambu keempat tersebut, maka kitapun tidak boleh menyelisihi jalan mereka dengan berdzikir di bawah satu komando dan dengan paduan suara. Jika kita kerjakan, maka kita telah mengerjakan suatu kesesatan.

Seandainya umat ini konsisten mengikuti rambu-rambu Shirothulmustaqim ini, niscaya mereka tidak akan terpecah belah dalam firqoh-firqoh yang bermacam-macam. Tetapi sudah menjadi ketetapan Alloh bahwa banyak dari umat ini yang tidak konsisten terhadap rambu-rambu ini, dan akhirnya pecahlah mereka menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan saja yang tetap lurus mengikuti rambu-rambu Shirothulmustaqim serta terus menitinya. Sedangkan 72 golongan yang lain, mengabaikan sebagian dari rambu-rambu ini lalu sesatlah mereka.

Penyelisihan manusia terhadap Shirothulmustaqim pun sangat beragam. Penyelisihan terbesar adalah tidak masuknya mereka ke dalam Shirothulmustaqim atau keluar total setelah memasukinya (murtad). Mereka yang tidak memasukinya adalah mereka yang menolak seluruh rambu-rambu Shirothulmustaqim, sedangkan mereka yang keuar total dari Shirothulmustaqim setelah memasukinya terbagi atas dua golongan. Yang pertama, mereka yang dengan sadar dan sengaja meninggalkan Islam, baik berpindah agama atau tidak memeluk agama sama sekali. Kedua, mereka yang melanggar rambu pertama (tauhid) dan berjalan di atas jalur kebalikannya, yaitu syirik besar serta bersikeras menitinya walaupun tetap mengaku sebagai kaum muslimin. Termasuk golongan ini adalahmereka yang menolak ittiba' secara total dengan menolak hadits-hadits Rosululloh secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai sumber yang harus diikuti.

Penyelisihan lain menurut urutan besar dan kecilnya adalah meninggalkan sebagian ittiba' kepada Rosululloh dan mengikuti perkataan selain beliau yang bertentangan dengan petunjuk beliau. Dengan kata lain, secara teori tidak menolak ittiba' kepada Rosululloh , tetapi di dalam prakteknya.. Lihat Selengkapnyamencampur-adukkan antara sunnah dengan bid'ah serta bersikeras untuk terus berbuat demikian dengan alasan-alasan yang tidak bisa diterima secara syar'i. Mereka adalah "ahlul Bid'ah".

Penyelisihan macam inilah yang telah menjadi dasar terbentuknya golongan-golongan keagamaan (ingat bukan organisasi-organisasi keagamaan) dalam Islam, yaitu golongan-golongan yang tersesat dari Shirothulmustaqim yang dinamakan "firoq dhollah".

Golongan-golongan ini membentuk manhaj-manhaj sempalan berdasarkan sumber-sumber tambahan yang tidak syar'i dan karena adanya kecacatan dalam ittiba' kepada Rosululloh . Mereka masih terhitung bagian dari umat Islam, selama pelanggaran-pelanggaran mereka tidak sampai kepada kekufuran atau kesyirikan. Jika mereka sudah melakukan salah satu pembatal keislaman, maka dengan syarat sudah tegaknya hujjah atas mereka, yaitu ilmu yang jelas dan disampaikan dengan jelas, maka mereka bukanlah dari golongan orang-orang Islam.

Akan tetapi, walaupun kita telah menyaksikan maraknya golongan-golongan sesat pada zaman kita ini khususnya dan pada zaman-zaman lampau pada umumnya, sebagaimana telah dikabarkan oleh Rosululloh bahwa perpecahan umat ini akan terjadi, tetapi Alloh tetap menjaga agama-Nya yang murni untuk tetap jelas dan tidak kabur atau samar. Rosululloh bersabbda :

"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperoleh kemenangan, tidak merasa terkalahkan oleh orang-orang yang menghina mereka, sampai datangnya hari kiamat." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim)

"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tetap berada di atas kebenaran, tidak merasa terkalahkan oleh orang-orang yang menghina mereka, sampai datangnya urusan Alloh (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu." (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim)

Dengan adanya golongan yang konsisten kepada Islam yang murni, menjaga kemurniannya dan berjuang menjayakannya, maka agama Islam yang murni tidak akan pernah pudar, apalagi menghilang.

Untuk menjaga agamanya, Alloh pun membangkitkan para pembaharu pada setiap seratus tahun untuk meluruskan pemahaman umat tentang Islam, seperti waktu didakwahkan oleh Rosululloh dahulu kala. Rosululloh bersabda :

"Sesungguhnya Alloh akan mengutus bagi umat ini dalam setiap seratus tahun seseorang yang akan memperbaharui urusan agama bagi mereka." (HR. Abu Dawud, Baihaqi dan Hakim)

Demikianlah halnya tho'ifah al manshuroh, firqotunnajiyah Ahlussunnah wal Jama'ah terus berada di tengah-tengah umat sebagai contoh hidup dari Islam yang murni. Tho'ifah al manshuroh (golongan yang dimenangkan Alloh ) adalah lingkaran inti dari Ahlussunnah yang berjuang dengan menempuhsebab-sebab dan mengupayakan langkah-langkah yang menjadi syarat turunnya pertolongan Alloh dalam memperjuangkan agama yang suci ini.

Ummat ini...umat yang dirahmati Alloh , kini berada dalam keterpurukan hebat yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka lemah pada sebagian besar sisi kehidupan, diperangi, dan didzolimi di banyak negeri. Kemiskinan dan kebodohan adalah warna kayoritasnya. Cengkeraman musuh-musuh mereka amat kuat membelenggu. Akan tetapi yang jauh lebih menyedihkan adalah jauhnya mayoritas umat ini dari meniti Islam yang murni. Keadaan ini bukan saja menjadi sebab dari penderitaan yang kita paparkan sebelum ini tetapi juga sangat mengancam kehidupan mereka di akhirat nanti, semoga Alloh mengampuni dan merahmati kita dan seluruh umat ini.

Kepungan yang mencekik terlalu keras! Kekuatan-kekuatan hitam mengepung umat ini dari segala penjuru! Karena kejahilan, mereka dikepung oleh media, terutama televisi. Ajaran-ajaran sesat merajalela, para tukang sihir dengan nama-nama "keren" yang bermacam-macam menawarkan bantuan dan solusi dalam memecahkan problematika kehidupan melalui persembahan-persembahan kepada iblis. Perbuatan-perbuatan maksiat merajalela, cara berpakaian mayoritas waanita-wanita muslimah sama sekali tidak Islami, bahkan hampir-hampir tidak ada bedanya dengan wanita-wanita non muslimah. Praktek-praktek ke-Islamanpun banyak sekali yang menyimpang dari prinsip Ittiba'. Penyembahan terhadap setan menyebar melalui berbagai ritual-ritual bid'ah dan syirik. Anak-anak diasuh oleh media, khususnya televisi dengan sajian-sajian Hindu atau Budha, atau agama lainnya dan juga melalui program-program westernisasi.

