Minggu, 01 September 2013

.:: Apakah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita, wajib atau tidak?


Jawaban:
Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada kami, baik secara langsung maupun lewat surat, tentang masalah hukum cadar (menutup wajah) bagi wanita. Karena banyak kaum muslimin belum memahami masalah ini, dan banyak wanita muslimah yang mendapatkan problem karenanya, maka kami akan menjawab masalah ini dengan sedikit panjang. Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan. Maka di sini -insya Allah- akan kami sampaikan hujjah masing-masing pendapat itu, sehingga masing-masing pihak dapat mengetahui hujjah (argumen) pihak yang lain, agar saling memahami pendapat yang lain.
Dalil yang Mewajibkan

Berikut ini akan kami paparkan secara ringkas dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar bagi wanita.

Pertama, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُن
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An Nur: 31)

Allah ta’ala memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).


Kedua, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)

Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi, Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/486). Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.

Ketiga, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)

Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah? (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7-8, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Keempat, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ
“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)
Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 9, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Kelima, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًافَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60)

Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 10, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).
Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (QS An Nur:60): “(Yaitu) jilbab”. (Kedua riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/523)
Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini, yaitu dia menutupi wajah dengannya. Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman:
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَآءِ الاَّتِي لاَيَرْجُونَ نِكَاحًافَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

Yang dimaksud adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:
وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60)
Dia mengatakan, “Ini menetapkan jilbab.” (Riwayat Al-Baihaqi. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/524)
Keenam, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ
“Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 11, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, penerbit: Darul Qasim).

Ketujuh, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِالْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.” (Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan bahwa perawi riwayat ini dari Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalhah yang tidak mendengar dari ibnu Abbas. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/513)

Qatadah berkata tentang firman Allah ini (QS. Al Ahzab: 59), “Allah memerintahkan para wanita, jika mereka keluar (rumah) agar menutupi alis mereka, sehingga mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.” (Riwayat Ibnu Jarir, dihasankan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)

Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Wanita itu mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, tetapi tidak menutupinya.” (Riwayat Abu Dawud, Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan: Hasan Shahih. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/514)

Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya mempraktekkan cara mengulurkan jilbab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas (kepala) sehingga dekat ke alisnya, atau di atas alis. (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalamJami’ Ahkamin Nisa IV/513)

As-Suyuthi berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 51, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil:
  1. Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah: Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.
  2. Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliah adalah wajah mereka, lalu Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. Kata idna’ (pada ayat tersebut يُدْنِينَ -ed) yang ditambahkan huruf (عَلَي) mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.
  3. Menutupi wajah, baju, dan perhiasan dengan jilbab itulah yang dipahami oleh wanita-wanita sahabat.
  4. Dalam firman Allah: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu”, merupakan dalil kewajiban hijab dan menutup wajah bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara kaum muslimin. Sedangkan dalam ayat ini istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bersama-sama dengan anak-anak perempuan beliau serta istri-istri orang mukmin. Ini berarti hukumnya mengenai seluruh wanita mukmin.
  5. Dalam firman Allah: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak akan diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki nakal/jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganggu.
(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 52-56, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Kedelapan, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
لاَّ جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي ءَابَآئِهِنَّ وَلآ أَبْنَآئِهِنَّ وَلآإِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلآ أَبْنَآءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلاَ نِسَآئِهِنَّ وَلاَ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ وَاتَّقِينَ اللهَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدًا

“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 55)

Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah memerintahkan wanita-wanita berhijab dari laki-laki asing (bukan mahram), Dia menjelaskan bahwa (para wanita) tidak wajib berhijab dari karib kerabat ini.” Kewajiban wanita berhijab dari laki-laki asing adalah termasuk menutupi wajahnya.

Kesembilan, firman Allah:
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)
Ayat ini jelas menunjukkan wanita wajib menutupi diri dari laki-laki, termasuk menutup wajah, yang hikmahnya adalah lebih menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki. Sedangkan menjaga kesucian hati merupakan kebutuhan setiap manusia, yaitu tidak khusus bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat saja, maka ayat ini umum, berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua wanita mukmin. Setelah turunnya ayat ini maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menutupi istri-istri beliau, demikian para sahabat menutupi istri-istri mereka, dengan menutupi wajah, badan, dan perhiasan. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal: 46-49, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

Kesepuluh, firman Allah:
يَانِسَآءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ إِنِاتَّقَيْتُنَّ فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {32} وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33)

Ayat ini ditujukan kepada para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hukumnya mencakup wanita mukmin, karena sebab hikmah ini, yaitu untuk menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya, juga mengenai wanita mukmin. Dari kedua ayat ini didapatkan kewajiban hijab (termasuk menutup wajah) bagi wanita dari beberapa sisi:
  1. Firman Allah: “Janganlah kamu tunduk dalam berbicara” adalah larangan Allah terhadap wanita untuk berbicara secara lembut dan merdu kepada laki-laki. Karena hal itu akan membangkitkan syahwat zina laki-laki yang diajak bicara. Tetapi seorang wanita haruslah berbicara sesuai kebutuhan dengan tanpa memerdukan suaranya. Larangan ini merupakan sebab-sebab untuk menjaga kemaluan, dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan hijab.
  2. Firman Allah: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” merupakan perintah bagi wanita untuk selalu berada di dalam rumah, menetap dan merasa tenang di dalamnya. Maka hal ini sebagai perintah untuk menutupi badan wanita di dalam rumah dari laki-laki asing.
  3. Firman Allah: “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” adalah larangan terhadap wanita dari banyak keluar dengan berhias, memakai minyak wangi dan menampakkan perhiasan dan keindahan, termasuk menampakkan wajah.
(Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 39-44, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit, Darul ‘Ashimah).

Jumat, 28 Juni 2013

Chatting Antara Lawan Jenis Dan Dampaknya Terhadap Puasa ?



Chatting Antara Lawan Jenis Dan Dampaknya Terhadap Puasa

Apa hukumnya kalau aku kirim surat kepada teman wanitaku lewat internet (chatting) di bulan Ramadan, selama masih dalam batas kesopanan, sementara dia memasang kamera dan aku dapat melihatnya?

Alhamdulillah

Pertama: Di antara tujuan utama syariat Islam adalah menjaga keturunan dan kehormatan. Oleh karena itu, Allah mengharamkan zina dan mengharamkan semua sarana yang menuju ke sana. Baik khalwat (berduaan) antara lelaki dengan wanita asing, pandangan berdosa, safar tanpa mahram dan keluarnya wanita dari rumah dalam keadaan memakai minyak wangi dan bersolek, berpakaian namun telanjang. Di antara sarana tersebut, adalah perbincangan laki-laki penipu dengan wanita. Dia mengeluarkan bujuk rayunya, membangkitkan syahwat agar terjerat pada perangkapnya. Baik hal  itu terjadi di jalan, perbincangan telpon atau surat menyurat, atau yang lainnya.

Sungguh Allah telah mengharamkan istri-istri Nabi sallallahu alaihi wa sallam –padahal mereka adalah wanita-wanita suci- dari perbuatan tabarruj (bersolek dimuka umum) ala tabarruj jahiliyah pertama serta berkata  mendayu-dayu agar orang yang hatinya sakit menjadi terpesona. Kemudian Dia memerintahkan mereka agar berkata dengan perkatan yang baik.

Allah Ta’la berfirman:

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)

Percakapan dan chatting antara laki dan perempuan lewat internet adalah salah satu pintu fitnah dan kemaksiatan. Karena akibatnya akan menggiring pada sikap meremehkan pembicaraan yang mengarah kepada sikap saling menyenangi, lalu menimbulkan fitnah. Oleh karena itu seharusnya kita menghindar dan menjauhi hal itu dengan niat menggapai ridha Allah dan menjaga diri dari siksa-Nya.

Betapa banyak percakapan semacam ini telah menyeret pelakukan pada keburukan dan bencana, kemudian lahirlah hubungan kasih mesra, dan sebagian menyebabkan perkara yang lebih berat dari itu. 

Syekh Ibn Jibrin rahimahullah telah ditanya: “Apa hukum chatting antara para pemuda dan pemudi, perlu diketahui bahwa chatting ini bebas dari kefasikan, bujuk dan rayu.”

Beliau menjawab: “Tidak dibolehkan seorang pun mengirim surat kepada wanita yang bukan mahram. Karena hal itu dapat menimbulkan fitnah. Mungkin pengirim tulisan tersebut menyangka tidak akan terjadi fitnah. Akan tetapi setan senantiasa menggoda, baik laki-laki tertarik dengan sang wanita dan wanitanya tertarik dengan sang lelaki. Sungguh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan orang yang mendengar Dajjal agar menjauhinya. Beliau mengabarkan bahwa seseorang  datang dalam kondisi beriman, akan tetapi Dajjal senantiasa menggodanya sampai dia terkena fitnah.

Perbincangan antara pemuda dan pemudi lewat surat (internet) mengandung fitnah dan bahaya yang besar. Seharusnya dijauhinya, meskipun penanya mengatakan, bahwa disitu tidak ada bujuk rayu.“ Fatawa Al-Mar’ah, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnid, hal. 96.

Kedua: Orang yang berpuasa diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Maksud puasa Bukan hanya menahan makan dan minum. Akan tetapi maksudnya adalah merealisasikan takwa kepada Allah Ta’ala supaya kalian bertakwa, mendidik jiwa dan terlepas dari amalan-amalan hina dan akhlak tercela.

Oleh karena itu Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersada:

“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, akan tetapi puasa adalah menahan dari perbuatan sia-sia dan perkataan jorok.” (HR. Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab shahih Al-Jami, no. 5376)

Wallahu’alam .

Soal Jawab Tentang Islam

islamqa

Selasa, 18 Juni 2013

.:: Wahai Muslimah, Jangan Merasa Aman Dari Gangguan Setan.

Wahai Muslimah, Jangan Merasa Aman Dari Gangguan Setan 
Kepada setiap saudariku ukhti muslimah, yang telah rela menjadikan Allah sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad saw sebagai Rasul Allah.
Wahai saudariku yang kucintai karena Allah, kalian diciptakan dari tulang rusuk tulang adam dan tercipta untuk beribadah kepada Alloh dengan taat kaum adam selaku suamimu. Maka dari itu sayangilah dirimu dengan menjalankan perintah Alloh. Dari Anas dari Nabi , beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang diantara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaq alaih).
Wahai saudariku ukhti muslimah. Hendaknya kita tahu dengan penuh keyakinan, bahwa kita tidak diciptakan main-main tanpa ada arti dan tidak pula dibiarkan begitu saja tanpa tujuan dan pertanggung- jawaban. Seperti firman Alloh:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Dia, Robb (yang memupunyai) Arsy yang mulia.” (Al-mu’minun: 115-116).
Dan juga yang terdapat dalam ayat lain;
 “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyamah:36).
           
Disekeliling kita banyak sekali jebakan yang telah dipersiapkan oleh syaetan untuk menjerumuskan para kaum muslimin. Mereka telah membungkus perbuatan keji, nista dan buruk dengan kesenangan, kenikmatan yang membuat kita terbuai untuk melakukannya. Karena mereka adalah musuh yang nyata bagi kalian. Seperti firman Alloh dalam surat Yusuf ayat 5;
إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
Maka dari itu berhati-hatilah dalam mencari teman, bertindak, berpakaian dan bergaul dilingkunganmu. Karena ketika benteng keimanan dihancurkan, maka apapun akan terjadi. Sudah menjadi tontonan yang biasa ketika kita dapati dipinggir jalan dan di tengah kalangan masyarakat sebuah pelanggaran syari’at yang syetan ikut andil di dalamnya. Mereka menebar benih-benih kehinaan agar semua kaum muslimin terjebak dalam kungkungan kemaksiatan dan kesyirikan. Ini berbahaya bagi iman kita.
Wahai saudariku muslimah, pelanggaran dapat berupa apa saja. ketahuilah bahwa dirimu adalah perhiasan jika engkau adalah wanita sholihah. Engkau akan menjadi lebih mulia dari pada bidadari surga jika engkau hidup mulia dan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Wanita muslimah yang ingin lebih baik adalah wanita yang memelihara matanya dari memandang yang haram. Alloh Subhaanahu wata’ala berfirman:
 Artinya :“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nur: 31)
Wanita muslimah adalah yang menjaga hijabnya dengan rasa senang hati. Sehingga dia tidak keluar kecuali dalam keadaan berhijab rapi, mencari perlindungan Alloh dan bersyukur kepadaNya atas kehormatan yang diberikan dengan adanya hukum hijab ini, dimana Alloh Subhaanahu wata’ala menginginkan kesucian baginya dengan hijab tersebut. Alloh berfirman:
Artinya: “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab:59)
Wahai wanita muslimah, Alloh SWT memerintahkan kita untuk selalu berlindung kepada Alloh. Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam surat fushshilat ayat 36
Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (fushshilat :36)
Engkau sebagai wanita muslimah harus kuat imannya jangan sekali-kali kita terganggu dengan jebakannya, Alloh SWT berfirman:
Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Az-Zukhruf:62)
Demi Alloh wahai saudariku tercinta, pastinya engkau tidak mau menjadi teman syetan di neraka. Kami pun menginginkan kalian masuk kedalam surga. Sebab, engkau melakukan rukuk, sujud, dan mengingat RabbMu. Semoga Alloh melindungi dari panasnya neraka Jahannam.
Wahai wanita muslimah, syaitan telah membuat pergaulan bebas, mereka membuat produk ini agar merusak dan menjadikan komoditi yang cukup laris dikalangan remaja. Apalagi dalih mereka, kalau bukan kemajuan, modernisasi, kesetaraan gender dan alasan-alasan yang menggiurkan lainnya. Berbagai penelitian seputar pergaulan bebas yang syetan luncurkan yang dilakukan perorangan maupun lembaga telah merebak dilingkungan kita. Syaitan selalu mengintaimu untuk menjauhkanmu dari syari’at Alloh. Al hasil, “Hampir sebagian besar remaja telah terjerumus kedalamnya”
Untuk itu perlu dilakukan upaya penanggulangan melalui berbagai cara dan sarana. Salah satunya dengan berdakwah semampu kita, bergabung dalam organisasi dakwah agar usaha kita terbantu dan maksimal.dapat juga dengan media radio, bacaan dan yang lainnya. Karena dengan upaya dapat mengarahkan para remaja kepada pergaulan yang benar dan menjelaskan bahaya-bahaya yang ditimbulkan akibat syaitan melalui pergaulan bebas ini.
Yang terakhir adalah mari kita rubah kemungkaran sesuai dengan kemampuan kita. Dan kuatkan benteng kita dengan keimanan agar kita bisa terhindar dari gangguan syaitan yang selalu mengintai kita saat lengah. Karena kita ketahui besi itu kut, ia akan melelah dengan api, api yang berkobar itu kuat, dan ia dapat padam dengan air, air yang berkumpul itu kuat, namun ia bisa terserap menjadi awan, awan itu kuat, namun dapat tertiup oleh angin, angin itu kuat dan dapat ditopang dengan bukit, bukit itu kuat, namun dapat dihancurkan oleh manusia, manusia itu kuat, namun dapat ditundukkan oelh hawa nafsu, hawa nafsu itu kuat, namun dapat ditepis oleh keimanan. Dan apabila iman sudah kuat, maka tidak ada yang bisa menghalangi kecuali Allah swt yang Maha Kuat. Maka dari itu marilah kita beriman kepada Alloh dengan sepenuhnya kemampuan kita.
Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Robb kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Berikanlah kami maaf; ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir. Semoga Alloh melimpahkan rahmat dan Inayah-Nya kepada kami.
Semoga shalawat dan salam Allah limpahkan kepada Rasul-Nya, para keluarga dan para sahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Robb alam semesta. Wallahu A’lam…
(Red-HASMI/Rahmat Abdillah, S.Ud)

