Rabu, 14 Desember 2011

SILSILAH TARBIYYAH SUNNIYYAH VI

MENUJU MASYARAKAT ISLAMI
Oleh Sebuah Gerakan Kebangkitan pada 4 September 2011 pukul 2:01
SILSILAH TARBIYYAH HASMI
  • MASYARAKAT ISLAMI
Masyarakat Islami adalah masyarakat yang dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam, satu-satunya agama Alloh . Masyarakat yang secara kolektif atau orang perorangan bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam meniti sirotulmustaqim. Masyarakat yang didominasi oleh istiqomah, kejujuran, kebersihan ruhani dan saling kasih mengasihi. Walaupun mereka berbeda-beda dalam tingkat dan kadar pemahaman terhadap rincian ajaran Islam, tetapi mereka telah memiliki pondasi yang sama untuk menerimanya secara totalitas. Mereka adalah masyarakat yang tunduk dan patuh pada syariat Alloh , dan berupaya mewujudkan syariat Nya dalam semua aspek kehidupan. Saat itu, pada dasarnya mereka sedang berupaya secara serius mewujudkan arti penghambaan yang sebenarnya kepada Robbul ‘alamin. Untuk itulah, mereka bersungguh-sungguh mengamalkan sisi-sisi tuntunan ajaran Islam dalam bentuk amal shalih, dengan upaya yang maksimal dari kemampuan mereka.
Mereka adalah masyarakat yang dengan sungguh-sungguh menjaga diri agar tidak terjatuh secara  sengaja dalam bentuk kedurhakaan kepada Alloh . Kalaupun terkadang tergelincir ke dalam bentuk dosa dan ma’siyat, mereka segera kembali kepada-Nya, tersungkur dengan bertaubat memohon maghfirah-Nya yang sangat luas dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi-nya kembali. Walaupun pada kenyataannya mungkin saja ketergelinciran itu terulang kembali.
Pada masyarakat seperti ini, amanat dan keamanan akan sangat terjaga. Kerusakan dalam segala bentuknya akan sangat dan sangat terminimalisir. Kemiskinan yang terjadi hanyalah kemiskinan yang benar-benar normal dan tak terhindarkan. Bukan seperti kemiskinan yang merebak bagaikan wabah, disebabkan oleh konspirasi penghisapan darah rakyat jelata. Kemiskinan yang normal dan sangat minimal itu pun teringankan oleh keberkahan segalanya. Kemudian harapan-harapan balasan akhirat atas kesabaran hidup di kemiskinan menjadi pelipur dan penghibur yang besar sekali. Akhirnya hubungan mesra dengan Alloh  akan mengguyur seluruh orang dengan hujan kebahagiaan sejati yang tak ada hentinya. Ketika masyarakat telah didominasi dan dituntun oleh norma-norma Islam, maka pasti Alloh  akan memenuhi janji-Nya, dengan memberikan kepada mereka keberkahan dalam semua sisi kehidupan mereka.
Alloh  berfirman :
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi...”  (QS. Al-A’raf [7]: 96).

Mereka akan mendapatkan kebaikan, ketenangan dan kesejahteraan dalam kehidupan mereka, karena Alloh  memberikan kenikmatan-Nya dalam beragam bentuk dan dari berbagai jalan. Seluruh aspek kehidupan; ekonomi, politik, dan sosial kemasyarakatan, dipenuhi sumber-sumber kebaikan yang diberkahi.

Alloh  berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl [16]: 97) 

Kenikmatan yang mereka terima bukan hanya sebatas berwujud materi kebendaan, tetapi juga berwujud nonmateri yang mereka rasakan sebagai hasil dari baiknya hubungan interaksi (muamalah) dengan sesama dan buah dari penerapan setiap sisi ajaran Islam yang mulia oleh seluruh komponen masyarakat. Setiap orang, masing-masing dalam kedudukan dan tanggung jawabnya, menunaikan kewajiban sebagaimana mestinya sesuai tuntunan Islam. Semua bergerak, berlomba-lomba mencurahkan segenap kemam-puan dalam menghasilkan amal terbaik mereka. Sehingga tidaklah mereka mendapatkan hasil darinya kecuali kebahagiaan dan kemuliaan. Setiap orang tidak hanya akan menerima manfaat dari orang lain, tetapi juga akan berupaya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Saling tolong-menolong dalam kebaikan menjadi budaya yang mendominan di tengah masyarakat. Termasuk dalam bentuk upaya serius dan terus menerus membina dan membimbing saudaranya ke arah penerapan sisi-sisi ajaran Islam, serta meluruskan dan menasihatinya di saat terjadi kekeliruan dan penyimpangan. Setiap gerak aktivitas mereka akan semakin menambah bobot amal shalih yang membuahkan kenikmatan bagi mereka masing-masing.
Dengan demikian, mereka akan mendapatkan manfaat teramat besar berupa terjaganya agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta mereka. Hal ini disebabkan faktor-faktor perusak dan penghancur unsur-unsur tersebut tidak lagi mendominasi masyarakat.   
Sungguh, seluruh sisi kehidupan mereka akan menjadi hal yang membaha-giakan. Walaupun banyak problem kehidupan yang membawa duka dan melelahkan sebagai salah satu karakter kehidupan di dunia, akan tetapi mereka mampu menghadapinya dengan penuh kesabaran, didasarkan pada keimanan yang mendalam bahwa hal itu adalah salah satu bentuk ujian untuk mencapai derajat kemuliaan yang lebih tinggi.
Semua kerja keras mereka di dunia ini akan mendapatkan balasan berupa jannah dan seluruh kenikmatan yang tiada tara, dalam kehidupan di akhirat yang kekal abadi. Amal-amal kebaikan mengalir deras dan tumbuh lebat dengan hanya satu motivasi, mengharapkan ridho Alloh .

  • MASYARAKAT NON ISLAMI 
Masyarakat yang non Islami adalah masyarakat yang secara kolektif tidak tunduk kepada syariat Alloh . Dengan demikian ia hanya tunduk kepada selain syariat Alloh . Di dalam suatu masyarakat yang tidak Islami, segala bentuk komponen penjauh manusia dari Alloh  akan tumbuh menjamur dengan subur tanpa ada perintang yang berarti. Rangsangan-rangsangan birahi liar dan haram bermunculan di tiap pojok bangunan masyarakat. Rangsangan-rangsangan ini akan menjerumuskan kepada perzinahan-perzinahan yang menghasilkan penyakit-penyakit berat, kerusakan rumah tangga dan menuntun kepada banyak kerusakan-kerusakan lainnya yang tak terbatas.
Transaksi-transaksi riba akan menyebar seluas-luasnya. Kerusakan yang diakibatkan oleh sistem ribawi sudah tidak asing lagi. Krisis-krisis financial global adalah saksi-saksi yang selalu bermunculan dari waktu ke waktu. Sistem ribawi adalah sistem kedzoliman yang menyedot kekayaan kebanyakan umat untuk dipersembahkan kepada segelintir manusia. Dosa sesuap riba sama dengan dosa menyetubuhi ibu kandung sendiri!
Rasa tidak takut kepada Alloh  akan terus menjalar dan inilah induk dari semua kedzoliman. Banyak lagi kerusakan-kerusakan yang tidak terhitung banyaknya akan terjadi. Semua itu akan menyebabkan kemurkaan Alloh  untuk kemudian akan mengundang bencana-bencana yang tidak ada hentinya.
Di masyarakat non Islami, pembusukan jiwa terus terproses dan bersemi dikarenakan dominasi mesin-mesin kemungkaran. Hasilnya adalah tindakan-tindakan kriminalitas yang kian hari akan semakin meningkat. Perilaku buruk terus menjamur dan mendominasi kehidupan masyarakat menambah panjang deret angka kejahatan yang akan terus melonjak dengan sangat tajam. Pada masyarakat non Islami, motivasi prilaku kebanyakan manusia adalah hawa nafsu, kejahilan dan manfaat sementara untuk individu-individu. Dengan demikian pelanggaran-pelanggaran norma islami akan dilakukan oleh hampir semua tingkatan masyarakat, baik secara perorangan maupun kolektif, berbentuk tindak pidana ringan dari oknum-oknum pribadi maupun kejahatan sistematis dari banyak kelompok terorganisir. Bukan hanya aksi-aksi kriminalitas yang dilakukan dengan sangat halus dan tersembunyi yang akan terjadi, akan tetapi juga tindakan-tindakan yang sangat brutal, ganas dan sadis akan sangat mudah terjadi antar anggota masyarakat, atau bahkan antar anggota satu keluarga. Sedangkan penjara tidak pernah menjadi obat. Bahkan hanya menjadi tempat persemaian penjahat-penjahat kelas berat masa depan dan rumah derita untuk terpidana dan keluarga mereka. Pembunuhan dengan kekerasan yang dilakukan sangat biadab. Perjudian dari yang dilakukan dengan peralatan sederhana sampai paling modern. Perampasan harta dan kehormatan orang lain. Miras dan narkoba yang akan semakin bebas, dikonsumsi oleh kalangan yang tak lagi terbatas. Semua itu akan dilakukan dengan sangat terbuka dan terang-terangan, bahkan pelakunya tak lagi merasa berdosa.  
Anak-anak muda akan terus mempertunjukkan gaya hidup hedonis. Tidak takut lagi melakukan pergaulan bebas, dan perbuatan amoral lainnya yang lebih buruk. Para orang tua akan melalui masa tua dengan penuh keresahan, sangat sulit membimbing putra-putri tercinta, disebabkan sang orang tua telah salah arah, karena mereka sendiri membangun hidup keluarga dengan sistim non Islami yang sangat jauh dari nilai ketauladanan. Unsur-unsur perusak yang meracuni buah hati mereka dibiarkan begitu saja, bahkan ditanam dengan sengaja, yang hasilnya mereka dapatkan dengan sangat pahit, mengenaskan dan menyengsarakan. Keluarga bahagia hanya akan  tinggal cerita yang tak mungkin terwujud, karena anggotanya tak lagi memegang norma-norma Islami pembawa kebahagiaan sejati. Ketentraman dan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat tak mungkin didapatkan, di saat norma-norma Islam yang memayunginya telah dicampakkan.
Negara akan terus sibuk mengatasi berbagai problem yang terus menggunung. Seluruh aspek kehidupan; ekonomi, politik, dan sosial kemasyarakatan diliputi problem rumit dan tak kunjung dapat diatasi. Berbagai konsep dari para pakar-pun tak mampu mengatasinya. Yang ada hanyalah bencana dan malapetaka.     
Semua terjebak oleh perangkap syetan durjana..! Hawa nafsu begitu diagungkan dan disembah. Harta menjadi standar untuk menilai tinggi rendahnya martabat seorang manusia. Ketenangan hidup, rasa aman dan kebahagiaan hakiki menjadi sangat mahal dan sulit dijumpai. Semua merasakan kesempitan, kepedihan, kesengsaraan dan duka mendalam akibat ulah tangan mereka sendiri yang melupakan ayat-ayat Alloh .

Alloh  berfirman:
“Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit... .” (QS. Thaha [20]: 124)

Sudah menjadi sunnatulloh dalam kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun masyarakat bahwa jika mereka mengganti nikmat Alloh  yang berupa keislaman dan keimanan dengan kejahiliyahan dan kekufuran, mereka pasti akan mendapatkan bencana-bencana yang sangat mengerikan baik di dunia maupun di akhirat. Suatu sunnatulloh yang tak mungkin akan berubah dan berganti.

