Senin, 09 Januari 2012

.:: Manipulasi Syi’ah Terhadap Sejarah dan Kedustaan Mereka.

1. Penolakan Mereka terhadap Hadits-Hadits Riwayat Ahlus Sunnah.
Al-Qur'an tidaklah berdiri sendiri. Ia tidak dapat dipahami dengan benar kecuali dengan bantuan hadits-hadits Rosululloh . Oleh karena itu, hadits adalah sumber kedua dalam Islam dan berfungsi sebagai penjelas terhadap al-Qur'an. Siapa yang hanya mencukupkan diri dengan al-Qur'an dan tidak merujuk kepada hadits, maka tidak diragukan lagi ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Para ulama telah bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan hadits-hadits Rosululloh tersebut dan membukukannya. Dengan itulah Alloh menjaga Sunnah Rosul-Nya sebagaimana Dia telah menjaga al-Qur‟an yang mulia. Kedua-duanya dijaga oleh Alloh agar agama-Nya tetap sempurna dan hujjah-Nya tetap tegak. Tetapi Syi‟ah tidak mengakui dan tidak menerima Shohih Bukhori, Shohih Muslim, dan kitab-kitab Sunan yang lainnya karena para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits di dalam kitab-kitab tersebut tidak mereka percayai bahkan mereka kafirkan.

2. Hadits-Hadits mereka Tidak Dapat Diterima dan Penuh Kedustaan.
Syi‟ah tidak bersandar kepada hadits-hadits Nabi kecuali hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Ahlul bait. Mereka menolak setiap hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul bait. Mereka tidak memperhatikan keshohihan sanad, tidak juga kaidah-kaidah ilmiah untuk menyeleksi riwayat. Di kalangan Syi‟ah tidak dikenal ilmu Mustholahul Hadits. Setiap riwayat yang mereka terima, asal dinisbatkan kepada Ahlul bait akan mereka percayai.

a. Tentang tafsir Surah an-Nisa‟ ayat 59 yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur‟an) dan Rosul (sunnahnya) jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59).
Khazzaz (seorang ulama Syi‟ah) dalam Kifayat al-Atsar-nya menaf-sirkan makna ulil amri pada ayat di atas dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Anshori . Ketika ayat tersebut diturunkan Jabir bertanya kepada Nabi , “Kami tahu Alloh dan Nabi namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya telah digabungkan dengan ketaatan kepada Alloh dan dirimu sendiri?” Nabi berkata, “Mereka para kholifahku dan imam bagi kaum muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali kemudian Hasan bin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat. Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya Ja‟far Shodiq, kemudian Musa bin Ja‟far, kemudian Ali bin Musa, kemudian muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan sama dengan julukanku. Dialah bukti Alloh (hujjatulloh) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Alloh (Baqiyyatulloh) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hari orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Alloh.” Jabir bertanya, “Wahai Rosululloh, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan kenabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya dan mendapatkan manfaat dari ke-pemimpinannya selama kegaibannya sebagaimana manusia menda-patkan manfaat dari matahari sekalipun ia tersembunyi di balik awan. Wahai Jabir, inilah rahasia Alloh yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Alloh. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya.”
b. Al-Kisysyi meriwayatkan dari Hamzah bin Muhammad ath-Thoyyar dia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Bakar (yakni putera Abu Bakar ash-Shiddiq ) bahwa dia berkata di hadapan Abu Abdillah „alaihis salam, pada suatu hari Muhammad bin Abu Bakar berkata kepada Amirul Mukminin Ali „alaihis salam, “Ulurkan tanganmu, aku akan berbai‟at kepadamu.”
Amirul Mukminin berkata, “Engkau akan melakukannya?”
Muhammad bin Abu Bakar menjawab, “Tentu!” Lalu ia membai‟at Ali seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa engkaulah Imam yang seharusnya ditaati, dan bahwa ayahku (yakni Abu Bakar ash-Shiddiq) berada dalam neraka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 61).