Sabtu, 25 Mei 2013

Dakwah Menangkal Syiah Nushairiyah

Nushoiriyah adalah salah satu kelompok Syi'ah Itsna 'Atsariyah / Imamiyah yang sangat ekstrim. Syi'ah Nushoiriyah adalah kelompok yang jelas-jelas kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin. Ini didasari oleh aqidah mereka yang rusak hasil dari penggabungan ajaran Yahudi, Nashroni, Mujusi, Budha dan Islam.
Bukti permusuhan mereka kepada kaum Muslimin adalah seperti yang dialami saudara kita di Suriah.Puluhan ribu umat Islam dibantai di Suriah tanpa belas kasihan. Mereka membantai anak-anak, kaum perempuan dan orang tua dari umat Muslim Suriah dengan cara dibakar, dipenggal, dan digantung.
Sebagai seorang yang beriman kepada Alloh  dan Rosul-Nya kita harus lebih waspada terhadap gerakan Syi'ah Nushoiriyah yang sesat dan menyesatkan. Syi'ah Nushoiriyah adalah salah satu musuh utama umat Islam sampai akhir zaman. Jika mereka sudah memiliki kekuatan dan pengikut yang banyak, mereka tidak segan-segan membantai umat Islam dengan cara-cara yang keji.
Syiah Nushoiriyah banyak terdapat di Suriah dan negara-negara sekitarnya. Para ulama dan tokoh wajib membongkar kedok rezim Nushairiyah Suriah, sehingga wala ' (cinta) dan bara '(benci) kaum Muslimin jelas terhadap gerakan Syi'ah Nushoiriyah di Suriah. Ada beberapa sebab mengapa umat Islam harus lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap ajaran dan aktifitas gerakan Syiah Nushairiyah, diantaranya adalah:
1. Gencarnya penggiat Syi'ah Nushoiriyah untuk mencari penganut baru terutama generasi muda untuk dijadikan korban ajaran sesat mereka.
2. Dukungan banyak pihak dari orang-orang kafir terhadap perkembangan Syi'ah Nushoiriyah.
3. Bantuan dana yang besar untuk mendukung perkembangan ajaran Syi'ah Nushoiriyah.
4. Terpedayanya sebagian tokoh Islam dengan ajaran Syi'ah Nushoiriyah.
5. Sasaran utama Syi'ah adalah penduduk negara miskin dan berkembang.
Dakwah lembut penggiat Syi'ah dalam mencari penganut baru dilakukan dengan aqidah taqiyah (kamuflase / berpura-pura beriman dengan menutupi kekafiran) mereka. Mereka mengiming-imingi kenikmatan dunia semata yang berisi syahwat yang hina.
Berhati-hatilah dari ajakan dan bujuk rayu Syi'ah. Karena tidak sedikit para tokoh terkemuka yang tergiur oleh bujuk rayu mereka. Ini senada dengan firman Alloh:
"Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman:" Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu ", dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka.Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. " (QS.al-'Ankabut [29]: 12).
Agar umat Islam tidak terjerumus ke dalam tipudaya Syi'ah Nushairiyah yang mengantarkan kepada neraka jahannam, maka diperlukan strategi untuk menangkal dakwah mereka yang sesat dan menyesatkan.Diantara strategi-strateginya adalah:
1. Menelaah isi buku-buku referensi Syi'ah dan kata ulama mereka dengan timbangan al-Qur'an dan hadist shohih.
Al-Qur'an dan hadist adalah satu-satunya standar mutlak untuk mengungkap keburukan ajaran mereka.Keduanya ini dijadikan timbangan dalam menelaah isi buku-buku referensi Syi'ah karya tokoh-tokoh yang mereka agungkan semisal, al-Kulaini, al-Majlisi, al-Mufid, atau Khomaini (Semoga Alloh membalas mereka sesuai dengan tindakan buruk yang pernah mereka lakukan terhadap Islam dan para Sahabat ). Karya-karya tulis merekalah yang telah membuka kedok dan menelanjangi keburukan rupa ajaran Syi'ah.
Tulisan-tulisan mereka adalah cerminan buruknya agama mereka. Dari sini, akan tampak jelas betapa besar dan mendasar perbedaan antara Islam yang dibawa Nabi Muhammad dengan ajaran Syi'ah yang sebenarnya sangat kental dengan pengaruh ajaran Majusi dan Yahudi. Seorang penyair mengatakan:
عرفت الشر لا للشر لكن لتوقيه ومن لا يعرف الشر من الخير يقع فيه
"Saya mengetahui keburukan bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk menghindarinya. Barang siapa yang tidak mengetahui keburukan dari kebaikan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya. "
2. Mengenalkan, ة enyebarkan dan ة endakwahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Manhaj ahlus sunnah wal jamaah adalah manhaj yang diusung oleh generasi terbaik umat ini. Ahlussunnah wal jamaah adalah yang berpegang teguh kepada al-Qur, an dan hadist dengan mengamalkannya sesuai dengan pemahaman sahabat. Ia satu-satunya manhaj yang paripurna dan sempurna menjelaskan prinsip-prinsip dasar golongan yang selamat. Dengan berpegang teguh kepadanya seseorang akan berada di jalur yang benar meraih kebahagiaan dunia akhirat. Rosululloh bersabda:
"Sesungguhnya Bani Israil terpeceh-belah menjadi 72 kelompok keagamaan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Para shahabat bertanya: "Siapakah satu kelompok itu ya Rasululloh? Beliau menjawab "Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak shahabat-shahabatku."
Inilah jaminan keamanan dari Rosululloh  dengan senantiasa berpegang teguh kepada manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah. Di akhir jaman ini dimana semakin menjamurnya aliran sesat, Ahlussunnahlah menjadi satu-satunya kelompok yang murni berada pada kebenarannya. Manhaj inilah yang mengungkap dan melawan berbagai macam aliran sesat sampai akhir zaman. Manhaj ini pula yang mampu menelanjangi kebobrokan Syiah Nushairiyah.Jika umat memahami betul manhaj ini, maka ia dapat menjuhi sesatnya Syi'ahNushoiriyah.
3. Membentuk tim khusus pembongkar kesesatan Syi'ah Nushoiriyah.
Ketidaktahuan umat Islam terhadap kesesatan Syi'ah Nushoiriyah membuat mereka menilai baik prilaku dan tipu daya Syiah Nushairiyah dalam rezim Suriah. Kebiadaban mereka membantai umat Islam Suriah dianggap hanya kriminal semata, padahal dibalik tragedi ini tersimpan niat buruk mereka menyesatkan umat dengan berbagai cara meskipun harus dengan membunuh penentang-penentangnya dari kalngan Ahlussunnah wal Jama'ah.
Tim khusus ini berperan merubah asumsi umat tentang Syi'ah Nushoiriyah. Dengan fakta-fakta yang valid dan akurat tentang keburukan Syiah, umat akan tersadarkan akan bahaya Syi'ah Nushairiyah yang mengancam umat Islam diseluruh dunia bukan hanya di Suriah.
4. Peran aktif media massa elektronik dan informasi.
Media massa amat sangat berperan dalam membendung gerakan Syi'ah Nushoiriyah. Selain dapat menjangkau seluruh kalangan, gerakan madia massa sangat cepat. Ketika kita menguasai dan memanfaatkan media massa dengan sebaik-baiknya mengungkap keburukan Syiah Nushairiyah, maka dalam waktu singkat keburukan Syi'ah Nushoiriyah akan terungkap. Akibatnya umat Islam akan mengetahui kesesatan Syiah Nushoiriyah ini.
5. Mengadakan seminar dan diskusi membongkar kedok Syi'ah Nushoiriyah.
Seminar dan diskusi bisa dilaksanakan dikalangan pelajar dan intelektual. Di sini mereka dibekali prinsip-prinsip dasar Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai satu-satunya manhaj yang benar dan ajaran-ajaran sesat Syi'ah, sehingga peserta dapat membedakan yang benar dan yang bathil dan dapat memahami kesesatan Syi'ah. (Admin-HASMI ).

Senin, 20 Mei 2013

TABLIGH AKBAR & BEDAH BUKU, "Meniti Jalan Kemurnian Menuju Masyarakat Islami" - Solo Baru.




TABLIGH AKBAR & BEDAH BUKU

Tema:
"Meniti Jalan Kemurnian Menuju Masyarakat Islami"

Bersama Dewan Da'wah HASMI:
1. Ustadz Muhammad Haidaril Iltizam, S.Pd.I
2. Ustadz KH. 'Abdul Wahid, Lc
3. Ustadz Supendi, S.H.I
2. Ustadz KH. Fitri Priyanto, Lc

Ahad, 19 Mei 2013
Pukul. 08:00-11:00 WIB
Di. Masjid Jami' "BAITUL MAKMUR" Solo Baru Sukoharjo - Jawa Tengah

Gratis..!!!
Buku Panduan: "Meniti Jalan Kemurnian Menuju Maasyarakat Islami"
Untuk 100 Peserta Pertama Hadir..!!

(Untuk Umum.. Ikhwan & Akhwat)

Contact Persone:
DPD HASMI JAWA TENGAH
Telp/FAX. (0271) 894031 - 7518434
Mobile. +6281316166416
Abu 'Aisyah Assafar

Selengkapnya:

TABLIGH AKBAR & BEDAH BUKU

Rabu, 01 Mei 2013

Penghinaan Syi’ah Terhadap Ahlut Bait Nabi


  • Pemahaman Ahlul Bait yang Benar. 
Secara bahasa Ahlul bait artinya keluarga. Sedangkan yang dimaksud dalam pembahasan ini ialah mereka yang haram menerima zakat karena kekerabatannya dengan Rosululloh , yaitu keluarga Ali bin Abi Tholib, keluarga Ja‟far, keluarga Aqil, dan keluarga Abbas bin Abdul Muttholib. Mereka semua dari Bani Hasyim. Termasuk dalam Ahlul bait adalah para istri Nabi . Beliau bersabda:
“Dan Ahlul bait-ku. Aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang Ahlul bait-ku, Aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang Ahlul bait-ku, Aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang Ahlul bait-ku.” Kemudian Hushoin (seorang tabi‟in yang meriwayatkan dari Zaid) berkata, “Siapakah Ahlul bait-nya wahai Zaid? Bukankah para istri beliau termasuk Ahlul bait-nya?” Zaid menjawab, “Para istri beliau termasuk Ahlul bait-nya. Tetapi Ahlul bait-nya juga adalah siapa yang haram menerima sedekah sepeninggal beliau.” “Siapakah mereka itu?” tanya Hushoin. Zaid menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Ja‟far, keluarga Aqil, dan keluarga Abbas.” “Mereka semua diharamkan menerima sedekah?” tanya Hushoin. Zaid menjawab, “Benar.” (HR. Muslim) 
Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Kemudian, sesuatu yang tidak diragukan lagi oleh siapapun yang mentadabburi al-Qur‟an adalah bahwa istri-istri Nabi termasuk dalam firman Alloh :
“Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33) 
Karena, siyaqul kalam (konteks pembicaraan) ayat tersebut mengenai istri-istri Nabi .

  • Penyimpangan terhadap Pemahaman Ahlul bait.
Syi‟ah membatasi makna Ahlul bait hanya sebatas keluarga Ali bin Abi Tholib saja. Dalam hal ini penyusun buku Antologi Islam berkata, “Bagi Syi‟ah, Ahlul bait Nabi Muhammad hanya terdiri atas individu-individu berikut ini: Fathimah Zahroh, Ali, Hasan, Husain, dan sembilan orang imam keturunan Husain. Dan jika dimasukkan Nabi Muhammad ke dalamnya, mereka akan menjadi empat belas orang. Sementara itu Nabi ketika terjadi haditsul ifki (kisah pencemaran nama baik), Rosululloh berkhutbah di tengah-tengah manusia lalu berkata:
“Wahai manusia, kenapa ada orang-orang yang menyakitiku dalam keluargaku (ahli baitku) serta berkata tentang mereka tanpa kebenaran. Demi Alloh, aku tidak mengetahui tentang mereka kecuali kebaikan.” (HR. Ibnu Ishaq; dishohihkan oleh al-Albani) Dalam hadits tersebut, Nabi jelas-jelas menyebut „Aisyah dengan ahli baiti (keluargaku).

  • Mereka (Syi’ah) Bukan Menjunjung Tinggi Ahlul bait tetapi Mencela Ahlul bait.
Al-Majlisi meriwayatkan dalam Biharul Anwar, sesungguhnya Amirul Mukminin („Ali bin Abi Tholib) berkata, “Saya bepergian bersama Rosululloh sementara tidak ada pelayan bagi beliau selain diriku. Beliau mempunyai selimut yang tidak berselimut dengannya kecuali saya, Rosululloh dan „Aisyah. Beliau tidur di antara saya dan „Aisyah. Sementara tidak ada di atas kami bertiga selimut yang lain. Jika Rosululloh bangun untuk shalat malam beliau menyingkapkan selimut itu dengan tangannya dari bagian tengah, yaitu antara saya dan „Aisyah hingga selimut tersebut menyentuh alas tidur yang ada di bawah kami.” Riwayat di atas sangat merendahkan Rosululloh dan „Ali sekaligus. Sebab riwayat itu menyifati Rosululloh sebagai seorang yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. Bagaimana mungkin Rosululloh membiarkan istrinya tidur satu ranjang dengan seorang laki-laki yang bukan mahromnya? Kemudian bagaimana mungkin „Ali ridho dengan hal tersebut? Hal ini jelas melecehkan kepribadian Rosululloh dan Ali .
Disebutkan dalam kitab Biharul Anwar bahwa diriwayatkan dari Abu Abdillah , ia berkata, "Didatangkan kepada Umar seorang wanita yang telah terikat dengan seorang laki-laki Anshor dan ia sangat mengingin-kannya. Lalu dia mengambil sebutir telur dan menumpahkan bagian putihnya pada baju dan kedua paha wanita itu. Maka Ali berdiri dan melihat kedua pahanya kemudian menuduh keduanya (berbuat zina).” Pantaskah jika Ali dikatakan melihat kedua paha wanita yang bukan mahramnya? Ini sanjungan ataukah celaan? Diriwayatkan dalam kitab Rijalul Kisysyi, bahwa Sufyan bin Abi Laila masuk kepada Hasan sementara ia sedang ada di dalam rumahnya, maka ia berkata kepada Imam Hasan, “Assalamu „alaika wahai orang yang menghinakan kaum Mukminin!” Riwayat ini jelas mencaci Hasan dengan sebutan yang tidak terhormat yaitu wahai orang yang menghinakan kaum mukminin. Padahal Hasan telah disabdakan oleh Rosululloh sebagai penghulu para pemuda surga.

  • Ahlul Bait yang Masuk Kategori Sahabat Dikafirkan.
Al-Kisysyi dalam kitabnya Rijalul Kissyyi menyatakan bahwa Muhammad al-Baqir pernah berkata, “Pada suatu hari ada seorang datang kepada ayahku (yakni „Ali Zainal Abidin) lalu berkata, “Abdulloh bin Abbas mengklaim bahwa dirinya mengerti setiap ayat al-Qur‟an, kapan dan berkenaan dengan soal apa ayat itu diturunkan. Ali Zainal Abidin menjawab, “Coba tanyakan kepadanya tertuju kepada siapakah ayat-ayat ini ketika turunnya:
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. al-Isro’ [17]: 72)  
“Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kalian. Sekiranya Alloh hendak menyesatkan kalian, Dia adalah Tuhan kalian dan kepada-Nya-lah kalian dikembali-kan.” (QS. Hud [11]: 34)  
“Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Alloh supaya kalian beruntung.” (QS. Ali Imron [3]: 200) Tatkala orang itu mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ayat-ayat tersebut Ibnu Abbas menjawab, “Aku lebih suka kalau engkau mempertemukan aku dengan orang yang menyuruhmu membawa per-tanyaan-pertanyaan ini, tapi tanyakanlah dulu kepadanya: Apakah Arsy itu, kapan ia diciptakan dan bagaimana keadaannya?!” Orang itu lalu pergi menghadap ayahku dan mengatakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Ayahku bertanya, “Apakah Ibnu Abbas menjawab pertanyaan mengenai ayat-ayat yang kupesankan kepadamu?” Orang itu menyahut, “Tidak.” Ayahku melanjutkan, “Baiklah sekarang kuterangkan kepadamu mengenai ayat-ayat itu berdasarkan cahaya dan ilmu, bukan dengan mengaku-aku. Ayat pertama dan kedua diturunkan berkenaan dengan ayah Abdullah bin Abbas (yakni Abbas bin Abdul Mutthalib paman Nabi), sedangkan ayat yang ketiga diturunkan berkenaan dengan ayahku dan kami (Ahlul bait).” Riwayat di atas menisbatkan Abbas bin Abdul Muttholib kepada kekafiran karena kedua ayat tersebut berkenaan dengan orang-orang kafir. Padahal Abbas bin Abdul Muttholib adalah salah seorang Ahlul bait Nabi . 5. Kesyirikan terhadap Sebagian Ahlul Bait (Menempatkan Sebagian Ahlul Bait pada Derajat Uluhiyah). Termasuk dari sikap ghuluw kaum Syi‟ah terhadap Ali adalah pernyataan penyusun Antologi Islam menyatakan bahwa tidak ada orang yang dapat melintasi shiroth (jembatan di atas neraka) kecuali dengan izin „Ali. Keyakinan semacam ini jelas syirik sebab hanya Alloh sajalah yang dengan izin-Nya seseorang dapat selamat melintasi shiroth atau celaka. Al-Kulaini juga meriwayatkan dalam Ushul al-Kaafi pada bab: Innal Ardho kullaha lil-Imaam sebuah perkataan dari Imam Abu Abdillah yang berkata, “Dunia dan akhirat itu milik imam. Ia meletakkannya sebagaimana yang ia inginkan dan memberikannya kepada siapa yang ia inginkan.” 
Ni‟matulloh al-Jazairi, seorang ulama Syi'ah menyebutkan dalam kitabnya al-Anwarun Nu‟maniyyah, sebuah riwayat dari Ali yang berkata, “Demi Alloh sesungguhnya akulah yang bersama Ibrahim di dalam api, dan akulah yang menjadikan api itu dingin dan selamat baginya, dan aku bersama Nuh di dalam bahtera (kapal), dan akulah yang menyelamatkannya dari tenggelam. Dan aku bersama Musa, lalu aku ajarkan ia Taurat. Dan akulah yang membuat Isa dapat berbicara di waktu masih bayi, dan akulah yang mengajarkannya Injil. Dan aku bersama Yusuf di dalam sumur, lalu aku selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani (terbang), dan akulah yang menundukkan angin untuknya.” Syi‟ah berkeyakinan bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan meninggal dan mereka tidak akan meninggal kecuali atas kehendak mereka. 

  • Kekufuran akan Pandangan di Atas. 
Aqidah Syi‟ah tentang para imam mereka sungguh suatu kekufuran yang nyata dan riddah (kemurtadan) dari Islam berdasarkan ijma‟ kaum Muslimin. Para ulama telah sepakat bahwa barangsiapa yang mengatakan ada seorang nabi atau malaikat atau wali yang bisa mengetahui perkara-perkara ghaib, mengetahui semua yang di langit dan di bumi mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, maka orang itu telah kafir secara ijma‟. Karena sesungguhnya Alloh telah mengkhususkan diri-Nya dalam hal ilmu ghaib. Tidak ada yang mengaku dapat menyaingi Alloh dalam hal ini kecuali seorang musyrik. Alloh berfirman: 
“Katakanlah, tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Alloh, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (QS. an-Naml [27]: 65) 
Rosululloh juga bersabda:
“Kunci perkara yang ghaib itu ada lima. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh semata yaitu: tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi besok, tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan dilakukannya besok, dan tidak seorangpun yang tahu di bumi mana ia akan mati, serta tidak ada seorangpun yang tahu kapan turunnya hujan.” (HR. Bukhori)

___________________________________________________
Kekufuran Syi'ah; Bab. IV; Silsilah Tarbiyyah HASMI

Selasa, 30 April 2013

TEMU KELUARGA BESAR DAKWAH HASMI & PENDENGAR FAJRI

 
Bismillah.... Sebagai anggota HASMI, kami meras ikut senang dengan suksesnya acara Temu keluarga Besar HASMI dan Pendengar Fajri.. Gedung Seomeo Biotrop Convention Hall dipadati oleh lebih dari dua ribu peserta Tabligh Akbar HASMI... Meski sempat terjadi sedikit gangguan teknis kecil, namun segera dapat diselesaikan oleh petugasnya.. ragkaian-demi rangkaian acara berjalan sesuai dengan rencana, lomba tahfizh anak-anak membuat malu para bapak yang ternyata anak2 lebih pandai al qur'an daripada orang tua.. Begitu juga lomba ceramah anak-anak sungguh lebih membuat para orang tua geleng kepala merasa kagum kok anak kecil udah pinter ceramah, saya saja udah setua ini gak bisa2 ceramah.. wah bapak2 jangan kalah sama anak ya...!! He he.. Ada kebanggaan tersendiri dari HASMI Depok karena telah menyabet satu medali emas dan satu medali perak, yaitu di lomba baca puisi dan lomba kreasi anak (mewarnai).. Pembaca puisi M. Hari telah mampu mengguncang panggung dengan puisi " Karena Kau HASMI " sehingga mampu memenangkan lomba tersebut.. Selamat buat bang Hari, semoga semakin semangat dalam beramal dakwah.. Acara Tabligh Akbar semakin sempurna tatkala Ustadz idola kita semua memberikan tausiyahnya.. Mata tak kuasa menahan air mata yang memaksa ingin menetes dari kelopaknya.. Tausiyahnya membangunkan jiwa ynag sempat tertidur dan lalai dengan dunia, bermegah2 dalam harta benda tapi tidak mau berinfak, padahal kejayaan Islam ada di tangan2 kita semua.. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih, jazakumulloh khoiron katsiron atas keikutsertaan seluruh peserta yang telah hadir dalam acara tersebut... dan kepada panitia kami ucapkan selamat atas suksesnya acara tersebut, acungkan jempol untuk kerja cerdas panitia..
[Ana Al Cilacapi]

Minggu, 21 April 2013

Fenomena Lemah Iman




Fenomena Lemah Iman

Isi Materi
Pertama : Fenomena lemah iman. Kedua : Penyebab lemah iman. Ketiga : Terapi lemah iman
Perkara-perkara yang mesti diperhatikan seorang muslim dalam amal-amal salehnya
-------

Segala puji bagai Allah. Kita memuji, meminta ampunan dan petunjuk-Nya. Juga meminta perlindungan-Nya dari keburukan jiwa serta amal-amal kita. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imrân:102)

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS.an-Nisa:1)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki untukmu amalan-amalanmu dan mengampuni untukmu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS.al-Ahzab:70,71)


Adapun selanjutnya:

Fenomena lemah iman telah menjadi sesuatu yang menyebar dan merata di tengah kaum muslimin. Sebagian mengeluhkan kerasnya hati mereka dengan berujar, "Aku merasa hatiku keras", "Aku tidak dapat merasakan nikmatnya ibadah", "Aku merasa imanku berada di titik nadir", "Aku tidak dapat merasakan pengaruh bacaan al-Quran", "Aku mudah terjerumus dalam maksiat".

Pada sebagian orang nampak sekali pengaruh penyakit ini. Penyakit lemah iman merupakan dasar dari segala kemaksiatan, segala aib dan bencana.

