1. Penolakan Mereka terhadap Hadits-Hadits Riwayat Ahlus Sunnah.
Al-Qur'an tidaklah berdiri sendiri. Ia tidak dapat dipahami dengan benar kecuali dengan bantuan hadits-hadits Rosululloh . Oleh karena itu, hadits adalah sumber kedua dalam Islam dan berfungsi sebagai penjelas terhadap al-Qur'an. Siapa yang hanya mencukupkan diri dengan al-Qur'an dan tidak merujuk kepada hadits, maka tidak diragukan lagi ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Para ulama telah bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan hadits-hadits Rosululloh tersebut dan membukukannya. Dengan itulah Alloh menjaga Sunnah Rosul-Nya sebagaimana Dia telah menjaga al-Qur‟an yang mulia. Kedua-duanya dijaga oleh Alloh agar agama-Nya tetap sempurna dan hujjah-Nya tetap tegak. Tetapi Syi‟ah tidak mengakui dan tidak menerima Shohih Bukhori, Shohih Muslim, dan kitab-kitab Sunan yang lainnya karena para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits di dalam kitab-kitab tersebut tidak mereka percayai bahkan mereka kafirkan.
Al-Qur'an tidaklah berdiri sendiri. Ia tidak dapat dipahami dengan benar kecuali dengan bantuan hadits-hadits Rosululloh . Oleh karena itu, hadits adalah sumber kedua dalam Islam dan berfungsi sebagai penjelas terhadap al-Qur'an. Siapa yang hanya mencukupkan diri dengan al-Qur'an dan tidak merujuk kepada hadits, maka tidak diragukan lagi ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Para ulama telah bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan hadits-hadits Rosululloh tersebut dan membukukannya. Dengan itulah Alloh menjaga Sunnah Rosul-Nya sebagaimana Dia telah menjaga al-Qur‟an yang mulia. Kedua-duanya dijaga oleh Alloh agar agama-Nya tetap sempurna dan hujjah-Nya tetap tegak. Tetapi Syi‟ah tidak mengakui dan tidak menerima Shohih Bukhori, Shohih Muslim, dan kitab-kitab Sunan yang lainnya karena para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits di dalam kitab-kitab tersebut tidak mereka percayai bahkan mereka kafirkan.
2. Hadits-Hadits mereka Tidak Dapat Diterima dan Penuh Kedustaan.
Syi‟ah tidak bersandar kepada hadits-hadits Nabi kecuali hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Ahlul bait. Mereka menolak setiap hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul bait. Mereka tidak memperhatikan keshohihan sanad, tidak juga kaidah-kaidah ilmiah untuk menyeleksi riwayat. Di kalangan Syi‟ah tidak dikenal ilmu Mustholahul Hadits. Setiap riwayat yang mereka terima, asal dinisbatkan kepada Ahlul bait akan mereka percayai.
a. Tentang tafsir Surah an-Nisa‟ ayat 59 yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur‟an) dan Rosul (sunnahnya) jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59).
Khazzaz (seorang ulama Syi‟ah) dalam Kifayat al-Atsar-nya menaf-sirkan makna ulil amri pada ayat di atas dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Anshori . Ketika ayat tersebut diturunkan Jabir bertanya kepada Nabi , “Kami tahu Alloh dan Nabi namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya telah digabungkan dengan ketaatan kepada Alloh dan dirimu sendiri?” Nabi berkata, “Mereka para kholifahku dan imam bagi kaum muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali kemudian Hasan bin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat. Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya Ja‟far Shodiq, kemudian Musa bin Ja‟far, kemudian Ali bin Musa, kemudian muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan sama dengan julukanku. Dialah bukti Alloh (hujjatulloh) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Alloh (Baqiyyatulloh) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hari orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Alloh.” Jabir bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan kenabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya dan mendapatkan manfaat dari ke-pemimpinannya selama kegaibannya sebagaimana manusia menda-patkan manfaat dari matahari sekalipun ia tersembunyi di balik awan. Wahai Jabir, inilah rahasia Alloh yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Alloh. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya.”
Syi‟ah tidak bersandar kepada hadits-hadits Nabi kecuali hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Ahlul bait. Mereka menolak setiap hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul bait. Mereka tidak memperhatikan keshohihan sanad, tidak juga kaidah-kaidah ilmiah untuk menyeleksi riwayat. Di kalangan Syi‟ah tidak dikenal ilmu Mustholahul Hadits. Setiap riwayat yang mereka terima, asal dinisbatkan kepada Ahlul bait akan mereka percayai.
a. Tentang tafsir Surah an-Nisa‟ ayat 59 yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur‟an) dan Rosul (sunnahnya) jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59).
