Sabtu, 17 Maret 2012

.:: RAMBU-RAMBU SIROTULMUSTAQIM (PRINSIP-PRINSIP DASAR AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH).


1.      Tauhidulloh (Mengesakan Alloh ).
·      Arti Tauhid.
Tauhid adalah mengesakan Alloh  dalam rububiyah-Nya, yaitu dalam perbuatan-perbuatan ketuhanan-Nya, dan dengan mengesakan dan memuliakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta mengesakan Alloh  pada hak-hak-Nya sebagai Ilah (Tuhan) untuk seluruh alam.         
·      Lawan tauhid adalah syirik.
Yaitu menyekutukan Alloh  dalam rububiyah-Nya atau dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta hak-hak ke-Ilahan-Nya, atau menyekutukan pada salah satu atau sebagiannya. 
·      Kedudukan Tauhid.
a.    Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia.
﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ ﴾
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [QS. adz-Dzariyat (51): 56]
b.   Alam semesta berdiri di atas tauhid.
﴿ لَوْكَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلاَّ اللهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴾
“Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah  selain Alloh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang mempunyai ‘Arsy (singgasana) dari pada apa yang mereka sifatkan.” [QS. al-Anbiya’ (21): 22]  
c.    Siapa yang berbuat syirik dan meninggalkan tauhid, maka akan kekal di neraka.
﴿ ...إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ﴾
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh  mengharamkan atasnya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zôlim itu seorang penolong pun.” [QS. al-Ma’idah (5): 72]       
d.   Alloh  tidak mengampuni dosa syirik, bila pe-lakunya mati sebelum taubat. 
﴿ إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا ﴾
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dike-hendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutu-kan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. an-Nisa’ (4): 48]
e.    Siapa yang memegang tauhid dan tidak berbuat syirik, akan masuk surga.       
Rosululloh  bersabda:
“Seorang laki-laki dari umatku dipanggil di hada-pan para makhluk pada hari kiamat. Kemudian ditampakkan kepadanya 99 lembar catatan. Setiap lembarnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan padanya: ‘Apakah engkau mengingkari ini?’. Ia berkata: ‘Tidak, wahai Robb!’. Lalu dikatakan: ‘Apakah engkau memi-liki suatu kebaikan?’. Maka laki-laki itupun ter-tunduk karena haibah (keagungan Alloh) sambil berkata: ‘Tidak wahai Robb!’. Maka dikatakan: ‘Tidak demikian. Karena engkau masih memiliki kebaikan di sisi Kami, dan kamu tidak akan dizolimi!’. Maka dikeluarkan untuknya sebuah bitoqoh (kartu amal) yang di dalamnya ada ke-saksian ‘Asyhadu an La Ilaha illalloh wa Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh . Maka orang itu berkata: ‘Wahai Robbku, apakah artinya bitoqoh seperti ini?’. Maka dikatakan: ‘Kamu tidak akan dizolimi.’ Kemudian 99 lembar ca-tatan-catatan diletakkan dalam satu timbangan dan bitoqoh dalam timbangan yang lain, maka bitoqoh itupun lebih berat.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)
f.     Tauhid merupakan sebab utama terhapusnya dosa-dosa.
Dari Anas bin Malik , ia mendengar Rosu-lulloh  bersabda bahwa Alloh  berfirman (dalam hadits Qudsi):                                            
(( ...يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً ))
“Wahai anak cucu Adam, seandainya engkau datang menemui-Ku dengan membawa kesala-han (dosa) sepenuh bumi namun dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun (tidak syirik kepada-Ku), niscaya Aku akan me-nemuimu dengan membawa magfiroh (am-punan) sepenuh bumi pula!” (HR. Tirmidzi)     