Tema hati merupakan tema yang sensitif dan urgen. Ia dinamakan "القلب" (hati) karena cepatnya berubah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

"Sungguh dia dinamakan القلب [al-qolb=hati[1]] karena تقلبه 'taqollubihi' (perubahannya). Perumpamaan hati adalah seperti bulu yang tersangkut di pangkal pohon, kemudian angin menelungkupkan bagian atas menjadi bawahnya.[2]

Dalam riwayat lain:"Perumpamaan hati seperti bulu di tengah padang pasir yang di bolak-balikan angin." [3]

Kalbu cepat berbolak-balik, sebagaimana yang telah disifati oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya: "Sungguh kalbu anak Adam lebih cepat terbolak-balik dari pada bejana yang direbus." [4]

Dalam riwayat lain: "Lebih amat terbolak-balik dari pada bejana yang di rebus."[5]

Allah -subhanahu wata'âla- yang membolak-balikkan hati dan merubahnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Amr Ibn al-Ash bahwa dia mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,

"Sesungguhnya hati/kalbu anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara jari jemari Zat yang Maha Pengasih, seperti satu kalbu, dibolak-balikkan sekehendak-Nya."

Kemudian Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- berdoa:

[Allahumma mushorriful quluub, shorrif quluubana 'alaa thoo'atika]
"Ya Allah, pembolak-balik kalbu, palingkanlah kalbu kami kepada ketaatan-Mu."[6]

Allah-lah yang memisahkan antara seseorang dengan kalbunya. Seseorang tidak akan selamat kecuali datang kepada Allah dengan hati/kalbu yang selamat. Kedukaanlah bagi pemilik kalbu yang sulit untuk zikrullah (mengingat Allah). Surga dijanjikan bagi siapa yang merasa takut kepada Allah yang Maha Pengasih, padahal tidak terlihat olehnya dan datang dengan hati yang bertobat.

Seorang mukmin hatinya haruslah sensitif, menyadari penyakit yang menyusup dan faktor penyebabnya, untuk kemudian bersegera mengobatinya sebelum menjangkit dan membinasakannya. Perkaranya besar dan serius. Allah -subhanahu wata'âla- telah memperingatkan kita mengenai hati yang keras, terkunci, sakit, buta, buntung, terbalik, ternoda dan dicap.

Tulisan ini merupakan upaya mengenal fenomena penyakit lemah iman, faktor penyebab dan terapinya. Saya meminta kepada Allah semoga menjadikan amal ini bermanfaat bagi diri saya dan saudara-saudaraku kaum muslim. Membalas siapa saja yang berandil dalam penerbitannya dengan ganjaran yang setimpal.

Allah -subhanahu wata'âla- kuasa melembutkan hati-hati kita karena sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik pelindung. Cukuplah Dia sebagai penolong dan tempat bergantung.

Pertama: Fenomena lemah iman

Sesungguhnya penyakit lemah iman memiliki gejala dan tanda-tanda, di antaranya:

1. Terjerumus dalam kemaksiatan dan melakukan perbuatan haram.

Sebagian orang intens melakukan maksiat. Sebagian lagi hanya melakukan maksiat-maksiat tertentu saja. Ke-sering-an melakukan maksiat akan merubahnya menjadi gaya hidup, sehingga hilang pandangan buruk maksiat dari hatinya secara bertahap, yang pada akhirnya sanggup menampakkan kemaksiatan itu, sebagaimana yang terdapat dalam hadits:

"Setiap umatku diampuni dosa-dosanya kecuali yang melakukannya terang-terangan. Di antara bentuknya; seseorang melakukan maksiat di malam hari, paginya Allah telah menutupi dosanya, namun dia berkata, 'Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begitu.' Padahal dia telah bermalam dengan dosa yang tertutupi, namun paginya dia sendiri yang menyingkap apa yang telah Allah tutupi."[7]


2. Merasakan kalbu yang kaku dan keras. Sampai-sampai merasakan hatinya telah berubah menjadi batu keras yang tak dapat menyerap dan tidak terpengaruh oleh apapun. Allah -azzawajalla- berfirman:

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS.al-Baqarah:74)

Pemilik hati yang kaku tidak terpengaruh oleh nasihat-nasihat kematian ataupun melihat orang mati dan jenazahnya. Bahkan meskipun dia termasuk yang mengusung jenazah dan menguruk kubur dengan tanah. Langkahnya di antara perkuburan seolah hanya di antara bebatuan.


3. Tidak dapat sempurna dalam melakukan beribadah.

Pikirannya selalu melayang-layang saat melaksanakan shalat, membaca al-Quran, membaca doa maupun ibadah lainnya. Tidak dapat menadaburi dan merenungi makna-makna zikir. Membacanya sambil lalu dan dengan cara yang menjemukan jika telah dihafalnya. Sekalipun telah membiasakan diri berdoa dengan doa-doa tertentu pada waktu yang telah ditentukan oleh sunah, tetap saja dia tidak dapat khusyuk memahami makna-makna doa tersebut. Allah -subhanahu wata'âla- berfirman (dalam hadits qudsi):

"...tidak diterima doa dari hati/kalbu yang lalai lagi lengah." [8]

4. Malas melakukan ketaatan dan ibadah dan cenderung melalaikan. Jika pun melaksanakan, hanyalah sekadar aktivitas kosong tanpa ruh. Allah -azzawajalla- mendeskripsikan orang-orang munafik dengan firman-Nya:

"...dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas..." (QS.an-Nisâ:142)

Termasuk juga ketidakpedulian akan luputnya musim-musim kebaikan serta waktu-waktu ibadah. Ini menunjukkan akan tidak adanya perhatian mendapatkan pahala. Mengakhirkan ibadah haji padahal mampu, enggan berjihad padahal dalam keadaan lapang dan meninggalkan shalat berjamaah sehingga berhujung pada meninggalkan shalat Jumat. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

"Masih terus saja suatu kaum meninggalkan saf pertama, hingga Allah akhirkan mereka ke neraka."[9]

Si penderita tidak sadar dengan teguran hatinya sewaktu tertidur saat masuk waktu shalat wajib, demikian pula ketika terluput melakukan shalat sunah rawatib atau meninggalkan wirid dari wirid-wiridnya. Dia tidak berhasrat untuk mengganti apa yang telah terluput itu. 

Demikianlah, dia menjadi terbiasa melalaikan segala yang dianggapnya sunah atau wajib kifayah[10], atau bahkan sama sekali tidak menghadiri shalat 'Id (padahal sebagian ulama mengatakan wajib melaksanakannya), tidak shalat gerhana, tidak respons untuk menghadiri resepsi kematian dan menyalatinya. Dia tidak menginginkan pahala dan tidak merasa butuh. Kontras dengan orang-orang yang telah Allah deskripsikan dalam firman-Nya:

"...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS.al-Anbiyâ`:90)

Di antara bentuknya yang lain adalah bermalas-malasan dalam melaksanakan ketaatan. Malas melaksanakan sunah rawatib[11], shalat malam, bersegera ke masjid, atau ibadah-ibadah lain semisal shalat dhuha. Jika ibadah-ibadah tersebut saja tidak terbetik dalam pikirannya, apatah lagi dengan shalat taubah atau shalat istikharah.

5. Tidak lapang dada, hilang selera, terperangkap dalam ego bahkan seolah ada beban berat yang menghimpit. Akibatnya menjadi cepat emosi atau berkeluh kesah hanya karena urusan sepele. Merasa tertekan dengan tingkah orang di sekitarnya dan menjadi tidak toleran. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- mendeskripsikan iman dengan sabdanya:

"Iman itu kesabaran dan toleran."[12]

Beliau mendeskripsikan seorang mukmin dengan: "...beramah-tamah. Tidak ada kebaikan bagi yang tidak beramah-tamah."[13]

6. Tidak peka/terpengaruh dengan bacaan al-Quran.

Tidak dengan janji-janji dan ancaman, tidak pula perintah dan larangan, maupun dengan penggambaran hari kiamat. Mereka yang lemah imannya, berpaling dari mendengar al-Quran. Jiwanya tidak sanggup konsisten membacanya. Ketika membuka al-Quran, hampir-hampir menutupnya kembali.

7. Lalai dari mengingat Allah -azzawajalla- dan berdoa kepada-Nya -subhanahu wata'âla-. Sehingga berat ketika berzikir. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, begitu cepat diturunkannya lagi kemudian berlalu. Allah mendeskripsikan orang munafik dalam firman-Nya: "...dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS.an-Nisâ:142)

8. Tidak murka jika kesucian Allah -azzawajalla- dinistai, karena api cemburu dalam kalbunya telah padam, sehingga tubuhnya tidak mampu melakukan pengingkaran, tidak pula beramar makruf nahi mungkar. Seumur-umur tidak pernah melakukan pembelaan terhadap Allah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- mendeskripsikan kalbu seperti ini sebagai kalbu yang lemah, dalam hadisnya:

"Fitnah (cobaan) dibentangkan kepada kalbu seperti keset, selembar demi selembar. Bagian manapun dari kalbu yang menyerapnya akan menjadi titik hitam."

Hingga menjadi seperti yang dikhabarkan Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:

"Hitam dengan sedikit bintik putih, seperti kerucut yang miring tertelungkup, tidak mengetahui kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, selain yang diterima oleh hawa nafsunya."[14]

Yang demikian itu karena telah luntur darinya cinta kebaikan dan benci kemungkaran. Hal itu yang menguasainya sehingga tidak ada yang mendorongnya untuk mengajak berbuat baik maupun mencegah kemungkaran. Bahkan ketika mendengar kemungkaran terjadi bisa jadi malah meridainya, sehingga dia pun mendapat dosa seperti orang yang menyaksikan namun membiarkannya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:

"Jika keburukan dilakukan di bumi dan dia menyaksikan dan membencinya –dalam riwayat yang lain mengingkarinya- seperti orang yang tidak hadir. Dan siapa yang tidak menyaksikannya tetapi meridainya maka seperti menyaksikannya."[15]

Rida dengan perbuatan maksiat merupakan amal hati/kalbu yang menyisakan dosa seperti orang yang melihatnya.

9. Senang memamerkan diri, dalam bentuk:

- Senang berkuasa dan memimpin, tanpa memperdulikan tanggung jawab dan bahayanya. Yang seperti inilah yang diperingatkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:

"Kalian akan tamak pada kekuasaan yang pada hari kiamat akan menjadi penyesalan. Nikmat permulaannya dan malapetaka pada akhirnya.

Maksud "nikmat permulaannya" karena perolehan harta, kehormatan dan kenikmatannya. Sedangkan "malapetaka pada akhirnya" karena terdapat pembunuhan, pelengseran, dan kepayahan pada hari kiamat."[16]

Nabi -shalallahu alaihi wasalam- pun bersabda: "Jika kalian ingin, aku dapat menjelaskan apa kekuasaan itu; permulaannya celaan, keduanya penyesalan, ketiganya siksa pada hari kiamat, kecuali bagi yang adil."[17]

Jika perkaranya adalah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab, di mana tidak ada orang yang lebih baik darinya, seraya bersungguh-sungguh, saling menasihati dan adil sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yusuf –alaihisalam-, kita katakan nikmat dan kemuliaan. Akan tetapi pada kebanyakannya adalah keinginan liar kekuasaan, ingin lebih, menindas para pemilik hak dan memonopoli perintah dan larangan.

- Senang muncul di majelis-majelis dan memonopoli pembicaraan, sedang yang lain wajib mendengarnya. Muncul di majelis-majelis maksudnya mimbar-mimbar. Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:

"Jauhilah tempat-tempat penyembelihan –maksudnya mimbar-mimbar."[18]

- Senang jika orang-orang berdiri menyambutnya, demi memuaskan rasa gila penghormatan pada jiwanya yang sakit. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

"Siapa yang senang dihormati dengan cara hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka."[19]

Oleh karena itu, ketika Muawiah mendatangi Ibnu Zubair dan Ibn Âmir, Ibn Âmir berdiri sedangkan Ibnu Zubair tetap duduk, Muawiah berkata kepada Ibn Âmir:

"Duduklah, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

'Siapa yang senang dihormati dengan cara hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka'."[20]

Tipe orang seperti ini akan marah jika sunah nabi ini diterapkan. Jika masuk suatu majelis, dia tidak rida kecuali ada salah seorang yang berdiri menyambutnya dan mendudukkannya, meskipun dia tahu Nabi -shalallahu alaihi wasalam- melarang hal itu dalam sabdanya:

"Janganlah seseorang itu membangunkan orang lain dari duduknya kemudian dia duduk di situ." [21]

10. Serakah dan kikir.

Allah -subhanahu wata'âla- telah memuji kaum Anshar dalam kitab-Nya: "...dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." (QS.al-Hasyr:9)

Dijelaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang menjauhi keserakahan diri mereka. Tidak diragukan bahwa lemah iman melahirkan keserakahan. Bahkan Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

"Tidak akan berkumpul keserakahan dan keimanan dalam hati seorang hamba sama sekali." [22]

Mengenai bahaya keserakahan dan pengaruhnya terhadap jiwa telah dijelaskan oleh Nabi -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:

"Jauhilah oleh kalian keserakahan. Sungguh binasanya orang-orang sebelum kalian karena keserakahan. Ketika (keserakahan) memerintahkan mereka untuk bakhil, mereka berbuat kekikiran, ketika memerintah untuk memutus persaudaraan, mereka memutus persaudaraan dan ketika memerintah mereka untuk berbuat kekejian, mereka melakukannya."[23]

Kebakhilan pada pemilik iman yang lemah, membuatnya hampir-hampir tidak mengeluarkan sedikit pun untuk Allah, sekalipun ada yang meminta sedekah dan menyaksikan sendiri kebutuhan saudaranya muslim yang terkena musibah. Tidak ada yang lebih tepat tentang mereka ini daripada firman Allah:

"Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Mahakaya, dan kamulah orang-orang yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu." (QS.Muhammad:38)

11. Mengatakan apa yang tidak dilakukannya.

Allah –wata'ala- berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS.as-Shaff: 2,3)

Tidak diragukan kalau ini adalah jenis kemunafikan. Siapa yang perkataannya menyelisihi perbuatannya, menjadi tercela di sisi Allah dan dibenci oleh makhluk. Penghuni neraka nantinya akan membeberkan apa-apa yang telah mereka perintahkan di dunia tetapi tidak melaksanakannya, dan apa yang dilarangnya tetapi dilakukannya.

12. Gembira dan menginginkan saudaranya gagal, rugi, terkena musibah dan lenyap kenikmatannya.

Dia merasa gembira ketika nikmat yang ada pada saudaranya sirna. Karena sesuatu yang menjadikan saudaranya itu istimewa telah tiada darinya.

13. Hanya melihat sesuatu perkara dari sisi apakah mengandung dosa ataukah tidak, tanpa melihat lagi apakah hal itu termasuk perkara "makruh" (dibenci) atau tidak.

Sebagian orang, jika hendak mengerjakan suatu amal tidak bertanya mana amal-amalan yang baik, tetapi yang ditanya 'apakah perbuatan itu dosa atau tidak?', 'haram atau cuma makruh?'. Mental seperti ini dapat menjeratnya ke dalam syirik "subhat" (kerancuan) dan "makruhat" (perkara-perkara yang dibenci), sehingga menjerumuskannya pada perkara haram pada suatu saat. Orang seperti ini tidak mengapa baginya mengerjakan perkara "makruh" (yang dibenci) atau "musytabih" (meragukan), selama perkaranya bukan haram. Inilah yang senyatanya dikabarkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya:

"Siapa yang terjerumus pada subhat (meragukan) telah terjerumus pada yang haram. Seperti penggembala yang menggembalakan gembalaannya di sekitar pagar, tidak ayal akan menerobos ke dalamnya..."[24]

Bahkan sebagian orang jika meminta fatwa dalam suatu perkara dan dikhabarkan bahwa hal itu haram akan bertanya, 'apakah sangat haram atau tidak?' atau 'seberapa besar dosanya?'. Yang seperti ini, tidak ada pada dirinya kepedulian untuk menjauhi kemungkaran dan kejelekan. Bahkan dia siap untuk terjerumus dalam tahap awal perbuatan haram. Dia menyepelekan dosa-dosa yang dianggap kecil, sehingga menjadi berani melanggar apa yang Allah haramkan. Hilang sekat antara dirinya dan kemaksiatan. Karenanya Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda dalam hadits sahih:

"Sungguh aku mengetahui kaum dari umatku yang datang membawa kebaikan seperti gunung Tuhâmah[25], namun Allah -azzawajalla- menjadikannya debu yang beterbangan."

Tsauban -radiallahu'anhu- bertanya,

"Wahai Rasulullah, deskripsikan mereka kepada kami agar kami tidak seperti mereka tanpa menyadarinya?"

Nabi menjawab,"Mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari bangsa kalian. Malam mereka sama seperti malam kalian[26], akan tetapi jika tengah bersendirian dengan perkara haram mereka melabraknya."[27]

Engkau dapatkan mereka terjerumus dalam perkara haram tanpa risih dan ragu. Ini lebih buruk dari mereka yang terjerumus setelah ragu-ragu dan risih, meskipun keduanya dalam bahaya, namun keadaan orang yang pertama lebih jelek dari yang kedua. Macam orang seperti ini menggampangkan dosa karena kelemahan imannya. Dia tidak melihat bahwa hal itu adalah sesuatu kemungkaran. Karenanya Ibnu Mas'ud -radiallahu'anhu- menggambarkan perbedaan antara keadaan orang beriman dengan orang munafik dengan:

"Orang beriman melihat dosanya seperti batu di atas gunung dan takut akan menimpanya. Sedangkan pelaku dosa, melihat dosanya seperti lalat yang lewat di hidungnya dan menepisnya."[28]

14. Meremehkan kebaikan dan tidak peduli dengan kebaikan-kebaikan kecil.

Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- telah mengajarkan kita agar tidak seperti itu. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad -rahimahullah- dari Abu Jarî al-Hajimi, katanya: "Aku mendatangi Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dan bertanya:

'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah kaum badui, ajarkan kami sesuatu yang akan Allah beri manfaat kepada kami!'".

Nabi bersabda:"Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun sekedar mengosongkan isi embermu untuk orang yang memerlukan air, dan sekalipun berbicara dengan saudaramu dengan wajah yang ceria."[29]

Seandainya ada yang ingin mengambil air dari sumur, sedangkan engkau telah lebih dulu mengambilnya, maka berikan air itu kepadanya. Amalan seperti ini meskipun nampaknya sepele, tidak semestinya diremehkan. Demikian pula dengan menemui saudaramu dengan wajah ceria, membersihkan kotoran dan sampah dari masjid, walaupun hanya serpihan, semoga saja menjadi sebab pengampunan dosa.

Allah mensyukuri hamba-Nya dengan amalan seperti itu dan mengampuni dosanya. Bukankah Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:"Seseorang lewat dijalan dan mendapati ranting kayu menghalangi jalan. Dia berkata, 'Demi Allah, aku akan menyingkirkannya agar tidak menyakiti kaum muslimin lain!' Dia pun dimasukkan ke dalam surga."[30]

Pada jiwa yang meremehkan amalan baik yang ringan, ada kejelekan dan keteledoran. Cukup baginya hukuman atas penghinaannya terhadap kebaikan yang kecil diharamkan dari keistimewaan agung yang dijelaskan oleh sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-: "Siapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan kaum muslimin, dicatatkan untuknya satu kebaikan. Siapa yang diterima kebaikannya dia masuk surga."[31]

Mu'adz -radiallahu'anhu- berjalan bersama seorang lelaki. Muadz menyingkirkan batu dari jalan. Lelaki itu bertanya: "Apa yang kau lakukan?"