3. Hukum Orang yang Menentang Hadits Shohih.
Siapa saja yang menolak atau menentang hadits Rosululloh setelah jelas baginya bahwa hadits itu shahih maka ia terancam dengan firman Alloh berikut: “Dan Barangsiapa yang menentang Rosululloh sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115) Berpaling dari hadits-hadits Rosululloh dan tidak mau menerimanya adalah suatu kemunafikan yang membatalkan klaim keimanan seseorang. Ibnul Qoyyim berkata dalam ash-Shawa’iq al-Mursalah tentang ayat di atas, “Alloh menegaskan bahwa berpaling dari apa yang dibawa oleh Rosul dan beralih kepada selainnya adalah hakikat kemunafikan. Sebaliknya menjadikan beliau sebagai hakim lalu menerima setiap keputusannya tanpa ada ganjalan di dada serta pasrah total dan ridha dengannya adalah hakikat keimanan. Sedangkan berpaling dari hal itu adalah hakikat kemunafikan.”

____________________________________________
Kekufuran Syi'ah; Bab. VI; Silsilah Tarbiyyah HASMI

.:: Penipuan dan Kebiadaban Syi’ah serta Solusi Terhindar dari Bahayanya.

A. Trik-Trik Syi’ah dalam Berdakwah. 
Peperangan abadi antara kebenaran dan kebatilan tak akan pernah padam hingga hari kiamat. Pengibar panji-panji Islam senantiasa eksis pada setiap masa dan zaman, begitu pula dengan pengibar bendera kebatilan. Mereka berjuang siang dan malam untuk menyebarkan dan menularkan virus kebatilannya ke berbagai objek dakwah dengan trik-trik khusus. Demikian halnya dengan sekte sesat Syi‟ah, salah satu barisan pengibar bendera kebatilan dan kesesatan yang gigih mempublikasikan produk agama mereka ke berbagai lapisan masyarakat. Marilah kita perhatikan trik-trik dakwah Syi‟ah, agar kita memahami dan mengetahui jerat tipu daya mereka. Di antara trik-trik dakwah mereka yang populer adalah:
1. Mengkritisi Para Sahabat, lalu Mengkafirkan Mereka. 
Syi‟ah berani melaknat kepada dua sahabat mulia, Abu Bakar dan Umar . Mereka senantiasa melantunkan wirid dan do‟a yang mereka kumandangkan:
“Ya, Alloh. Selamat dan sejahterakanlah Muhammad dan seluruh keluarga Muhammad. Dan laknatlah kedua berhala Quraisy, kedua Jibt, dan kedua Thoghut serta kedua anak perempuan mereka.” Sikap mereka yang demikian, tidak lain hanyalah ingin menunjukkan kepada kaum Muslimin agar tidak mengikuti metodologi para sahabat dalam beragama. Akan tetapi yang dijadikan panutan dan teladan dalam beragama adalah para Imam Syi‟ah yang mereka anggap maksum dari berbagai kesalahan dan kekeliruan.

2. Meragukan Keotentikan al-Qur’an Melalui Sejarah atau Hadits Palsu.Syi‟ah mengklasifikasikan para sahabat Rosululloh demikian rendah-nya sampai pada tingkatan paling keji, padahal Para Sahabat adalah para penulis, penghafal, dan perawi al-Qur‟an, maka dari itu Syi‟ah pun meragukan keotentikan al-Qur‟an yang bersumber dari kalangan para sahabat.

3. Memasukkan Madzhab Syi’ah Menjadi Madzhab Kelima. 
Kaum Muslimin semenjak zaman dahulu hingga sekarang mengakui adanya empat madzhab dalam agama Islam. Mereka adalah Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi‟i dan Hambali. Namun, Syi‟ah mencoba memasukkan madzhab mereka ke dalam tubuh umat Islam. Dengan berbagai tipu daya dan muslihat, mereka mencoba mengetengahkan ajaran-ajaran Syi‟ah di komunitas kaum Muslimin. Mereka membuat opini bahwa perbedaan yang terjadi antara Syi‟ah dan kaum Muslimin hanya terjadi pada masalah ruang lingkup hukum Islam yang bersifat furu‟iyah dan ijtihadiyah, sebagaimana perbedaan yang terjadi di antara imam empat madzhab.