Tidak heran, karena demikian realitasnya, semakin banyaknya musibah dan malapetaka terus menimpa bangsa ini, maka semua ini harus digagalkan! Umat ini harus diselamatkan! Orang-orang sholih seperti "Anda" dan "kita semua" harus dimobilisasi untuk menjalankan usaha-usaha penyelamatan yang benar! Langkah pertama dan utama berjangka panjang adalah mendakwahi dan membina umat ini untuk kembali meniti Islam yang murni, meniti Shirothulmustaqim..!!

Ini adalah konsekuensi dari ittiba' Anda kepada Rosululloh ! Ya, konsekuensi dari ittiba' dan penitian Anda atas Shirothulmustaqim..!!

Alloh berfirman :

"Katakanlah : 'Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf [12] : 108)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa para pengikut Rosul bersama Rosululloh meniti jalan da'wah menuju keridhoan Alloh, menuju Shirothulmustaqim..!!


Semoga Alloh memberkahi kita semua dan menjadikan kita penolong-penolong agama-Nya.

Aamiin..

Senin, 30 Juli 2012

.:: Pemahaman Terbaik dari Generasi Ummat Terbaik.

Ahlus Sunnah berpegang teguh kepada pemahaman dan metode pemahaman para sahabat, karena mereka adalah umat yang telah mendapat “serfitikat kebenaran” dari Alloh melalui banyak ayat-ayat al-Qur’an. Demikian pula jika mereka telah berijma’ terhadap suatu masalah, maka ijma’ mereka adalah hukum yang wajib diikuti dan tidak boleh memilih pilihan lain selain pilihan mereka.

· Ijma` sahabat adalah hujjah syar’iyyah.[1]
Ini berarti bahwa ketika sahabat telah berijma’ pada suatu masalah dalam agama, maka ijma’ itu harus diikuti. Siapa yang melanggarnya akan berdosa dan sesat. Ijma` Sahabat adalah ma’sum, walaupun perorangan mereka tidaklah ma’sum. Ketika keyakinan mereka pada suatu masalah terbagi atas lebih dari satu, maka kita harus mengikuti salah satunya dan tidak boleh menentukan keyakinan lainnya.

Alloh SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya serta mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115)

*). Orang-orang mu’min di ayat ini adalah Sahabat .

Rosululloh SAW bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِي يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِي يَلُوْنَهُمْ … مَنْ أَرَاد بحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ

“Aku wasiatkan kalian (mengikuti) para Sahabatku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian generasi setelah itu... Barangsiapa yang menghendaki keluasan jannah, maka berpegang teguhlah dengan jama`ah”.[2]

*). Para Sahabat dan dua generasi itulah yang dimaksud dengan Jama’ah

 
Rosululloh SAW bersabda:

لاَ يُجْمِعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا.


“Alloh tidak akan pernah menghimpun umat ini di atas kesesatan”.[3]

· Pemahaman al-Qur’an dan Hadits harus sesuai dengan pemahaman sahabat dan metode pemahaman mereka.[4]

Prinsip ini terlalu kuat dan terlalu penting dalam Dinul Islam. Kepentingan dan keutamaannya didukung oleh dalil-dalil yang kuat dan jelas sekali.

Di antara dalil-dalil yang mendukung prinsip ini adalah sebagai berikut:

*Sahabat telah dipuji Alloh di banyak ayat suci al-Qur’an. Pujian yang diabadikan sepanjang masa dan tidak diberikan untuk orang-orang sesudah mereka.
Alloh SWT berfirman:

“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Alloh dan keridhoan (Nya) serta menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar”. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dijauhkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr [59]: 8-9)
“(Yaitu) orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Sesungguhnya mereka telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. al-Imran [3]: 173)
“Muhammad Rosululloh dan orang-orang yang bersama dia adalah tegar terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud, demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, dengan mereka Alloh menjengkelkan hati orang-orang kafir. Alloh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Fath [48]: 29)

Semua pujian ini menunjukan dengan nyata akan kebenaran manhaj sahabat . Alloh tidak mungkin memuji orang-orang dengan manhaj yang tidak diridhoi-Nya.


*Sahabat telah diakui sebagai umat terbaik sepanjang umur dunia ini dan telah diridhoi Alloh .

Alloh SWT berfirman:

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Alloh.” (QS. ali-`Imron [3]: 110)
“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mu'min (sahabat ) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. al-Fath [48]: 18)

Dengan sendirinya umat yang terbaik adalah umat yang mempunyai manhaj yang terbaik juga.


*Manhaj Sahabat telah dijadikan ukuran standar untuk mengukur keimanan setiap orang. Siapa-siapa yang cocok keimanannya dengan keimanan sahabat maka mereka telah mendapat hidayah dan barangsiapa yang tidak demikian, serta menolak manhaj Sahabat maka mereka telah sesat.
Alloh SWT berfirman:

“Maka jika mereka beriman seperti apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan. Maka Alloh akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 137)

___________________________________________________________
[1] Baca Kitab “Ma Ana `Alaihi wa Ashhabi”, Ahmad Salam.
[2] (HR. Tirmidzi, no.2172; Imam Ahmad dalam musnadnya, 1/114; Ibnu Majah, no.2363; Ibnu Hibban, no.7254; dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no.431).
[3] (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, 1/115–117).
[4] Baca kitab “Hujjiyyah Qoul Sohabiy `inda As Salaf”, Dr. Tarhib bin Rubai`an bin Hadi Ad Dausiri. Kitab “Al Muwafaqot”, Asy Syatibi. Kitab “A`lam Al Muwaqqi`in”, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah.

.:: Sumber Hukum Islam yang Murni.


Salah satu dasar manhaj Ahlus Sunnah yang sangat penting adalah menimba pemahaman Islam atau hidâyah dari sumber yang benar. Satu-satunya sumber yang mutlak benar dalam Islam adalah wahyu Alloh yang berbentuk al-Qur’an dan al-Hadits (as-Sunnah), yang harus dirujukkan (disandarkan pemahamannya) kepada Alloh dan Rosul-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ [4]: 59)

Sumber agama Islam dengan segala seginya adalah wahyu Alloh dalam bentuk al-Qur’an dan Hadits yang shohih. [1]

Dalil yang lain dari prinsip dasar ini adalah Firman Alloh SWT :

“Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang amat lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. al-Isro` [17]: 9)


“Apa yang diberikan Rosul kepada kalian maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat keras hukumanNya.” (QS. al-Hasyr [59]: 7)

Rosululloh SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah Rasyidin (yang terarahkan) dan mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah hal tersebut dengan gigi geraham”.[2]


Alloh SWT berfirman:

“Dan Alloh telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Sesungguhnya karunia Alloh sangat besar atasmu.” (QS. an-Nisa’ [4]: 113)

*). Arti Hikmah disini adalah as-Sunnah.

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm [53]: 4)
*). Ini berarti bahwa hadits-hadits Rosululloh pun adalah wahyu dari Alloh.