Muadz berkata: "Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

"Siapa yang menyingkirkan batu dari jalan, Allah catatkan untuknya satu kebaikan. Siapa yang memiliki kebaikan akan masuk surga."[32]

15. Tidak peduli dengan kondisi kaum muslimin, tidak bersimpati dengan doa, sedekah maupun bantuan lain.

Mati rasa terhadap penderitaan saudara-saudaranya di belahan bumi yang terbelenggu musuh, tertindas, teraniaya dan terkena bencana. Cukup baginya keselamatan dirinya sendiri. Ini adalah dampak lemahnya iman. Seorang mukmin justru sebaliknya. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:"Sesungguhnya seorang mukmin bagi ahli iman seperti kepala pada tubuh. Seorang mukmin akan merasa sakit terhadap (penderitaan) ahli iman seperti sakitnya tubuh ketika merasa ada gangguan di kepalanya."[33]

16. Memutuskan tali persaudaraan antara orang yang bersaudara.

Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,"Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang karena Allah -azzawajalla- atau dalam islam, kemudian berselisih, melainkan karena dosa yang pertama kali[34] dilakukan oleh salah seorang dari keduanya."[35]

Ini adalah dalil akan "karma" yang disebabkan oleh maksiat. Ia dapat menyebabkan terlepasnya ikatan persaudaraan dan memutuskannya. Keberutalan yang terkadang didapati seseorang dari saudaranya dikarenakan keimanan yang menurun, akibat dari maksiat yang dilakukannya; karena Allah menjatuhkan martabat pelaku maksiat di hati hamba-hamba-Nya. 

Dia hidup di antara manusia dengan keadaan yang buruk, tak bermartabat, sulit keadaan lagi tidak terhormat. Terluput juga darinya kemuliaan sebagai orang yang beriman serta pembelaan Allah, sesungguhnya allah hanya membela orang-orang yang beriman.


17. Tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk mengamalkan agama ini. Tidak berupaya untuk menyebarkan dan berkhidmat kepada agama ini.

Bertolak belakang dengan para sahabat Nabi -shalallahu alaihi wasalam- yang ketika memeluk Islam langsung merasa memiliki tanggung jawab. Lihatlah Tufail Ibn Amr -radiallahu'anhu-, berapa sering dia mondar-mandir menjelaskan Islam kepada kabilahnya, menyeru kepada Allah -azzawajalla-?! Dia bersegera mendakwahi kaumnya. Spontan setelah memeluk Islam dia langsung merasa harus kembali kepada kaumnya, kembali sebagai seorang dai (juru dakwah) penyeru kepada Allah -subhanahu wata'âla-.

Namun sekarang ini kebanyakannya membutuhkan waktu lama antara komitmen beragama hingga sampai pada tahap dakwah kepada Allah -azzawajalla-.

Para sahabat Muhammad -shalallahu alaihi wasalam- memahami bahwa konsekuensi memeluk Islam adalah memusuhi kekafiran, berlepas diri, serta memisahkan diri dari mereka. Tsumamah Ibn Atsâl -radiallahu'anhu-, pemimpin Yamamah, ketika tertawan dibawa dan diikat di masjid. Nabi menawarkan kepadanya untuk memeluk Islam. Allah memberinya cahaya (keimanan) menerima Islam. Setelah memeluk Islam dia berangkat umrah. Ketika sampai di Mekkah, dia berkata kepada kaum Quraisy:

"Tidak akan sampai kepada kalian sebutir gandum pun dari Yamamah, sampai Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- mengizinkannya."[36]

Pemisahan dirinya dengan kaum kafir dan pemboikotan secara ekonomi terhadap kafir Quraisy merupakan bentuk upaya yang mungkin dan tersedia untuk berkhidmat dalam dakwah. Ini terjadi secara langsung sebagai buah keimanan yang mantap sehingga berdampak pada munculnya perbuatan itu.

18. Cemas dan ketakutan ketika datang musibah atau terjadi masalah.

Engkau mendapatinya gemetar ketakutan, terganggu keseimbangannya, linglung, egois dan bingung dengan keadaannya ketika tertimpa bencana dan musibah. Jalan keluar tertutup dari pandangannya, dikuasai kegundahan, tidak dapat menghadapi kenyataan dengan stabil dan dengan hati/kalbu yang kuat. Itu semua dikarenakan lemah iman. Seandainya imannya kuat, tentu dia akan bertahan. Dia akan dapat menghadapi sebesar dan separah apa pun musibah dan bencana dengan kuat dan teguh.

19. Banyak berdebat, pamer lagi keras hati.

Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:"Tidaklah tersesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk atas apa yang mereka lakukan, melainkan setelah melakukan perdebatan."[37]

Perdebatan tanpa dalil dan tanpa tujuan yang benar membuat jauh dari jalan yang lurus. Berapa banyak perdebatan manusia hari ini yang dilakukan dengan cara yang batil, berdebat dengan tanpa dalil dan tanpa petunjuk hadits maupun al-Quran.

Cukuplah untuk dapat meninggalkan bagian tercela ini sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:"Aku adalah pemimpin pada rumah di dasar surga bagi yang meninggalkan riya (pamer), sekalipun benar."[38]

20. Cinta dunia, sangat bernafsu dan berhasrat terhadapnya.

Ketergantungan hatinya kepada dunia sampai kepada tingkatan akan merasa sakit jika ada kesempatan yang luput darinya, baik dalam bentuk harta, kehormatan, kedudukan maupun tempat tinggal. Menganggap diri bodoh dan buruk perencanaan hanya karena tidak bisa mendapat apa yang didapatkan orang lain. Dia merasa sakit dan amat tertekan jika melihat saudaranya memperoleh apa yang tidak didapatkannya dari kesempatan dunia. Bahkan terkadang mendengki dan mengharap nikmat itu sirna dari saudaranya. Ini bertentangan dengan iman, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:

"Tidaklah berkumpul di dalam kalbu seorang hamba antara keimanan dan kedengkian."[39]

21. Mengambil ucapan seseorang dan retorika naluriah akal semata dengan mengesampingkan sisi imaniah. Bahkan hampir-hampir engkau tidak mendapati dalam pembicaraannya unsur al-Quran, sunah atau perkataan generasi pendahulu Islam (salaf) -rahimahullah-.


22. Pemanjaan diri yang berlebihan dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan.

Engkau dapati dia begitu konsentrasi dengan kebutuhan tersier (bukan kebutuhan pokok) dengan perhatian yang berlebihan. Memuaskan diri dan memaksakan diri membeli pakaian yang mahal, menikmati interior mewah dan menghamburkan harta dan waktunya untuk kemewahan yang bukan kebutuhan darurat (primer), padahal saudaranya dari kaum muslimin di sekitarnya ada yang sangat berhajat kepada harta itu. Dia terhanyut hingga tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan yang dilarang, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Muadz Ibn Jabal -radiallahu'anhu- ketika diutus oleh Nabi -shalallahu alaihi wasalam- ke Yaman dengan wasiat:"Hindarilah memuaskan diri, sesungguhnya hamba Allah bukanlah dia yang suka memuas-muaskan diri."[40]


Kedua: Penyebab Lemah Iman

Lemah iman memiliki banyak sebab. Ada yang bertalian dengan gejalanya, seperti terjerumus dalam maksiat dan sibuk dengan dunia. Berikut ini sebab-sebab lain, tambahan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya:

1. Menjauh dari suasana imaniah dalam waktu yang lama.
Ini menjadi pemicu lemahnya iman dalam jiwa. Allah -azzawajalla- berfirman:"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS.al-Hadid:16)

Ayat di atas menunjukkan bahwa: meninggalkan suasana imaniah dalam waktu lama menjadi pemicu lemahnya iman di dalam hati/kalbu.

Permisalan:

Seseorang yang menjauh dari saudara seiman dalam waktu lama karena safar, penugasan atau hal lain, akan kehilangan suasana imaniah yang didapatinya ketika bersama saudara-saudaranya. Kekuatan hatinya bersandar pada kebersamaan itu. Seorang mukmin lemah jika bersendirian dan kuat jika bersama saudaranya seiman. Al-Hasan al-Bashri -rahimahullah- berkata:

"Saudara-saudara seiman bagi kami lebih berharga dari pada keluarga. Keluarga mengingatkan kami tentang dunia, sedangkan saudara-saudara seiman mengingatkan kami tentang akhirat."

Keterpisahan itu jika terus menerus berlangsung akan meninggalkan perasaan terbalik setelah beberapa lama. Merubahnya menjadi ketidaksukaan terhadap suasana imaniah. Berdampak pada hati/kalbu yang mengeras dan gelap, dan membuat cahaya iman menjadi padam. Inilah penjelasan mengenai fenomena kebiasaan buruk pada sebagian orang setelah berlibur, sepulang dari perjalanan wisata atau sekembalinya mereka dari tempat penugasan kerja atau pendidikan.


2. Menjauh dari teladan yang saleh.

Seseorang yang belajar kepada orang saleh, berarti mengumpulkan antara al-ilmu an-nâfi' (ilmu yang bermanfaat), amal saleh dan kekuatan iman. Tersambung secara teratur dengan keilmuan, akhlak dan keutamaan yang dimiliki sang guru. Jika menjauh beberapa waktu, sang murid akan merasa hatinya kembali mengeras.

Karena itulah ketika Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- wafat dan dikuburkan, sahabat berkata, "Kalbu kami mengingkari". Mereka gusar, karena sang pendidik, pengajar dan teladan -shalallahu alaihi wasalam- telah wafat. Dalam kisah yang lain diceritakan: "mereka seperti biri-biri di gelap malam dalam hujan yang deras".

Akan tetapi Nabi -shalallahu alaihi wasalam- meninggalkan di belakangnya orang-orang berkarakter gunung. Setiap mereka pantas untuk menggantikan dan menjadi teladan di antara mereka. Sekarang ini, kaum muslimin sangatlah berhajat kepada teladan seperti mereka.

3. Menjauh dari menuntut ilmu syariat dan tersambung dengan kitab-kitab salafussoleh maupun kitab imaniah yang menghidupkan hati.

Terdapat berbagai kitab yang jika dibaca, pembacanya akan merasa keimanan mengalir dalam hati/kalbunya. Menggerakkan dan mendorong keimanan yang melekat dalam jiwanya. Kitab yang utama adalah Kitabulah, al-Quran dan Kitab Hadits kemudian kitab ulama Mujtahidin dalam masalah melembutkan hati, nasihat, dan yang piawai memaparkan masalah aqidah dengan metode yang menghidupkan hati, seperti kitab Alâmah Ibnul Qoyyim, Ibnu Rajab dan selain mereka.

Terputus dari kitab-kitab seperti ini dan tenggelam dalam buku-buku filsafat saja atau buku-buku hukum yang tidak terkandung dalil atau buku bahasa dan usul misalnya, terkadang mewariskan kekerasan hati. Ini bukanlah celaan pada buku bahasa, usul atau yang sepertinya, tetapi peringatan bagi yang berpaling dari kitab-kitab tafsir dan hadits yang hampir-hampir engkau dapati tidak dibaca, padahal dia adalah kitab yang menghantarkan hati/kalbu kepada Allah -azzawajalla-.

Ketika membaca kitab hadits Shahihain misalnya, engkau akan merasa hidup pada masa generasi awal bersama Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dan para sahabatnya. Dapat merasakan suasana keimanan dari sejarah, kehidupan dan kejadian-kejadian yang berlangsung pada masa mereka.

Sebuah ungkapan: Ahlul hadits adalah ahlu Rasul. Sekalipun mereka tidak menemani secara fisik tetapi jiwa mereka menemaninya.

Sebab ini –yaitu menjauhi kitab-kitab imani-, dampaknya begitu nyata terhadap mereka yang mempelajari materi-materi yang tidak berhubungan dengan Islam, seperti filsafat, ilmu jiwa, sosiologi dan materi-materi lain yang memalingkan dari materi Islam. Termasuk pada penikmat komik-komik, kisah percintaan, gairah maupun mengikuti berita-berita yang tidak (/kurang) bermanfaat dari koran-koran, majalah-majalah dsb dan intens mengikutinya.

4. Keberadaan seorang muslim di tengah ingar-bingar kemaksiatan.

Si fulan berbangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya, sebagian lagi bersenandung musik, sebagian lagi tenggelam dengan kepulan asap rokoknya, sebagian lagi terlena dengan majalah amoralnya, sebagian lagi lisannya tak lepas dari laknat, mencela dan mengumpat dst. Pembicaraan gosip, gibah (bergunjing), adu domba dan berita-berita pertandingan, menjadi suatu yang tidak bisa dihitung banyaknya.

Sebagian majelis tidak disebut kecuali urusan dunia, seperti keadaan kebanyakan majelis dan perkantoran hari ini. Pembicaraan tentang perdagangan, pekerjaan, uang, investasi, problem kerja, kenaikan gaji, promosi, tunjangan dsb menguasai kepedulian banyak orang dalam pembicaraan mereka.

Sedangkan di rumah –tak mengapa kita ungkapkan - malapetaka dan perkara-perkara mungkar membuat kening muslim berkerut dan membuat kalbu terhenyak. Musik cabul, film porno, percampuran antara peria dan wanita (yang bukan mahram) dan kemungkaran lain yang memenuhi rumah-rumah kamu muslimin. Lingkungan seperti ini akan membuat hati menjadi sakit dan menjadi keras tentunya.

5. Larut dalam rutinitas dunia hingga hati/kalbunya tersandera. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:"Celakalah hamba dinar dan hamba dirham" [41]

Sabdanya pula -shalallahu alaihi wasalam-:"Sesungguh cukuplah bagi kalian dari perkara dunia seperti berbekalnya seorang yang berkendaraan."[42]

Maksudnya sekadarnya, sekadar cukup sampai ke tujuan.

Apa yang di sampaikan di atas adalah realita yang terjadi sekarang ini, di mana kerakusan terhadap materi dan ketamakan memiliki lebih dari berbagai sisi dunia, menjadikan manusia mengendus-endus di belakang perdagangan, produksi dan investasi-investasi. Benarlah sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-


"Allah -azzawajalla- berfirman: 'Sesungguhnya kami turunkan (keberadaan) harta untuk menegakkan shalat dan membayar zakat. Seandainya anak keturunan Adam memiliki satu danau harta niscaya dia ingin memilik dua, jika dia memiliki dua danau niscaya ingin memiliki tiga danau. Dan tidaklah anak Adam akan puas kecuali setelah dipenuhi tenggorokannya oleh tanah, lalu Allah mengampuni siapa saja yang bertaubat."[43]


6. Sibuk dengan harta, istri (wanita) dan anak.

Allah -azzawajalla- berfirman:"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan..." (QS.al-Anfâl:28)

Dan firman-Nya:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS.Ali Imrân:14)

Makna dari ayat di atas, bahwa kecintaan kepada dunia, -kepada wanita dan anak-anak yang terdepan-, jika lebih didahulukan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dianggap buruk dan pelakunya tercela. Adapun jika kecintaan itu sesuai implementasi syariat, yang membantu dalam ketaatan kepada Allah, maka hal itu terpuji. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:


"Dicintakan kepadaku dari dunia; wanita dan minyak wangi dan dijadikan penyejuk pandanganku pada shalat."[44]

Kebanyakan orang terbuai memuaskan istri sampai pada perkara-perkara haram dan terbuai memuaskan anak-anaknya hingga tersibukkan dari ketaatan kepada Allah. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- telah bersabda:"Anak pembuat kesedihan, kepengecutan, kebodohan juga kebakhilan."[45]

مخبلة (pembuat kebakhilan) : jika seseorang ingin berinfak di jalan Allah, setan mengingatkannya kepada anak-anaknya, sehingga mengatakan, "Anak-anakku lebih berhak. Akan aku tabung untuk mereka, sepeninggalku mereka akan membutuhkannya". Sehingga menjadi bakhil untuk berinfak di jalan Allah.

مجبنة (pembuat kepengecutan) : jika ia akan berjihad di jalan Allah, setan datang dan berkata kepadanya, "Engkau akan terbunuh dan anak-anakmu akan menjadi yatim!" Sehingga dia pun urung dan tidak pergi jihad.

مجهلة (pembuat kebodohan) : ia menjadi tersibukkan dari menuntut ilmu dan hadir di majelis-majelis ilmu maupun membaca kitab ilmu.

محزنة (pembuat kesedihan) : jika anak sakit ia menjadi sedih. Jika anak meminta sesuatu yang dia tidak mampu, dia menjadi sedih. Jika anak besar dan durhaka kepadanya, menjadikannya sedih dan terus menerus dalam kegalauan.

Hadits di atas bukan memaksudkan untuk tidak menikah dan memiliki keturunan atau mendidik anak-anak. Tetapi maksudnya adalah memperingatkan agar tidak tersibukkan karena itu semua dalam perkara haram.

Mengenai fitnah harta, Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

"Setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta." [46]

Ambisi terhadap harta lebih sangat merusak agama dari pada serigala yang menguasai kawanan domba. Inilah makna sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:

"Tidaklah dua ekor serigala lapar masuk ke kawanan domba lebih merusak dari pada ambisi seseorang kepada harta dan tahta terhadap agamanya." [47]

Karenanya Nabi -shalallahu alaihi wasalam- menganjurkan mengambil sekadar cukup tanpa berlebihan sehingga tidak menyibukkan dari berzikir kepada Allah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:

"Sesungguhnya cukup bagimu mengumpulkan harta sebagai pelayan dan kendaraan di jalan Allah." [48]

Nabi -shalallahu alaihi wasalam- telah mengancam mereka yang menumpuk harta, kecuali bagi yang suka bersedekah. Sabdanya,

"Celakalah mereka yang menumpuk harta, kecuali bagi yang berkata dengan hartanya, demikian, demikian, demikian dan demikian ."

Memberikannya ke empat arah; kanan, kiri, depan dan belakangnya [49].

Maksudnya hartanya disedekahkan dan digunakan untuk amalan-amalan baik.


7. Panjang Angan-angan.

Allah -subhânahu wata'âla- berfirman:“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan, bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS.al-Hijr:3)

Ali -radiallahu'anhu- berkata,“S esungguhnya dari hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah memperturutkan hawa nafsu dan panjang angan-angan. Memperturutkan hawa nafsu menyimpangkan dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan menjadikan lupa pada akhirat.”[50]

Dalam asar lain: “Ada empat penderitaan: pandangan yang kaku, hati yang keras, panjang angan-angan, tamak dengan dunia.”

Panjang angan-angan membuat malas untuk berbuat ketaatan, jadi penunda, gila dunia, lupa akhirat serta hati yang mengeras. Karena kelembutan hati dan kebersihannya terjadi dengan mengingat kematian, alam kubur, pahala, dosa dan keadaan hari kiamat, sebagaimana firman Allah,

“Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. “ (QS.al-Hadîd:16)

Sebuah ungkapan:“Siapa yang pendek angan-angannya akan sedikit kegundahannya dan bercahaya hatinya, karena ketika teringat kematian dia akan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan...”[51]

8. Yang juga menjadi sebab lemah iman dan kerasnya hati; berlebihan dalam makan, tidur, bergadang, bicara dan bercampur dengan manusia.

Banyak makan memampatkan pikiran, memberatkan badan dalam berbuat ketaatan dan menyuplai tempat jalan setan pada diri manusia, sebagaimana sebuah ungkapan:"Siapa yang banyak makannya akan banyak minum dan tidurnya sehingga rugi banyak pahala."