4. Propaganda Pendekatan Syi’ah Sunni. 
Dakwah Syi‟ah memiliki berbagai trik-trik dalam rangka menyebarkan risalah sesat dan kekufuran. Salah satu trik mereka secara halus dan sangat tersembunyi adalah propaganda pendekatan (taqrib) Syi‟ah Sunni. Banyak kaum Muslimin yang tertipu dan terpedaya dengan trik ini. Hingga sebagian mereka menganggap bahwa Syi‟ah merupakan bagian dari Islam. Secara singkat tujuan hakiki propaganda taqrib sebagai berikut:
1. Propaganda taqrib bagi misi Syi‟ahisasi adalah agar kaum Muslimin mengambil aqidah mereka dan memburu umat Islam supaya masuk dalam ikatan aliran kebatinan, lalu memurtadkan mereka secara keseluruhan dari Islam yang murni dan memusnahkan Islam dari pemeluknya.
2. Syi‟ah berupaya keras mengincar sebagian ulama Ahlus Sunnah agar mau mengadakan studi perbandingan dengan mereka. Hal ini dilakukan sebagai kendaraan dalam menyebarkan agama Syi‟ah dan sebagai argumentasi Syi‟ah di hadapan orang-orang awam di kalangan Ahlus Sunnah. Sehingga merekapun akan di-kategorikan sebagai Ahlussunnah menurut presepsi kaum Muslimin.
3. Meminimalisasi kalangan Ahlus Sunnah agar tidak membuat citra buruk terhadap ajaran agama Syi‟ah.
5. Menghidupkan Kawin Kontrak.
Mereka membuat hadits-hadits palsu seputar hukum mut‟ah, keutamaan bagi siapa saja yang bermut‟ah dan ancaman bagi orang yang melarang dan meninggalkan mut‟ah. Bahkan mereka sering mempopulerkan pernyataan mereka, bahwa mut‟ah adalah sarana paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Perhatikan beberapa hadits palsu sebagai berikut:
“Barangsiapa yang keluar dari dunia ini (wafat) dan ia belum melakukan mut‟ah niscaya ia akan datang pada hari kiamat dengan hidung yang terpotong.”
“Barangsiapa yang mut‟ah satu kali saja derajatnya seperti derajat Husain. Dan barangsiapa yang mut‟ah sampai dua kali derajatnya seperti derajat Hasan. Dan barangsiapa yang mut‟ah sampai tiga kali derajatnya seperti derajat Ali bin Abi Tholib. Dan barangsiapa yang mut‟ah sampai empat kali, niscaya derajatnya seperti derajatku.”

B. Bukti-Bukti Kekejaman Syi’ah terhadap Kaum Muslimin.
1. Menghalalkan Darah Ahlus Sunnah.
Syaikh Muhammad bin Ali bin Bawabih al-Qummi, seorang penganut Syi‟ah, meriwayatkan dalam kitabnya Ilal as-Syara‟i dari Daud bin Farqud berkata, “Aku berkata kepada Abi Abdillah Alaihissalam, "Apa pendapat Anda mengenai hukum membunuh kaum an-Nashib (Ahlus Sunnah)?" Beliau menjawab, “Darah kaum Sunni itu halal, akan tetapi saya mengingatkan Anda, jika Anda mampu untuk memendamnya di bawah dinding, atau menenggelamkannya di dalam air agar mereka tidak menyaksikan hal tersebut, maka lakukanlah!” Kemudian aku bertanya kembali mengenai hukum harta orang Ahlus Sunnah? Ia menjawab, “Binasakanlah semampu Anda.” Para ahli fiqih mereka mengatakan, “Apabila Anda mendapat kesempatan untuk bekerjasama walaupun dengan setan untuk membunuh Ahlus Sunnah, maka lihatlah itu sebagai suatu kesempatan emas dan jangan dilewatkan. Tidak masalah apabila hal itu Anda lakukan walaupun bekerjasama dengan para setan, semisal: setan Tartar, setan kaum salibis, setan Amerika, dan setan Inggris.”
Khumaini berkata, “Kita akan menumpahkan darah para pembangkang (Ahlus Sunnah), kita akan bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan anak-anak perempuan, dan tidak akan ada seorang pun yang akan luput dari siksaan. Harta mereka akan sepenuhnya menjadi hak milik para pengikut Ahlul Bait (Syi‟ah). Kita akan hapuskan Makkah dan Madinah dari muka bumi karena dua kota tersebut menjadi benteng bagi orang-orang Wahabi. Kita wajib menjadikan Karbala sebagai tanah Alloh yang suci dan penuh berkah, sebagai kiblat manusia dalam shalat dan dengan itu semua kita akan mewujudkan impian para imam Alaihis salam."