Rosululloh SAW bersabda:

اَلاَ اِنِّى اُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan al-Qur`an dan yang sejenisnya (Sunnah) bersama-sama dengannya”.[3]


Hasan bin `Athiyah berkata:

كاَنَ جِبْرِيْلُ يَنْزِلُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ بِاْلقُرْآنِ وَيُعَلِّمُهُ إِيَّاهَا كَمَا يُعَلِّمُهُ اْلقُرْآنَ

“Jibril turun kepada Rosululloh membawa sunnah sebagaimana dia turun membawa al-Quran. Dia pun mengajarkan kepada beliau sunnah sebagaimana dia mengajarkan Beliau al-Qur`an”.[4]


Pengikutan pada keduanya adalah pengikutan pada khabar dari Alloh dan tuntunan-Nya. Tidak ada suatu pun yang boleh menyaingi dan menandingi keduanya, tiada pertentangan di antara keduanya. Kalau terbayang adanya pertentangan dalam kaca mata kita, maka hal itu disebabkan oleh kesalah-pahaman (yang bisa disebabkan oleh banyak hal, terutama adalah kejahilan) atau hadits yang tidak shohih.


_________________________________________________

[1] Lihat kitab "Manhaj Al Istidlal `ala Masail Al I`tiqod `Inda Ahli As Sunnah wa Al Jama`ah", karya `Utsman bin `Ali Hasan : 1/ 40-44
[2] (HR. Abu Daud, no. 3607; Tirmidzi, no.2678; dan dia berkata, “Ini hadits hasan shohih”, Ibnu Majah, no.43; serta dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani, dalam Shohih Sunan Ibnu Majah, no.40-41)
[3] (HR. Abu Daud, no.4604; Imam Ahmad, 4/130; Ibnu Hibban, no.11; dan Tirmidzi, no.2666; dia berkata, “Ini hadits hasan ghorib dari jalan tersebut”, serta dishohihkan oleh Syeikh Al Albani, dalam Shohih Ibnu Majah, no.12)
[4] (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dalam Al Marosil, no.536; Syaikh Su`aib Al Arnauth berkata, “Rijalnya tsiqot, rijal Syaikhoin.”)

.:: Setiap Bid'ah adalah Sesat.


· Ahlussunnah wal Jama`ah menolak semua bentuk bid’ah, baik bid’ah amaliah, aqidah maupun manhajiyah.[1]

Semua bid’ah dalam agama adalah buruk dan sesat, tidak ada satu bid’ah pun yang hasanah. Adapun penjelasan mengenai BID'AH serta contoh-contohnya telah diulas tuntas di pembahasan kami sebelumnya dan dari pembahasan-pembahasan tersebut cukuplah menjadikan kita faham akan haqikat bid'ah yang sesungguhnya, sehingga tidak ada lagi syubhat di tengah-tengah kita yang sering-kali berujung pada perdebatan panjang disebabkan adanya perbedaan faham dalam perkara dasar ini atau berbeda karena sekedar beda dalam pengertian 'bahasa'. Sekali lagi Ahlussunnah menolak semua bentuk bid'ah yang kini telah tumbuh merebah dan berkembang luas di tengah masyarakat kita sehingga kebathilan pun seolah dipandang baik dan semakin digemari pula oleh mayoritas ummat Islam padahal Rosululloh SAW telah memberikan peringatan dan ancaman yang sangat keras tentang perkara yang satu ini, sebagaimana sabda beliau:     

وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam dien), karena setiap perkara baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat dan setiap kesesatan berada di api neraka”.[2]

______________________________________________________________
[1] Baca “Hakikot Al Bid`ah wa Ahkamuha”, Sa`id bin Nasir Al Ghomidi.
[2] (HR. Abu Daud, no.3607; Tirmidzi, no.2678; dan dia berkata, “Ini hadits hasan shahih”, Ibnu Majah, no.43; serta dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no.40-41).

Rabu, 25 Juli 2012

Mengetahui Kecantikan Para Bidadari Syurga


Bidadari Surga, Pesona dan Kecantikannya.
Mereka adalah bidadari yang sangat cantik jelita. Keelokan dan kecantikan mereka mencapai kesempurnaan, tak ada kekurangan dan kecacatan sedikitpun, hingga mata tak akan berpaling dari memandang mereka.
Kulit mereka sangat halus dan jernih, hingga sum-sum tulang betis mereka bisa terlihat dari balik dagingnya. Oleh karena itu, tubuh mereka laksana permata yaqut dan marjan.

Alloh berfirman:

“Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan.” (QS. ar-Rohman [55]: 58)

Mereka memiliki mata yang begitu indah dan menawan. Mereka bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.

Alloh berfirman:

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Robb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.” (QS. ar-Rohman [55]: 70-72)

Mereka adalah gadis-gadis yang muda belia, yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak pula oleh bangsa jin.

Alloh berfirman:

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (QS. ar-Rohman [55]: 56)

Mereka adalah gadis-gadis perawan yang penuh cinta dan sayang diciptakan untuk penghuni-penghuni surga.

Alloh berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan.” (QS. al-Waqi’ah [56]: 35-38)

Mereka senantiasa dalam keadaan suci dari haidh dan nifas, dari air seni dan kotoran, sebagaimana firman-Nya:

“Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Alloh), pada sisi Robb mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhoan Alloh. Dan Alloh Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imron [3]: 15)

Aroma mereka adalah aroma harum minyak kesturi. Sungguh sangat menakjubkan bahwa semerbak aroma wanginya mampu memenuhi sepenuh bumi.

Rosululloh bersabda:

)) وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ لأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلأَتْهُ رِيحًا ، وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ((

“Seandainya wanita surga (bidadari) muncul ke permukaan bumi, niscaya dia akan menerangi apa yang ada di antara keduanya, aroma wanginya akan memenuhi bumi. Sungguh tutup kepalanya lebih baik dari dunia seisinya.” (HR. al-Bukhori)

Ibnul Qoyyim berkata:

“Jika anda bertanya tentang mempelai wanita dan istri-istri penduduk surga, maka mereka adalah gadis-gadis remaja yang montok dan sebaya. Pada diri mereka mengalir darah muda, pipi mereka halus dan segar bagaikan bunga dan apel, dada mereka kencang dan bundar bagai delima, gigi mereka bagaikan intan mutu manikam (bermacam-macam permata), keindahan dan kelembutan mereka selalu menjadi perebutan.

Elok wajahnya bagaikan terangnya matahari, kilauan cahaya terpancar dari gigi-giginya dikala tersenyum. Jika anda dapatkan cintanya, maka katakan semau anda tentang dua cinta yang bertaut. Jika anda mengajaknya berbincang (tentu anda begitu berbunga), bagaimana pula rasanya jika pembicaraan itu antara dua kekasih (yang penuh rayu, canda dan pujian). Keindahan wajahnya terlihat sepenuh pipi, seakan-akan anda melihat ke cermin yang bersih mengkilat (maksudnya, menggambarkan persamaan antara keindahan paras bidadari dengan cermin yang bersih berkilau setelah dicuci dan dibersihkan, sehingga tampak jelas keindahan dan kecantikan). Bagian dalam betisnya bisa terlihat dari luar, seakan tidak terhalangi oleh kulit, tulang maupun perhiasannya.