Berlebih-lebihan dalam bicara mengeraskan hati. Banyak bercampur dengan manusia menghalangi seseorang dari mengintrospeksi diri dan merenungi urusan-urusannya. Banyak tertawa menghilangkan rasa malu dalam hati dan mematikannya. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dalam hadits sahih:"Jangan perbanyak tertawa, sesungguhnya banyak tertawa mematikan hati." [52]

Demikian pula waktu yang tidak diisi dengan ketaatan kepada Allah menghasilkan hati yang gersang, tidak bermanfaat baginya peringatan al-Quran dan nasihat keimanan.

Penyebab lemah iman banyak, tidak dapat dibatasi. Akan tetapi mungkin mengambil petunjuk dari apa yang telah disebutkan apa-apa saja yang belum disebutkan. Orang yang berakal dapat menemukannya sendiri. Kita meminta kepada Allah agar membersihkan hati kita dan melindunginya dari keburukan jiwa-jiwa kita.

Ketiga: Terapi lemah iman.

Al-Hakim meriwayatkan dalam kitab Mustadroknya juga at-Thabarani dalam Mu'jamnya bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:"Sungguh keimanan itu dibuat di dalam diri tiap kalian seperti dibuatnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui keimanan kalian."[53]

Maksudnya bahwa iman ditambal sulam di dalam kalbu seperti pakaian yang ditambal sulam jika sudah menjadi usang. Kalbu seorang mukmin terkadang terselubungi debu dari debu kemaksiatan sehingga menjadi gelap. Gambaran seperti ini digambarkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya dalam hadits yang sahih:


"Tidak ada kalbu melainkan memiliki selubung seperti selubung bulan. Dia bercahaya, tetapi ketika terselubungi menjadi gelap, jika selubungnya tersingkap ia kembali bersinar." [54]

Bulan terkadang terselubungi awan sehingga menutupi bias cahayanya. Beberapa waktu kemudian awan itu berlalu dan bulan kembali memancarkan bias cahayanya dan menerangi langit. Demikian pula dengan kalbu orang yang beriman, terkadang dia terselubungi oleh awan gelap dosa akibat maksiat, sehingga cahayanya tertutup, sehingga manusia itu dalam kegelapan dan kegalauan. Jika dia berupaya untuk menambah imannya dan meminta pertolongan Allah -azzawajalla-, gelap dosa yang menyelubungi itu tersingkap, sehingga cahayanya kembali seperti semula.

Di antara pilar penting memahami lemah iman dan memetakan terapinya adalah pengetahuan bahwa iman bertambah dan berkurang. Ini merupakan keyakinan Ahlussunnah Wal Jama'ah. Mereka mengatakan bahwa iman merupakan ucapan lisan, keyakinan hati dan amalan tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Quran dan Sunah. Di antaranya firman Allah -ta'âla-:"...supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath:4)

Dan firman-Nya:"... 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?'..." (QS.at-Taubah:124)

Sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:

"Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaklah merubah hal itu dengan tangannya, jika tidak sanggup maka dengan lisannya, jika tidak sanggup maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman." [55]

Pengaruh ketaatan dan maksiat dalam keimanan berbanding lurus dengan penambahan dan pengurangannya. Hal ini bisa dimaklumi dan terjadi. Jika seseorang pergi ke pasar menonton penampilan para perempuan berbusana minim, mendengar gurauan dan kekonyolan obrolan orang yang ada di pasar, kemudian beralih pergi ke perkuburan, merenungi dirinya, maka dia akan mendapatkan perbedaan yang jelas antara kedua keadaan di atas, kalbunya begitu cepat berubah.

Terkait dengan tema ini, para Salafussoleh berkata,

"Bentuk kefakihan seorang hamba adalah berkomitmen dengan keimanannya dari apa-apa yang menguranginya. Dan di antara bentuk kefakihan seorang hamba adalah mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang. Dan di antara kefakihan seseorang itu mengetahui bilamana gangguan setan itu datang.”[56]

Yang perlu diketahui bahwa manakala imannya berkurang hingga membuatnya meninggalkan kewajiban atau sampai melakukan perbuatan haram atau urung melakukan perbuatan “mustahabah” (baik), misalnya, maka dia musti mengupayakan semampunya agar dapat kembali kepada semangat dan kekuatannya semula dalam beribadah kepada Allah. Inilah manfaat yang dapat diambil dari sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:

"Pada setiap amalan ada massa semangat, dan pada tiap massa semangat ada masa lemah. Siapa yang massa lemahnya dalam melakukan sunahku, maka dia beruntung dan siapa yang lemahnya kepada hal lain sungguh dia binasa."[57]

Sebelum masuk pada pembicaraan mengenai pengobatan, ada baiknya menyebutkan beberapa catatan:

Kebanyakan mereka yang merasa hatinya mengeras mencari pengobatan eksternal, ingin bergantung dengan orang lain, padahal -jika mau– dia dapat mengobati dirinya sendiri, dan begitulah pada asalnya. Karena iman adalah hubungan antara hamba dengan Tuhan-Nya.

Berikut ini akan disebutkan beberapa wasilah syariat yang mungkin bagi seorang muslim mengobati lemah imannya dan menghilangkan kekerasan hatinya setelah berserah diri kepada Allah -azzawajalla- dan bertekat untuk berupaya:

1. Menadaburi al-Quran al-Adhzim yang diturunkan Allah -azzawajalla- yang merupakan obat segala sesuatu dan cahaya, yang dengannya Allah menunjuki siapa saja yang dikehendakinya. Tidak diragukan padanya terdapat terapi yang agung dan obat yang efektif. Allah -azzawajalla- berfirman:"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..." (QS.al-Isrâ: 82)

Adapun cara terapinya adalah dengan tafakur dan “tadabur” (merenunginya).

Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- senantiasa menadaburi kitab Allah dan mengulang-ulangi bacaannya ketika shalat di malam hari. Sampai-sampai pada suatu malam hanya mengulang-ulang bacaan satu ayat dalam shalatnya hingga subuh. Beliau membaca firman Allah -ta'âla-:

"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS.al-Maidah:118)[58]

Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- menadaburi al-Quran hingga sampai pada tahap yang agung. Ibnu Hibbân meriwayatkan dalam sahihnya dengan sanad yang baik dari Itharah, katanya:

"Aku dan Ubaidullah Ibn Amr mendatangi Aisyah -radiallahu'anha-. Ubaidullah berkata, 'Ceritakan kepada kami sesuatu yang menakjubkan yang engkau lihat dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-!'

(Aisyah menangis) seraya berkata, 'Pada suatu malam Rasulullah shalat malam dan berkata, 'Wahai Aisyah, biarkan aku beribadah kepada Tuhan-ku.'

Aku jawab, 'Demi Allah, aku suka berada dekat denganmu dan suka apa pun yang menyenangkanmu.’

Nabi pun pergi bersuci kemudian melaksanakan shalat. Rasulullah terus saja menangis dalam shalatnya hingga pangkuannya basah dan terus saja menangis hingga lantai pun basah. Ketika Bilal datang untuk mengumandangkan azan, dia melihat Rasulullah menangis dan bertanya,

'Wahai Rasulullah, engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?!'

Rasulullah menjawab,
'Tidakkah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?!' Telah turun kepadaku tadi malam ayat-ayat yang celakalah bagi yang membacanya tetapi tidak mentafakuri isinya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ...." (QS. Ali Imraân:190)"[59]

Hal ini menunjukkan akan wajibnya menadaburi ayat-ayat-Nya.

Pada al-Quran terkandung: “tauhid” (pengesaan), janji, harapan, hukum-hukum, berita dan kisah-kisah, adab, akhlak maupun berbagai macam pengaruh pada jiwa. Terdapat juga surat-surat tertentu yang membuat hati bergetar melebihi surat-surat yang lain, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sabda Nabi:"Kisah Hud dan kaumnya telah membuatku beruban sebelum waktunya." [60]

Dalam riwayat lain (disebutkan beberapa ayat): "(yaitu) Surat Hud, al-Waqiah, al-Mursalât, Amma yatasa'alun dan Idzas Syamsu Kuwwirot."[61]

Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- menjadi beruban karena apa yang terkandung dari hakikat iman dan pembebanan yang besar yang memenuhi dan memberatkan batin Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- sehingga terlihat pengaruhnya pada rambut dan jasadnya.

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu .... (QS.al-Hûd:112)

Para sahabat Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- membaca al-Quran, menadaburinya dan mendapati pengaruhnya. Abu Bakar -radiallahu'anhu- adalah seorang lelaki yang suka menyesali diri lagi lembut hatinya. Jika mengimami shalat dan membaca Kalamullah, tidak kuasa menahan diri dari tangisnya. Umar pun pernah sakit setelah membaca firman Allah -ta'âla- :"Sesungguhnya azab Tuhan-mu pasti terjadi." (QS. At-Thûr:7) [62]

Isak tangisnya terdengar dari saf di belakangnya ketika beliau membaca firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Ya'kub:"Ya'qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya’." (QS. Yusuf:86)[63].

Utsman -radiallahu'anhu- berkata: "Jika batin kita bersih, hati tidak akan berhenti berpuas-puas dengan Kalamulah."

Utsman -radiallahu'anhu- syahid terbunuh, terzalimi dan darahnya membasahi mushaf al-Quran. Berita tentang hal ini dari para sahabat Nabi banyak sekali.

Ayub berkata, "Aku mendengar Sa'id Ibn Jubair mengulang-ulangi bacaan ayat berikut ini dalam shalatnya lebih dari 20 kali:

"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah...." (QS. Al-Baqarah:281)[64]

Ia merupakan ayat al-Quran yang terakhir turun, yang kelanjutannya:". ..kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)."

Ibrahim Ibn Basyâr berkata:
"Ayat yang menghantar wafatnya Ali Ibn al-Fudhail: "Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman." (QS. Al-An'am:27)

Pada saat pembacaan ayat inilah Ali Ibn al-Fudhail wafat, dan aku termasuk orang yang menyalatkan jenazahnya -rahimahullah-.[65]

Hingga pada saat sujud tilawah[66] pun mereka terpengaruh. Di antaranya kisah seorang lelaki yang membaca firman Allah -azzawajalla-:"Dan mereka menyungkurkan muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk'." (QS.al-Isra':109)

Dia pun melakukan sujud tilawah. Kemudian dia berkata mencela dirinya: "Ini adalah sujud, tetapi di mana tangisannya?"

Di antara tadabur yang efektif adalah memperhatikan perumpamaan-perumpamaan al-Quran, karena Allah -subhanahu wata'âla- memberi permisalan dalam al-Quran untuk menggugah kita berpikir dan merenung. Firman-Nya: "...Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim:25)

Firman-Nya yang lain: "...dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (QS.al-Hasyr:21)

Salah seorang salaf, suatu kali mencoba memikirkan permisalan dari permisalan yang ada dalam al-Quran, namun dia tidak dapat memahaminya. Dia pun kemudian menangis. Ketika ditanya: "Apa yang membuatmu menangis?" Dia menjawab,

"Allah -subhanahu wata'âla- berfirman: "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS.al-Ankabût: 43)

Aku tidak dapat memahaminya, berarti aku bukan termasuk orang berilmu. Aku menangisi ilmu yang luput dariku.”

Allah telah memberikan permisalan kepada kita dalam al-Quran dalam jumlah yang banyak, di antaranya: permisalan orang yang menyalakan api, permisalan penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar, permisalan biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, permisalan anjing yang menjulurkan lidah, permisalan keledai yang membawa tumpukan kitab, permisalan lalat, laba-laba, permisalan orang buta dan tuli, permisalan orang yang dapat melihat dan mendengar, perumpamaan tumpukan pasir yang ditiup angin kencang, permisalan pohon yang baik dan pohon yang buruk, permisalan air yang turun dari langit dan lentera yang di dalamnya terdapat cahaya api, permisalan seorang budak yang tak dapat berbuat apa-apa dengan seorang yang memiliki banyak sekutu, serta permisalan-permisalan lain. Maksudnya adalah memperhatikan ayat-ayat yang mengandung permisalan-permisalan itu dan memperlakukannya dengan pelakuan khusus.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- merangkum apa-apa yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim untuk menterapi kekerasan hatinya dengan al-Quran, dengan mengatakan:

"Penuntasnya pada dua perkara: pertama: engkau pindahkan hatimu dari wilayah dunia lalu menempatkannya di wilayah akhirat, kemudian pertemukan hati itu seluruhnya dengan makna al-Quran dan kemuliaannya, tadaburi dan pahami apa maksudnya, untuk apa diturunkan, dan ambil yang kau butuhkan dari setiap ayat-ayatnya. Lekatkan ayat-ayat itu pada penyakit hatimu, jika ayat-ayat itu menyentuh hatimu yang sakit, sembuhlah hati itu."

2. Merasakan keagungan Allah -azzawajalla-. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta merenungi dan memahami maknanya.

Menetapi perasaan itu dalam hati dan mengalirkannya ke seluruh tubuh agar direalisasikan dalam praktek amal sesuai dengan perintah hati, karena hati adalah raja dan tuannya, sedangkan anggota tubuh sebagai tentara dan pengikutnya. Jika hati itu baik, baik pulalah amalannya, tapi jika buruk, buruk pulalah amalnya.

Nas-nas al-Quran dan sunah mengenai keagungan Allah banyak sekali. Jika seorang muslim merenungkannya, hati akan bergetar dan jiwanya akan tunduk kepada Zat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Turut pula tunduk anggota tubuhnya kepada Zat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kekhusyukannya kepada Tuhan seluruh makhluk bertambah. Itu bisa dilihat dari nama-nama-Nya yang banyak dan sifat-sifat-Nya yang suci.

Dia Maha Agung, Maha Memelihara, Maha Kuasa, Pemilik segala keagungan, Maha Kuat lagi Maha Mengalahkan, Maha besar lagi Maha tinggi. Yang Hidup dan tidak akan mati, sementara jin dan manusia mengalami kematian. Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) Para Malaikat karena takut kepada-Nya, Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab, terus menerus mengurus makhluk-Nya lagi tidak pernah tidur. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Keluasan ilmunya dideskripsikan dalam firman-Nya:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. al-An’âm:59)

Mengenai keagungan-Nya, Allah sendiri mengabarkan: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.az-Zumar:67)

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,“Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya, kemudian berkata, “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia?!”[67]

Hati berdebar-debar dan gemetar ketika merenungi kisah Nabi Musa –alaihissalam-, ketika berkata: Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau"

Allah menjawab: Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

(QS.al-A’raf:143)

Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menafsirkan ayat ini yang dibacanya sendiri beliau mengisyaratkan dengan tangannya demikian (beliau meletakkan jempol pada buku atas jari kelingking, kemudian -shalallahu alaihi wasallam- berkata, “Gunungpun runtuh.” [68]

Allah -subhanahu wata'âla- hijabnya cahaya, jika disingkap niscaya terbakarlah seluruh makhluknya.[69]

Di antara keagungan Allah, apa yang disebutkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-. Sabdanya,

"Jika Allah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya, tunduk dengan firman-Nya, seperti rantai di atas batu licin. Jika tersadar dari keterkejutan mereka bertanya, 'Apa yang dikatakan Tuhan kalian?' Sebagian menjawab, 'Yang mengatakan al-Hak adalah Zat yang Maha Tinggi lagi Maha Besar'."[70]

Nas-nas dalam hal ini banyak sekali. Maksudnya bahwa merasakan keagungan Allah dengan merenungi nas-nas tersebut termasuk yang paling bermanfaat dalam menterapi lemah iman.

Ibnul Qoyyim mendeskripsikan keagungan Allah dengan ungkapan yang indah:

"Allah mengatur malaikat, memerintah dan melarang, mencipta, memberi rezeki, mematikan, menghidupkan, memuliakan dan menghinakan, menggantikan malam dengan siang, merotasi hari di antara manusia, melengserkan negeri dan menggantinya dengan yang lain, perintah dan kekuasaan-Nya terlaku pada seluruh langit dan bumi, di permungkaan maupun di dalamnya, di lautan dan udara, ilmunya meliputi segala sesuatu dan mengetahui detail jumlah.

Pendengaranya mencapai segala sesuatu, tidak tercampur dan tidak tersamarkan, bahkan mendengar kebisingan dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan hajat mereka. Tidak teralihkan antara satu suara dengan suara lain, tidak tercampur karena banyaknya permintaan, tidak silap dengan banyaknya rintihan mereka yang berhajat, penglihatan-Nya meliputi segala sesuatu, dapat melihat rayapan semut hitam di gurun luas pada malam gelap gulita, yang gaib bagi-Nya ada, yang rahasia bagi-Nya terang benderang..(QS.ar-Rahman:29)

Dia mengampuni dosa, memberi jalan keluar, menyingkap kesulitan, menambal yang pecah, mengayakan yang miskin, memberi petunjuk yang tersesat, memberi arahan yang bingung, menolong yang butuh, mengenyangkan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, menyembuhkan yang sakit, memberi keafiatan mereka yang terkena bala, menerima taubat, membalas perbuatan baik, menolong mereka yang teraniaya, menghukum orang yang bengis, menutupi aurat/aib, memberikan keamanan, memuliakan suatu kaum dan menghinakan yang lain.. jika penghuni seluruh langit dan bumi, dari yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya setakwa orang yang paling takwa dari mereka,

tidaklah hal itu menambah kerajaan-Nya sedikit pun, jika makhluk-Nya yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya sefajir orang yang paling fajir di antara mereka, tidaklah hal itu mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun, jika penghuni langit dan bumi yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya, yang masih hidup dan yang sudah mati, yang kering dan yang basah berkumpul di satu tempat kemudian seluruhnya meminta, niscaya akan diberikan masing-masing apa yang diminta, dan itu tidak mengurangi sebesar biji zarah pun apa yang ada padanya...

Dia adalah yang pertama yang tidak ada sesuatu pun sebelumnya, dan Dia yang terakhir yang tidak ada sesuatu pun setelahnya, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, yang paling berhak disebut dan yang paling berhak diibadahi, yang pertama disyukuri, yang paling pemurah dan paling dermawan bagi yang meminta....

Dia adalah raja yang tidak ada sekutu baginya, Esa tidak memiliki tandingan, tempat bergantung lagi tidak beranak, Maha Tinggi tidak ada yang menyerupai, segala sesuatu binasa kecuali WajahNya, segala sesuatu sirna kecuali kerajaan-Nya...tidak ada yang berbuat taat kecuali dengan izin-Nya, tidak dimaksiati kecuali dengan sepengetahuan-Nya, jika taat maka disyukuri, jika dimaksiati Dia mengampuni, segala bencana yang ditimpakan adalah keadilan dan segala nikmat yang dicurahkan adalah karunia, saksi yang paling dekat, penjaga yang membimbing, merekam setiap asar dan mencatat ajal, setiap hati kepada-Nya tunduk, dan rahasia bagi-Nya jelas, pemberian-Nya dengan kalam dan azab-Nya juga dengan kalam, firman-Nya, (QS.Yâsîn: 82)[71]

3. Menuntut ilmu syariat. Ia merupakan ilmu yang pencapaiannya membuahkan rasa takut kepada Allah dan menambah iman kepada Allah -azzawajalla-. Sebagaimana firman Allah -ta'âla-:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama....” (QS.Fâthir:28)

Tidaklah sama keimanan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui. Bagaimana bisa menyamai orang yang mengetahui rincian syariat, makna "syahadatain" dan kandungannya, mengenal kehidupan setelah mati seperti fitnah kubur dan keadaan mahsyar, kejadian kiamat, nikmat surga, azab neraka, hikmah syariat pada hukum halal dan haram, rincian sejarah Nabi -shalallahu alaihi wasallam- dan hal-hal lain dari cabang ilmu. Bagaimana akan sama yang mengetahui perkara-perkara itu dengan yang bodoh terhadap agama, hukum-hukumnya serta apa-apa yang dijelaskan oleh syariat dalam perkara gaib. Mengetahui agama hanya ikut-ikutan, ilmunya hanyalah barang yang tidak berharga (di akhirat).