2. Media Massa di Seluruh Dunia Berbicara Tentang Kekejaman Syi’ah
Surat-surat kabar dunia berbicara tentang kebiadaban yang dilakukan oleh Syi‟ah dan para sekutunya terhadap penduduk Beirut Barat dan perkemahan-perkemahan orang-orang Palestina, di antaranya: Kantor berita Perancis menyebutkan, “Sesudah jatuhnya perkemahan Shabra, kelompok-kelompok Syi‟ah dan Gerakan Amal (organisasi Syi‟ah) menyebar dengan penuh semangat di setiap sepuluh dan dua puluh meter untuk menghalangi para jurnalis dan photografer untuk mengambil gambar apapun.” Surat kabar Sunday Times juga menyebutkan bahwa beberapa orang Palestina dibunuh di rumah sakit-rumah sakit Beirut dan sejumlah jenazah orang-orang Palestina ditemukan dengan kondisi leher-leher mereka telah disembelih.

3. Kerjasama Syi’ah dengan Yahudi adalah Fakta dan Bukan Ilusi.
Abdullah Muhammad al-Ghorib berkata, “Kerja sama Syi‟ah dengan musuh Zionis di selatan Lebanon adalah fakta yang nyata dan bukanlah legenda yang dikarang oleh musuh-musuh Syi‟ah. Semua surat kabar dan kantor berita nasional maupun internasional telah berbicara tentang kerja sama ini dan telah dirasakan oleh kaum Muslimin dan kaum Nasrani di Selatan sebagaimana tangan yang merasakan sesuatu. Dan kedua belah pihak Syi‟ah dan Yahudi juga telah mengakuinya.”

C. Strategi Menyelamatkan Umat dari Tipu Daya Syi’ah Agar umat ini selamat dari bahaya virus kesesatan dan kekafiran Syi‟ah seyogyanya diupayakan secara sungguh-sungguh cara menanggulangi dakwah agama Syi‟ah yang merasuk ke jantung aqidah kaum Muslimin.
Di antara strategi yang dapat dilakukan guna membendung dan menghalangi dakwah sesat mereka adalah sebagai berikut:
1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rosululloh .
Alloh berfirman:
“Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barang-siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thoha [20]:123)

2. Memberikan perhatian besar pada pengajaran aqidah Islam versus aqidah Syi‟ah melalui pengajaran dan pelatihan secara berjenjang serta melalui peran aktif media elektronik dan informasi.

3. Mengutus para da‟i yang bermanhaj aqidah Alus Sunnah wal Jama‟ah untuk meluruskan aqidah umat Islam.

4. Amar Ma‟ruf dan Nahi Mungkar.

Rosululloh bersabda:
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya; dan itu adalah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim)5. Peran aktif kepala rumah tangga dalam mengarahkan keluarga-nya tentang bahaya Syi‟ah.

6. Berjama‟ah.

Ikut serta dalam ikatan Jama‟ah Ahlus Sunnah wal Jama‟ah sangat efektif sekali guna membentengi diri dari pengaruh virus Syi‟ah.