Andaikan ia tampil (muncul) di dunia, niscaya seisi bumi dari barat hingga timur akan mencium aroma wanginya, dan setiap lisan makhluk hidup akan mengucapkan tahlil, tasbih, dan takbir karena terperangah dan terpesona. Dan niscaya antara dua ufuk akan menjadi indah berseri berhias dengannya. Setiap mata akan menjadi buta, sinar mentari akan selalu pudar sebagaimana matahari mengalahkan sinar bintang. Pasti semua yang melihatnya di seluruh muka bumi akan beriman kepada Alloh Yang Maha hidup lagi Maha Qoyyum (Tegak lagi Menegakkan). Kerudung di kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya. Hasratnya terhadap suami melebihi semua keinginan dan cita-citanya. Tiada hari berlalu melainkan akan semakin menambah keindahan dan kecantikan dirinya. Tiada jarak yang ditempuh melainkan semakin menambah rasa cinta dan hasratnya. Bidadari adalah gadis yang dibebaskan dari kehamilan, melahirkan, haidh dan nifas, disucikan dari ingus, ludah, air seni, dan air tinja, serta semua kotoran.

Masa remajanya tidak akan sirna, keindahan pakaiannya tidak akan usang, kecantikannya tidak akan memudar, hasrat dan nafsunya tidak akan melemah, pandangan matanya hanya tertuju kepada suami, sekali-kali tidak menginginkan yang lain. Begitu pula suami akan selalu tertuju padanya. Bidadarinya adalah puncak dari angan-angan dan nafsunya. Jika ia melihat kepadanya, maka bidadarinya akan membahagiakan dirinya. Jika ia minta kepadanya pasti akan dituruti. Apabila ia tidak di tempat, maka ia akan menjaganya. Suaminya senantiasa dalam dirinya, di manapun berada. Suaminya adalah puncak dari angan-angan dan rasa damainya.

Di samping itu, bidadari ini tidak pernah dijamah sebelumnya, baik oleh bangsa manusia maupun bangsa jin. Setiap kali suami memandangnya maka rasa senang dan suka cita akan memenuhi rongga dadanya. Setiap kali ia ajak bicara maka keindahan intan mutu manikam akan memenuhi pendengarannya. Jika ia muncul maka seisi istana dan tiap kamar di dalamnya akan dipenuhi cahaya.

Jika anda bertanya tentang usianya, maka mereka adalah gadis-gadis remaja yang sebaya dan sedang ranum-ranumnya.

Jika anda bertanya tentang keelokan wajahnya, maka apakah anda telah melihat eloknya matahari dan bulan?!

Jika anda bertanya tentang hitam matanya, maka ia adalah sebaik-baik yang anda saksikan, mata yang putih bersih dengan bulatan hitam bola mata yang begitu pekat menawan.

Jika anda bertanya tentang bentuk fisiknya, maka apakah anda pernah melihat ranting pohon yang paling indah yang pernah anda temukan?

Jika anda bertanya tentang warna kulitnya, maka cerahnya bagaikan batu rubi dan marjan.

Jika anda bertanya tentang elok budinya, maka mereka adalah gadis-gadis yang sangat baik penuh kebajikan, yang menggabungkan antara keindahan wajah dan kesopanan. Maka merekapun dianugerahi kecantikan luar dan dalam. Mereka adalah kebahagiaan jiwa dan penghias mata.

Jika anda bertanya tentang baiknya pergaulan dan pelayanan mereka, maka tidak ada lagi kelezatan selainnya. Mereka adalah gadis-gadis yang sangat dicintai suami karena kebaktian dan pelayanannya yang paripurna, yang hidup seirama dengan suami penuh pesona harmoni dan asmara.

Apa yang anda katakan apabila seorang gadis tertawa di depan suaminya maka surga yang indah itu menjadi bersinar? Apabila ia berpindah dari satu istana ke istana lainnya, anda akan mengatakan: “Ini matahari yang berpindah-pindah di antara garis edarnya.” Apabila ia bercanda, kejar mengejar dengan suami, duhai… alangkah indahnya…!!” (Hadil Arwah ila Biladil Afrah, 359-360)

.:: Markas Mewah Sang Penumpah Darah.

Pembangunan gedung itu merupakan ‘salah satu simbol komitmen Amerika kepada Kemitraan Komprehensif dengan Indonesia.'

Mediaumat.com- Amerika tampaknya ingin lebih menampakkan dominasinya di Indonesia. Coba bayangkan, tidak ada kantor kedutaan besar di jantung ibukota Jakarta-seputar Monas yakni Jl Merdeka mulai utara, timur, selatan, dan barat-kecuali kantor Kedubes Amerika Serikat dan Vatikan.

Kedubes Amerika ini yang letakknya bersebelahan dengan kantor Wakil Presiden RI di Jalan Merdeka Selatan rencananya akan dipugar total. Tak tanggung-tanggung, gedung kedubes negara pembantai kaum Muslimin ini akan dibangun 10 tingkat. Luas gedung itu mencapai 36.000 meter persegi atau 3,6 hektar. Ini akan menjadi gedung Kedubes AS terbesar ketiga setelah Kedubes AS di Irak dan Pakistan.

Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel menyebutkan, pembangunan gedung kedubesnya itu merupakan ‘salah satu simbol komitmen Amerika kepada Kemitraan Komprehensif dengan Indonesia.' Kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan ini akan digunakan oleh para staf Kedutaan Besar AS dan Misi AS untuk ASEAN.

Ia menjelaskan, proyek besar ini dijadwalkan rampung dalam lima tahun. Proyek ini akan menghabiskan dana US$ 450 juta atau sektiar Rp 4,2 trilyun. "Pembangunannya akan dimulai akhir tahun ini dan dijadwalkan selesai pada 2017," kata Dubes Marciel di Kedubes AS Jakarta, Jumat 6 Juli 2012.

Direktur Proyek Pembangunan Gedung di Luar Negeri Tamela Simpson mengatakan, pembangunan kompleks kedutaan dimulai pada Desember mendatang. Pembangunan mencakup gedung utama setinggi 10 lantai, garasi, ruang tunggu, dan relokasi gedung bersejarah yakni gedung PM Sutan Sjahrir.

Seperti dikutip Tempo.co, ia menyatakan telah mendapatkan izin dari Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan DKI Jakarta dan Dinas Pariwisata DKI Jakarta terkait gedung bersejarah dan pembangunan kompleks. "Konsultan kami ada dari dalam Indonesia dan sudah memberikan masukan," katanya tanpa menyebut nama.

Untuk Apa?

Banyak pertanyaan muncul terkait pembangunan gedung kedubes yang demikian besar tersebut. Pada saat yang hampir bersamaan Amerika membuka pangkalan militer di Darwin, Australia. Sejak dibuka akhir tahun lalu, mulai Mei 2012 pangkalan militer itu telah diisi. Saat ini ada 250 anggota marinir AS di sana. Dan jumlah itu terus bertambah hingga 2016 nanti sampai mencapai 2.500 personel. Pangkalan militer AS di Darwin ini letaknya tak jauh dari Indonesia. Bila ditarik garis dari Nusa Tenggara Timur (NTT), jaraknya hanya 800 km.