Khazzaz (seorang ulama Syi‟ah) dalam Kifayat al-Atsar-nya menaf-sirkan makna ulil amri pada ayat di atas dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Anshori . Ketika ayat tersebut diturunkan Jabir bertanya kepada Nabi , “Kami tahu Alloh dan Nabi namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya telah digabungkan dengan ketaatan kepada Alloh dan dirimu sendiri?” Nabi berkata, “Mereka para kholifahku dan imam bagi kaum muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali kemudian Hasan bin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat. Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya Ja‟far Shodiq, kemudian Musa bin Ja‟far, kemudian Ali bin Musa, kemudian muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan sama dengan julukanku. Dialah bukti Alloh (hujjatulloh) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Alloh (Baqiyyatulloh) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hari orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Alloh.” Jabir bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan kenabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya dan mendapatkan manfaat dari ke-pemimpinannya selama kegaibannya sebagaimana manusia menda-patkan manfaat dari matahari sekalipun ia tersembunyi di balik awan. Wahai Jabir, inilah rahasia Alloh yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Alloh. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya.”
b. Al-Kisysyi meriwayatkan dari Hamzah bin Muhammad ath-Thoyyar dia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Bakar (yakni putera Abu Bakar ash-Shiddiq ) bahwa dia berkata di hadapan Abu Abdillah „alaihis salam, pada suatu hari Muhammad bin Abu Bakar berkata kepada Amirul Mukminin Ali „alaihis salam, “Ulurkan tanganmu, aku akan berbai‟at kepadamu.”
Amirul Mukminin berkata, “Engkau akan melakukannya?”
Muhammad bin Abu Bakar menjawab, “Tentu!” Lalu ia membai‟at Ali seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa engkaulah Imam yang seharusnya ditaati, dan bahwa ayahku (yakni Abu Bakar ash-Shiddiq) berada dalam neraka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 61).
Amirul Mukminin berkata, “Engkau akan melakukannya?”
Muhammad bin Abu Bakar menjawab, “Tentu!” Lalu ia membai‟at Ali seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa engkaulah Imam yang seharusnya ditaati, dan bahwa ayahku (yakni Abu Bakar ash-Shiddiq) berada dalam neraka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 61).
3. Hukum Orang yang Menentang Hadits Shohih.
Siapa saja yang menolak atau menentang hadits Rosululloh setelah jelas baginya bahwa hadits itu shahih maka ia terancam dengan firman Alloh berikut: “Dan Barangsiapa yang menentang Rosululloh sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115) Berpaling dari hadits-hadits Rosululloh dan tidak mau menerimanya adalah suatu kemunafikan yang membatalkan klaim keimanan seseorang. Ibnul Qoyyim berkata dalam ash-Shawa’iq al-Mursalah tentang ayat di atas, “Alloh menegaskan bahwa berpaling dari apa yang dibawa oleh Rosul dan beralih kepada selainnya adalah hakikat kemunafikan. Sebaliknya menjadikan beliau sebagai hakim lalu menerima setiap keputusannya tanpa ada ganjalan di dada serta pasrah total dan ridha dengannya adalah hakikat keimanan. Sedangkan berpaling dari hal itu adalah hakikat kemunafikan.”
Siapa saja yang menolak atau menentang hadits Rosululloh setelah jelas baginya bahwa hadits itu shahih maka ia terancam dengan firman Alloh berikut: “Dan Barangsiapa yang menentang Rosululloh sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115) Berpaling dari hadits-hadits Rosululloh dan tidak mau menerimanya adalah suatu kemunafikan yang membatalkan klaim keimanan seseorang. Ibnul Qoyyim berkata dalam ash-Shawa’iq al-Mursalah tentang ayat di atas, “Alloh menegaskan bahwa berpaling dari apa yang dibawa oleh Rosul dan beralih kepada selainnya adalah hakikat kemunafikan. Sebaliknya menjadikan beliau sebagai hakim lalu menerima setiap keputusannya tanpa ada ganjalan di dada serta pasrah total dan ridha dengannya adalah hakikat keimanan. Sedangkan berpaling dari hal itu adalah hakikat kemunafikan.”
____________________________________________
Kekufuran Syi'ah; Bab. VI; Silsilah Tarbiyyah HASMI