Alloh   berfirman:
“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Alloh telah menimpakan kebinasaan atas mereka serta akan menimpakan pula kebinasaan yang sama atas orang-orang kafir itu.” (QS. Muhammad [47]: 10)

Lihatlah sejarah kelam kaum `Ad, Tsamud, kaum Fir`aun yang dihancur leburkan oleh Alloh , serta runtuhnya khilafah Utsmaniyyah di Turki, ketika pada akhir-akhir masa kekuasaannya mulai meninggalkan kemurnian Islam.  Ingatlah bencana-bencana dan akibat buruk yang akan diderita suatu masyarakat, saat mereka tidak lagi Islami. Di antaranya bisa kita sebutkan berikut ini:

A. Penindasan Sesama.
Misi hadirnya Islam adalah mengeluarkan manusia dari perbudakan sesama hamba menuju pengabdian hanya kepada Alloh , dari kedzaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam serta dari kesempitan dunia menuju keluasan akhirat.
Hanya dengan Islam, manusia akan mendapatkan kemerdekaannya yang hakiki dari berbagai penindasan, baik penindasan perbudakan, penindasan agama dan penindasan dunia. Tanpa Islam, sebagian komunitas masyarakat hanya akan menjadi pihak penindas bagi komunitas lainnya.
Alloh  menggambarkan bencana ini di masa Fir`aun dengan gamblang:
“Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berkasta-kasta, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk golongan para perusak.” (QS. Al-Qosos [28]: 1-4)

B. Tidak Ada Rasa Aman.
Alloh  akan mencabut rasa aman dan tuma`ninah  dari seseorang atau masyarakat jika mereka tidak lagi Islami.
"Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Alloh; Karena itu Alloh menimpakan mereka kondisi kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl [16]:112)

C. Kerusakan di Segala Bidang.
Dosa dan kemaksiatan telah membawa berbagai kerusakan di air, udara, tanam-tanaman dan  buah-buahan serta tempat kediaman. Bencana sosial, keruskan moral, kekacauan politik, ekonomi dan budaya akan terus bergulir. Alloh  berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh menimpakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. Ar-Rum [30]: 41)

Menurut mujahid   (seorang tabi’in):
“Jika orang dzolim berkuasa, dia akan melangkah melakukan kedzoliman dan kerusakan, sehingga Alloh  menahan hujan-Nya. Di saat itulah Alloh  menghancurkan tanam-tanaman dan anak keturunan, karena Alloh  tidak menyukai kerusakan.”
Ibnu Qoyyim   menjelaskan :
“bahwa yang dimaksud kerusakan dalam ayat ini adalah kekurangan, keburukan dan bencana-bancana yang dimunculkan Alloh  di muka bumi akibat maksiat para hambaNya. Setiap kali mereka menampilkan satu dosa, setiap kali itu pula Alloh  munculkan satu hukuman-Nya.”

(( فَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ  ؛ قَالَ: أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ  . فَقَال :يَامَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ! خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ: لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا .وَلَمْ يَنْقَصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلاَّ أُخِذَوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّة الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ .وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا .وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُوِلِهِ، إِلاَّ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهِمْ عَدُوّاً مِن غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَافِي أَيْدِيهِمْ .وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ، وَيَتَخَّيُروا ممَّا أَنْزَلَ اللهُ، إِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ ))  
“Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rosululloh  menemui kami kemudian Rosululloh  bersabda: “Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara; jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Alloh  agar kamu tidak mendapatinya. 
-           Jika perbuatan keji (seperti: zina, minum khomr, judi, merampok dan lainnya) dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, maka akan tersebar wabah penyakit tho’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lalu.
-           Orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan, pasti mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezholiman pemerintah.
-           Ketika orang-orang tidak membayar zakat hartanya, pasti hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan.
-           Mereka yang membatalkan kesetiaan kepada Alloh  dan kepada Rosul-Nya, pasti Alloh  akan menjadikan musuh mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka.
-           Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak meng-hukumi dengan kitab Alloh, dan memilih-milih sebagian apa  yang Alloh  turunkan (untuk diterapkan dan tidak diterapkan), Alloh   akan menjadikan permusuhan di antara mereka.”
(HR. Ibnu Majah no. 4019, al Bazzar, al Baihaqi; dari Ibnu 'Umar. Dishohihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shohihah no. 106, Shohih at-Targhib wat-Tarhib no. 764, Maktabah al Ma’arif) 

D. Kehancuran umat-umat yang sebelum kita karena penyelisihan mereka terhadap Islam.
Alloh  berfirman:
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini, karena mereka berbuat fasik. Dan telah Kami tinggalkan padanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal. (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syu'aib, Maka ia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah hanya kepada Alloh, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kalian berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan”. Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. (Juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kalian (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Alloh), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam, (juga) Qorun, Fir'aun dan Haman. Sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Alloh sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al-`Ankabut [29]: 34-40)

  • REALITA MASYARAKAT KITA
Pada bab ini kita ingin menjawab suatu pertanyaan: masyarakat Islami kah masyarakat kita dewasa ini?
Realita memastikan bahwa masyarakat kita bukanlah masyarakat Islami walaupun mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum muslimin, walaupun orang-orang soleh seperti Anda, wahai pembaca yang budiman, masih banyak sekali, akan tetapi bukan norma-norma Islam lah yang mendominasi kehidupan kita dalam bermasyarakat. Demikian juga banyak sekali individu-individu kita yang tanpa sadar telah mengadopsi pemikiran sekuler.
Realita keterpurukan ruhani di negeri kita pun sudah sangat mengerikan dan sudah banyak berpotensi mengundang azab dari Alloh . Bahkan azab-azab itu memang sudah berdatangan bertubi-tubi bagaikan gelombang lautan yang terus menerus bergantian menghempas pantai.
Bukankah kita dapati banyak sekali ”tuhan-tuhan palsu” yang dinobatkan untuk diibadahi oleh banyak orang? Kuburan-kuburan tempat berdo'a, pohon-pohon tempat bermohon, keris-keris yang dipelihara karena mengharapkan penjagaannya, simbol-simbol yang dipasang di atap-atap rumah untuk menolak bahaya dan lain-lain.
Bukankah sampai sekarang ruwatan desa atau kampung dengan mempersembahkan sesajen kepada para "penguasa gaib" masih terus berjalan dari waktu ke waktu demi "menyelamatkan" desa atau kampung?  Sedangkan secara pasti kita sudah mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya selain Alloh  dan ditangan-Nya lah semua keputusan. Dia-lah satu-satunya yang berkuasa menentukan apa saja di bumi  ini, tiada Tuhan selain Dia!.
Bukankah sihir, yang tak mungkin didapat tanpa menyembah setan, banyak sekali menyebar di pelosok-pelosok negeri? Bahkan media televisi kita yang cukup banyak, gemar sekali menampilkan tayangan-tayangan kesyirikan. Media-media cetak kita memasang iklan-iklan penawaran pelayanan-pelayanan mistik dan semua media memuat ramalan-ramalan nasib manusia di masa depan, suatu kesyirikan menandingi Alloh  di ilmu gaib-Nya dan masih banyak dan banyak sekali yang semacam itu. Semua ini menunjukkan adanya kepercayaan batil yang sangat bertentangan dengan kebenaran dan bertentangan dengan kemuliaan manusia. Inilah biang segala keterpurukan !!.
Tidak heran bila pada masyarakat yang mana akal dan pikirannya demikian, kita dapati banyak sekali pelanggaran-pelanggaran susila dari pameran aurat wanita sampai pada perzinahan. Korupsi besar-besaran yang semakin lama semakin marak, narkoba dan miras yang semakin turun lapangan penggunaannya mengarah ke tingkat anak-anak SD.
Adapun bencana-bencana yang bermunculan akibat pelanggaran tersebut sudah bukan rahasia lagi. Tentunya buku setebal apapun tidak akan cukup jika kita ingin mencatat semua musibah yang menimpa negeri ini walaupun hanya sejak kemerdekaan sampai akhir abad ke-20 lalu saja. Di antara rentang waktu antara kembalinya Sekutu tak lama setelah proklamasi kemerdekaan sampai pemberontakan-pemberontakan yang banyak menelan harta dan jiwa yang tak terhitung banyaknya sampai krisis moneter di penghujung abad ke-20 itu, banyak sekali musibah-musibah berupa bencana-bencana alam yang saling susul menyusul. Bencana-bencana yang tambah cepat jarak waktu dari satu ke yang lainnya terus berdesakan sejak kita memasuki abad ke-21 ini. Di antaranya Tsunami yang menelan lebih dari dua ratus ribu jiwa dan memporak-porandakkan habis-habisan sebagian dari negeri ini. Goyangan-goyangan gempa yang mematikan dan letusan-letusan gunung-gunung berapi yang membakar anak-anak bangsa hidup-hidup serta melenyapkan harta benda milik mereka yang tersisa hidup. Banjir yang bukan hanya menghancurkan banyak dari infra struktur negeri ini, akan tetapi juga menjadikan para korban yang masih hidup terpaksa menyandang profesi baru sebagai pengemis, karena kehilangan harta milik mereka. Jatuh-nya pesawat terbang dengan korban-korbannya, kebakaran yang seakan-akan tak kan pernah berhenti, sampai-sampai terjadi di atas laut yang luas, membakar kapal berpenumpang penuh. Sampai sekarang samudra masih terus menggertak dan menakut-nakuti kota Jakarta dengan banjir yang muncul dari waktu ke waktu. Seakan-akan memberi peringatan bahwa amarahnya sudah mendekati batas maksimal. Seakan terdengar lamat-lamat geretakan gigi-gigi nya, sambil bergumam mengancam: “Aku sudah siap, tinggal menunggu perintah Tuhanku!“.

Lalu... Lapindo... ya Rawa Lapindo yang sangat aneh! Tidak bisa dicerna oleh akal secara jelas! Menelan korban harta yang tak terhitung banyaknya, terus merayap entah bagaimana jadinya.

  • PENEGAKKAN SYARIAT
Yang dimaksud dengan syariat Islamiyyah adalah hukum-hukum Alloh  yang berupa perintah-perintah dan larangan-larangan yang terkandung dalam agama Islam.
Penegakkan syariat adalah tulang punggung dari sebuah masyarakat Islami. Penegakkan syariat adalah suatu kewajiban yang besar sekali dan hukum peninggalannya pun berkisar antara beberapa bobot hukum, dimulai dari dosa kecil, dosa besar, kufur asgor, dan kufur akbar.
Akan tetapi jika yang terjadi adalah penolakan syariat atau peninggalan syariat secara total, apapun sebabnya, merupakan suatu kufur akbar, yaitu mengeluarkan seseorang dari Islam. Hal ini sudah menjadi suatu kesepakatan umat Islam sejak dahulu hingga sekarang dengan dalil-dalil yang kuat sekali. Akan tetapi ada sedikit kesalah fahaman di antara banyak orang tentang penegakkan syariat ini. Ketika masalah penerapan syariat diangkat ke permukaan, maka yang pertama-tama terbersit adalah penerapan syariat pada tingkatan institusi (Negara). Padahal sebenarnya syariat meliputi hukum-hukum yang harus diterapkan pada empat tingkatan, yang mana setiap bagian dari ke empat bagian syariat itu mempunyai kekhususannya sendiri-sendiri. Keempat bagian itu adalah sebagai berikut:

1.    Syari'at Individu
Banyak sekali hukum-hukum syariat yang hanya bersangkutan dengan individu seperti solat, soum, dzikir, nikah, menutup aurat dan lain-lainnya. Bahkan mengucapkan syahadatain yang merupakan syarat keislaman awal seseorang adalah bagian mendasar dari penegakkan syariat di individu. Begitu juga menuntut ilmu, membaca al-Qur’an, serta menjaga kehormatan dan kesucian diri dan akhlaq.  Hukum-hukum ini tidak bisa diterapkan oleh sebuah institusi yang namanya Negara, walaupun Negara masih mempunyai kewajiban lain terhadap hukum-hukum itu selain pelaksanaan praktis. Penegakkan syariat individu ini adalah bagian yang sangat mendasar pada penegakkan syariat total.
Dari sisi tehnis, individu yang menerapkan syariat individu ini bisa kita namakan “Individu Islami”.