Bahkan belakangan diketahui tentara Amerika telah masuk ke wilayah Indonesia, khususnya di Papua. Memang mereka tak menggunakan baju militernya, tapi dengan berbagai misi baik sebagai tenaga ahli dan sebagainya. Hanya saja, pemerintah Indonesia tak berkutik menghadapi intervensi asing yang masuk dengan membawa bendera Freeport tersebut.

Di Jakarta sendiri, selama ini Amerika telah menempatkan instalasi militernya yakni Navy Medical Reseach Unit 2 (Namru-2). Instalasi yang sempat ditutup oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari itu beroperasi kembali ketika Menkes dipegang oleh Endang Sri Sedyaningsih. Di gedung yang berada di kompleks Kementerian Kesehatan Jl Percetakan Negara itulah Namru-2 yang dikomandoi oleh seorang kolonel angkatan laut AS beroperasi tanpa kendali pemerintah Indonesia.

Wajar jika ada beberapa kalangan mengkhawatirkan pembangunan gedung kedubes AS yang begitu besar. Bukan tidak mungkin, gedung yang bisa menampung ribuan orang itu akan berubah fungsi demi kepentingan militer, selain kepentingan intelijen yang selama ini sudah berjalan.

Pengamat hubungan internasional Budi Mulyana menilai, gedung baru Kedubes AS itu bukan sekadar pembangunan kedubes . "Tetapi markas militer!" ungkapnya kepada Media Umat Sabtu (14/7).

Ia tidak berspekulasi. Menurutnya, pembangunan gedung itu berikut markas satuan pengaman laut Marine Security Guard Quarters (MSGQ) dengan embel-embel fasilitas rahasia dan personel keamanan yang diperlukan (Secret Facility and Personnel Security Clearances Required). "Ini mengindikasikan secara jelas apa yang akan dibangun dari gedung 10 lantai ini. Dan gedung ini letaknya tidak jauh dari Istana Negara," jelasnya.

Dosen Hubungan Internasional Unikom Bandung tersebut kemudian menunjukkan salinan kontrak rancang-bangun pembangunan Kedubes Amerika di Indonesia Department of State 2012 Design-Build Contract for US Embassy Jakarta, Indonesia yang didapatnya. Ia menunjukkan paragraf yang mendukung pernyataannya itu. "1. Project Description (Secret Facility and Personnel Security Clearances Required)SAQMMA-12-R0061, Jakarta, Indonesia NEC. The project will consist of design and construction services including a New Office Building (NOB) with attached Marine Security Guard Quarters (MSGQ)."


Mirip di Irak dan Pakistan

Sebelumnya, Amerika membangun gedung kedubesnya yang terbesar di dunia di Baghdad, Irak. Kompleks Kedubes AS yang dibangun pada 2009 itu menempati areal seluas lebih dari 42 ha atau sama dengan enam kali luas gedung PBB di New York. Di dalamnya semua fasilitas AS ada dan dijaga secara khusus oleh marinir AS. Bahkan beberapa media menyebutnya sebagai miniatur kota Roma-ibukota Vatikan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di kedubes tersebut.

Sementara itu, kedubes AS terbesar kedua ada di Islamabad, Pakistan. Kedubes itu menempati areal seluas 7,2 ha. Sejak dibangun 2009, Amerika menambah 1.000 personel sebagai tambahan terhadap 750 personel yang sudah ada. Asia The Dawn harian berbahasa Inggris di Pakistan menyebutkan bahwa, "apa yang kellihatan untuk lebih diwaspadai adalah staf tambahan itu mencakup 350 orang marinir AS. Disamping itu, Pejabat Amerika menekan Islamabad untukmengijinkan import ratusan kendaraan tempur pengangkut pasukan milik Dyncorp -kontraktor keamanan AS.

Tak heran Asia Times menyebut Kedubes AS di Pakistan itu layaknya pangkalan militer dalam bentuk kedubes. Hal itu makin diperkuat dengan laporan Xinhua yang mengutip The Nation (6/6/2010) bahwa sejumlah barang mencurigakan termasuk jaket antipeluru, helm, dan sejumlah senjata milik Kedutaan Besar AS di Pakistan disita oleh kepolisian di Islamabad. Petugas kepolisian Islamabad mencegat kendaraan Shezore yang mencurigakan di pos pengawasan Zero Point. Kendaraan tersebut membawa barang-barang kargo yang terdiri dari 35 peti M-16, 13 peti senapan 9 mm, beberapa kantong pistol, kompas, radio, peta, pisau, dan barang-barang militer lainnya. Berdasarkan hasil investigasi, senjata-senjata tersebut akan dikirimkan ke Kedutaan Besar AS.

Apakah tidak mungkin Kedubes AS di Jakarta seperti itu? Sangat mungkin.[]mu002


Topeng Humanis


Amerika terus mencari jalan agar bisa diterima kepentingannya di Indonesia. Dalam pembangunan gedung kedubesnya di Jakarta, negara tersebut mengedepankan sisi-sisi humanis ke hadapan rakyat Indonesia. Lihat saja kata Dubes AS Scot Marciel bahwa gedung itu akan menyertakan elemen budaya Indonesia termasuk motif batik. Dengan mengangkat diplomasi gaya humanis ini, Amerika ingin mengambil hati rakyat Indonesia.

Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurahman menilai itu sebagai penyesatan politik untuk menggiring persepsi ke arah yang diinginkan dan sebaliknya menjauhkan persepsi masyarakat dari persepsi yang tidak diinginkan.

Menurutnya, corak, warna atau tampilan luar gedung itu tak ada hubungannya sama sekali dengan fungsi gedung dan keberadaan gedung itu sendiri. "Bahkan jika bergambar badut sekalipun," katanya.

Ini, lanjutnya, sama halnya saat ini banyak koruptor bahkan psikopat yang ketika tertangkap dan disidang di pengadilan berpenampilan yang perempuan menggunakan kerudung dan bercadar dan yang laki-laki memakai baju koko dan berpeci atau memakai stelan jas berdasi dan sangat rapi, tetap saja mereka adalah seorang koruptor atau pembunuh. "Justru penampilan itu sengaja dipilih agar orang yang melihatnya terkecoh dengan jati dirinya," jelas Yahya.

Ia mengingatkan masyarakat jangan sampai bisa dikelabuhi oleh penggunaan corak batik dan corak "keindonesiaan" lainnya itu. Ia menandaskan, semua itu kedubes AS itu tetap saja menjadi representasi negara penjajah yang membunuh puluhan ribu kaum Muslimin dan merampok kekayaannya, tidak terkecuali kekayaan negeri ini. (emje/mediaumat)

Jumat, 20 Juli 2012

‎.:: Mengenal Allah 'Azza wa Jalla.

Apabila anda ditanya : siapakah Tuhanmu?, Maka katakanlah: Tuhanku adalah Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikaruniakannya. Dan Dialah sembahanku, tiada bagiku sesembahan yang haqq selain Dia.