Demikian agung dan pentingnya kedudukan tauhid dalam Islam dan demikian sangat berbahaya pelang-garannya, yaitu syirik. Bahkan seluruh ritual peri-badatan dalam Islam adalah realisasi dari tauhid itu sendiri, dan tujuannyapun harus tauhid! Jika tidak demikian, maka sia-sialah seluruh peribadatan tersebut.
Untuk lebih menyelami keterkaitan hubungan antara tauhid dengan sirotulmustaqim, mari kita renungi bersama ayat-ayat berikut:                 
﴿ وَإِنَّ اللهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ ﴾
“Sesungguhnya Alloh  adalah Robbku dan Robb kalian, maka sembahlah (ibadahilah) ha-nya Dia. Ini adalah sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. Maryam (19): 36] 
﴿ وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ ﴾
Dan hendaklah kalian menyembah-Ku (beriba-dah kepadaku saja). Inilah sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. Yasin (36): 61]
2.  Ittiba’.
·      Arti ittiba’.
Ittiba’ berarti pengikutan. Ittibâ’ yang dimaksud sebagai dasar agama Islam adalah pengikutan ke-pada Rosululloh  dalam memahami Islam dan menerapkannya. Karena Rosululloh  sendiri hanya komitmen terhadap pengikutan kepada wahyu Ilahi, maka pada hakikatnya ittiba’ adalah mengikuti wahyu dari Alloh .
·      Ittiba’ pengawal kemurnian.
Tidak akan mungkin kita dapat menjaga kemurnian Islam kecuali dengan tetap konsisten (sangat tegas) kepada ittiba’. Meninggalkan ittiba' secara keseluru-han, berarti keluar dari Islam. Sedangkan meninggal-kan sebagian dasar ittiba’, berarti masuk ke dalam lingkaran bid’ah, bahkan bisa mengeluarkan seseo-rang dari Islam.
Pemahaman dan pelaksanaan tauhid sendiri harus di-kawal ketat dengan ittiba’. Jika tidak, pasti melahirkan pemahaman dan pelaksanaan yang salah, yang bisa sampai kepada kesyirikan atau paling sedikit akan me-nyampaikan kepada bid’ah. Yang dimaksud dengan pengawalan ittiba’ adalah bahwa pemahaman dan pelaksanaan tauhid dan agama Islam secara keselu-ruhan, harus mengikuti jalan Rosululloh .                     
Mari kita simak contoh bahaya tidak adanya penga-walan tersebut yang terjadi pada awal zaman, yaitu sejak Nabi Adam  diturunkan ke bumi sampai se-puluh generasi setelahnya, dimana umat manusia hanya beribadah kepada Alloh  di atas tauhid. Di ujung zaman tersebut ada beberapa pemimpin dan pemuka agama yang nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan ke dalam hati pengikut dan pecinta mereka agar membuat patung-patung mereka dan patung-patung tersebut masing-masing diberi nama dengan nama-nama mereka. Lalu setiap patung ditempatkan di setiap tempat dimana masing-masing ulama tersebut memberikan pelajaran-pelajaran mereka, dengan alasan agar ketika melihat patung-patung tersebut, maka para pengikut mereka akan ingat kepada ajaran-ajaran mereka.
Setelah generasi para pembuat patung tersebut me-ninggal dunia, kemudian setan membisikkan kepada keturunan mereka bahwa sebenarnya bapak-bapak mereka berdoa dan meminta kepada patung-patung tersebut. Maka mulailah kaum Nuh  menyembah patung-patung dan mulailah kesyirikan pertama di dunia. Ketidakadaan pengawalan pada kejadian ini adalah terjadinya pembuatan patung-patung sebagai alat pengingat yang merupakan bid’ah, keluar dari sunnah para nabi dan terjadilah malapetaka tersebut.
Mari kita simak kedudukan ittiba’ dalam Islam me-lalui hal berikut: 
a.    Rosululloh  mengikuti wahyu dan tidak sekali-kali memasukkan ke dalam Islam suatu ajaran yang berasal dari produk diri beliau sendiri.
﴿ وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ إِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا ﴾
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Rabb-mu kepadamu. Sesungguhnya Alloh adalah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [QS. al-Ahzab (33): 2]
 