2.   Syari'at Keluarga
Hukum-hukum Islam pun sangat penuh dengan hukum-hukum kekeluargaan seperti hukum-hukum yang mengatur hubungan suami istri (banyak sekali!), seperti kewajiban-kewajiban anggota keluarga satu terhadap lainnya, hukum-hukum waris, hadonah (hak pengasuhan dan penyusuan anak), memberikan nafkah harta dan batin, silaturahmi, menghindari sikap dayyuts (mati rasa cemburu) dalam keluarga, birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) dan lain-lain.
Yang dimaksud penegakkan syariat harus mencakup penegakkan bagian ini juga dan bukan hanya penegakkan syariat institusi! Sebuah keluarga yang berkomitmen terhadap “syariat keluarga” ini kita sebut sebagai “Keluarga Islami”.

3.   Syari'at Masyarakat
Syariat Islamiyyah pun mempunyai hukum-hukum kemasyarakatan yang harus bisa diterapkan oleh masyarakat tanpa institusi. Seperti misalnya hubungan antar tetangga, pertolongan dari pihak-pihak yang kaya secara kolektif untuk pihak-pihak yang miskin, hubungan jual beli, mendirikan sholat Jum’at, mengurus jenazah, mengurus pendistribusian zakat, amar ma’ruf nahi munkar terbatas, mencetak kader-kader ahli (seperti ulama, guru, ekonom, teknokrat, dan lain-lain) pendirian lembaga-lembaga Islami yang mendukung kehidupan Islami (seperti pekuburan, rumah sakit, lembaga ekonomi syariat, lembaga pendidikan, lembaga riset dan penelitian), membuat media-media cetak maupun elektronik islami (seperti radio, Koran, majalah, website dan lain-lainnya).
Semua itu merupakan bagian penegakkan syariat Islamiyyah. Kalau semua itu ditinggalkan berarti sebagian besar syariat tidak ditegakkan. Sebuah masyarakat yang didominasi oleh pelaksanaan hukum-hukum kemasyarakatan ini, bisa kita namakan sebagai “Masyarakat Muatan Islami”.

4.  Syari'at Institusi
Yang kami maksud dengan syariat institusi adalah hukum-hukum Islam yang penegakannya menjadi kewajiban dan wewenang Negara (penguasa) seperti mengangkat dan memberhentikan pimpinan negara, mengelola dan menata keuangan umat (seperti jizyah, harta rampasan perang, khoroj, dan lain-lain),  mengawasi sistem ekonomi pasar, meng-hukum para perusak agama, penerapan hukum-hukum pidana, melangsungkan jihad serangan, menghukum mereka yang harus dihukum menurut ketentuan syariat, amar ma’ruf dan nahi munkar sampai yang seluas-luasnya, menuruti tuntunan syariat dalam menjaga kemas-lahatan umat dan lain-lain. Penerapan syariat institusi adalah bagian terbesar dari penerapan syariat secara total. Tanpa penerapan bagian ini, maka penerapan-penerapan lainnya akan sangat rawan runtuh. Akan tetapi walaupun demikian, penerapan bagian terpenting ini di suatu negeri sangat sulit dibayangkan jika mayoritas penduduk negeri itu enggan dan tidak  mau menerapkan syariat pada tingkat individu-individu, keluarga-keluarga dan pada tingkat masyarakat. Di waktu yang sama, penduduk negerilah yang bisa diandalkan sebagai penegak dan pengawal syariat di negeri masing-masing. Karena itu di suatu negeri Islam yang belum menerapkan syariat institusi, harus terlebih dahulu diadakan penyuluhan yang kuat tentang urgensi penerapan syariat. Penyuluhan ini tidak akan membuahkan tekad dan kemauan untuk menerapkan syariat, jika belum ada pencerahan keimanan yang cukup. Hanya pada suatu masyarakat yang berorientasi kepada keselamatan dan kebahagiaan akhiratlah penyuluhan itu bisa membuahkan tekad dan usaha penegakkan syariat.  Dengan kata lain, sebuah dakwah Islamiyyah yang benar dan kuat harus mendahului proses Islamisasi sebuah masyarakat. Bahkan dakwah itu sendiri adalah bagian dari proses.  Masyarakat yang menerapkan syariat institusi bisa kita namakan “Masyarakat Islami Struktural” atau bisa juga dinamakan “Negara Islam”.

  • MOTIVASI DAN STRATEGI
Pada hakikatnya jiwa atau ruh atau tulang punggung pembentukan masyarakat Islami adalah penegakkan syariat pada ke empat ruasnya. Masyarakat Islami dan penegakkan syariat adalah dua wajah dari satu mata uang. Ketika penegakkan syariat harus dilakukan oleh tangan-tangan manusia yang bergerak di bawah tuntunan jiwa-jiwa mereka dan jiwa-jiwa itu memerlukan motivasi yang benar, maka pemotivasian adalah langkah pertama.

A. Motivasi
Motivasi membangun masyarakat Islami bertolak dari dua hal asasi yaitu:
  1. Sebagai suatu kewajiban besar yang dituntut oleh Alloh  yang mana pelaksanaanya akan menghasilkan ganjaran yang besar sekali dan pengabaiannya akan mengakibatkan hukuman yang berat.
  2. Peraihan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat untuk para pelaksana, keturunan mereka dan semua umat.
Kedua dasar motivasi di atas tidak akan tumbuh kecuali dengan pencerahan keimanan dan penanaman pemahaman-pemahaman Islam yang benar, yang hanya bisa diwujudkan oleh dakwah yang benar dan memadai. Karena itu strategi yang benar, khususnya di Indonesia saat ini, untuk membentuk masyarakat Islami adalah strategi dakwah.

B. Strategi Dakwah

Masyarakat Islami yang kita idam-idamkan hanya bisa dibangun oleh jiwa-jiwa yang tercerahkan oleh komitmen kepada Islam yang murni. Jiwa-jiwa itu telah memahami Islam dan bertekad dengan sangat antusias untuk menitinya secara sempurna dan menyeluruh. Jiwa-jiwa seperti ini hanya bisa dibentuk oleh suatu dakwah yang benar dan memadai. Yang kami maksud dengan dakwah yang benar dan memadai adalah dakwah yang mencakup unsur-unsur berikut:

1. Mendakwahkan kemurnian Islam
Masyarakat Islami yang kita idam-idamkan hanya bisa dibangun oleh jiwa-jiwa yang tercerahkan oleh komitmen kepada Islam yang murni. Jiwa-jiwa itu telah memahami Islam dan bertekad dengan sangat antusias untuk menitinya secara sempurna dan menyeluruh. Jiwa-jiwa seperti ini hanya bisa dibentuk oleh suatu dakwah yang benar dan kuat. Rosululloh  telah mengkhabarkan bahwa umat akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan hanya satu golongan yang berada di atas kemurnian. Yaitu mereka yang mengikuti jejak-jejak Rosululloh  dan para sahabatnya dalam memahami Islam dan menerapkannya.
Islam adalah agama Alloh  satu-satunya. Di atas peta Islamlah alam semesta dibentuk dan fitrah manusia (format dasar cipta manusia) pun dibentuk dengan format Islam, bahkan Islam adalah fitrah manusia dan fitrah manusia adalah Islam itu sendiri. Hanya dengan Islam lah manusia tetap mulia seperti dasar penciptaannya dan tanpa Islam manusia akan menjadi rendah serendah-rendahnya di dunia dan di akhirat.

Alloh  berfirman:
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”  (QS. At-Tiin [95]: 5)

Islam yang menjadikan manusia mulia di dunia dan akhirat adalah Islam yang murni. Dengan Islam yang murni ini lah manusia bisa bangkit dari keterpurukannya. Sedangkan dengan selain Islam atau selain Islam yang murni, manusia akan terpuruk seterpuruk-puruknya. Karena lahir batinnya bertentangan dengan format ciptanya (fitrah) dan berbenturan dengan format struktur alam semesta. Artinya ketika seseorang melanggar suatu peraturan dari syariat Islam maka dia akan menderita lahir batin sekadar pelanggarannya itu di dunia sebelum di akhirat. Demikianlah kita saksikan ketika misalnya seseorang berzina atau minum miras.
Ketika sebuah masyarakat menjadi tidak Islami, terpuruklah masyarakat itu dan tidak akan pernah bangkit tanpa berpegang kepada Islam yang murni. Dari sini kita dapat melihat keharusan mendakwahkan Islam yang murni sekuat-kuatnya sebagai bentuk dari pengawalan terhadap agama Alloh  satu-satunya dan sebagai obat untuk menyembuhkan umat dari keterpurukan.  Jiwa yang terpuruk dan tidak bangkit, tidak akan mau apalagi mampu untuk membangun masyarakat Islami. Karena kebangkitan itu sendiri adalah suatu dinamika menuju kodrat manusia yang mulia, yang tidak akan pernah mulia tanpa bersenyawa dengan Islam yang murni.

2. Dakwah yang berjama’ah dan terorganisir
Dakwah yang tidak berjama’ah dan tidak terorganisir, tidak akan mampu menghadapi musuh-musuh Islam yang menjalankan perusakan-perusakan pada sendi-sendi Islam secara berjama’ah dan sistematis. Di dunia ini ada konspirasi global terhadap Islam dan kaum muslimin. Konspirasi ini sangat besar, terorganisir dan sistematis. Di waktu yang sama kalau hanya untuk memberi nasihat bisa dikerjakan secara individual. Akan tetapi untuk mega proyek membangun masyarakat Islami mustahil dilakukan dengan usaha-usaha dakwah sendiri-sendiri. Walaupun yang demikian tetap ada manfaatnya.

3. Dakwah sarat muatan kebangkitan
Muatan kebangkitan yang dimaksud adalah misi pembangkitan jiwa-jiwa para mad’u untuk bangkit menjalankan amanah yang Alloh  bebankan pada pundak manusia.