______________________________________________
Kekufuran Syi'ah; Bab. VI; Silsilah Tarbiyyah HASMI

.:: Kesesatan Syi’ah Tentang Imam-Imam Maksum.

Orang-orang Yahudi berusaha memasukkan beberapa aqidah baru ke dalam tubuh umat Islam untuk menghancurkan persatuan dan kesatuan kaum Muslimin. Mereka membangun aliran dan sekte baru dalam Islam melalui anak kesayangannya Abdulloh bin Saba‟. Aliran itu dinamakan dengan Syi‟ah (Rofidhoh). Namun, sebagian kaum Muslimin dewasa ini tak mengetahui aqidah dan ajaran Syi‟ah yang sebenarnya. Mereka menganggap bahwa Syi‟ah adalah bagian dari umat Islam. Bahkan mereka menetapkan bahwa perbedaan Syi‟ah dengan kaum Muslimin seperti halnya perbedaan fikih antar imam empat madzhab. Syi‟ah meyakini dengan keyakinan yang mantap dan tak tersentuh sedikitpun oleh keraguan bahwa dua belas imam mereka maksum (terbebas) dari dosa, baik dosa kecil maupun besar. Dua belas imam tersebut adalah:
1. Ali bin Abi Tholib.
2. Al-Hasan bin Ali.
3. Al-Husain bin Ali.
4. Zainal Abidin Ali bin Al-Husain.
5. Muhammad bin Ali bin Al-Husain Al-Baqir.
6. Ja‟far bin Muhammad Ash-Shodiq.
7. Musa bin Ja‟far Al-Khodim.
8. Ali bin Musa Ar-Ridho.
9. Muhammad bin Ali Al-Jawwad.
10. Ali bin Muhammad Al-Hadi.
11. Al-Hasan bin Ali Al-Askari.
12. Muhammad bin Al-Hasan Al-Mahdi.
Sungguh aqidah dan keyakinan Syi‟ah di atas bertentangan dengan al-Qur‟an maupun as-Sunnah. Ajaran Islam tidak menetapkan kemaksuman bagi selain para Nabi dan Rosul. Oleh karena itu, individu-individu para sahabat tidaklah maksum. Meskipun mereka adalah sebaik-baik umat sepanjang masa dan zaman. Rosululloh bersabda:
“Sebaik-baik umatku adalah generasiku (yakni para sahabat) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (yakni para tabi‟in), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (yakni para tabi‟it tabi‟in).” (HR. Bukhori dan Muslim)
Ajaran Islam menetapkan bahwa kemaksuman hanya terjadi pada Nabi dan Rosul. Mereka terpelihara dari melakukan dosa-dosa besar seperti mencuri, berzina, minum khamer, sihir, menipu, menyembah patung dan lain-lain. Ajaran Islam juga menetapkan sifat kemaksuman bagi Nabi dan Rosul dalam menyampaikan risalah Ilahiyah. Mereka tidak lupa sedikit pun dari wahyu yang diterima dari Alloh . Sebab Alloh menjamin kepada para Rosul-Nya untuk membacakan wahyu agar mereka tidak melupakannya sedikitpun kecuali kalau Alloh menghendaki.
Alloh berfirman:
“Kami akan membacakan (al-Qur‟an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Alloh menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” (QS. al-A’la [87]: 6-7) 
Para Nabi dan Rosul memiliki sifat maksum dari aspek menyampaikan risalah. Oleh karena itu, mereka tidak pernah sedikitpun menyembunyikan segala sesuatu yang Alloh wahyukan kepada mereka. Alloh memerintahkan kepada para nabi dan Rosul agar menyampaikan risalah wahyu yang diturunkan kepada mereka. Alloh berfirman:
“Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.” (QS. al-Haqqoh [69]: 44-46) 
Ibnu Taimiyyah berkata, “Pendapat yang menyatakan bahwa para Nabi tidak maksum dari dosa-dosa kecil merupakan pendapat mayoritas para ulama Islam dan seluruh kaum Islam, hingga inilah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ahli kalam. Abu al-Hasan al-Amidi juga menyata-kan bahwa mayoritas Asy‟ariyyah berpendapat demikian. Pendapat ini juga yang dipegang oleh mayoritas ahli tafsir, hadist, dan fikih. Bahkan tak terdapat satu riwayat pun dari kalangan para imam, shahabat, tabi‟in, dan pengikut tabi‟in kecuali sesuai dengan pendapat ini.” Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh mayoritas ulama sebagai berikut:
Alloh berfirman mengisahkan Nabi Nuh : 
“Nuh berkata: Ya Robbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud [11]: 47) 
Alloh berfirman mengisahkan Nabi Musa :
“Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS. al-A’rof [7]: 155) 
Alloh berfirman mengisahkan tentang Nabi Muhammad :
“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Alloh halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Tahrim [66]: 1) 
Dari ayat-ayat al-Qur‟an di atas, sangat jelas bagi kita tentang kesesatan dan kebatilan aqidah Syi‟ah. Al-Kulaini, seorang ulama Syi‟ah berkata, “Kami orang-orang kepercayaan Alloh di bumi-Nya. Kami mempunyai ilmu tentang musibah, kematian, nasab keturunan Arab, dan kelahiran Islam. Jika kami melihat seseorang, kami tahu apakah ia betul-betul beriman ataukah betul-betul munafik.” Marilah kita perhatikan ayat al-Qur‟an. Alloh berfirman:
“Katakanlah, „Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh‟.” (QS. an-Naml [27]: 65)
 