Allah Ta’ala berfirman :
الحمد لله رب العالمين
“Segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam.” (QS. Al-Fatihah : 1)
 
Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan aku adalah bagian dari semesta alam ini.

Selanjutnya, jika anda ditanya : melalui apa anda mengenal Tuhan? Maka hendaklah anda jawab : melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan bulan. Sedang dia
ntara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر لا تسجدوا للشمس ولا للقمر واسجدوا لله الذي خلقهن إن كنتم إياه تعبدون
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu banar-benar hanya kepadanya beribadah.” (QS. fussilat : 37)
Dan firmanNya :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ(54) سورة الأعراف.
“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha suci Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf : 54)

Tuhan inilah yang haq untuk disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala:
يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون الذي جعل لكم الأرض فراشا والسماء بناء وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم فلا تجعلوا لله أندادا وأنتم تعملون .
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Robb) yang telah menjadikan untukmu bumi ini sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mngetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Ibnu katsir (1) Rahimahullahu Ta’ala, mengatakan : hanya pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak dengan segala macam ibadah (2).
Dan macam-macam ibadah yang diperintahkan Allah itu, antara lain: Islam (3), Iman, Ihsan, do’a, khauf (takut), raja’ (pengharapan), tawakkal, raghbah (penuh minat), rahbah (cemas), khusyu’ (tunduk), khasyyah (takut), inabah (kembali kepada Allah), isti’anah (memohon pertolongan), isti’azah (memohon perlindungan), istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), dzabh (menyembelih), nazar, dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah.

Allah Subahanahu wata’ala berfirman :

وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحدا.
“Dan sesungguhnya masji-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu, janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah Allah).” (QS. Al-Jin: 18)

Karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala :

ومن يدع مع الله إلها آخر لا برهان به فإنما حسابه عند ربه إنه لا يفلح الكافرون.
“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Mu’minun: 117)

__________________________
____
(1) lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Azhim, (Cairo: Maktabah Dar At-turats, 1400H), jilid 1 hal, 57.
(2) lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Azhim, (Cairo: Maktabah Dar At-turats, 1400H), jilid 1 hal, 57.
(3) Islam, yang dimaksud disini, adalah: syahadat, shalat, shiyam, zakat dan haji.

Sabtu, 14 Juli 2012

HASMI di JOGJA MUSLIM FAIR 2012


I. Dapatkan Paket Buku LBKI, Majalah & Buku-buku Islami dari HASMI..!!

  • LBKI (Lembaga Buku Kecil Islami) Paket 1-21
  • Parcel LBKI Paket Ramadhan & Idul Fitri
  • Intisari HASMI (Menuju masyarakat islami)
  • GERIMIS (Majalah Keluarga Islami)
  • SHIROTULMUSTAQIM, Jalan yang Lurus & Murni
  • AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH (Golongan yang selamat memasuki Surga tanpa hizab)
  • SYI'AH (membahas tuntas kesesatan Syi'ah)

II. Tersedia MIZAR (Minyak Zaitun Ruqyah) dalam berbagai kemasan Praktis & Ekonomis..!!

III. Instal Gratis..!! Berbagai macam aplikasi Islami untuk berbagai type Handphone & Laptop.


IV. Poster-poster Islami

  • Tata-cara Wudhu (sesuai contoh Rosululloh SAW)
  • Tata-cara Sholat Berjama'ah
  • Sholat Jum'at
  • Panduan Zakat & Shodaqoh
  • Dll.

Gedung MANDALA BAKTI WANITATAMA - Wisma "SHINTA" No. 28 "MARWAH INDO MEDIA". Jl. Laksda Adi Sucipto No. 88 Sebelah Barat UIN Sunan Kalijaga - Yogyakarta.


Contact Persone : 

Mobile. +6281316166416 (Abu 'Abdillah Assafar) 


Jumat, 13 Juli 2012

.:: Fiqih Sesat Paramadina ! 4

Dialog Antar Agama Menirukan Kafir Quraisy


Kerja keras Paramadina ini kalau ditilik dari sejarah Islam, maka tidak lebih dari kerja keras kaum kafir Quraisy yang menentang da’wah Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam dengan aneka cara, dan di antara caranya adalah mengadakan dialog antar agama. Penawaran-penawaran dari kalangan kafir Quraisy bermacam-macam, di antaranya meminta agar Nabi Muhammad saw menghentikan dakwahnya, dengan imbalan akan diberi kedudukan, wanita sebagai isteri, dan kekayaan. Langsung Nabi Muhammad saw menolaknya, walaupun misalnya sampai mereka memberi matahari dan bulan pun, Nabi saw takkan mau menuruti kemauan mereka untuk menghentikan da’wahnya. 

Penawaran yang tampaknya kerjasama dalam agama (kalau sekarang ya do’a bersama antar berbagai agama, kira-kira), agar Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam bersikap toleran, kerjasama dalam agama, maka mereka (kafirin) akan mau menyembah Tuhan --yang Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam sembah-- selama waktu tertentu, dan sebagai rasa toleran dan kerjasama maka Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam diminta menyembah pula Tuhan yang mereka sembah (berhala-berhala), selama tempo tertentu.[2] Penawaran itu pun langsung mendapatkan tanggapan keras dari Allah subhanahu wata’ala (artinya):

Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kaafiruun: 1-6)

Kemudian penawaran yang lebih lunak lagi disampaikan pula oleh kaum kafir. Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam diharapkan mengelus atau sekadar mengusap berhala sesembahan mereka. Imbalannya pun mereka akan mengikuti Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam. Namun Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam langsung mendapatkan ancaman dari Allah subhanahu wata’ala (artinya):

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. Al-Israa’: 73-75).

Ancaman seberat itu penyebabnya adalah bujukan orang kafir yang menginginkan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam menyentuh berhala mereka.

Diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Mereka (orang-orang musyrikin) berkata kepadanya (Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam), datangilah tuhan-tuhan kami dan sentuhlah mereka,  maka demikian itulah Firman-Nya (“sesuatu yang sedikit”) –ayat 74.[3]

Penawaran dengan jenis yang sedikit lunak pula supaya Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam mengajarkan kepada mereka (kaum kafir) dari kalangan tingkat menengah (kelas sosial lebih tinggi dari orang umum) di tempat tertentu, dibedakan tempatnya dengan orang umum biasa. Maka Allah subhanahu wata’ala memperingatkan pula kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam (artinya):
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS.Al-Kahfi: 28)

Dalam Tafsir Ath-Thabari diriwayatkan,

Ibnu Zaid berkata mengenai firman-Nya: …….. dan seterusnya, ia katakan, satu kaum berkata kepada Nabi saw, kami malu kalau kami duduk bersama Fulan, Fulan, dan Fulan; maka jauhkanlah mereka wahai Muhammad dan duduklah bersama orang-orang mulia Arab. Maka turunlah Al-Qur’an: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini….[4]

            Semua upaya itu tujuan akhirnya sama dengan orang-orang kafir di setiap masa, dari zaman nabi-nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wasallam dan sepanjang zaman, yaitu menghalangi sekeras-kerasnya akan tegaknya hukum Allahu ‘azza wajalla di muka bumi ini. Sebagaimana firman-Nya :

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An-Nisaa’: 61).