Alloh  berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzolim dan amat bodoh” (QS. al-Ahzab [33]: 72)

Amanat ini mempunyai dua sisi, yaitu:
a.   Sisi peribadatan
Manusia diciptakan dengan tujuan menjalankan peribadatan kepada Alloh  saja. Inilah yang dinamakan Tauhid. Menjadikan Tauhid sebagai dasar penegakkan syariat, baik individu, keluarga, masyarakat atau institusi adalah bentuk dari pelaksanaan sisi yang satu ini.
Alloh  berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah hanya kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56)

b.  Sisi Kekhilafahan
Manusia diciptakan sebagai khalifah.
Alloh  berfirman:
“Ingatlah ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat: “Sesung-guhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (QS. al-Baqoroh [2]: 30)

Kekhilafahan manusia dari segi zatnya berarti dia adalah makhluk yang mempunyai kriteria-kriteria yang pantas “dipertuankan” oleh makhluk-makhluk bumi. Seluruh alam semesta pun telah diorbitkan untuk mensuplai kebutuhannya di segala bidang. Adapun kekhilafahan sebagai sebuah tugas, artinya: manusia harus menjalankan tugas sebagai pelaksana syariat atau hukum Alloh  di bumi ini.
Untuk mewujudkan kebangkitan di jiwa umat hingga mau, siap dan mampu melaksanakan amanat ini, sebuah mega proyek tarbiyah jangka panjang harus dimulai dengan serius, walaupun dimulai hanya dengan pembentukan jaringan yang masih kosong dari muatan kebangkitan. Tak ada jalan untuk mengisi jaringan itu dengan muatan kebangkitan Islami, kecuali dengan dakwah yang benar dan memadai.

  • STRATEGI ALTERNATIF
Di lapangan gerakan kebangkitan kita dapati dua strategi alternatif dalam mencapai tujuan. Yaitu strategi parlementer dan strategi kekerasan. Walaupun dalam langkah-langkahnya sangat bertentangan, akan tetapi kedua strategi ini sama-sama mempunyai target awal yang sama yang mereka yakini akan sangat berguna untuk mewujudkan kebangkitan umat dan membentuk masyarakat Islami. Target itu adalah kekuasaan. Karena itu kedua strategi ini kita namakan “strategi tampuk kekuasaan”.
Paling sedikit ketika strategi ini diterapkan di Indonesia pada kondisi dan zaman seperti sekarang ini kami sangat yakini tidak akan mampu mewujudkan tujuan total akhir, yaitu masyarakat islami. Jangankan mewujudkan masya-rakat Islami, meraih target awal, yaitu tampuk kekuasaan pun pasti tak akan tercapai, kecuali kalau Alloh  menghendakinya. Kedua strategi ini mempunyai beberapa sisi negatif yang sejenis, di antaranya:

A.  Keterbengkalaian dakwah
Keterbengkalaian dakwah berarti kehancuran untuk umat. Kalau kedua strategi alternatif ini masih mempercayai dakwah adalah jalan satu-satunya untuk pencerahan jiwa, maka ini berarti mereka hanya menangguhkan dakwah sampai target awal yaitu tampuk kekuasaan teraihkan. Ini berarti bahwa penyelamatan umat dari ketergelinciran ke jahannam dan dari keterpurukan dunia tertangguhkan sampai mereka menang. Selama penangguhan itu entah berapa jiwa yang akan mati dalam kegelapan. Itupun kalau mereka menang!! Kalau mereka tidak akan pernah menang seperti yang kami yakini, maka dakwah mereka tidak akan pernah ada! Mereka akan mengklaim bahwa mereka pun berdakwah sambil berstrategi tampuk kekuasaan. Tetapi mari kita simak yang berikut:
  1. Sangat tidak mungkin, ketika suatu kelompok mencanangkan suatu strategi untuk mencapai tujuan, kemudian kelompok itu tidak mengerahkan seluruh atau mayoritas tenaganya untuk mensukseskan strategi itu. Ketika seluruh tenaga dicurahkan untuk dakwah saja, kita masih melihat banyak yang tidak tertangani. Bagaimana pula ketika seluruh tenaga atau mayoritasnya dicurahkan untuk strategi lain.
  2. Memang sebagian tenaga para penyandang strategi tampuk kekuasaan disalurkan di “amal dakwah”. Hal ini karena strategi mereka memerlukan “amal dakwah” untuk merekrut pengikut. Kita bisa membayangkan apakah usaha dakwah yang motivasinya hanya sekedar merekrut pengikut untuk melaksanakan strategi parlementer atau kekerasan bisa menghasilkan suatu kebangkitan? Berbeda halnya dengan perekrutan pengikut dengan tujuan untuk dakwah pula (strategi dakwah).
  3. Demi mendapatkan suara sebanyak mungkin, strategi parlementer memerlukan siasat perangkulan yang hampir-hampir tidak terbatas. Pada siasat ini mereka harus pandai-pandai tutup mulutdan berbasa-basi dengan penodaan kemurnian dan para penodanya. Dengan demikian kemurnian Islam pun terancam. Di sini terjadi keterbengkalaian dakwah dalam kwalitas.
  4. Sifat dakwah rahasia pada jalur kekerasan akan sangat membatasi dakwah jalur ini. Para perencana dan pelaksana dakwah mereka sudah tidak tertarik untuk mendakwahkan masyarakat umum. Dari sudut ini pun terjadi suatu keterbengkalaian.
B.  Kemandulan 
Kedua jalur ini sangat tidak realistis dalam kondisi seperti sekarang ini. Kedua strategi ini merupakan keterburu-buruan dan keputus asaan. Para peyakin strategi tampuk kekuasaan sebenarnya mempunyai rasa pesimis untuk menjalankan strategi dakwah, lalu melupakan bahwa dakwah bukanlah hanya sekedar strategi, tetapi juga suatu kebutuhan yang sangat. Keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat banyak bergantung kepada usaha-usaha dakwah. Bahkan dakwah sudah sangat berguna sekali, walaupun “hanya” menyelamatkan umat dari neraka jahannam dan tidak berhasil membentuk masyarakat Islami di dunia ini.

  • LANGKAH-LANGKAH MENUJU TUJUAN
A. Langkah Strategi Alternatif
Masing-masing dari kedua jalur peyakin strategi tampuk kekuasaaan, yaitu jalur kekerasan dan jalur parlementer bisa saja mengklaim mempunyai teori yang “jelas” dan “simpel” tentang langkah-langkah riel perealisasian tujuan mereka. Pelaku jalur parlementer akan memetakan langkah-langkah riel perealisasian tujuan mereka sebagai berikut: Pembentukan partai, pembesaran partai, masuk parlemen, peraihan suara terbanyak lalu sampai ke tampuk kekuasaaan untuk kemudian memenej umat secara Islami. Tentunya dengan harus melupakan bahwa: banyak sekali pelanggaran-pelanggaran syariat dalam permainan parlementer, keterbengkalaian dakwah dan fakta lapangan yang menunjukan banyaknya kegagalan walaupun hanya “sekedar meraih” tampuk kekuasaan, apalagi untuk mampu merubah masyarakat menjadi masyarakat Islami. “Kesuksesan” partai Islam Turki memcapai puncak kekuasaan harus diuji lagi kebenarannya dari segi “siapa sebenarnya yang berkuasa” di Turki dewasa ini dan episode apa yang akan dimunculkan oleh angkatan bersenjata Turki setelah ini. Apakah tentara akan tetap menjaga keadaaan seimbang seperti sekarang atau akan melakukan kudeta seperti waktu-waktu sebelum ini. Seandainya terbuktipun kekuasaan ada di tangan partai Islam, itu masih sebatas mendapatkan sarana ampuh dan tidak berarti sebuah kebangkitan telah dicapai. Pembubaran partai-partai Islam Turki di masa lalu ketika mereka “meraih” tampuk kekuasaan dan penjeblosan para pemimpin partai ke penjara serta pembubaran partai Islam (FIS) di Aljazair setelah mereka menang mutlak di pemilu 1992 dan penjeblosan pemimpin-pemimpin mereka ke dalam penjara untuk jangka waktu bertahun-tahun, semua itu membuktikan dengan jelas bahwa status non Islam di negeri-negeri Islam masih dikawal kuat oleh kekuatan-kekuatan konspirasi salibis internasional yang setelah berkorban besar untuk menguasai dunia di perang dunia ke dua tidak akan rela melepaskan cengkramannya dan membiarkan umat Islam terbebaskan hanya dengan senjata suara terbanyak!

Jalur kekerasan dengan mudahnya akan mengatakan langkah-langkah kami adalah: pembentukan suatu organisasi (rahasia?), melatih, mem-persenjatai, berperang dan menang, untuk kemudian memegang kendali serta mengatur masyarakat secara Islami.

Tentunya harus dilupakan kenyataan bahwa langkah-langkah ini adalah langkah-langkah super sulit, banyaknya ke tidak realistisan di sepanjang jalan, korban-korban yang luar biasa banyaknya yang akan berjatuhan, kehancuran-kehancuran besar-besaran yang akan terjadi, keterbengkalaian dakwah yang merupakan mesin utama pembangkit umat dan hasilnya masih tanda tanya, khususnya dalam kondisi seperti sekarang ini. Bahkan keabsahan amal seperti itu pun masih harus dipertanyakan dengan sangat keras. Memang benar, jika tidak ada jalan lain yang bisa sukses dan hasilnya jauh lebih dari pengorbanannya, maka strategi ini “bisa diterima”. Akan tetapi berpendapat tidak ada jalan lain selain jalan kekerasan pada kondisi seperti sekarang ini adalah hasil penelusuran yang sangat dangkal.

Pertumpahan darah manusia pada dasarnya adalah suatu yang dibenci dan dicela Islam, kecuali pada kondisi syar’i yaitu pada hukuman atas pembunuhan disengaja, pezina yang telah menikah, penumpasan pemberontakan terhadap pemerintah Islam yang sah dan Jihad fi sabilillah. Di ketiga kondisi pertama yang berhak melaksanakan hanyalah Negara. Sedangkan Jihad fi sabilillah (jihad kekerasan), telah dilarang ketika umat Islam dalam keadaan lemah seperti kondisi Rosululloh  dan para sahabatnya di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah. Di waktu itu strategi kekerasan ditinggalkan jauh-jauh. Tidak ada usaha-usaha pembunuhan gelap terhadap pemimpin-pemimpin Quraisy atau serangan malam atau pergi ke gunung-gunung dan gua-gua Makkah untuk melancarkan perang gerilya terhadap para penguasa Makkah. Kekerasan ditinggalkan bukan hanya dalam bentuk serangan, bahkan dalam membela diri pun tidak dilakukan, sehingga banyak para sahabat Rosululloh  yang disiksa tanpa menjadikan emosi Rosululloh  dan para sahabat lainnya terpancing untuk menggunakan kekerasan dalam menolong mereka. Ketika sesudah dibolehkan untuk berjihad pun, Alloh  mencegah terjadinya pertempuran karena kondisi yang memungkinkan terjadinya pertumpahan darah orang-orang Islam yang berbaur dengan penduduk Mekkah yang masih kafir seperti halnya para insiden Hudaibiyyah. Adapun masalah “Tatarrus” (penggunaan orang-orang yang beriman oleh orang-orang kafir sebagai tameng untuk mencegah serangan kaum muslimin) yang mana terbunuhnya orang-orang Islam karena kondisi yang memaksa itu bisa diterima, hanya pada kondisi dimana pertempuran tidak bisa dihindari dan sudah menjadi suatu keharusan.

Jadi kita tidak membolehkan jihad?!?

Siapa yang melarang Jihad secara umum dan mutlak telah kafir! Na’uzdubillahi min Dzalik!!! Kita sama sekali tidak demikian!! Kita hanya berprinsip kekerasan tidak bisa dipakai sebagai strategi dalam mewujudkan kebangkitan umat ini di negeri yang kondisinya seperti Indonesia sekarang ini!!

B. Langkah-Langkah Strategi Da'wah
Langkah-langkah para peniti strategi dakwah adalah langkah-langkah yang penuh kedamaian, kesejukan dan ketentraman. Pada hakikatnya tujuan utama strategi dakwah (tentunya juga tujuan utama strategi alternatif) adalah keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Perwujudan masyarakat Islami adalah dalam rangka melaksanakan tugas suci merealisasikan kedaulatan hukum-hukum Alloh  di bumi dan mewujudkan atmosfir peribadatan tauhid yang kondusif untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat.

