Selasa, 27 Maret 2012

.:: THALHAH BIN ‘UBAIDILLAH “Syahid yang masih hidup”.

Tholhah bin ‘Ubaidillah adalah orang keempat yang masuk Islam melalui anak pamannya, Abu Bakar ash-Shiddiq . Dan termasuk dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Tholhah adalah seorang lelaki yang gagah berani, tidak takut menghadapi kesulitan, kesakitan dan segala macam ujian lainnya. Beliau dikenal sebagai sosok yang teguh dalam mempertahankan pendirian sejak jaman jahiliyah.
Suatu ketika di perang Uhud, barisan kaum muslimin berantakan meninggalkan Rosululloh . Tak tersisa di sekeliling beliau kecuali 11 orang Anshor dan Tholhah bin ‘Ubaidillah dari Muhajirin. Rosululloh naik ke arah gunung bersama pengawal-pengawalnya yang kala itu dikejar oleh sekelompok musyrikin yang ingin membunuh Beliau . Beliau berkata, "Siapa yang berani melawan mereka dia akan menjadi temanku kelak di surga." Spontan Tholhah angkat suara, "Saya, wahai Rosululloh." "Tidak! Jangan engkau! Engkau harus tetap di tempatmu," jawab Rosululloh. Lalu seorang Anshor mengajukan diri, "Aku, wahai Rosululloh." "Ya, majulah," kata Rosululloh . Sahabat Anshor tersebut berusaha menahan gerak maju kelompok musyrikin, sementara Rosululloh terus naik. Pertempuran yang tidak seimbang itu telah mengantarkannya menemui kesyahidan. Demikian seterusnya, setiap kali Rosululloh meminta para sahabat untuk melawan orang-orang kafir itu, selalu Tholhah mengajukan pertama kali. Tetapi, senantiasa ditahan Rosululloh dan diperintahkan tetap di tempat sampai sebelas prajurit Anshor itu gugur menemui syahid dan tinggal Tholhah sendiri bersama Rosululloh . Karena musyrikin terus mengejar, maka Rosululloh berkata, "Sekarang engkau, wahai Tholhah". Saat itu gigi taring Rosululloh telah patah, bibir dan dahinya sobek, sedangkan darah mengucur dari muka beliau yang mulia. Beliau merasa kelelahan, maka Tholhah harus berjuang mati-matian. Dia lawan siapa saja yang mendekat sambil memapah Rosululloh dan bergerak mendaki. Di tempat yang dirasa aman, dibaringkannya Rosululloh di tanah, kemudian dia sendiri kembali menghadapi musuh-musuh yang datang. Begitu terus sampai dapat menewaskan beberapa musyrikin dan musuh menjauh.

Abu Bakar mengisahkan, “Pada waktu itu aku dan Abu ‘Ubaidah al-Jarroh jauh dari Rosululloh . Kami segera mendekat untuk merawat, tetapi beliau menolak. Kata beliau, “Tinggalkan aku. Tolonglah kawan kalian itu”, sambil memberi isyarat ke arah Tholhah”. Keduanya bergegas mencari Tholhah. Ketika ditemukan, Tholhah dalam keadaan pingsan. Badannya berlumur darah segar. Tak kurang tujuh puluh sembilan luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing, dan lemparan anak panah memenuhi tubuhnya. Pergelangan tangannya putus sebelah, dia terjatuh ke dalam sebuah lubang dan tak sadarkan diri. Mereka mengira Tholhah telah gugur. Ternyata masih hidup. Karena itulah dia diberi gelar “Asy-Syahidul Hayy”, atau syahid yang masih hidup. Gelar itu diberikan Rosululloh melalui sabdanya: “Siapa yang ingin melihat orang yang berjalan di muka bumi padahal seharusnya dia sudah meninggal, lihatlah Tholhah putra ‘Ubaidillah”. Sejak saat itu, jika ada orang membicarakan perang Uhud di hadapan Abu Bakar, Abu Bakar selalu menyahut, “Perang hari itu adalah peperangan milik Tholhah sepenuhnya”. 
Tholhah wafat pada tahun 36 Hijriyah di usianya ke-60 tahun pada masa kekholifahan Ali bin Abi Thalib , dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Bashro.
Selamat jalan wahai pejuang sejati. Sebuah tinta emas telah engkau torehkan. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu meneladani sifat dan perjuanganmu.

ARSIP HASMI SOLO