﴿ وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى* إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى ﴾
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. an-Najm (53): 3]

﴿ وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيلِ* لأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ * ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ ﴾
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sesuatu perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami hantam dia dengan tangan kanan. Kemu-dian Kami putuskan urat tali jantungnya.” [QS. al-Haqqoh (69): 44-46]  
b.   Rosululloh  mengikuti jalan para nabi sebe-lumnya.
﴿ ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muham-mad): ’Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif  dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Robb.” [QS. an-Nahl (16): 123]     
c.    Kita diperintahkan untuk ittiba’.
﴿ اتَّبِعُوا مَآأُنْزِلَ إِلَيْكُم مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَآءَ قَلِيلاً مَاتَذَكَّرُوْنَ ﴾
Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengi-kuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya).” [QS. al-A’rof (7): 3] 

﴿ قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيْتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴾
“Katakanlah: ’Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian semua, yaitu Alloh  yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Robb (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Alloh dan Rosul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” [QS. al-A’rof (7): 158]                       
d. Ittiba’ adalah bukti kecintaan kepada Alloh  dan merupakan syarat untuk mendapatkan kecin-taan-Nya.
﴿ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴾
“Katakanlah: ’Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali ‘Imron (3): 31]             
Untuk lebih menyelami keterkaitan hubungan antara ittiba’ dengan sirotulmustaqim, mari kita renungkan bersama ayat-ayat berikut:                        
﴿ إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ* عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴾
“Sesungguhnya kamu (wahai Rosululloh) salah seorang dari rosul-rosul. (Yang berada) di atas sirôtulmustaqîm (jalan yang lurus).” [QS. Yasin (36): 3-4]    
﴿ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴾
“Dan sesungguhnya (wahai Rosululloh) kamu benar-benar memberi petunjuk kepada sirôtulmustaqîm (jalan yang lurus).” [QS. asy-Syuro (42): 52]     
3.  Sumber yang benar dalam hukum dan pe-mahaman.
Salah satu rambu sirotulmustaqim yang sangat penting adalah menimba pemahaman Islam atau hidâyah dari sumber yang benar. Satu-satunya sumber yang mutlak benar dalam Islam adalah wahyu Alloh l yang berben-tuk al-Qur’an dan al-Hadits (as-Sunnah), yang harus dirujukkan (disandarkan pemahamannya) kepada Alloh l dan Rosul-Nya n.   
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلاً ﴾
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh l (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh l dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” [QS. an-Nisa’ (4): 59]                                                                          
﴿ وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا ﴾
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apa-bila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam  urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguh-lah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” [QS. al-Ahzab (33): 36]                                                         
Rosululloh n bersabda:
(( أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ اْلكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ ))
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan al-Kitab (al-Qur’an) dan wahyu yang semisal dengannya (yaitu al-hadits).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
(( تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ ))
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang tidak akan sesat kalian selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Kitabulloh (al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)                                     
4.  Metode Pemahaman yang benar.
Ahlus Sunnah berpegang teguh kepada pemahaman dan metode pemahaman para sahabat, karena mereka ada-lah umat yang telah mendapat “serfitikat kebenaran” dari Alloh l melalui banyak ayat-ayat al-Qur’an. Demikian pula jika mereka telah berijma’ terhadap sua-tu masalah, maka ijma mereka adalah hukum yang wajib diikuti dan tidak boleh memilih pilihan lain selain pilihan mereka.                                                                               
Selain memberikan “serfitikat kebenaran” tersebut, Alloh l pun telah mengancam orang-orang yang me-nyelisihi mereka. Untuk lebih jelasnya, marilah kita renungkan hal-hal berikut:
﴿ وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami leluasakan dia di kesesatannya yang telah dijalani-nya itu, dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. an-Nisa’ (4): 115]    
﴿ كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ ﴾
Kalian adalah umat yang terbaik yang dila-hirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh.” [QS. Ali ‘Imron (3): 110]                                                                       
﴿ لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴾
“Sesungguhnya Alloh telah rido terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh l me-ngetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan mem-beri balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” [QS. al-Fath (48): 18]         
﴿ فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآ ءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِن تَوَلَّوْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴾
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam penentangan. Maka Alloh l akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Baqoroh (2): 137]    
Rosululloh n bersabda:
(( لاَ يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ عَلَى ضَلاَلَةِ ))
Alloh tidak akan menghimpun umat ini dalam kesesatan! (HR. Hakim)          
Jadi sudah menjadi keharusan yang pasti yang didu-kung oleh dalil yang kuat dan logika yang sehat untuk mengikuti ”jejak dan pemahaman” orang-orang yang Alloh l te-lah menamakan mereka ”orang-orang mukmin” dan sebagai ”sebaik-baik umat” serta dipuji-Nya dalam ba-nyak ayat-ayat al-Qur’an, juga mereka adalah orang-orang yang Alloh l sendiri telah menyatakan bahwa Dia telah rido terhadap mereka serta mengancam orang-orang yang meng-ikuti selain jalan mereka. Rido Alloh l senantiasa untuk mereka! Mereka telah membayar dengan darah mereka dan dengan semua apa yang mereka miliki untuk sampai-nya hidayah yang mulia ini ke dalam hati-hati mereka.

ARSIP HASMI SOLO