Senin, 30 Juli 2012

.:: Pemahaman Terbaik dari Generasi Ummat Terbaik.

Ahlus Sunnah berpegang teguh kepada pemahaman dan metode pemahaman para sahabat, karena mereka adalah umat yang telah mendapat “serfitikat kebenaran” dari Alloh melalui banyak ayat-ayat al-Qur’an. Demikian pula jika mereka telah berijma’ terhadap suatu masalah, maka ijma’ mereka adalah hukum yang wajib diikuti dan tidak boleh memilih pilihan lain selain pilihan mereka.

· Ijma` sahabat adalah hujjah syar’iyyah.[1]
Ini berarti bahwa ketika sahabat telah berijma’ pada suatu masalah dalam agama, maka ijma’ itu harus diikuti. Siapa yang melanggarnya akan berdosa dan sesat. Ijma` Sahabat adalah ma’sum, walaupun perorangan mereka tidaklah ma’sum. Ketika keyakinan mereka pada suatu masalah terbagi atas lebih dari satu, maka kita harus mengikuti salah satunya dan tidak boleh menentukan keyakinan lainnya.

Alloh SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya serta mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115)

*). Orang-orang mu’min di ayat ini adalah Sahabat .

Rosululloh SAW bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِي يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِي يَلُوْنَهُمْ … مَنْ أَرَاد بحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ

“Aku wasiatkan kalian (mengikuti) para Sahabatku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian generasi setelah itu... Barangsiapa yang menghendaki keluasan jannah, maka berpegang teguhlah dengan jama`ah”.[2]

*). Para Sahabat dan dua generasi itulah yang dimaksud dengan Jama’ah

 
Rosululloh SAW bersabda:

لاَ يُجْمِعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا.


“Alloh tidak akan pernah menghimpun umat ini di atas kesesatan”.[3]

· Pemahaman al-Qur’an dan Hadits harus sesuai dengan pemahaman sahabat dan metode pemahaman mereka.[4]

Prinsip ini terlalu kuat dan terlalu penting dalam Dinul Islam. Kepentingan dan keutamaannya didukung oleh dalil-dalil yang kuat dan jelas sekali.

Di antara dalil-dalil yang mendukung prinsip ini adalah sebagai berikut:

*Sahabat telah dipuji Alloh di banyak ayat suci al-Qur’an. Pujian yang diabadikan sepanjang masa dan tidak diberikan untuk orang-orang sesudah mereka.
Alloh SWT berfirman:

“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Alloh dan keridhoan (Nya) serta menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar”. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dijauhkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr [59]: 8-9)
“(Yaitu) orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Sesungguhnya mereka telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. al-Imran [3]: 173)
“Muhammad Rosululloh dan orang-orang yang bersama dia adalah tegar terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud, demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, dengan mereka Alloh menjengkelkan hati orang-orang kafir. Alloh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Fath [48]: 29)

Semua pujian ini menunjukan dengan nyata akan kebenaran manhaj sahabat . Alloh tidak mungkin memuji orang-orang dengan manhaj yang tidak diridhoi-Nya.


*Sahabat telah diakui sebagai umat terbaik sepanjang umur dunia ini dan telah diridhoi Alloh .

Alloh SWT berfirman:

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Alloh.” (QS. ali-`Imron [3]: 110)
“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mu'min (sahabat ) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. al-Fath [48]: 18)

Dengan sendirinya umat yang terbaik adalah umat yang mempunyai manhaj yang terbaik juga.


*Manhaj Sahabat telah dijadikan ukuran standar untuk mengukur keimanan setiap orang. Siapa-siapa yang cocok keimanannya dengan keimanan sahabat maka mereka telah mendapat hidayah dan barangsiapa yang tidak demikian, serta menolak manhaj Sahabat maka mereka telah sesat.
Alloh SWT berfirman:

“Maka jika mereka beriman seperti apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan. Maka Alloh akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 137)

___________________________________________________________
[1] Baca Kitab “Ma Ana `Alaihi wa Ashhabi”, Ahmad Salam.
[2] (HR. Tirmidzi, no.2172; Imam Ahmad dalam musnadnya, 1/114; Ibnu Majah, no.2363; Ibnu Hibban, no.7254; dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no.431).
[3] (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, 1/115–117).
[4] Baca kitab “Hujjiyyah Qoul Sohabiy `inda As Salaf”, Dr. Tarhib bin Rubai`an bin Hadi Ad Dausiri. Kitab “Al Muwafaqot”, Asy Syatibi. Kitab “A`lam Al Muwaqqi`in”, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah.

.:: Sumber Hukum Islam yang Murni.