Pada strategi tampuk kekuasaan ada dua hal penting yang tertangguhkan atau terabaikan. Kedua hal ini tidak demikian pada strategi dakwah. Kedua hal itu adalah dakwah dan pengawalan untuk Islam yang murni. Kedua hal itu tetap eksis selalu pada strategi dakwah. Dengan demikian strategi dakwah memetik hasilnya di setiap langkah ketika kemajuan sekecil apapun terwujudkan. Sedangkan strategi alternatif sepanjang jalan baru mengejar sarana atau alat kebangkitan, yaitu kekuasaan.

Langkah-langkah strategi dakwah sangat singkat dan sederhana sekali. Langkah pertama adalah mengikut sertakan sebanyak mungkin kaum muslimin dalam sebuah jaringan terdiri dari mereka yang mempunyai keinginan yang serius untuk meniti sirotulmustaqim, terlepas dari tingkatan keimanan dan keislaman mereka. Langkah kedua adalah memupuk keislaman mereka dan mengarahkan mereka untuk menerapkan syariat di ruas syariat individu, kemudian keluarga lalu mendorong terciptanya masyarakat muatan Islami. Adapun penegakkanruas syariat institusi adalah tugas dari masyarakat muatan islami dan bukan tugas sebuah harakah. Peranan dakwah (baca: Harakah) ada pada penyuluhan agar jiwa-jiwa tercerahkan dan timbul padanya keinginan untuk ikut serta dalam usaha-usaha membentuk masyarakat Islami, kemudian menyatukan mereka dalam suatu jaringan Islami dan pada akhirnya mendorong serta membantu mereka untuk menerapkan syariat di ketiga ruasnya tanpa menunggu penerapan syariat institusi terwujudkan. Penegakkan syariat institusi yang berarti terbentuknya masyarakat Islami struktural, telah kita katakan menjadi tugas masyarakat muatan Islami. Sebab hanya sosok sebesar masyarakat muatan Islami lah yang sanggup mewujudkannya tanpa fitnah yang menghancurkan. Kekuatan muatan Islami di dalam masyarakat seperti ini akan melahirkan daya penekan yang mampu meluluh lantakan para penentang berdirinya masyarakat Islami struktural, serta akan melahirkan sebuah muatan panas yang melelehkan semua kendala dan resistant. Hal inilah yang terjadi di Madinah setelah masyaratakat muatan Islami di Madinah di bawah pimpinan Rosululloh  mencapai bobot tertentu ketika menang di perang Badar. Ketika itu seluruh komponen masyarakat Madinah pun berbondong-bondong masuk Islam. Hal yang serupa terjadi dalam ukuran yang lebih besar ketika Fathu-Makkah. Ketika itu seluruh kabilah di Jazirah Arab masuk Islam secara massal.

SILSILAH TARBIYYAH SUNNIYYAH V

URGENSI DA'WAH KEMURNIAN

Oleh Sebuah Gerakan Kebangkitan pada 4 September 2011 pukul 1:31
  • Sejarah Penyimpangan Umat Manusia
I. Dahulunya umat manusia adalah umat yang berada di atas agama yang lurus.
Agama yang lurus adalah agama fitrah yang Alloh  fitrahkan kepada manusia, oleh karena itu agama ini sudah ada sejak adanya manusia, sebagaimana Alloh  berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alloh); (tetaplah atas) fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan (makhluk) Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]:30)

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia telah benar-benar Alloh fitrahkan di atas aqidah yang selamat. Dan Adam  adalah manusia pertama yang terfitrahkan dengan aqidah selamat ini. Dengan demikian Adam  adalah seorang yang bertauhid kepada Alloh  dengan tauhid yang murni, seorang yang berkeyakinan kepada Alloh tentang apa-apa yang diwajibkan berupa ta’zhim (pengagungan), ketaatan, roja’ (berharap baik) dan khosyyah (ketakutan kepada-Nya). Kemudian Alloh  pun telah mengambil perjanjian dari anak keturunan Adam  bahwa Dia adalah Robb mereka dan mempersaksikan atas diri mereka sendiri di sulbi-sulbi mereka, sebagaimana firman Alloh :

“Dan (ingatlah), ketika Robbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Robb kalian?”. Mereka menjawab: "Betul (Engkau Robb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (tauhid).”  (QS. Al-A’raf [7]:172)

Ayat ini bisa difahami bahwa semua manusia dilahirkan di atas fitrah, sebagaimana juga sabda Rosululloh  dalam hadits qudsi:
“… dan sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku di atas agama yang lurus semuanya, lalu datang kepada mereka Setan mengalihkan agama mereka, menghalalkan apa-apa yang haram dan memerintahkan agar menyekutukan-Ku dengan suatu yang tidak ada penjelasannya.” (HR Muslim)

Dan sabda beliau :
“Tidaklah seseorang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka ibu dan bapaknyalah yang akan membuat ia Yahudi, Nashrani atau Majusi (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut berlaku untuk seluruh manusia, maka Adam  dan generasi pertama dari keturunannya adalah lebih pantas untuk berada di atas aqidah selamat. Adapun syirik dan kesesatan adalah perkara yang muncul kemudian setelah beberapa zaman dan generasi secara bertahap.


II. Kapan mulai terjadinya penyimpangan

Sejak Adam , umat manusia ada dalam aqidah selamat, di atas agama yang murni, namun setahap demi setahap terus menyimpang, sebagaimana firman Alloh :
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Alloh memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Alloh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqoroh [2]:213)

Ibnu Katsir  berkata: Dari Ibnu Abbas  ia berkata:
“Antara Nuh  dan Adam  adalah sepuluh generasi, semua di atas syari’at al-haq, lalu mereka berikhtilaf (menyimpang), maka Alloh mengutus para nabi-Nya untuk memberi kabar gembira dan peringatan.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa sebelumnya manusia berada di atas jalan yang lurus, di atas agama yang murni tanpa kesyirikan dan kekufuran. Kemudian manusia menyimpang dari kemurnian sampai titik kekufuran kepada Alloh  setelah 10 kurun, lalu diutuslah para nabi-Nya untuk mengembalikan mereka kepada agama yang lurus dan murni. Nabi pertama yang diutus ketika terjadi penyimpangan adalah Nuh .


III. Pelopor penyimpangan.

Pelopor penyimpangan adalah Iblis, ketika Alloh  memerintahkan kepadanya untuk bersujud kepada Adam , lalu dia menentang perintah Alloh , sebagaimana firman Alloh :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqoroh [2]:34)

Maka murkalah Alloh  kepada Iblis..!!  Kemudian Alloh  mengusirnya dari surga. Ketika itu Iblis meminta ditangguhkan untuk hidup hingga hari akhir dan Alloh  pun memberikan tangguh kepadanya. Lalu Iblis bersumpah untuk manyesatkan seluruh manusia, dari sinilah episode penyesatan manusia dimulai..!!
Alloh  berfirman:
“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkata: “Ya Robbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”.  Alloh berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas (ikhlash) di antara mereka.” (QS. Shad [38]:77-83)

Keberhasilan Iblis menyesatkan umat manusia yang pertama kalinya pada zaman Nuh  adalah hasil kerja kerasnya selama berabad-abad,  dan setelah manusia lupa dari peringatan Alloh .

Alloh  berfirman:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sekutu (teman) bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-‘Araf [7]:27)

Akhirnya kaum Nuh  menyembah patung orang-orang shaleh di antara mereka yang bernama: Wadd’, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.
Kejadiannya adalah ketika orang-orang shaleh di antara mereka telah meninggal dunia, mereka mulai beri’tikaf di kuburannya, namun mereka tidak merasa puas dengan hanya beri’tikaf saja, lalu mereka membuat patungnya, kemudian setahap demi setahap Iblis menanamkan kecintaan dan pensucian terhadap mereka, akhirnya sepeninggal para pendahulunya (para pembuat patung-patung itu) maka keturunan mereka beribadah kepada patung-patung tersebut.
Manhaj dasar Iblis dalam misi penyimpangan dari kemurnian adalah seperti manhajnya ketika menentang perintah Alloh , yaitu dengan alasan akal, sebagaimana firman Alloh :
“Alloh  berfirman: Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Shad [38]:75-76)

Berkata Ibnul Qayyim :
“Sesungguhnya penentangan terhadap wahyu dengan akal adalah warisan Syaikh Abu Murrah (Iblis), dia menentang wahyu dengan akal dan mengedepankan akal atas wahyu. Sesungguhnya Alloh  ketika memerintahkan dia untuk bersujud kepada Adam, Iblis menentang perintah-Nya dengan qiyas akal yang tersusun dari dua muqaddimah, pertama perkataan: “Aku lebih baik daripadanya”  ini muqaddimah shughra (kecil), sedangkan muqaddimah kubra (besar)-nya dihapus, yaitu: “Yang utama tidaklah bersujud kepada yang kurang utama”. Kemudian dia menyebutkan sandaran muqaddimah pertama, disebut juga sebagai qiyas hamly (tersusun dari dua muqaddimah dan kesimpulannya) yang terhapus dari satu di antara muqaddimahnya, lalu dia berkata: “Karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (ash Shawa’iq III/998-999)
Alasan yang rusak ini selanjutnya menjadi kaidah dan “manhaj” ahli hawa nafsu dalam menentang para nabi dan menentang kebenaran dari sisi Alloh .

  • Sejarah Penyimpangan Umat Nabi Muhammad   
I. Penyimpangan Adalah Sunnatulloh (Ketentuan Alloh)
Alloh  benar-benar telah menetapkan fakta (penyimpangan) untuk umat manusia sebagai ketentuan Alloh  yang tidak dapat ditolak. Hal ini merupakan ujian bagi manusia, kemudian Alloh  mengutus para rosul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya agar tegaknya hujjah dan jelasnya jalan yang terang dari yang gelap. Maka berimanlah orang-orang yang beriman dengan terang dan sesatlah orang-orang yang sesat dengan terang pula tanpa ada yang dizholimi.
Dalam hal ini Imam asy Syathibi  memberikan penjelasan yang sangat baik sebagai berikut:
Alloh  berfirman:
“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Robbmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”…. (QS. Hud [11]:118-119)

Alloh  mengabarkan bahwa mereka senantiasa berselisih pendapat selama-lamanya, karena memang Alloh  menciptakan mereka untuk berselisih pendapat. Yaitu sebagaimana perkataan para ahli tafsir dalam ayat: “Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”, maknanya adalah untuk berselisih pendapatlah Alloh menciptakan mereka. Hal ini diriwayatkan dari Malik bin Anas , dia berkata: Alloh menciptakan mereka agar sebagian mereka masuk jannah dan sebagian mereka masuk neraka, dan hal yang senada diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri . Kata ganti “mereka” dalam kalimat “Alloh menciptakan mereka” kembali kepada manusia, dan itu tidak mungkin terjadi (penyimpangan) kecuali setelah datangnya ilmu (kepada mereka). Selisih pendapat yang dimaksud di sini bukanlah selisih pendapat dalam rupa, seperti bagus, jelek, panjang dan pendek. Tidak pula selisih pendapat dalam warna, seperti merah dan hitam. Tidak pula dalam bentuk fisik seperti fisik sempurna, buta, melihat, tuli dan mendengar. Tidak pula dalam perangai seperti pemberani, pengecut, pemurah dan bakhil. Dan tidak pula dari perbedaan sifat-sifat sejenis lainnya.
Sesungguhnya yang dimaksud adalah selisih pendapat tertentu (selisih pendapat dalam perkara tauhid atau akidah), yaitu selisih pendapat yang Alloh  mengutus para nabi-Nya untuk menghukumi di antara orang-orang yang berselisih pendapat, sebagaimana firman Alloh :
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…” (QS. Al-Baqoroh [2]:213)

Ini adalah selisih pendapat bentuk dalam perbedaan dari hasil pemikiran, aliran-aliran, agama-agama dan keyakinan-keyakinan yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kecelakaan manusia di dunia dan akhirat.” (al I’thisham II/165, dikutip dari Dirasat fil Ahwa wal Firaq wal Bida’ hal. 295-296).
Maka perselisihan itu benar-benar terjadi dan hakiki serta tidak dapat diingkari, sementara orang-orang yang mendapat taufik dari Alloh  akan meniti jalan keselamatan dan menjauhi jalan-jalan kesesatan.