Alloh menegaskan dalam al-Qur‟an bahwa siapa pun, bahkan nabi dan Rosul sekali pun itu tidak mengetahui hal-hal ghaib, sedangkan orang-orang Syi'ah mengatakan bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi imam-imam mereka tentang perkara ghaib.

_______________________________________________
Kekufuran Syi'ah; Bab. V; Silsilah Tarbiyyah HASMI

Kekufuran Syi’ah Terhadap Para Sahabat

  • Rekomendasi Alloh dan Rosul-Nya terhadap Para Sahabat .
Yang dimaksud dengan sahabat adalah siapa saja yang pernah bertemu dengan Nabi dalam keadaan beriman dan meninggal di atas iman. Ahlus Sunnah wal Jama'ah memuliakan dan mengakui keutamaan-keutamaan para sahabat Nabi , mencintai mereka, membersihkan hati dan lidah dari caci maki terhadap para sahabat, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik dari umat ini. Alloh berfirman:
“Sesungguhnya Alloh telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. al-Fath [48]: 18) Jumlah para sahabat yang ikut dalam bai‟at tersebut adalah 1.400 orang. Mereka semua telah diridhai oleh Alloh . Dan barangsiapa yang Alloh telah ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga. Hal ini semakin ditegaskan lagi oleh Rosululloh dalam sebuah haditsnya yang shohih: 
“Tidak akan masuk neraka seorangpun dari mereka yang telah berbaiat di bawah pohon.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi). Alloh berfirman:
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh telah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 100)