Salah satu dasar manhaj Ahlus Sunnah yang sangat penting adalah menimba pemahaman Islam atau hidâyah dari sumber yang benar. Satu-satunya sumber yang mutlak benar dalam Islam adalah wahyu Alloh yang berbentuk al-Qur’an dan al-Hadits (as-Sunnah), yang harus dirujukkan (disandarkan pemahamannya) kepada Alloh dan Rosul-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ [4]: 59)

Sumber agama Islam dengan segala seginya adalah wahyu Alloh dalam bentuk al-Qur’an dan Hadits yang shohih. [1]

Dalil yang lain dari prinsip dasar ini adalah Firman Alloh SWT :

“Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang amat lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. al-Isro` [17]: 9)


“Apa yang diberikan Rosul kepada kalian maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat keras hukumanNya.” (QS. al-Hasyr [59]: 7)

Rosululloh SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah Rasyidin (yang terarahkan) dan mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah hal tersebut dengan gigi geraham”.[2]


Alloh SWT berfirman:

“Dan Alloh telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Sesungguhnya karunia Alloh sangat besar atasmu.” (QS. an-Nisa’ [4]: 113)

*). Arti Hikmah disini adalah as-Sunnah.

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm [53]: 4)
*). Ini berarti bahwa hadits-hadits Rosululloh pun adalah wahyu dari Alloh.

Rosululloh SAW bersabda:

اَلاَ اِنِّى اُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan al-Qur`an dan yang sejenisnya (Sunnah) bersama-sama dengannya”.[3]


Hasan bin `Athiyah berkata:

كاَنَ جِبْرِيْلُ يَنْزِلُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ بِاْلقُرْآنِ وَيُعَلِّمُهُ إِيَّاهَا كَمَا يُعَلِّمُهُ اْلقُرْآنَ

“Jibril turun kepada Rosululloh membawa sunnah sebagaimana dia turun membawa al-Quran. Dia pun mengajarkan kepada beliau sunnah sebagaimana dia mengajarkan Beliau al-Qur`an”.[4]


Pengikutan pada keduanya adalah pengikutan pada khabar dari Alloh dan tuntunan-Nya. Tidak ada suatu pun yang boleh menyaingi dan menandingi keduanya, tiada pertentangan di antara keduanya. Kalau terbayang adanya pertentangan dalam kaca mata kita, maka hal itu disebabkan oleh kesalah-pahaman (yang bisa disebabkan oleh banyak hal, terutama adalah kejahilan) atau hadits yang tidak shohih.


_________________________________________________

[1] Lihat kitab "Manhaj Al Istidlal `ala Masail Al I`tiqod `Inda Ahli As Sunnah wa Al Jama`ah", karya `Utsman bin `Ali Hasan : 1/ 40-44
[2] (HR. Abu Daud, no. 3607; Tirmidzi, no.2678; dan dia berkata, “Ini hadits hasan shohih”, Ibnu Majah, no.43; serta dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani, dalam Shohih Sunan Ibnu Majah, no.40-41)
[3] (HR. Abu Daud, no.4604; Imam Ahmad, 4/130; Ibnu Hibban, no.11; dan Tirmidzi, no.2666; dia berkata, “Ini hadits hasan ghorib dari jalan tersebut”, serta dishohihkan oleh Syeikh Al Albani, dalam Shohih Ibnu Majah, no.12)
[4] (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dalam Al Marosil, no.536; Syaikh Su`aib Al Arnauth berkata, “Rijalnya tsiqot, rijal Syaikhoin.”)

.:: Setiap Bid'ah adalah Sesat.


· Ahlussunnah wal Jama`ah menolak semua bentuk bid’ah, baik bid’ah amaliah, aqidah maupun manhajiyah.[1]

Semua bid’ah dalam agama adalah buruk dan sesat, tidak ada satu bid’ah pun yang hasanah. Adapun penjelasan mengenai BID'AH serta contoh-contohnya telah diulas tuntas di pembahasan kami sebelumnya dan dari pembahasan-pembahasan tersebut cukuplah menjadikan kita faham akan haqikat bid'ah yang sesungguhnya, sehingga tidak ada lagi syubhat di tengah-tengah kita yang sering-kali berujung pada perdebatan panjang disebabkan adanya perbedaan faham dalam perkara dasar ini atau berbeda karena sekedar beda dalam pengertian 'bahasa'. Sekali lagi Ahlussunnah menolak semua bentuk bid'ah yang kini telah tumbuh merebah dan berkembang luas di tengah masyarakat kita sehingga kebathilan pun seolah dipandang baik dan semakin digemari pula oleh mayoritas ummat Islam padahal Rosululloh SAW telah memberikan peringatan dan ancaman yang sangat keras tentang perkara yang satu ini, sebagaimana sabda beliau:     

وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam dien), karena setiap perkara baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat dan setiap kesesatan berada di api neraka”.[2]

______________________________________________________________
[1] Baca “Hakikot Al Bid`ah wa Ahkamuha”, Sa`id bin Nasir Al Ghomidi.
[2] (HR. Abu Daud, no.3607; Tirmidzi, no.2678; dan dia berkata, “Ini hadits hasan shahih”, Ibnu Majah, no.43; serta dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no.40-41).

ARSIP HASMI SOLO