II. Penyimpangan umat ijabah (umat penerima dakwah Nabi Muhammad  )

Demikianlah penyimpangan demi penyimpangan terus bergulir. Dan penyimpangan yang sampai pada derajat kekafiran adalah sebuah keterpurukan yang sangat dahsyat. Namun Alloh   senantiasa mengutus para nabi-Nya setiap kali manusia berada dalam jurang keterpurukan, hal ini untuk sebuah misi kebangkitan menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Gelombang keterpurukan dan kebangkitan senantiasa terjadi silih berganti hingga sampailah Nabi Muhammad  diutus untuk seluruh manusia di saat kegelapan meliputi dunia. Dakwah Nabi  menghasilkan orang-orang yang mengijabahi dan menjadi pelopor kebangkitan umat manusia setelahnya, sisanya tetap dalam kekufuran dan bahkan menjadi musuh dakwah.
Bukan berarti bahwa umat yang mengijabahi dakwah Nabi Muhammad  adalah umat yang tidak terancam dengan penyimpangan dan terlepas dari sunnatulloh. Sungguh sejak dini Alloh  telah memperingatkan agar bersatu, berpegang teguh dengan tali Alloh  dan tidak berpecah belah (menyimpang dari kemurnian), sebagaimana firman Alloh :
“Dan berpegang-teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepada kalian ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian orang yang bersaudara; karena nikmat-Nya dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran [3]:103)

Nabi Muhammad  pun telah berwasiat untuk berpegang teguh dengan sunnahnya:

(( أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرُعَلَيْكُمْ عَبْدٌحَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ )) 
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Alloh dan dengar serta taatlah walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habsyi. Sesungguhnya orang yang hidup dari kalian sepeninggalku akan melihat penyimpangan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa rasyidin al-Mahdiyin, pegang teguhlah ia dan gigitlah dengan gigi geraham (benar-benar berpegang teguh). Dan jauhilah urusan-urusan baru (syari’at baru), sebab semua yang baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud) 

Maka sepeninggal Nabi Muhammad  penyimpangan pun dimulai, umatnya ada yang murtad, keluar dari Islam dan para sahabat telah memerangi mereka di bawah pimpinan Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq . Kemudian disusul penyimpangan demi penyimpangan dari kemurnian sebagai firqoh dhollah (golongan sesat) walaupun belum keluar dari Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad :

((...وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً قَالُوْا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ.))
“...dan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Mereka (para sahabat) bertanya; ”Siapakah satu kelompok itu wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak sahabat-sahabatku.” (HR. At-Tirmidzi No: 2643, Al-Hakim dalam al-Mustadrok: 1/218 dan Al-lalikai: 1/99)

“Terpecah..!!”   Itulah kenyataannya…

Hadits perpecahan umat ini adalah bukti nubuwwah Nabi , sebab realita telah menunjukkan adanya perpecahan umat sejak dini dan terus disusul dengan perpecahan-perpecahan yang menghasilkan firoq dhollah (golongan-golongan sesat) lainnya hingga sekarang dan akan terus terjadi hingga hari kiamat.
Perpecahan pertama terjadi pada sekitar tahun 37 H pada masa kekhi-lafahan Ali bin Abi Thalib  tepatnya, ketika peristiwa tahkim bi kitabillah (berhukum dengan Kitab Alloh). Keluarlah Khawarij dari jama’atul muslimin lalu disusul pada masa setelahnya oleh Syi’ah, Murji’ah, Mu’tazilah, dan lainnya.


III. Hadits iftiraq al-ummah (hadits perpecahan umat)

a. Keshahihan hadits perpecahan:

Hadits perpecahan umat adalah hadits shahih yang bersumber dari beberapa jalan sebagaimana diterangkan oleh Imam ash Shan’any: (lihat: Iftiraq al-Ummah wa Bayan al-Firqatun Najiyah, ditulis: al ‘Allamah asy Syaikh Muhammad bin Isma’il al Amir ash Shan’any 1099-1182H)

- Dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Mu’awiyah :
(( أَلا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ )) 
“Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahli Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan terpecah-belah menjadi 73 golongan, 72 di neraka dan satu di jannah, yaitu al Jama’ah.”
[Isnadnya hasan, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam awal kitab Syarah as Sunnah -4597-, Imam Ahmad dalam Musnadnya – IV/102-, al Hakim dalam Mustadraknya –I/128- dan riwayat lainnya dari jalan Shafwan bin Amr, berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah al-Harazy, dari Abi ‘Amir al-Hauzany dari Mu’awiyah” – hadits ini isnad rijalnya tsiqat kecuali Azhar dia shaduq].

- Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah :
((اِفْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ أَوْ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَلِكَ وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً -وَفِي رواية أبي داود - اِفْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً  ))
“Telah berpecah-belah Yahudi menjadi 71 atau 72 golongan, dan Nashara juga seperti itu. Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Dalam riwayat Abu Dawud: “Telah berpecah-belah Nashara menjadi 71 atau 72 golongan, dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan.”
[Sanadnya Hasan, telah meriwayatkan: Abu Dawud (4596), at Tirmidzy (2640), Ibnu Majah (2391), Ahmad (II/332), Ibnu Hibban sebagaimana dalam al Ihsan (VIII/48)(6213), al-Hakim (I/6, 128), dan riwayat lainnya dari jalan Muhammad bin ‘Amr dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dan Muhammad bin ‘Amr haditsnya hasan. Al-Bukhari memakai riwayat dari jalan Muhammad bin ‘Amr didampingi dengan yang lainnya, juga Muslim dalam al Mutabi’at].

- Dikeluarkan oleh Tirmidzi dari Ibnu ‘Amr bin al ‘As:
(( لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي  )) 
“Akan benar-benar datang atas umatku apa yang telah dikerjakan Bani Israil persis setapak demi setapak sehingga jika mereka mendatangi ibunya (menyetubuhi ibunya) terang-terangan, maka tentu dalam umatku ada orang yang berbuat seperti itu. Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 golongan dan akan berpecah belah umatku menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan, mereka (para saha-bat) bertanya: “Siapakah yang satu golongan itu wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Apa saja yang Aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
(Hasan dengan syawahid, telah meriwayatkan Tirmidzi [2641], al-Hakim [I/129] dan yang lainnya)

- Hadits no. 3 juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari ‘Auf Bin Malik dan Anas.
Ada anggapan yang keliru dari beberapa orang, mereka ber-kata: “Kenapa hadits ini tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.!”
Sesungguhnya Imam al-Bukhari dan Muslim tidak meng-ambil semua hadits-hadits yang shahih di dalam kitabnya, sebagaimana al-Bukhari berkata: “Aku tidak masukkan ke dalam kitabku al Jami’ kecuali yang shahih, dan aku tinggalkan hadits-hadits shahih lainnya karena akan panjang lebar.” Dan berkata Muslim: “Tidaklah semua yang shahih yang ada padaku aku tulis di sini.” Oleh karena itu tidak adanya hadits perpecahan dalam kitab kedua imam tersebut bukanlah dalil tidak adanya keshahihan hadits tersebut atau tidak adanya syarat keshahihan dari keduanya.! (lihat catatan kaki Iftraq al-Ummah Imam ash-Shan’any).
Anggapan lain bahwa hadits ini lemah karena bertentangan dengan perintah bersatu dan tidak bolehnya berpecah-belah dalam al-Qur’an maupun hadits. Anggapan ini adalah ang-gapan yang salah. Sebab hadits ini adalah suatu berita akan adanya perpecah-belahan, bukan perintah berpecah-belah atau bolehnya berpecah-belah. Bahkan realitanya benar-benar telah terjadi perpecah-belahan sejak awal abad hijriyah hingga sekarang, hal ini justru menguatkan kashahihan hadits iftiraq (perpecahan).


b. Kesalahan dalam menyikapi hadits iftiraq (Perpecahan):

1). Mereka beranggapan bahwa hadits ini bukan berlaku untuk umat yang menerima seruan dakwah Nabi Muhammad .
Anggapan bahwa firqoh najiyah (golongan selamat) adalah umat yang mengijabahi dakwah Nabi Muhammad , sedangkan 72 golongan sesat adalah umat yang tidak meng-ijabahi (kafir) adalah anggapan yang salah, karena lafazh umati (أمّتي) -umatku- dalam hadits iftiraq dan hadits-hadits yang lain adalah umat yang mengijabahi, seperti hadits:

-         (لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ) “Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan di atas kebenaran…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
-         (أُمَتِي هذِهِ أُمَةٌ مَرْحُوْمَةٌ) “Umatku ini adalah umat yang dirahmati…”
Jadi, hadits perpecahan adalah berkaitan dengan umat yang mengijabahi. Perpecahannya bukanlah perpecahan yang sampai kepada kekafiran, sehingga ancaman api neraka dalam hadits tersebut adalah tidak kekal. Jika mereka tidak diampuni akan dimasukkan ke dalam neraka hingga terbakarlah dosa-dosanya, kemudian barulah dimasukkan ke dalam surga. Ketika perpecahannya telah sampai kepada derajat kekafiran maka tidak lagi termasuk 72 golongan sesat dan kekal di neraka.
2). Umat Nabi Muhammad  adalah umat terbanyak yang akan masuk surga, sedangkan hadits perpecahan tersebut menunjukkan yang sesat lebih banyak dibanding yang selamat..!
Hadits perpecahan di atas tidak otomatis menunjukkan bahwa banyaknya golongan sesat berarti banyak pula jumlah pengikut kesesatan. Secara total dari awal hingga akhir jumlah yang selamat lebih banyak dibandingkan yang celaka, walaupun boleh saja di suatu zaman kesesatan lebih banyak dari keselamatan. Terutama umat ini adalah umat yang dirahmati oleh Alloh ,, namun ada yang diadzab di dunia dalam bentuk fitnah, gempa, pembunuhan dan berbagai bencana sebagai pengampunan dari dosa-dosanya sehingga di akhirat tidak diadzab.
3). Anggapan bahwa dengan hadits iftiraq tersebut berarti bolehnya berpecah-belah.!
Hadits iftiraq adalah berita kenabian, bentuknya bukan perintah untuk berpecah-belah atau boleh untuk berpecah-belah. Akan tetapi justru berpecah-belah adalah sangat dilarang dan persatuan suatu yang diperintahkan.
4). Kesalahan dalam Penafsiran atau Pemahaman:
Beberapa pihak menerima akan adanya hadits ini, namun salah dalam memahaminya, sehingga gambaran firqoh najiyah (golongan selamat) atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidaklah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi . Seperti klaim bahwa Asya’irah atau Asy’ariyah adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.! Padahal dalam pemahaman tentang Sifat-Sifat Alloh  mereka tidak mengikuti pemahaman Ahlus Sunnah, mereka menolak sebagian besar sifat-sifat Alloh , keyakinan ini adalah keyakinan sesat..!! Sebab semua orang harus beriman terhadap sifat-sifat yang telah Alloh   sifatkan sendiri dalam kitab-Nya dan yang Rosul  sifatkan dalam sunnahnya sebagaimana zhohir lafazhnya tanpa takyif (menghakikatnya), ta’thil (penolakan), tasybih (penyerupaan dengan makhluk-Nya), tahrif (perubahan huruf) dan ta’wil (pengalihan makna).