Mencela Imam As-Syafi’i dan Menggugat Fiqih Jihad


            Dalam buku FLA pada sub judul “Menuju Fiqih yang Peka terhadap Pluralisme”,  ditulis;

Kutipan:
“Fiqih klasik sepertinya tak mampu menjawab tantangan zaman. Dalam fiqih hubungan antar agama, sangat terlihat adanya kegagapan dalam melihat agama lain. Kritik yang sangat menonjol terutama mesti ditujukan kepada fiqih Mazhab Syafi’I, karena saking kuatnya paradigma teosentris yang dipedomani Imam al-Syafi’I, terutama dalam konsep ahl-al-dzimmah, maka terlihat sangat mendiskriminasikan agama lain. Syafi’I seakan-akan ingin menjadikan agama lain sebagai sapi perahan yang dituntut dengan kewajiban-kewajiban, namun di sisi lain, mereka tidak diberikan hak yang setimpal. Bukan hanya itu, seruling jihad pun ditiupkan kepada kelompok non Muslim. Hampir dalam seluruh kitab fiqih ada bab tersendiri  yang membahas masalah jihad.”  (FLA, halaman 167-168).

            Tanggapan:
Tulisan orang Paramadina itu bisa lebih punya tata krama dan etika bila dikemukakan kutipan dari pernyataan Imam Al-Syafi’I secara seutuhnya, baru kemudian ditanggapi secara ilmiah. Bukan sekadar hanya berupa kecaman kasar, tuduhan tanpa bukti ilmiyah, bahkan penuh kebencian seperti itu. Kalau yang menulis itu memang orang anti Islam semacam Gato Loco –Darmo Gandul, maka masih agak bisa dimaklumi. Namun, ternyata kecaman dari Paramadina ini bisa dibandingkan dengan celoteh Darmogandul:

“…Bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu merasa pahit dan asin.”[5]

Kelompok Paramadina ini saking membabi butanya, pembahasan tentang jihad di hampir setiap kitab fiqih pun dipersoalkan. Padahal, fiqih itu artinya adalah faham atau pemahaman, yang memang diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di Al-Qur’an terdapat berbagai ayat tentang jihad. Di As-Sunnah terdapat berbagai hadits tentang jihad, dan bukan sekadar diucapkan Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam, tetapi Nabi sendiri memimpin jihad sebanyak 27 kali, di samping jihad-jihad yang tidak langsung beliau pimpin. Apakah ulama pewaris para Nabi tidak boleh membahas tentang jihad itu dalam kitab-kitab fiqih? Dan jika para ulama ternyata sudah  tidak berbicara tentang jihad lagi, apakah kemudian berarti Islam ini menjadi jaya akibat tidak adanya pembahasan jihad lagi itu? Bukankah itu justru sebaliknya, Muslimin dibantai oleh kafirin, sedang munafiqin bersorak-sorai menyemangati “jihad”nya kafirin terhadap Muslimin?

Setiap muslim mestinya berniat jihad, kecuali orang munafiq. Karena Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:
“Man maata walam yaghzu walam yuhaddits nafsuhu bil ghozwi maata ‘alaa syu’batim minan nifaaqi.”
“Barangsiapa yang mati dan tidak pernah berperang, dan tidak pernah berniat pada dirinya untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari kemunafikan.” (HR. Muslim).

Adab Jihad; Yang Tidak Boleh Dibunuh dan Larangan Melampaui Batas

Perlu difahami bahwa para ulama ketika menampilkan ayat-ayat Jihad dalam kitab-kitab fiqihnya bukan sekadar seperti yang dibilang Paramadina meniup apa yang mereka sebut seruling jihad, namun akhlaq berjihad pun telah dipaparkan dengansangat jelas.

Di antaranya:
Dalam perang jihad, Allah subhanahu wata’ala mengharamkan tindak melampaui batas dalam firman-Nya (artinya):

“ ...dan janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shobuni menjelaskan pendapat mengenai larangan melampaui batas itu:

Termasuk dalam kategori “melampaui batas” ialah melanggar larangan, sebagaimana dikatakan Hasan al-Basri, seperti: mencincang, berkhianat, membunuh perempuan, anak-anak dan orang tua, orang yang tidak memiliki kemampuan berperang, membunuh pendeta-pendeta, memusnahkan tanaman dan membinasakan binatang tanpa ada mashlahatnya. Semuanya itu termasuk larangan dalam firman Allah “... dan janganlah kamu melampaui batas...”

Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:
“Ukhrujuu bismillaahi, tuqootiluuna fii sabiilillaahi man kafaro billaahi, laa taghdiruu walaa taghluu,  walaa tumatstsiluu, walaa taqtulul wildaan, walaa ash-haabash showaami’i. (Ahmad)
“Keluarlah kalian dengan atas nama Allah, kalian berperang di jalan Allah, terhadap orang yang kufur kepada Allah, jangan berkhianat, jangan berlebih-lebihan, jangan mencincang, jangan membunuh anak-anak, dan penghuni-penghuni gereja-gereja.” (HR. Ahmad dan Muslim, lihat juga Tafsir Ibnu Katsir 1: 226 seperti dikutip As-Shobuni, Tafsir Ayat Ahkam, buku I, 1 hal 184/ terjemahan Rowai’ul Bayan)

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim ada riwayat dari Ibnu Umar, bahwa ia berkata:

“Ditemukan seorang perempuan terbunuh dalam salah satu pertempuran yang dipimpin Nabi SAW, maka Nabi SAW tidak membenarkan pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.” (HR. Bukhari-Muslim, lihat juga tafsir al-Qurthubi, 2:327 seperti dikutip As-Shobuni, ibid 1: 184)

Perintah Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam itu dilanjutkan pula oleh Khulafaur Rasyidin. Seperti wasiat Abu Bakar ash-Shiddiq ra kepada Usamah bin Zaid tatkala mengutusnya (untuk berperang) ke Syam (Suriyah):

“Janganlah kamu berkhianat, jangan menipu, jangan mencincang dan jangan membunuh anak kecil, jangan membunuh orang tua dan jangan membunuh perempuan, dan janganlah menebang pohon-pohon kurma dan jangan pula membakarnya, janganlah kamu menebang pohon yang berbuah dan janganlah menyembelih kambing, lembu atau onta kecuali untuk dimakan! Nanti kamu akan melewati kaum-kaum yang mengabdikan diri di gereja-gereja yaitu para pendeta maka biarkanlah mereka beserta pengabdian mereka itu!” (Ash-Shobuni, ibid, 3: 93).