Firman Allah:"...Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"..." (QS.az-Zumâr:9)

4. Menghadiri majelis-majelis taklim. Hal ini akan menambah keimanan dengan berbagai sebab, di antaranya yang didapat dari berzikir kepada Allah, rahmat yang meliputi, turunnya ketenangan, para malaikat yang menaungi orang-orang yang berzikir, disebut oleh Allah di langit yang tertinggi, dibangga-banggakan kepada malaikat dan diampuni dosa-dosanya, sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits-Hadits sahih, di antaranya sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-:

"Tidaklah berkumpul suatu kaum berzikir kepada Allah, melainkan malaikat menaungi mereka, rahmat meliputi, turun ketenangan dan Allah menyebutkan mereka kepada para malaikat yang ada di sisinya.”[72]

Sahal Ibn Handzolah -radiallahu'anhu- berkata, Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di atas zikir, kemudian membubarkan diri, melainkan dikatakan kepada mereka, 'Berdirilah! dosa kalian telah diampuni'.”[73]

Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata: "Disebut zikrullah maksudnya adalah kesenantiasaan melakukan amal yang diwajibkan Allah atau disukai, seperti membaca al-Quran, membaca al-Hadits dan mempelajari ilmu." [74]

Di antara yang menunjukkan bahwa "majelis zikir" menambah Iman adalah apa yang dikeluarkan Imam Muslim -rahimahullah- dalam sahihnya dari Hanzhalah al-Usaidi, katanya:

“Aku bertemu Abu Bakar. Dia berkata:

“Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?”

“Hanzhalah (khawatir) menjadi munafik.” Jawabnya

“Mahasuci Allah. Apa yang engkau katakan?!” Ujar Abu bakar.

Hanzhalah berkata, “Ketika kami bersama Rasulullah, beliau mengingatkan kami akan neraka dan surga, sampai-sampai seolah kami melihatnya. Ketika meninggalkannya, kami kembali bercampur dengan istri anak-anak dan amanah-amanah –maksudnya rutinitas hidup baik harta benda, produksi dll- kami menjadi banyak lupa (dengan peringatan-peringatan Rasulullah).”

Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku pun mendapati hal itu.”Aku dan Abu Bakar pun menemui Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Aku berkata kepada Rasulullah,“Hanzhalah (khawatir) menjadi munafik wahai Rasulullah.”

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bertanya, “Mengapa demikian?”

“Wahai Rasulullah, ketika kami bersamamu dan engkau ingatkan kami tentang neraka dan surga seolah kami melihatnya dengan mata kepala kami. Namun setelah meninggalkanmu, bertemu kembali dengan istri, anak-anak dan hal-hal yang melalaikan lain, kami jadi banyak lupa dengan peringatan itu.” Jawab Hanzhalah.

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Jika kalian senantiasa dalam kondisi ketika berada bersamaku dan peringatan-peringatanku, niscaya malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur dan di jalan-jalan kalian, akan tetapi wahai Hanzhalah, saat dan saat, 3x.”[75]

Para sahabat -radiallahu'anhum- berupaya konsisten untuk hadir di majelis zikir, dan mereka menyebutnya sebagai iman. Muadz -radiallahu'anhu- berkata kepada seorang lelaki,

“Duduklah bersama kami, beriman untuk sesaat.”[76]

5. Di antara sebab yang menguatkan iman, memperbanyak amal saleh dan memenuhi waktu dengannya.

Ini merupakan sebab terapi agung dan merupakan perkara agung, pengaruhnya dalam menguatkan keimanan nampak sekali. Abu Bakar ash-Shiddîk merupakan permisalan yang agung dalam hal ini. Ketika Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bertanya kepada para sahabatnya,

“Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?”

Abu Bakar menjawab, “Saya.”

“Siapa yang mengiringi jenazah hari ini?” Tanya Nabi lagi.

“Saya.” Jawab Abu Bakar

“Siapa di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Tanya Nabi lagi.

“Saya.” Jawab Abu Bakar.

“Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” tanya Nabi lagi.

“Saya.” Jawab Aku Bakar.

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata, “Tidaklah berkumpul hal itu semua pada seseorang melainkan masuk surga.”[77]

Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Bakar as-Shiddîk -radiallahu'anhu- begitu loba untuk memanfaatkan kesempatan dan meragamkan amalan. Momen ini ditanyakan Nabi -shalallahu alaihi wasallam- secara tiba-tiba, yang menunjukkan bahwa hari-hari Abu Bakar -radiallahu'anhu- dipenuhi dengan ketaatan. Generasi Salafussoleh -rahimahullah- dalam mengisi waktu mereka dengan amal saleh telah mencapai tingkat yang agung. Sehingga para Salafussoleh di jadikan permisalan, seperti yang di katakan kepada Hammad Ibn Salamah, Imam Abdurrahman Ibn Mahdi berkata:

“Jika dikatakan kepada Hammad Ibn Salamah, ‘Engkau akan mati besok, tentu dia tidak akan lagi sanggup menambah amalannya.”[78]

Seorang muslim pada amalan-amalan salehnya hendaknya memperhatikan perkara-perkara berikut:

Bersegera melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah -ta'âla-: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS.Ali Imran:133)

Ayat ini menunjukkan dorongan kepada para sahabat Nabi -shalallahu alaihi wasallam- untuk segera melakukan amal saleh.

Imam Muslim -rahimahullah- meriwayatkan dalam sahihnya dari Anas Ibn Mâlik pada peristiwa perang Badar ketika pasukan kaum musyrikin mendekat, Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkata:

“Berhamburanlah ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Umair Ibn al-Hammam al-Anshari berkata,

“Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?!”

“Ya." Jawab Rasulullah.”

Dia berkata,

“Bakhin, bakhin![79].”

“Apa yang membuatmu berkata ‘bakhin bakhin’?” Tanya Rasulullah.

“Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah. Tidak lain hanya ingin menjadi penghuninya.”

“Engkau termasuk penghuninya.” Ucap Rasulullah.

Umair mengeluarkan kurma dari sakunya dan memakannya, seraya berujar,

“Jika aku masih hidup hingga selesai memakan kurma-kurma ini, sungguh merupakan waktu yang panjang.”

Dia pun membuang kurma yang tersisa kemudian memerangi musuh hingga syahid terbunuh.[80]

Sebelum itu, ada kisah Nabi Musa yang ingin bertemu dengan Allah. Musa berkata,
“...dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar supaya Engkau rida (kepadaku)". (QS.Thâha:84)

Allah pun memuji Nabi Zakaria dan keluarganya:

“...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (QS.al-Anbiya:90)

Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda: “Lirih dalam segala hal –dalam riwayat dalam kebaikan- kecuali pada amalan akhirat.”[81]

Kontinu dalam ketaatan, sebagaimana sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- dalam Hadits Qudsi:

“Hambaku masih saja mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan 'nawafil' (sunah) hingga aku mencintainya.”[82]

Ungkapan “masih saja” mengartikan kekontinuan. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,

“Iringi amalan Haji dengan Umroh!”[83]

Mengiringi pengertiannya juga termasuk kekontinuan. Ini adalah permulaan penting dalam menguatkan keimanan, tidak mengabaikan jiwanya hingga menjadi condong pada pengabaian dan penyesalan. Konsisten walau sedikit lebih baik dari banyak yang terputus. Konsisten dalam beramal saleh menguatkan keimanan. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- penah ditanya,

“Amalan apa yang lebih dicintai Allah?”

Beliau menjawab, “Yang konsisten walau sedikit.”[84]

Dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- jika mengerjakan suatu amalan beliau senantiasa konsisten.[85]

- Bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya.

Terapi hati yang keras tidaklah baik jika hanya sewaktu-waktu. Membaik suatu waktu lalu kembali melemah. Yang semestinya adalah perbaikan yang bersambung. Ini tidak akan terwujud kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Allah -subhânahu wata'âla- telah menyebutkan di dalam kitab-Nya akan kesungguhan para wali-wali Allah dalam beribadah di berbagai keadaan, di antaranya:

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya, dan mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan setiap rezeki yang Kami berikan.” (QS.as-Sajdah:15-16)

Firman-Nya yang lain: “Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar, dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS.adz-Dzariât: 17-19)

Jika menengok keadaan generasi Salafussoleh dalam menetapi sifat-sifat "'âbidin" (ahli ibadah) akan membangkitkan rasa takjub, sehingga menuntun kita untuk meneladani mereka. Di antaranya: mereka mengkhatamkan bacaan al-Quran setiap tujuh hari, mereka tetap melaksanakan shalat malam dalam medan perang dan pertempuran, berzikir kepada Allah dan melakukan shalat tahajud, meskipun dalam penjara, kaki mereka memar-memar, air mata membasahi pipi-pipi mereka, mentafakuri penciptaan langit dan bumi.

Di antara mereka ada yang mengguraui istrinya seperti ibu yang guraui momongannya, namun ketika istrinya tertidur, dia pun bangkit meninggalkan selimut dan tempat tidurnya melakukan shalat malam. Mereka membagi malam untuk diri dan keluarga, sedang siangnya untuk berpuasa, belajar, mengajar, mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit dan membantu kesusahan orang lain, bahkan pada sebagiannya tidak pernah tertinggal "takbiratul ihram" bersama imam selama bertahun-tahun, mereka menunggu shalat setelah shalat, menafkahi keluarga saudaranya yang ditinggal mati selama bertahun-tahun. Siapa yang keadaannya seperti itu, maka imannya senantiasa bertambah.

- Jangan membuat diri menjadi jenuh.

Bukanlah maksud dari kontinuitas dalam ibadah atau bersungguh-sungguh melaksanakannya untuk menjadikan dirinya jenuh dan bosan, tetapi maksudnya agar tidak terputus dalam beribadah selama sanggup dilakukan, dengan berupaya sedapat mungkin, baik dalam keadaan sedang bersemangat maupun ketika sedang lemah. Gambaran seperti ini ditunjukkan oleh hadits-hadits Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- di antara sabdanya:

“Agama itu mudah. Tidaklah seseorang itu berlebih-lebihan dalam beragama melainkan dia akan menyerah, karenanya tepatilah (sedapat mungkin) dan serupailah (sedapat mungkin).” [86]

Dalam riwayat lain:“Maksudnya adalah engkau sampai kepada maksud.” [87]

Al-Bukhari -rahimahullah- menyebutkan bab: Mâ Yukrohu Minat Tasydid Fil Ibadah (Apa-apa yang dibenci ketika bersangatan dalam ibadah).

Sahabat Anas -radiallahu'anhu- berkata, “Nabi -shalallahu alaihi wasallam- masuk masjid, dan didapatinya ada tali merentang. Beliau bertanya, “Tali apa ini?”

Orang-orang menjawab,“Itu adalah tali milik Zainab, jika mengantuk dia akan berpegangan.” Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,

“Jangan demikian. Lepaskanlah tali itu! Hendaknya setiap kalian shalat saat fit, jika lelah hendaknya duduk.” [88]

Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- tahu bahwa Abdulllah Ibn Amr Ibn al-Ash melakukan shalat sepanjang malam dan berpuasa setiap hari, Nabi -shalallahu alaihi wasallam- melarang hal itu dan menjelaskan sebabnya dengan sabdanya: “Jika engkau melakukan sedemikian engkau merusak matamu –maksudnya melemah karena banyak bergadang- dan jiwamu menjadi lemah.”

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda: “Laksanakanlah amalan yang mampu kalian lakukan. Sesungguhnya Allah -azzawajalla- tidaklah bosan, hingga kamu sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah -azzawajalla- adalah yang berkesinambungan walaupun sedikit.” [89]

- Mengganti amalan yang tertinggal.

Dari Umar Ibn al-Khaththab -radiallahu'anhu- bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

“Siapa yang tertidur dari "hizb"nya (membaca zikir, doa dan al-Quran) pada suatu malam atau sesuatu darinya, hendaknya dibaca setelah shalat Fajar dan Zuhur. Dicatatkan baginya seperti membaca pada malam hari.” [90]

Aisyah -radiallahu'anha- berkata, “Dahulu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- jika melakukan suatu shalat akan kontinu melaksanakannya. Jika luput shalat malam karena tertidur atau sakit, beliau melakukan shalat 12 rakaat di siang hari.”[91]

Ketika Ummu Salamah -radiallahu'anha- melihat Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- melakukan shalat dua rakaat setelah shalat Asar, dia pun bertanya kepada Nabi. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menjawab dengan sabdanya:

“Wahai putri Abu Umayyah, engkau bertanya mengenai dua rakaat setelah Asar. Telah datang kepadaku orang-orang dari kabilah Abdul Qois, sehingga menyibukkanku dari melaksanakan dua rakaat setelah zuhur, inilah dua rakaat itu.” [92]

Jika beliau belum melaksanakan shalat 4 rakaat sebelum zuhur, beliau akan melaksanakan setelahnya.[93]

Jika terlewat melaksanakan 4 rakaat sebelum zuhur beliau akan melaksanakannya setelah zuhur.[94]

Hadits-Hadits di atas menunjukkan akan "qodho" (mengganti) sunah rawatib.

Ibnul Qoyyim al-Jauziah -rahimahullah- menyebutkan mengenai puasa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- di bulan Syaban yang lebih banyak dari bulan lain, dengan tiga alasan, pertama: beliau biasa puasa 3 hari setiap bulan. Bila beliau tersibukkan melakukannya selama beberapa bulan, maka beliau ganti pada bulan Syaban agar dapat menyelesaikannya sebelum masuk puasa wajib Ramadhan....[95]

Rasulullah dahulu beritikaf pada sepuluh hari akhir Ramadhan. Ketika suatu kali beliau tidak sempat melakukannya karena safar, beliau beritikaf dua puluh hari pada tahun berikutnya.[96]

- Berharap dikabulkan sembari khawatir tidak diterima.

Setelah bersungguh-sungguh melakukan ketaatan, semestinya khawatir amalnya tidak diterima. Aisyah -radiallahu'anha- berkata,

“Aku bertanya kepada Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mengenai ayat ini:

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS.al-Mukminun:60)

(Apakah yang takut) mereka yang meminum khamar dan mencuri?” Tanyanya.

Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menjawab,

“Tidak, wahai putri as-Shidhdhik. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat dan bersedekah, namun khawatir apa yang dilakukan tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dalam melakukan kebaikan.” [97]

Abu Darda -radiallahu'anhu- berkata, “Jika dapat dipastikan bahwa Allah telah menerima satu shalatku, lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya. Allah -subhânahu wata'âla- berfirman: “...Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS.al-Maidah:27)[98]

Di antara sifat seorang mukmin adalah merendahkan dirinya kepada kewajiban yang merupakan hak Allah -ta'âla-. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda, “Jika seorang lelaki mengupayakan sejak lahir hingga mati, total hanya untuk memperoleh rida Allah -azzawajalla-, niscaya dia sendiri akan meremehkan seluruh upayanya itu pada hari kiamat.” [99]

Siapa yang mengenal Allah dan mengenal dirinya, akan jelas baginya bahwa perbekalan yang dibawanya tidak akan cukup, sekalipun mengerjakan amalan seluruh manusia dan jin. Jika pun Allah -subhânahu wata'âla- menerima amalannya, itu karena kemurahan, keutamaan dan kebaikan-Nya. Dia membalas hamba-Nya dengan kemurahan, keutamaan dan kebaikan-Nya.


6. Meragamkan ibadah.

Di antara rahmat Allah dan hikmah-Nya, Dia meragamkan untuk kita ibadah. Ada yang "jasadiah" (jasmaniah) seperti shalat dan ada yang dengan harta seperti zakat, ada juga yang keduanya sekaligus seperti haji dan ada pula yang dengan lisan seperti zikir dan doa.

Pada setiap macamnya pun terbagi lagi; ada yang "fardu" (wajib), sunah dan "mustahabah" (disukai). Yang ibadah fardu pun bertingkat sebagaimana halnya sunah, seperti shalat. Di antaranya sunah rawatib sebanyak 12 rakaat di siang hari. Ada juga yang lebih rendah kedudukannya, seperti 4 rakaat sebelum asar dan shalat dhuha. Atau yang lebih tinggi seperti shalat malam. Masing-masingnya pun memiliki tata cara yang beragam. Ada yang dua rakaat dua rakaat, 4 rakaat kemudian witir, ada yang 5 rakaat atau 7 rakaat, atau 9 rakaat dengan satu tasyahud.

Demikianlah, siapa yang memperhatikan pernik ibadah akan mendapati keragaman yang agung dalam jumlah, waktu, bentuk, cara dan hukum. Bisa jadi hikmahnya agar jiwa tidak menjadi bosan, mau terus melakukan dan memperbaharuinya. Dan lagi, jiwa masing-masing orang tidaklah sama dalam kehendak dan kemampuan. Bisa jadi sebagian jiwa menikmati ibadah tertentu melebihi orang lain. Maha Suci Allah yang telah menjadikan pintu-pintu surga dengan berbagai bentuk ibadah, sebagaimana yang disebutkan di dalam Hadits Abu Hurairah -radiallahu'anhu- bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

“Siapa yang "menginfakkan" (merelakan) 2 suaminya[100] (berjihad hingga mati syahid) di jalan Allah, akan dipanggil dari seluruh pintu surga; “Wahai hamba Allah, ini kebaikan, barang siapa yang ahli shalat, dipanggil dari pintu shalat, siapa yang ahli jihad, dipanggil dari pintu jihad, siapa yang ahli puasa dipanggil dari pintu Royyân, siapa yang ahli sedekah dipanggil dari pintu sedekah.” [101]

Maksudnya adalah yang memperbanyak ibadah sunah dalam ibadahnya. Adapun 'farâ`id" (kewajiban) semua harus melaksanakannya. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda: “Orang tua (bapak) adalah pintu pertengahan surga.” [102]

Maksudnya berbakti kepada orang tua.

Keragaman ibadah ini bisa dimanfaatkan untuk mengobati lemah iman. Memperbanyak ibadah yang jiwa condong melakukannya, seraya menjaga "farâ`id wal wajibât" (fardu dan wajib)[103] yang Allah perintahkan.

Dengan demikian amat mungkin bagi seorang muslim jika mengamati nas-nas ibadah yang ada, mendapati macam ibadah tertentu yang memiliki pengaruh dan membantu jiwanya, yang tidak didapati pada ibadah lainnya. Berikut dua permisalan:

Abu Dzar -radiallahu'anhu- meriwayatkan dari Nabi -shalallahu alaihi wasallam-, sabdanya:

“Ada tiga yang dicintai Allah dan ada tiga yang dimurkai Allah. Adapun tiga yang dicintai Allah adalah seorang lelaki yang menghadapi pasukan musuh, meneroboskan dirinya hingga terbunuh atau berhasil membuka pintu masuk bagi sahabat-sahabatnya, (kedua) suatu kaum melakukan safar, titian perjalanan terasa panjang hingga membuat ingin beristirahat, kemudian mereka pun turun. Salah seorang dari mereka memisahkan diri melakukan shalat hingga tiba waktunya melanjutkan perjalanan dia membangunkan sahabat-sahabatnya. (ketiga) seorang lelaki yang mempunyai tetangga yang senantiasa mengganggunya, namun dia bersabar atas gangguan itu hingga mereka dipisahkan oleh kematian atau pergi....”[104]

Seorang lelaki mendatangi Nabi -shalallahu alaihi wasallam- mengadukan kekerasan hatinya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkata kepadanya, “Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan hajatmu tersampaikan?! Sayangilah anak yatim, usap kepalanya, beri ia makan dari makananmu, maka hatimu akan menjadi lembut dan hajatmu akan terpenuhi.” [105]

Ini adalah keterangan eksplisit untuk tema mengobati lemah iman.