c. Bahaya penolakan hadits perpecahan dan indikasi termakan faham sekuler dan liberal:

Penolakan terhadap hadits shahih ini sangat berbahaya, karena berarti menolak sabda Nabi Muhammad , apalagi jika penolakan hadits tersebut dilakukan oleh orang yang bukan spesialis belajar hadits (ahli hadits). Sementara para ahli hadits berbicara dengan ilmu, mereka akan menolak semua hadits-hadits palsu dan lemah berdasarkan keilmuan, ketika tidak didapati bahwa hadits tersebut palsu atau lemah, maka tidak ada alasan untuk menolaknya, tanpa membeda-bedakan apakah hadits tersebut Mutawattir atau Ahad.
Penolakan adanya “satu saja yang selamat”  dalam hadits iftiraq akan membawa kepada pemahaman yang sangat berbahaya, yaitu pemahaman sekuler yang beranggapan bahwa kebenaran ada di mana saja, semua benar dan tidak boleh ada klaim bahwa hanya golongannya yang benar. Pandangan seperti ini telah mengantarkan kepada kesimpulan bahwa semua agama benar..!!
Benar…, bahwa klaim hanya golongannya yang benar dan yang lain sesat adalah dakwaan yang perlu bukti, sebab kebenaran itu ada kriterianya dan menjadi milik golongan mana saja..!! Kriterianya adalah bahwa siapa saja yang berdiri di jalan Nabi Muhammad  dan para sahabatnya maka dia di atas kebenaran..!!


d. Musuh-musuh Alloh sangat geram dengan hadits ini:

Musuh-musuh Alloh  sangat terpukul dengan adanya hadits perpecahan..!! Sebab dengan hadits ini tersingkaplah penyimpangan-penyimpangan dari kemurnian. Sehingga mereka berusaha keras untuk menolak keberadaan hadits ini dengan berbagai tipu daya, seperti: menolak keshahihan hadits iftiraq, membenturkan hadits ini dengan nash persatuan dan lain-lain. Sebab pada dasarnya hadits ini telah membangkitkan keseriusan dalam menjaga dan mengawal terhadap kemurnian.
Alloh  berfirman:
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. As-Shaff [61]:8)


  • Urgensi Kulluha Finnar illa Wahidah
I. Ancaman seluruhnya masuk neraka menjadikan masalahnya sangat serius
Hadits iftiraq sangat bombastis ketika disabdakan: “semuanya masuk neraka kecuali satu”  menunjukkan betapa bahayanya ancaman kesesatan yang sedang mengancam Umat Islam. Yaitu ancaman masuk Neraka Jahannam..!! Semua terancam dengan api neraka..!!
Dari sabda Nabi Muhammad  ini sudah selayaknya umat Islam waspada terhadap segala ancaman yang akan mengantarkan ke dalam firqoh dhollah (kelompok sesat). Ancaman ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Semua orang tidak boleh merasa tenang karena ancaman penyimpangan datang setiap saat tanpa pandang bulu, karena manusia diciptakan berpotensi untuk berpecah belah, kecuali orang-orang yang dirahmati Alloh .
Alloh  berfirman:
“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat (menyimpang atau berpecah-belah), kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Robbmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka (untuk berpecah-belah). Kalimat Robbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesung-guhnya Aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud [11]:118-119)

Alloh  telah memerintahkan agar orang-orang beriman berpegang teguh dengan tali Alloh dan tidak bercerai-berai, dan Rosul-Nya Muhammad  pun telah memperingatkan orang-orang yang beriman agar berpegang teguh dengan sunnahnya.
Firman Alloh  :
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepada kalian ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Alloh orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran [3]:103)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]:153)

Sabda Nabi Muhammad :
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Alloh, dengar serta taatlah walaupun yang memimpin kalian seorang hamba sahaya Habsyi. Sesungguhnya orang yang masih hidup dari kalian sepeninggalku akan melihat penyimpangan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa rasyidin al-Mahdiyin, pegang teguhlah ia dan gigitlah dengan gigi geraham (benar-benar berpegang teguh). Dan jauhilah urusan-urusan baru (syari’at baru), sebab semua yang baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud)

Ketika orang-orang yang beriman lengah dari peringatan ini, maka mereka akan terjatuh dalam lubang-lubang kesesatan, sebab Iblis dan bala tentaranya terus bekerja tanpa henti untuk mengeluarkan manusia dari cahaya menuju kegelapan. Bahkan Adam  pun pernah tergelincir oleh tipu daya Iblis karena melupakan peringatan Alloh  dan tidak kuat dalam memegang azam (keteguhan).
Alloh  berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya keteguhan (azam).” (QS. Taha [20]:115)


II. Para sahabat bertanya tentang firqoh wahidah najiyah (satu golongan yang selamat) bukan bertanya tentang golongan yang sesat (72 golongan sesat), menunjukkan urgensi pengetahuan firqoh najiyah.

Betapa pentingnya mengetahui golongan atau kelompok yang selamat, yang berada di atas kemurnian. Para sahabat pun bertanya tentang yang satu itu. Para sahabat adalah generasi terbaik, sehingga pertanyaannya bukanlah keluar begitu saja. Pertanyaannya menunjukkan betapa urgennya memahami golongan yang selamat agar tidak terjerumus ke dalam golongan sesat.
Ketika seseorang telah benar-benar meniti di atas jalan Nabi Muhammad   dan para sahabatnya dengan keilmuannya, maka ia telah selamat dari api neraka dan terpelihara dari terjerumus ke dalam firqoh dhollah. Dia seolah-olah telah terimunisasi untuk kebal dari segala virus kesesatan..!!
Najiyah (keselamatan) sangat identik dengan kemurnian. Dia adalah Islam yang tidak tercemari dengan kepalsuan. Sedangkan dhollah (kesesatan) identik dengan kepalsuan, dia adalah Islam yang tidak murni, tercampur dengan kesesatan, seseorang yang meniti kesesatan berarti keluar dari firqoh najiyah, terlempar ke dalam firqoh dhollah, walaupun belum keluar dari Islam.
Semakin besar seseorang mengabaikan kemurnian, sebesar itu pula ia terancam kesesatan. Dan semakin besar seseorang meninggalkan kemurnian, sebesar itu pula ia terjatuh dalam kesesatan.

  • Kemurnian Versus Kesesatan
Konfrontasi abadi antara kemurnian (al-haq) dan kesesatan adalah sebuah keniscayaan. Tidak mungkin kemurnian bersatu dengan kesesatan. Tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan.
Alloh  berfirman:
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Alloh Robb kalian yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kalian dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Yunus [10]:32)

Kemurnian dan kesesatan, keduanya menuju kepada arah yang bertolak belakang.
Alloh  berfirman:
“Alloh wali (Pelindung) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, wali-walinya (pelindung-pelindungnya) ialah thoghut (setan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 257]

Para nabi adalah pelopor kemurnian, bahkan identik dengan kemurnian. Alloh  mengutus para Nabi-Nya setiap kali manusia terjatuh dalam keterpurukan total untuk membangkitkan umat manusia dari keter-purukannya, mengembalikan kegelapan kepada cahaya. Begitu juga para da’i (ahli waris) nabi yang berjalan di atas syari’at kenabian. Demikianlah bendera kemurnian terus berkibar tanpa henti, susul-menyusul, walaupun di suatu masa tertentu meredup karena kegelapan begitu hebat menutup dunia yang keluar dari rel kenabian.

Ibnu Taimiyah  berkata:
“Barangsiapa keluar dari kenabian, maka pasti akan terjatuh dalam kesyirikan dan yang lainnya… Tidaklah kesyirikan itu suatu yang asli pada anak keturunan Adam . Bahkan Adam  dan orang-orang yang berjalan di atas agamanya dari keturunannya adalah berada di atas tauhidullah karena kepengikutan mereka kepada nubuwwah, sebagaimana firman Alloh : “Dan tidaklah manusia dahulunya melainkan umat yang satu, lalu mereka menyimpang (berikhtilaf)…” Ibnu Abbas  berkata: “Antara Adam  dan Nuh  adalah sepuluh generasi, semuanya di atas Islam. Dikarenakan mereka tidak berittiba’ kepada syari’at para nabi, maka mereka jatuh dalam kesyirikan.” (Majmu’ al-Fatawa juz 20 hal. 106, lihat: Ahlus Sunnah wal Jama’ah Ma’alim Intilaq al Kubra hal. 25)

Dan dari Qatadah , ia berkata:
“Mereka semuanya di atas petunjuk, lalu menyimpang, maka Alloh  mengutus para nabi-Nya dan Nuh  adalah nabi pertama yang diutus Alloh . Begitulah perkataan Mujahid sebagaimana Ibnu Abbas  pun berkata seperti itu… karena manusia dahulunya berada di atas agama Adam  hingga mereka menyembah kepada patung. Lalu Alloh   mengutus Nuh  kepada mereka, Dialah rosul pertama untuk penduduk bumi.” (Tafsir Ibnu Katsir juz I hal. 250, lihat: Ahlus Sunnah wal Jama’ah Ma’alim Intilaq al Kubra hal. 21).