  • Keimanan para Sahabat Menjadi Standar Keimanan yang Benar.
Demikian tingginya kedudukan para sahabat Nabi sehingga Alloh menjadikan keimanan mereka sebagai satu-satunya standar keimanan yang benar. Artinya siapa saja yang keimanannya menyelisihi keimanan para sahabat, maka dia belum beriman. Alloh berfirman:
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan. Maka Alloh akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha men-dengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 137)
  • Hukum Mengkafirkan Sahabat.
Siapa yang mencaci para sahabat dan mengatakan bahwa mayoritas mereka telah murtad, maka tidak diragukan lagi kekafirannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa mengklaim bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Rosululloh kecuali sekelompok kecil yang tidak melampaui sekian belas orang, atau sebagian besar mereka adalah orang-orang yang fasik, maka orang yang berkata seperti itu tidak diragukan lagi kekafirannya. Hal ini karena orang tersebut mendustakan nash-nash al-Qur'an yang menyebutkan bahwa Alloh telah ridho terhadap mereka dan memuji mereka. Bahkan siapa yang meragukan kekafiran orang tersebut maka ia ikut kafir.” Rosululloh juga pernah bersabda tentang kaum Anshor:
“Tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang membenci mereka kecuali orang munafik.” (HR. Bukhori dan Muslim)
  • Syi’ah Mengkafirkan para Sahabat.
Agama Syi‟ah dipenuhi dengan caci maki terhadap para sahabat. Mereka melontarkan berbagai tuduhan keji kepada para sahabat tersebut berdasarkan dugaan-dugaan yang buruk. Sebagian sahabat yang mereka caci itu justru termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin surga seperti: Abu Bakar, Umar bin Khoththob, Utsman bin Affan, Tholhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam . Mereka berkeyakinan bahwa sebagian besar sahabat Rosululloh telah murtad dan kembali kepada kekafiran sepeninggal beliau kecuali beberapa orang sahabat saja yang menurut mereka tetap setia dengan Kholifah Ali bin Abi Tholib . Penyusun Antologi Islam juga berkata, “Mengapa Nabi Muhammad menyamakan sahabat-sahabatnya dengan kaum Nasrani dan kaum Yahudi? Karena Alloh telah memberitahukannya bahwa sebagian besar sahabat akan berpaling, kecuali sedikit.”

  • Ahlul Bait Berlepas Diri dari Keyakinan Syi’ah.
Sebuah fakta yang berusaha disembunyikan oleh Syi‟ah ialah bahwa Ali bin Abi Tholib sangat mencintai para sahabat Rosululloh khususnya tiga kholifah sebelumnya yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman . Beliau membai‟at ketiga kholifah sebelumnya itu dengan sukarela, bahkan menjadi penasihat bagi Kholifah Abu Bakar dan Umar . Sebagai bukti kecintaan Ali kepada tiga kholifah sebelumnya ialah beliau memberi nama seorang putranya dengan Abu Bakar, seorang lagi dengan nama Umar, dan seorang lagi dengan nama Utsman. Fakta ini ada dalam salah satu kitab rujukan Syi‟ah yaitu Tarikh al-Ya’qubi. Demikian pula dengan putra beliau yaitu Hasan bin „Ali bin Abi Tholib , ia memberi nama salah seorang putranya dengan Abu Bakar, dan seorang lagi dengan nama Umar. Hal ini juga termaktub dalam Tarikh al-Ya’qubi. Di samping itu Ali bin Abi Tholib juga menikahkan putrinya yaitu Ummu Kultsum dengan Umar bin Khoththob . Bahkan tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar ini diakui sendiri oleh Ali bin Abi Tholib . Dari Abdulloh bin Salamah ia berkata: ُ
“Aku telah mendengar Ali berkata, “Sebaik-baik manusia setelah Rosululloh adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik manusia setelah Abu Bakar adalah Umar.” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Albani) Imam Daruquthni meriwayatkan bahwa Ali pernah berkata:
“Tidak akan pernah berpadu dalam hati seorang Mukmin, mencintaiku dan membenci Abu Bakar serta Umar.” Kemudian pada saat kaum pemberontak mengepung rumah Kholifah yang ketiga yaitu Utsman bin Affan , Ali menyuruh kedua putranya yaitu Hasan dan Husain untuk mengawal rumah Kholifah. Ini tidak lain karena kesetiaan Ali terhadap Kholifah Utsman bin Affan .

  • Kesimpulan akan Kufurnya Syi’ah.
Tidak diragukan lagi bahwa dengan sikapnya yang seperti itu kepada para sahabat , Syi‟ah telah kafir dan keluar dari millah Islam. Karena, mengkafirkan para sahabat berarti mendustakan sekian banyak nash-nash al-Qur‟an yang telah menegaskan keimanan para sahabat dan keridhoan Alloh kepada mereka. Padahal siapa saja yang mendus-takan satu nash saja dari al-Qur‟an, maka ia telah kafir.

_____________________________________________________
Kekufuran Syi'ah; Bab. III; Silsilah Tarbiyyah HASMI

ARSIP HASMI SOLO