Dari sini ada 6 gambaran yang dirumuskan para ulama:
1.      Bahwa perempuan, jika memerangi maka boleh diperangi. Ini berdasarkan keumuman firman Allah: Dan perangilah di jalan Allah, orang-orang yang memerangi kamu..
2.      Anak-anak tidak boleh dibunuh sebab ada larangan yang tegas  dan karena mereka belum mukallaf (terbebani hukum).
3.      Pendeta-pendeta tidak boleh dibunuh sebagaimana pernah dipesankan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu.
4.      Orang-orang cacat (tak boleh dibunuh) kecuali jika dipandang membahayakan.
5.      Orang-orang tua tidak boleh dibunuh. Begitulah pendapat jumhur fuqaha (sebagian besar ahli tafsir).
6.      Para pekerja dan petani (juga tidak boleh dibunuh). Dalam hal ini Umar bin Khathab pernah berkata: Takutlah kamu kepada Allah terhadap keluarga-keluarga, dan petani-petani yang tidak menjadi lawanmu dalamperang. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 2:237; Ahkamul Quran oleh Ibnul Arabi 1:105, dan Ahkamul Quran oleh Al-Jashash 1:302, seperti dikutip Ash-Shabuni, ibid, 1:185)

Demikianlah diantara adab-adab dalam berjihad mengenai hal-hal yang harus dihindari, seperti kecaman membabi buta dari kelompok Paramadina.

Melandasi Kecaman dengan Celoteh Musuh Agama

Ulama fiqih klasik yang telah sangat berjasa menuntun umat Islam agar memahami agama, tahu-tahu mendapat kecaman sebegitu pedasnya dari orang-orang Paramadina. Sementara itu, pengecam ini untuk melandasi kecamannya terhadap Imam As-Syafi’I dalam buku FLA halaman 167-168 itu begitu tidak risihnya menampilkan dan mengutip-kutip musuh-musuh agama dengan celoteh usangnya.

Kutipan:
Karl Marx dalam sebuah kritiknya menyebut agama sebagai Candu. Nitzche dalam refleksi filsafatnya menyebut, Tuhan telah mati. Jacques Derrida menyebut, kebenaran makna selalu tertunda. Huston Smith dalam Why Religion Matters: The Fate of the Human Spirit in an Age of Disbelief mempertanyakan apakah agama telah menemukan ajalnya? (!) Dan dalam banyak buku, para orientalis menyebut Islam sebagai agama yang tak mengakomodasi agama lain.” (FLA, halaman 168)

Tanggapan:
Perkara Karl Marx mengecam agama, apakah memang ada kaitannya dengan Imam Al-Syafi’i? Dan agama yang dikatakan Karl Marx itu maksudnya langsung Islam, atau justru Kristen? Demikian pula Nitzche, Jacques Derrida, dan Huston Smith. Tentu tidak ada kaitan-kaitannya dengan Imam Al-Syafi’i. Bahkan para orientalis yang mengecam langsung terhadap Islam pun tidak mengkhususkan kepada Imam Al-Syafi’i.

Aneh benar ya orang-orang Paramadina ini. Mereka meminjam mulut orang-orang kafir untuk landasan mengecam ulama Islam, sedangkan orang kafir itu sendiri memaksudkan kecamannya itu kepada obyek yang mereka hadapi belaka. Dan kecaman itupun adalah subyektivitas kebencian mereka yang memang anti agama dan anti Islam. Barangkali masih  ada sedikit bobotnya bila Paramadina mengutip kecaman orang ahli dzimmah (ahli kitab/ Yahudi atau Nasrani yang tunduk dalam perlindungan kekuasaan Islam) atas kedhaliman kekuasaan Islam akibat ajaran Imam Syafi’I dalam Fiqihnya (yang sampai disebut oleh FLA: Syafi’I seakan-akan ingin menjadikan agama lain sebagai sapi perahan yang dituntut dengan kewajiban-kewajiban, namun di sisi lain, mereka tidak diberikan hak yang setimpal.). Walaupun misalnya kutipan dari ahli dzimmah yang pembohong pun masih ada nilainya, karena ada korelasi antara ajaran fiqih Imam Syafi’I dengan ucapan/ pengakuan (walau bohong) dari orang yang terkena akibat.

Lebih aneh lagi, umat Islam sedunia ini sekarang sedang dilindas oleh ajaran bahkan hukum sekuler yang sangat mendiskriminasikan bahkan tidak membolehkan berlakunya hukum Islam, hatta untuk masyarakat muslim sendiri pun; namun tidak ada secuil ungkapan dari orang Paramadina –selaku orang yang masih mengaku diri mereka muslim— keberatan atas sikap menekannya hukum sekuler itu. Kenapa yang dikecam justru Imam Syafi’I yang hukum fiqih produknya tidak dalam kondisi diterapkan (sampai hanya khusus di kalangan Muslimin bermadzhab Syafi’I pun tidak) masih  pula dikecam-kecam, hanya untuk membela kaum kafir? Padahal kondisi sekarang, kaum kafir bukannya jadi dzimmi tetapi justru di dunia ini jadi penguasa dhalim. Jadi, jika bicara kontekstual dengan keadaan pantaskah Paramadina ini berbicara sesuai dengan kontekstual?
Ya, kontekstual.. yaitu dalam hal menyuarakan suara kafirin...!!! Prinsip kebenaran pun terbalik..  ketika salah satu slogan yang sudah umum terdengar adalah kita diharuskan untuk membela kaum tertindas yang bertahan di atas al-Haqq, sedangkan mereka sebaliknya justru membela sang penindas yang berdiri gagah di atas angkara murka & kebatilan..!!
Ada apa gerangan dengan Paramadina ???

Wallohu Ta'ala a'lam bishshowab...


[2] Riwayat dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Quraisy menjanjikan Rasulullah saw untuk memberinya harta agar menjadi orang terkaya di Makkah, dan mereka akan menikahkannya dengan wanita yang beliau inginkan, dan mereka melangkah di belakangnya lalu mereka berkata kepadanya, ini untuk kamu di sisi kami, wahai Muhammad, dan hentikanlah dari mencaci tuhan-tuhan kami, maka janganlah kamu menyebutnya dengan buruk. Apabila kamu tidak mau, maka kami ajukan padamu satu perkara, yaitu kamu dan kami berdamai. Beliau bertanya, apa itu? Mereka menjawab, kamu sembah tuhan-tuhan kami Laata dan Uza selama setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun (pula). Beliau menjawab, (tunggu) sampai aku menunggu wahyu yang datang dari sisi Tuhanku. Lalu datanglah wahyu dari Lauh Mahfudh, qul yaa ayyuhal kaafiruun, satu surat. Dan Allah menurunkan  QS 39: 64, Katakanlah apakah selain Allah, kalian perintahkan aku untuk menyembah wahai orang-orang yang bodoh… sampai firman-Nya, Maka sembahlah (Allah) dan jadilah orang yang tergolong orang-orang bersyukur. (Tafsir At-Thabari, juz 30, halaman 331). 
[3] Tafsir At-Thabari juz 15 halaman 130.
[4] Tafsir At-Thabari juz 15 halaman 234-235.
[5] Prof Dr HM Rasjidi, Islam & Kebatinan, Bulan Bintang, Jakarta, cetakan 7, 1992, halaman 7-8.

ARSIP HASMI SOLO