Pergulatan Nuh  dalam mendakwahkan kemurnian mengembalikan umatnya yang telah terjatuh dalam keterpurukan total berlangsung selama 950 tahun, namun tidak ada yang mau menerimanya kecuali sedikit saja. Konfrontasi antara kemurnian dan kesesatan berjalan dalam episode dakwah yang melelahkan. Hal ini secara khusus diabadikan dalam al-Qur’an Surat Nuh yang berakhir dengan turunnya adzab Alloh  kepada orang-orang yang tidak mau kembali kepada agama bapaknya, Adam , sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang beriman.
Demikianlah gelombang diutusnya para nabi dan rosul susul-menyusul setiap kali manusia telah sampai kepada keterpurukan total. Ini merupa-kan Rahmat Alloh  kepada hamba-Nya, bahwa Alloh tidak akan mengadzab seseorang pun kecuali setelah tegak hujjah kepadanya.
Firman Alloh :
“…Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang rosul.” (QS. Al-Isra [17]: 15)

“(Mereka Kami utus) selaku rosul-rosul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Alloh sesudah diutusnya rosul-rosul itu. Dan adalah Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa [4]: 165)

Konfrontasi berjalan terus sejak Adam  hingga diutusnya nabi terakhir Muhammad  untuk seluruh manusia dan jin hingga hari kiamat. Konfrontasi tersebut bahkan sampai kepada pertempuran fisik yang hebat antara pendukung kemurnian dan kesesatan, antara cahaya dan kegelapan.
Alloh  berfirman:
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa [4]:76)

Firman Alloh :
“Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang pada bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Alloh, kafir kepada Alloh, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Alloh. Dan berbuat kesyirikan lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Baqoroh (2):217]

Pergesekan sengit pun terjadi di kalangan umat yang mengijabahi dakwah Nabi Muhammad  antara pembawa panji kemurnian dan panji kepalsuan, antara pengusung golongan selamat dan golongan sesat. Hal ini sudah menjadi sunnatulloh (ketentuan Alloh) yang tidak dapat dihindari. Bahkan pergesekan sengit telah menumpahkan darah sejak meninggalnya Nabi Muhammad  di sepertiga abad pertama Hijriyah.
Golongan-golongan yang sesat atau kelompok-kelompok sesat telah meninggalkan sebagian prinsip kemurnian Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan membawa keyakinan-keyakinan kufur, walaupun keyakinan kufurnya belum sampai melemparkan dirinya ke dalam kekafiran, namun keyakinan tersebut telah membawa pada permusuhan yang tidak dapat ditolak. Oleh karena itu, perjuangan mengusung bendera kemurnian akan mendapatkan permusuhan ganda, yaitu permusuhan total dengan orang-orang kafir dan permusuhan nisbi dengan orang-orang yang melumuri kemurnian dengan kepalsuan. Sebab, seorang yang beriman di satu sisi harus berwala’ (loyal) dengan keimanan yang dimiliki oleh seseorang dan di sisi lain harus bara’ (berlepas diri) dengan kemaksiatannya dan kepalsuannya.

  • Dakwah Kemurnian 
I. Setiap nabi dan rosul mendakwahkan kemurnian

Semua nabi dan rosul diturunkan dengan misi kebangkitan untuk meraih kemurnian, dengan tujuan mengembalikan umat manusia dari penyim-pangannya, yaitu mengembalikan penyimpangan peribadatan kepada selain Alloh  kepada peribadatan hanya kepada Alloh   saja. Ter-kandung juga di dalamnya pengembalian peran kekhilafahan yang semestinya, sebagaimana amanat yang telah diterima manusia.
Alloh  berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Ibadahilah Alloh (saja), dan jauhilah Thogut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rosul-rosul). (QS. An-Nahl [16]:36)

Prof. DR.  Nashir bin Abdul Karim al ‘Aql memberikan penjelasan dalam Kitabnya tentang ayat di atas, dia berkata: “Risalah para rosul semua tegak di atas dua kaidah agung dan pokok yang besar, yaitu: ‘Ibadahilah Alloh saja’ dan ‘Jauhilah Thogut’ (sebagaimana firman Alloh dalam QS. 16:36). Maka semua dakwah yang tidak menancapkan tujuan akhir dan manhajnya atas dua pokok ini adalah dakwah yang menyelisihi manhaj para rosul dan tidak sempurna (cacat), sertan tidak akan ada buah yang diharapkan.
Kaidah ‘Ibadahilah Alloh saja’ adalah: Realisasi tauhid dan aqidah yang lurus, ketaatan kepada Alloh  serta ittiba’ (mengikuti) syariat-Nya, sedangkan kaidah ‘Jauhilah Thogut’ adalah: Menjauhi hawa nafsu, perpecahan, bid’ah dan apa saja yang membawa kepada kesyirikan, kekufuran, kedzoliman, kefasikan dan berpalingnya dari Agama Alloh.
Semua kandungan agama secara global dan rinci berkisar atas dua pokok ini. Oleh karena itu dakwah kepada Alloh  mengandung dua tujuan akhir yang tidak akan benar kecuali dengan dua rukun asasi, yaitu: Pertama: Penancapan agama, aqidah dan syariah. Serta pembelajaran, pengajaran, penyebaran dan pengamalan. Kedua: Penjagaan agama, aqidah, dan syari’ah. Serta pembelaan dan penjelasan semua yang menyelisihinya. (Dirasat fil Ahwa wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifis Salaf minha, juz I hal. 5-6)


II. Kemurnian tauhid adalah ruh yang menggerakkan segalanya.

Kemurnian tauhid adalah landasan segalanya, jika baik maka baiklah seluruhnya dan jika cacat maka cacatlah seluruhnya. Tauhid adalah yang pertama dan yang terakhir. Nabi Muhammad  pun memulai dakwahnya bukan dengan dakwah akhlak, padahal beliau telah mendapatkan gelar al-Amin, sehingga mungkin dengan dakwah akhlak manusia akan langsung berbondong-bondong masuk Islam. Namun itu tidak dilakukannya, akan tetapi beliau memilih jalan dakwah tauhid, karena dengan dakwah tauhid itulah justru permusuhan dimulai. Inilah pilihannya, inilah landasan agung untuk semua kesuksesan.
Pencanangan kemurnian adalah sebuah kemutlakan, bahwa seluruh nabi diutus untuk meluruskan penyimpangan, membawa manusia dari asfala safilin (kedudukan yang serendah-rendahnya) menuju ahsani taqwim (kedudukan yang paling baik). Jaminan kemenangan akhirat dalam hadist iftiraq (perpecahan umat) dan thaifah manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) dalam kemenangan dunia sangatlah jelas, yaitu saat mereka di atas kebenaran, di atas kemurnian, bukan kepalsuan.


III. Terpalingkan dari kemurnian pasti akan sesat

Kemurnian adalah suatu kemutlakan untuk mendapatkan jaminan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Sebab tidak ada setelah al haq (yang benar-benar hak dari Alloh tanpa kepalsuan) kecuali kesesatan. Ketika kemurnian dilalaikan atau dikesampingkan maka segera akan diisi dengan arus kesesatan. Bahkan setiap orang harus tetap terus terjaga dari ancaman para penyesat terutama Iblis, dia adalah imam kesesatan. Apalagi telah berhasil menggelincirkan bapak manusia Adam , firman Alloh :
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu teman sekutu (kawan) bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf [7]:27)

Betapa bahayanya makhluk (Iblis atau setan) ini, sehingga Alloh  meng-ajarkan doa dengan lafazh-lafazh langsung dari-Nya untuk berlindung dari tipu dayanya, sebagaimana firman Alloh :
“Dan katakanlah: “Wahai Robb, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu wahai Robbku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al-Mu’minun [23]:97-98)

Lafazh-lafazh doa khusus ini harus diamalkan setiap saat agar terlepas dari tipu daya mereka. Ketika kemurnian terabaikan atau kurang mendapat perhatian pasti akan terjatuh dalam lubang-lubang kesesatan..!!

IV. Dakwah yang tidak mencanangkan dan mengusung kemurnian adalah dakwah sesat.

Dakwah ilalloh adalah tugas kenabian. Setiap kali dakwah keluar dari jalur kenabian, maka akan tercampakkan dalam kesyirikan atau yang lainnya. Kemurnian tidak bisa dipisahkan dari kenabian, bahkan diturunkannya para nabi adalah karena penyimpangan umat manusia dari rel sirotul-mustaqim, rel kemurnian. Oleh karena itu, semua dakwah yang tidak mengusung dan mencanangkan kemurnian adalah dakwah yang sesat…!!
Realita telah membuktikan, berapa banyak duat (para dai) atau organisasi yang telah mendukung munculnya kepalsuan. Berapa banyak para pendukung revolusi Iran dan para pemimpin agama Syi’ah yang mengusung kekufuran dan kesyirikan. Berapa banyak aliran-aliran sesat atau guru-guru kesesatan didukung atau dibiarkan berkembang, bahkan dipuja.
Tidak kalah juga, partai-partai Islam yang mau berjuang untuk kejayaan Islam, bahkan pejuang-pejuang yang membawa nama jihad telah menanggalkan kemurnian demi semata-mata mencapai tampuk kekuasaan. Ini tidak lain karena kemurnian tidak dipancangkan dengan kuat sehingga terkalahkan oleh strategi-strategi praktis atau yang lainnya.

V. Penggalian, penjagaan dan penyebaran kemurnian adalah jihad yang besar

Walaupun perpecahan dan penyimpangan terjadi di seantero dunia, namun bendera sunnah akan tetap terus berkibar di setiap zaman dan tempat. Ini adalah merupakan janji Alloh untuk memelihara Agama-Nya. Lalu bermunculanlah para tokoh penegak Agama Alloh.
Alloh  berfirman:
“Di antara orang-orang mu'min itu ada para pejuang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Alloh; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab [33]:23)

Di mulai dari para sahabat  yang telah melaksanakan amanat ini dengan sebaik-baiknya, lalu disusul dengan generasi selanjutnya, yaitu para tabi’in yang telah menerima secara estafet agama dari para sahabat yang telah melaksanakan amanat dengan sebaik-baiknya. Dan seterusnya, generasi demi generasi bendera sunnah dipikul oleh para pendekarnya hingga hari kiamat.

Rosululloh  bersabda:  
“Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan di atas kebenaran, tidak akan memudorotkan mereka orang yang menelantarkan (tidak menolong) mereka hingga hari Kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu.”  (HR. Muslim) 

Janji kemenangan dalam hadits ini adalah kemenangan dengan hujjah selama-lamanya dan kemenangan dengan pedang pada saat-saat tertentu. Kemenangan dengan hujjah adalah kemenangan yang sangat besar. Inilah lambang keterpeliharaan agama yang dijanjikan oleh Alloh . Ini adalah jihad yang besar. Dengan hujjah-hujjah para pendekar sunnah yang tertulis dan terbukukan dengan rapi. Itulah kehebatan Agama-Nya yang dapat dirasakan oleh setiap generasi. Keharuman hujjah-hujjah mereka yang tertulis dalam kitab-kitab warisan dapat lebih dirasakan dan sangat bermanfaat hingga hari kiamat dibandingkan perang yang mereka lakukan yang kita tidak bisa ikut larut dalam suka-dukanya.
Penjagaan Alloh  terhadap agama ini bukan hanya penjagaan lafazhnya saja, tetapi termasuk penjagaan maknanya. Oleh karena itu, penjagaan kitab-kitab warisan sangat penting. Bentuk penjagaannya adalah mempelajari, menggali dan mentransfer kepada umat masa kini dan masa yang akan datang.


VI. Musuh-musuh akan serempak menghadang kemurnian

Konfrontasi dengan Iblis dan bala tentaranya tidak akan pernah berhenti dan surut. Sejak seseorang menyuarakan kemurnian, maka sejak saat itu pula musuh akan muncul untuk menghadangnya. Sebesar kemurnian yang dipikul, sebesar itu pula bobot permusuhannya. Oleh karena itu, para pengusung kemurnian tidak akan pernah tenang dan lengah terhadap musuh-musuhnya yang senantiasa mengintai. Baik musuh-musuh yang terlihat maupun yang tidak terlihat dari bangsa manusia dan jin.
Konfrontasi dari zaman ke zaman memiliki pola yang berbeda-beda. Konspirasi yang mengubur cahaya Alloh  semakin rumit, bahkan jenis perang pun sangat berbeda. Ini adalah bentuk ujian yang Alloh  berikan kepada hamba-Nya untuk masing-masing meraih derajatnya di surga kelak dan kedekatannya dengan Alloh . Maka ketika manusia tidak menyadari hal ini, dia akan tergelincir dalam tipu daya Iblis dan bala tentaranya serta akan terkalahkan dalam medan laga yang setiap saat mengancam kemurnian.

Facebook : URGENSI DA'WAH KEMURNIAN 

ARSIP HASMI SOLO