7. Takut "Su’ul Khatimah" (buruk pengakhiran).

Takut akan su’ul khatimah akan mendorong seorang muslim untuk berbuat ketaatan dan memperbaharui iman dalam hatinya.

Su’ul khatimah sendiri sebabnya banyak, di antaranya:

- Lemah iman dan larut dalam kemaksiatan.

Nabi -shalallahu alaihi wasallam- telah menggambarkannya seperti sabdanya:

“Siapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi itu akan berada di tangannya menikami perutnya di neraka jahanam, kekal selamanya. Siapa yang minum racun hingga membunuh dirinya, maka dia akan meminum racun itu dengan perlahan dalam api neraka jahanam kekal selamanya. Siapa yang menjatuhkan dirinya dari atas bukit untuk bunuh diri, maka dia akan menjatuhkan dirinya ke dalam api neraka jahanam kekal selamanya.” [106]

Pada masa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- hal ini terjadi. di antaranya kisah seorang lelaki yang berada bersama pasukan kaum muslimin memerangi tentara kafir. Tidak ada seorang pun yang menandingi cara berperangnya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkata:

“Adapun dia, dia termasuk ahli neraka.”

(Mendengar itu) salah seorang kaum muslimin mengikutinya. Lelaki itu mendapat banyak luka parah. Ayalnya ia tergesa-gesa untuk mati. Ditempelkannya ujung pedangnya di dadanya lalu dia sandarkan dirinya pada pedang itu sehingga membunuh dirinya.[107]

Keadaan manusia yang su’ul khatimah banyak. Ahli ilmu menutupi kisah beberapa di antaranya. Dari yang diungkap seperti yang disebutkan Ibnul Qoyyim -rahimahullah- dalam kitab ‘ad-Dâ’ wad-Dawâ’; ketika dikatakan kepada seseorang yang sedang sekarat, "ucapkan la ilaha illallah!" dia berkata, “Aku tidak bisa”, sebagian lagi ketika diminta mengucapkan la ilaha illallah malah bernyanyi. Ketika dikatakan kepada seorang tajir yang lalai dari zikrullah karena perniagaannya, ketika datang kematian diminta mengucapkan la ilaha illallah malah mengatakan, “Ini barang bagus, harganya sesuai dan murah” hingga kematiannya.[108]

Diriwayatkan bahwa sebagian tentara Raja an-Nâshir menghadapi kematian. Ketika anak mereka memintanya mengucapkan la ilaha illallah malah berkata, “an-Nâshir tuanku. anaknya terus menuntunnya tetapi bapaknya tetap mengatakan, an-Nashir tuanku, an-Nashir tuanku hingga mati.” Yang lain dituntun mengucapkan la ilaha illallah malah berkata, “Perbaikilah dar fulaniah jadi sedemikian dan kebun fulani jadikanlah demikian dan demikian”. Dikatakan kepada seorang pendidik saat mendekati ajalnya, ucapkan la ilaha illallah, dia malah mengatakan, “sepuluh dikalikan satu sepuluh...terus mengulang-ulanginya” Hingga mati.[109]

Sebagian lagi wajahnya menjadi hitam atau berubah dari sebelumnya. Ibnul Jauzi -rahimahullah- berkata, “Aku telah mendengar mengenai sebagian orang yang aku kira banyak kebaikannya, pada beberapa malam menjelang kematiannya mengatakan, “Tuhankulah yang telah menzalimi aku” –Maha Suci Allah dari apa yang diucapkannya-. Dia menuduh Allah dengan kezaliman di ranjang kematiannya. Ibnul Jauzi melanjutkan, “Aku pun masih saja risau dan tertarik untuk menemukan yang serupa atas pengalaman hari itu”.[110]

Maha Suci Allah. Berapa banyak manusia yang menyaksikan pelajaran dari kejadian seperti ini. Yang tidak terungkap dari orang-orang yang menyaksikan mereka yang sekarat lebih banyak lagi.[111]

8. Memperbanyak mengingat kematian.

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan yaitu kematian.” [112]

Mengingat kematian dapat mengerem kemaksiatan dan melunakkan hati yang keras. Dengan mengingatnya seseorang yang merasa sempit hidupnya akan merasa lapang dan yang merasa lapang hidupnya akan berasa sempit.

Pengingat kematian terbesar adalah ziarah kubur. Karena itu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- memerintahkan dengan sabdanya:

“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, tetapi sekarang ziarahilah, karena ia dapat melembutkan hati, meneteskan air mata dan mengingatkan akhirat. Namun janganlah berkata yang tidak pantas.”[113]

Bahkan diperbolehkan bagi muslim menziarahi perkuburan kafir untuk mengambil pelajaran. Dalilnya apa yang terdapat dalam Hadits sahih bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menziarahi kubur pamannya kemudian menangis, sehingga menangislah orang di sekitarnya. Beliau berkata:

“Aku meminta izin kepada Tuhan-ku untuk mengampuninya tetapi Tuhan tidak mengizinkanku. Aku meminta izin untuk menziarahinya maka Tuhan mengizinkanku. Ziarahilah kubur karena akan mengingatkan pada kematian.” [114]

Ziarah kubur termasuk wasilah besar meluluhkan hati dan bermanfaat bagi penziarahnya untuk mengingat kematian. Ia bermanfaat juga bagi penghuni kubur dengan mendoakan mereka. Di antara sunah ketika berziarah kubur sebagaimana doa Nabi -shalallahu alaihi wasallam-:

“Keselamatan atas kalian penghuni kubur dari orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang belakangan. Kami insyaAllah akan menyusul kalian.”[115]

Bagi siapa saja yang hendak berziarah kubur, hendaklah memperhatikan adab-adab dan menghadirkan hatinya ketika mendatanginya. Maksudkanlah ziarah itu hanya untuk mengharap wajah Allah dan membetulkan hatinya yang rusak. Andaikan dirinya sebagai orang yang berada di bawah tanah terpisah dari keluarga dan orang-orang yang dicintainya. Merenungi keadaan yang telah berlalu dari saudara-saudaranya, bagaimana upaya teman-temannya mencapai angan-angan dan mengumpulkan harta, kemudian angan-angan itu terputus dan harta tidak dapat mencukupkan mereka.

Tanah telah melumat ketampanan paras mereka, tubuh mereka lebur di dalam kubur dan istri-istri mereka menjanda. Ingatlah bencana akibat terperdaya oleh sebab-sebab dan mengandalkan kesehatan dan masa muda, condong kepada bersenang-senang dan bermain-main. Akhirnya mau tidak mau pasti mengalami kematian. Pikirkanlah keadaan penghuni kubur, bagaimana kedua kakinya hancur, kedua matanya meleleh, lidahnya dimakan cacing dan tanah melusuhkan gigi-giginya.[116]

Syair:

Waktu, dunia dan langit yang tinggi tidak akan bertahan
Tidak pula cahaya matahari dan bulan
Semuanya akan tinggalkan dunia walau dengan keberatan[117]

Siapa yang banyak mengingat kematian dimuliakan dengan tiga perkara: disegerakan bertaubat, ketenangan hati dan giat beribadah.

Siapa yang melupakan kematian mengakibatkan pada tiga perkara: menunda untuk bertaubat, tidak rida dengan kecukupannya dan malas untuk beribadah.

Yang juga dapat membekas dalam jiwa menyaksikan orang yang sekarat. Melihat mayat, menyaksikan orang yang meregang nyawa, nyawa yang tercabut dan membayangkan keadaan setelah kematiannya dapat memutus kenikmatan-kenikmatan dari jiwa, mencegah mata tertidur dan badan beristirahat, sehingga membangkitkannya untuk beramal dan menambah kesungguhan.

Hasan Al-Bashri menjenguk orang sakit dan didapatinya dalam keadaan sakaratul maut. Dia perhatikan kepayahan dan kesusahan orang itu sampai meninggal. Ketika kembali kepada keluarganya, air mukanya berbeda dengan saat dia keluar. Keluarganya menawarkan makan kepadanya, “Makanlah! Semoga Allah merahmatimu.” Hasan berkata, “Wahai keluargaku. Nikmatilah makanan dan minuman kalian. Demi Allah, aku telah melihat seorang yang meregang nyawa dan masih saja memikirkannya.”

Dari kesempurnaan merasai kematian turut menyalati jenazah, turut mengusung jenazah di pundaknya sampai ke kuburan, turut mengubur dan menimbunkan tanah ke atas kubur. Semua itu mengingatkan kepada akhirat. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,

“Jenguklah orang sakit dan iringi jenazah, yang demikian itu mengingatkan kalian pada akhirat.”[118]

Lebih dari itu, ada pahala besar bagi yang mengiringi jenazah. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menyebutkan dalam sabdanya,

“Barang siapa bertakziah dari rumah duka -dalam riwayat lain: Barang siapa yang mengantarkan jenazah muslim dengan keimanan dan berharap pahala- hingga menyalatinya, maka baginya satu qirath, dan barang siapa bertakziah hingga penguburan maka baginya dua qirath pahala.”

Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, dua qirath itu apa?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.”

Dalam riwayat lain, setiap qirath besarannya seperti gunung Uhud.”[119]

Dahulu para salaf -rahimahumullah- menasihati dengan mengingatkan kematian manakala ada seseorang yang terjerumus dalam maksiat. Ketika di majelis salah seorang salaf -rahimahullah- ada seseorang yang menghibah (menggunjing) orang lain, dia menasihati orang yang menghibah dengan mengatakan, “Ingatlah pada kapas bila diletakkan di kedua matamu.” Maksudnya ketika dikafankan.

9. Di antara perkara-perkara yang memperbaharui iman dalam hati, mengingat kejadian akhirat.

Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata: “Jika seseorang sehat akal pikirannya dia diberi "bashiroh" (kesadaran) berupa cahaya di hati. Menyadari janji dan ancaman, surga dan neraka dan apa yang Allah janjikan di dunia untuk wali-walinya dan musuh-musuhnya. Jadilah dia manusia yang paling sadar.

Sungguh manusia akan keluar dari kubur-kuburnya bergegas memenuhi seruan yang hak. Malaikat langit turun mengelilingi mereka. Allah telah datang, dan telah ditegakkan kursi-Nya untuk memutuskan perkara. Terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhan-nya; diberikan buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi.

Timbangan (amal) telah ditegakkan, lembaran-lembaran (catatan amal) beterbangan, berkumpul orang yang berselisih, tersangkut setiap yang berhutang dengan piutangnya. Ditampakkan telaga dan gelas-gelasnya dari dekat, banyak yang kehausan dan hanya sedikit yang mendatangi telaga itu. Jembatan telah di bentangkan untuk menyeberang dan manusia pun berdesak-desakan terhadapnya. Cahaya dibagikan mengusir kegelapannya untuk dapat menyeberang, sementara api neraka menyala-nyala satu sama lain di bawahnya. Sekelompok berjatuhan dan sekelompok lain selamat. Dibukakan dalam hatinya mata yang melihat hal itu, hatinya seolah menyaksikan kejadian akhirat, peristiwa demi peristiwa dan kekekalannya, sedang dunia begitu cepat berakhir.[120]

Al-Qur’an banyak menyebutkan tentang kejadian hari akhir seperti yang terdapat pada surat Qaaf, surat al-Waaqi’ah, Al-Qiyaamah, Al-Mursalat, An-Nabaa, Al-Muthaffifîn dan At-Takwir. Demikian juga dalam kumpulan Hadits disebutkan dalam bab kiamat, padang mahsyar, surga dan neraka. Selain itu semua, perlu juga kita membaca buku-buku para ulama yang setema, seperti kitab Haadii Al-Arwah (petunjuk ruh) karya Ibnul Qayyim, An-Nihaayah fi Al Fitan (akhir dari ujian) karya Ibnu Katsir, At-Tadzkirah fi Ahwaal Al Mauta wa Umuril Âkhirah (pengingat peristiwa kematian dan perkara akhirat) karya Qurthubi, Al-Qiyamat Al Kubra, Al-Janah wa An-Naar (Surga dan neraka) karya Umar Al Asyqari dan yang lainnya. Tujuannya adalah untuk menambah keimanan, dengan mengetahui kejadian hari kiamat seperti kebangkitan, "ma'sar" (pengumpulan), syafa’at, penghitungan, pembalasan, qishash, timbangan, telaga, daarul qarar, surga dan neraka.

10. Di antara perkara-perkara yang dapat memperbaharui iman, respek dengan tanda-tanda alam.

Al-Bukhari, Muslim dan selain keduanya meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- jika melihat awan mendung atau angin berubah air mukanya.”

Aisyah -radiallahu'anha- berkata, “Wahai Rasulullah, aku perhatikan orang-orang jika melihat mendung gembira, berharap akan turun hujan. Namun aku perhatikan jika melihatnya engkau justru nampak khawatir.”

Nabi menjawab,“Wahai Aisyah, apa yang menjamin, bisa jadi itu adalah azab. Telah diazab kaum terdahulu dengan angin, dan mereka melihat sendiri azab itu datang seraya berkata, “Ini adalah hujan yang datang.”[121]

Nabi -shalallahu alaihi wasallam- spontan berdiri ketika melihat gerhana, sebagaimana yang disebutkan dalam sahih al-Bukhari dari Abu Musa -radiallahu'anhu- katanya,“Terjadi gerhana matahari. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- spontan berdiri, khawatir terjadi kiamat.”[122]

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- memerintahkan kita ketika terjadi gerhana matahari maupun bulan untuk bersegera melaksanakan shalat. Beliau mengabarkan bahwa keduanya adalah tanda-tanda yang Allah berikan untuk mempertakuti hamba-Nya.

Tidak diragukan bahwa respons hati terhadap kejadian dan spontanitas memperbaharui keimanan dalam hati dan mengingatkan azab Allah, kekerasan azab-Nya, kedahsyatan-Nya, kekuatan-Nya dan siksa-Nya.

Aisyah -radiallahu'anha- berkata, “Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menghela tanganku kemudian menunjuk ke bulan, seraya berkata, “Wahai Aisyah, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan ini, sesungguhnya ini adalah kejahatan malam jika telah gelap gulita.”[123]

Contoh yang lain: merasakan pengaruh ketika lewat di tempat bekas bencana, azab atau kubur orang-orang yang zalim.

Ibnu Umar -radiallahu'anhuma- meriwayatkan bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata kepada para sahabatnya ketika sampai al-Hijr: “Janganlah masuk ke dalamnya, mereka itu diazab, kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis janganlah masuk ke dalamnya, agar kalian tidak mengalami apa yang mereka alami.”[124]

Demikianlah. Namun sekarang ini orang-orang mendatanginya untuk berwisata dan berfoto. Maka renungkanlah!!

11. Yang juga merupakan perkara yang amat penting dalam pengobatan lemah iman adalah zikrullah -ta'âla-.

Ia merupakan pembersih hati dan penyembuh. Obat di kala sakit. Ia merupakan ruh amal saleh. Allah -subhânahu wata'âla- telah memerintah berzikir dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan sebanyak-banyaknya.” (QS.al-Ahzab:41)

Allah menjanjikan keberuntungan bagi siapa yang banyak melakukannya: “...dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS.al-Anfâl: 45)

Zikrullah lebih besar dari segala-galanya: “...dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)....” (QS.al-Ankabut:45)

Ia merupakan wasiat Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bagi yang tidak mampu menjalankan syariat Islam dengan maksimal:

“Senantiasakan lisanmu basah berzikir kepada Allah.”[125]


Zikrullah diridai Allah yang Maha penyayang dan mengusir setan, penghilang kegalauan dan kerisauan, pendatang rezeki, pembuka pintu-pintu makrifat, menjadi tanaman di surga dan sebab terselamatkan dari ketergelinciran lisan. Ia merupakan pelipur kesedihan fakir miskin yang tidak mampu bersedekah. Allah mengganti ketidakmampuannya dengan zikir, menggantikan kedudukan ketaatan badaniah dan harta.

Meninggalkan zikrullah menjadi sebab kerasnya hati.

Syair:

Lupa berzikir kepada Allah adalah kematian hati mereka
Tubuh mereka menjadi kubur sebelum perkuburan
Ruh-ruh mereka terperangkap dalam jasad
Tidak ada bagi mereka kebangkitan pada hari kebangkitan

Karenanya, siapa yang ingin mengobati lemah imannya haruslah memperbanyak zikrullah. Allah berfirman:“...dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa....” (QS.al-Kahfi:24)

Allah -subhânahu wata'âla- menjelaskan pengaruh zikrullah terhadap hati: “...Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.ar-Ro’du:28)

Ibnul Qoyyim –rahimahullahu ta'âla- berkata mengenai pengobatan dengan berzikir,

“Pada hati ada kekerasan yang tidak bisa dilembutkan kecuali dengan zikrullah (menyebut dan mengingat Allah). Hendaklah seorang hamba mengobati kekerasan hatinya dengan berzikir kepada Allah -ta'âla-. Seseorang berkata kepada al-Hasan al-Bashri -rahimahullah-,

'Wahai Abu Sa’id (panggilan al-Hasan), aku mengadu kepadamu akan kekerasan hatiku!

Al-Hasan menjawab,

'Lembutkan dengan zikir'.

Karena ketika hati bertambah lalai, semakin keras pulalah ia. Jika dia berzikir kepada Allah -ta'âla-, lenyaplah kekerasan itu seperti timah yang meleleh terkena api. Tidak ada yang melembutkan kekerasan hati seperti zikrullah -azzawajalla-. Zikir adalah kesembuhan hati dan obatnya, sedangkan kelalaian adalah penyakitnya. Kesembuhan dan obat hati ada pada zikrullah -ta'âla-. Makhul berkata,

“Zikrullah (menyebut dan mengingat Allah) adalah obat, sedangkan 'zikrunnâs' (mengingat manusia) adalah penyakit.”[126]

Dengan berzikir seorang hamba telah mengalahkan setan, sebagaimana setan mengalahkan manusia dengan lalai dan lupa. Sebagian salafussoleh berkata, “Jika zikir telah bertempat dalam hati, tatkala setan mendekat, ia mengalahkannya, seperti manusia yang mendekat kepada setan, setan akan mengerumuninya –maksudnya mengerumuni untuk berusaha mendekati hati orang beriman-, mereka akan mengatakan, “Tidak ada peluang untuk yang ini.” Dikatakan pula, “Dia telah disusupi jiwa manusia!”.[127]

Manusia yang tersurupi setan kebanyakannya adalah yang biasa lalai dan tidak membentengi diri dengan wirid maupun zikir. Karena itulah mudah bagi setan untuk menyurupinya.

Sebagian mereka yang mengeluhkan lemah iman, terasa berat bagi mereka terapi "qiyamullail" (shalat malam) dan ibadah sunah. Sehingga cocok bagi mereka pengobatan dengan menggunakan zikrullah dan mengonsistenkannya. Hafalkan zikir-zikir mutlak dan ulang-ulangilah bacaannya, seperti:

لا إله إلا الله لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

[laa ilaaha illallah laa syarikalahu, lahulmulku walahul hadmu wahua ‘ala kulli syai`in qodiir]
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak memiliki sekutu, milik-Nya Kerajaan dan segala pujian dan Dia mampu atas segala sesuatu.”

سبحان الله وبحمده وسبحان الله العظيم

[subhanallah wabi hamdihi wa subhanallahal adzim]. Artinya: “Maha suci Allah dan segala pujian-Nya, dan Maha Suci Allah yang Maha Agung.”

لا حول ولا قوة إلا بالله

[laa haula walaa quwwata illa billah]. artinya: “Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan Allah.”

Serta zikir-zikir lainnya.

Hafalkan juga "zikir-zikir muqoyyadah" (zikir yang terikat dengan tempat dan waktu) yang terdapat dalam sunah, ulang-ulangi bacaannya sesuai waktu dan tempatnya, seperti zikir pagi dan petang, ketika tidur, bangun dari tidur, ketika bermimpi, ketika makan, masuk kamar mandi, melakukan safar, ketika turun hujan, ketika mendengar azan, ketika masuk masjid, beristikharah, ketika mendapat musibah, melewati kubur, ada angin kencang, melihat hilal (awal bulan), naik kendaraan, ketika bersin, mendengar kokok ayam, ringkikan keledai, penutup majelis dan melihat tempat yang terkena musibah.

Tidak diragukan, bahwa siapa yang menghafal semua doa itu akan mendapati pengaruh dalam hatinya. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah memiliki risalah yang bermanfaat mengenai zikir yang dinamakan al-Kalim at-Thayyib, diringkas oleh al-Albani dengan nama Sahih al-Kalim at-Tayyib.

12. Di antara perkara yang memperbaharui iman adalah bermunajat kepada Allah dan luluh di hadapan Allah -azzawajalla-.

Semakin hamba itu merendah dan tunduk, semakin dekat dia dengan Allah. Karena itu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda, “Posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Perbanyaklah berdoa (ketika itu).”[128]

Yang demikian karena sujud adalah posisi merendah dan menunduk, tidak seperti posisi lain. Ketika seorang hamba menempelkan keningnya di tanah –sementara Allah Maha Tinggi- menjadilah dia paling dekat dengan Tuhan-nya. Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam ungkapan yang indah dengan bahasa merendah dan luluh bagi orang yang bertaubat di hadapan Allah:

“Bagi Allah ucapan yang indah sebagaimana ungkapan seorang:

“Aku memohon dengan kemuliaan-Mu dan kehinaanku agar Engkau merahmatiku. Aku meminta dengan kekuatan-Mu dan kelemahanku, dengan kekayaan-Mu dan kefakiranku kepada-Mu, ini adalah diriku yang pembohong lagi pembuat salah berada di hadapan-Mu, engkau punya hamba-hamba yang banyak selain diriku, tidak ada tempat kembali dan mengadu kecuali kepada-Mu, aku meminta kepada-Mu seperti permintaan seorang miskin, mengiba kepada-Mu pengibaan orang yang tunduk dan rendah, aku bermohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang takut dan teraniaya, permintaan dari seorang yang merendahkan dirinya dan di bawah kendali-Mu, untuk-Mu kedua matanya menangis, dan untuk-Mu hatinya merendah .”

Manakala seorang hamba menghadap dengan ungkapan-ungkapan seperti di atas, bermunajat kepada Rab-nya, maka iman dalam hatinya akan berlipat ganda.

Menampakkan kefakiran di hadapan Allah juga menguatkan iman. Allah -subhânahu wata'âla- telah mengabarkan akan kefakiran kita dan kebutuhan kita kepada-Nya. Firman-Nya:

“Hai manusia, kamulah yang berhajat kepada Allah; dan Allah, Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS.al-Fâthir:15)


13. Memendekkan angan-angan. Ini penting sekali dalam memperbaharui keimanan.

Ibnu Qoyyim -rahimahullah- berkata:“Di antara yang agung mengenai hal ini adalah ayat-ayat berikut :

“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS.as-Syu’arâ`:205-207)

“...(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) melainkan hanya sesaat di siang hari....” (QS.Yunus:45)

Sebegitulah dunia, hendaklah manusia jangan memanjangkan angan-angannya dengan mengatakan, “Aku akan hidup dan terus hidup.”

Sebagian Salafussoleh mengatakan kepada seorang lelaki, “Shalatlah zuhur bersama kami!”

Dia menjawab, “Jika aku shalat zuhur bersama kalian, shalat asarnya tidak akan shalat bersama kalian!”

Maka dikatakan kepadanya: “Seolah engkau berangan-angan akan hidup sampai tiba waktu shalat asar. Kami berlindung kepada Allah dari panjangnya angan-angan.”


14. Merenungi kehinaan dunia, hingga pupus ketergantungan kepada dunia dari hati seorang hamba.

Allah -subhânahu wata'âla- berfirman: “...kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.Ali Imrân:185)

Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya makanan anak Adam merupakan permisalan dunia. Lihatlah apa yang dikeluarkan anak Adam, padahal itu adalah bumbu dan garam (yang semula dimakannya), sehingga sadar akan menjadi apa dia.”[129]

Abu Hurairah -radiallahu'anhu- berkata, aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,“Dunia terlaknat serta apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali zikrullah dan yang berkaitan dengannya atau ilmu atau mempelajari ilmu.”[130]

15. Yang juga perkara yang dapat memperbarui keimanan dalam hati, mengagungkan "hurumatillah" (hak-hak Allah).

Allah -ta'âla- berfirman, “Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS.al-Hajj: 32)

Hurumatillah adalah hak-hak Allah -ta'âla-. Bisa pada perorangan, tempat maupun pada waktu. Di antara bentuk pengagungan hak-hak Allah pada perorangan seperti menunaikan hak-hak Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Di antara bentuk mengagungkan pada tempat seperti mengagungkan tanah suci (Mekkah dan Madinah), dan pada waktu seperti mengagungkan bulan Ramadhan.

“...dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhan-nya....” (QS.al-Hajj:30)

Di antara bentuk mengagungkan hak-hak Allah, tidak meremehkan dosa-dosa kecil. Abdullah Ibn Mas’ud -radiallahu'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,“Hindarilah dirimu dari dosa-dosa remeh, sesungguhnya dia terkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”

Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- memberikan contoh seperti suatu kaum yang datang ke suatu gurun, mulailah seorang demi seorang mengumpulkan ranting hingga menjadi gundukan besar, kemudian dinyalakanlah api hingga menghancurkan apa saja yang dimasukkan ke dalamnya.”[131]

Syair:
Jangan meremehkan sesuatu yang kecil
Sesunguhnya gunung berasal dari batu kecil

Ibnul Jauzi berkata dalam kitab Shaidul Khatr: “Kebanyakan manusia menganggap biasa perkara-perkara remeh padahal mengandung cela pada asalnya. Seperti melepaskan pandangan pada perkara haram atau meminjam buku dan tidak memulangkannya.”

Sebagian salafussoleh berkata: “Aku meremehkan satu suapan sehingga memakannya, dan kini aku telah berumur 40 tahun dari waktu itu.”

Ini adalah bentuk "ketawadu'annya" (kerendahan hati) -rahimahullah.


16- Yang dapat memperbaharui iman dalam hati: "wala' dan baro`" yaitu bersikap loyal terhadap orang mu’min dan berlepas diri terhadap orang kafir.

Jika hati terkait dengan musuh Allah akan lemah dan pupuslah aqidah di dalamnya. Apabila loyalitas dimurnikan kepada Allah, maka akan loyal kepada hamba-hamba Allah yang beriman, membela mereka, dan membenci dan memusuhi musuh-musuh Allah, sehingga menjadi hiduplah keimanannya.


17. Kerendahan hati memiliki pengaruh dalam memperbaharui keimanan dan kemuliaan hati dari dampak kesombongan.

Karena rendah hati dalam berbicara dan bersikap merupakan cerminan kerendahan hati kepada Allah. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

“Kesederhanaan pada pakaian sebagian dari iman”[132]
Artinya rendah hati pada tubuh dan berpakaian[133]

Sabda beliau pula: “Siapa yang meninggalkan berpakaian mewah "tawadu'an" (rendah hati) karena Allah sedangkan ia mampu untuk itu, Allah akan menyerunya pada hari kiamat di antara makhluk-Nya hingga dipersilahkan untuk mengenakan perhiasan iman yang dikehendakinya." [134]

Abdurrahman ibn Auf -radiallahu'anhu- dahulu tidak dapat dibedakan dengan para hamba sahayanya jika sedang berada di antara mereka.

18. Ada amalan-amalan hati yang penting dalam memperbaharui keimanan seperti "mahabbatullah" (cinta kepada Allah), takut kepada-Nya, mengharap kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, rida kepada Allah dan ketentuan-ketentuan-Nya, bersyukur kepada-Nya, membenarkan-Nya, yakin kepada-Nya, percaya kepada-Nya, taubat kepada-Nya dan amalan-amalan hati lainnya.

Ada pula "maqamat" (kedudukan) yang selayaknya seorang hamba sampai kepadanya untuk menyempurnakan penyembuhan, seperti "istiqamah" (konsisten dalam beramal), "inabah" (kembali kepada Allah), mengingat-Nya, berpegang teguh kepada kitab dan sunah, khusyu’, "al zuhdu wal wara’" (sederha dan rendah hati), dan "muraqabah" (merasa dalam pengawasan Allah).

Maqomat ini telah dipaparkan oleh Ibnul Qayyim -rahimahullah- dalam kitabnya Madâriju as-Sâlikîn.

19. Mengintropeksi diri juga penting dalam memperbaharui hati.

Allah -azzawajalla- berfirman:“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (Q.S.al-Hasyr:18)

Umar ibn Khatthab -radiallahu'anhu- berkata, “Introspeksilah (hitung-hitung) diri kalian sebelum kalian dihitung.”

Al-Hasan berkata, “Janganlah kamu bertemu seorang mukmin kecuali introspeksilah diri.”

Maimun ibn Mahran pun berkata, “Sesungguhnya orang yang bertakwa lebih ketat menghitung dirinya sendiri dari pada teman yang kikir."

Ibnul Qayyim berkata, “Celakalah jiwa yang lalai menghitung dirinya dan memperturutkan hawa nafsunya.”

Seorang muslim hendaknya meluangkan waktunya untuk "berkhalwat" (menyendiri) merenungi dirinya sendiri, mengevaluasi, menghitung dan memperhatikan keadaannya, bekal apa yang telah dipersiapkan untuk hari kiamat.


20. Sebagai penutup, doa kepada Allah -azzawajalla- merupakan sebab yang terkuat yang selayaknya seorang hamba mengupayakannya. Sebagaimana Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda: “Sesungguhnya iman itu diciptakan di dalam diri setiap kalian sebagaimana pakaian dibuat, maka mohonlah kepada Allah untuk memperbaharui iman dalam hati kalian.”

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang baik dan sifat-sifat-Mu yang tinggi agar memperbaharui iman dalam hati-hati kami. Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada keimanan dan hiasilah ia pada hati-hati kami. Jadikanlah kami benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, jadikanlah kami orang-orang yang diberi petunjuk. Maha suci Tuhan yang Maha Perkasa dari apa yang disifati-Nya dan keselamatan atas para Rasul pengemban risalah dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”.
[1] Maksudnya adalah hati tempat segala perasaan batin/kalbu, bukan yang bermakna organ jantung atau hati. Meskipun orang arab pada umumnya jika menyebut قلب"" maksudnya adalah organ jantung atau tempat perasaan batin/kalbu, bukan organ hati. Lihat KBBI –pent.

[2] HR. Ahmad 4/408, terdapat dalam shahih al-Jâmi' 2364.

[3] Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab as-Sunnah no.227 dengan sanad yang sahih dalam Dzilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah oleh al-Albani 1/102.

[4] Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab as-Sunnah no.226 dengan sanad yang sahih dalam Dzilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah oleh al-Albani 1/102.

[5] HR. Ahmad 6/4. Shahihul Jami no.5137.

[6] HR. Muslim no.2654.

[7] HR. al-Bukhari. Fatul bâri 10/486.

[8] HR. at-Turmudzi no.3479. Dalam Silsilah as-Sohihah no.594.

[9] HR. Abu Dâwud no.679. Shahih at-Targhib no.510.

[10] Fardu kifayah artinya wajib dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Jika sebagiannya telah melaksanakan, maka yang lain sudah gugur kewajibannya, seperti pengurusan jenazah, mempelajari ilmu duniawiah dsb.

[11] Shalat sunat yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat fardhu yang lima waktu.

[12] As-Silsilah as-Shahihah no.554, II/86.

[13] Silsilah as-Shahihah no.427.

[14] HR. Muslim no.144.

[15] HR. Abu Dâwud no.4345. Lihat Shahih al-Jâmi' 689.

[16] HR. al-Bukhari no.6729.

[17] HR. at-Thabaroni dalam al-Kabir XVIII/72. Lihat Shahih al-Jami no.1420.

[18] HR. al-Baihaqi II/439. Lihat Shahih al-Jami' no.120.

[19] HR. al-Bukhari dalam Adab al-Mufrod no.977. lihat Silsilah as-Shahihah no.357.

[20] HR.Abu Dâwud no.5229. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no.977. as-Silsilah as-Shahihah no.357.

[21] Al-Bukhari dalam Fathul Bâri no.XI/62.

[22] HR.an-Nasâi dalam al-Mujtaba VI/13. Shahih al-Jâmi' no.2678.

[23] HR. Abu Dâwud II/324. Shahihul Jami' no.2678.

[24] Hadits di dalam Sahihain dengan lafal dari Muslim no.1599.

[25] Nama tempat antara Mekah dan Madinah.

[26] Maksudnya dalam beribadah di malam hari.

[27] HR. Ibnu Hibban no.4245. Di dalam az-Zawaid disebutkan sanadnya sahih dan periwayatnya terpercaya. Lihat Shahih al-Jami no.5028.

[28] HR. al-Bukhari dalam Fathul Bâri XI/102. Lihat Taghliq at-Ta'lîq V/136 terbitan al-Maktab al-Islami.

[29] Musnad Ahmad V/63. Silsilah as-Sahihah no.1352.

[30] HR. Muslim no.1914.

[31] HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no.593. as-Silsilah as-Shahihah V/387.

[32] Al-Mu'jam al-Kabir oleh at-Thabarani XX/101. Silsilah as-Shahihah V/387.

[33] Musnad Ahmad V/340. Silsilah as-Shahihah no.1137.

[34] Dalam riwayat lain: tidak terpisahkan kecuali oleh dosa.

[35] HR. al-Bukhari dalam al-Âdab al-Mufrod no.401. Ahmad dalam al-Musnad II/68. as-Silsilah as-Shahihah no.637.

[36] HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bâri VIII/87.

[37] HR. Ahmad dalam al-Musnad V/252. Shahih al-Jâmi' no.5633.

[38] HR. Abu Dâwud V/150. Shahih al-Jami' no.1464.

[39] Ibid.

[40] HR. Abu Na'îm dalam al-Hilyah V/155. As-Silsilah as-Shahihah no.353. Riwayat Ahmad dengan lafal 'إياي' [Tidaklah aku] al-Musnad V/243.

[41] HR. al-Bukhari no.2730.

[42] HR. at-Thabarani dalam al-Kabîr IV/78. Shahih al-Jâmi no.2384.

[43] HR. Ahmad V/219. Shahih al-Jâmi no.1781.

[44] HR. Ahmad III/128. Shahih al-jâmi' no.3124.

[45] HR. at-Thabaroni dalam al-Kabir XXIV/241. Shahih al-Jâmi no.1990.

[46] HR. at-Turmudzi no.2336. Shahih al-Jâmi no.2148.

[47] HR. at-Turmudzi no.2376. Shahih al-Jâmi no.5620.

[48] HR. Ahmad V/290 dalam Shahih al-Jâmi no.2386.

[49] HR. Ibnu Mâjah no.4129 dalam Shahih al-Jâmi no.7137.

[50] Fathul Bâri XI/236.

[51] Id. Hal.237.

[52] HR. Ibnu Mâjah no.4193. Terdapat dalam Shahih al-Jâmi.

[53] HR. al-Hâkim dalam al-Mustadrak I/4. Silsilah as-Shahihah no.1585. Al-Haitsami berkata di dalam Majma' az-Zawaid I/52: 'Diriwayatkan oleh at-Thabarani dalam kitab al-Kabîr dan sanadnya Hasan'.

[54] HR. Abu Na'îm dalam al-Hilyah II/196. Silsilah Shahihah no.2268.

[55] HR. al-Bukhari, Fath I/51.

[56] Syarah Nuniah Ibnul Qoyyim, oleh Ibn ‘Isa II/140.

[57] HR. Ahmad II/210. Shahih at-Targhib no.55.

[58] HR. Ahmad 4/149. Lihat juga shifat ash-Shalat oleh al-Albani hal.102.

[59] Silsilah as-Shahihah I/106.

[60] Silsilah as-Shahihah II/679.

[61] HR. at-Turmudzi no.3298. Silsilah as-Shahihah no.955.

[62] Asar dan sanad-sanadnya terdapat dalam Tafsir Ibnu Katsir VII/406.

[63] Manâqib Umar oleh Ibnu al-Jauzi hal.167

[64] Siar a'lam an-Nubala IV/324.

[65] Siar a'lam an-Nubala IV/446.

[66] Sujud yang dilakukan ketika membaca ayat-ayat tertentu yang dinamakan dengan ayat sajadah.

[67] HR. al-Bukhari no.6947.

[68] HR. At-Turmudzi

[69] HR.Muslim no.197.

[70] HR. al-Bukhari no.7043.

[71] Al-Wâbil as-Shaib hal.125 degan perubahan.

[72] HR. Muslim no.2700.

[73] Shahih al-Jami’ no.5507.

[74] Fathul Bâri XI/209.

[75] HR. Muslim no.2750.

[76] Sanadnya Sahih. Lihat Arba’ Masail Fil Iman, Tahqiqi al-Albani hal.72.

[77] HR. Muslim. Kitab Fadhail as-Shahabah. Bab: 1 no.12.

[78] Siar ‘Alam an-Nubala VII/447.

[79] Kalimat yang menunjukkan perkara besar.

[80] HR. Muslim no.1901.

[81] HR.Abu Dawud dalam sunannya V/157. dan dalam Shahih al-Jami no.3009.

[82] HR.al-Bukhari no.6137.

[83] HR.at-Turmudzi no.810. Silsilah as-Shahihah no.12000.

[84] HR.al-Bukhari dalam Fathul Bâri XI/194.

[85] HR.Muslim dalam kitab Shalatul Musâfirin Bab:18 no.141.

[86] HR.Sahih al-Bukhari no.39.

[87] HR.Sahih al-Bukahri no.6099.

[88] HR.al-Bukhari no.1099.

[89] HR. al-Bukhari. Lihat Fathul Bâri III/38.

[90] HR.an-Nasai dan selainnya. Al-Mujtaba II/68. Shahih al-Jami no. 1228.

[91] HR.Ahmad VI/95.

[92] HR.al-Bukhari dalam al-Fath III/105.

[93] HR. at-Turmudzi no.427. Shahih Sunan at-Turmudzi no.350.

[94] Shahih al-Jami no.4759.

[95] Tahdzîb Sunan Abu Dâwud III/318.

[96] Fathul Bâri IV/285.

[97] HR.at-Turmudzi no.3175. Lihat as-Silsilah as-Shahihah I/162.

[98] Tafsir Ibnu Katsir III./67.

[99] HR.Imam Ahmad, Musnad IV/175. Lihat Sahih al-Jami no.5249.

[100] Maksudnya suami pertama mati syahid kemudian menikah lagi, lalu suami keduanya pun mati syahid berjihad di jalan Allah pent.

[101] HR.al-Bukhari no.1798.

[102] HR.at-Turmudzi no.1900. Shahih al-Jami no.7145.

[103] Istilah fardu dan wajib oleh sebagian ulama dipandang sebagai sesuatu yang sama. Walaupun ada sebagian ulama lain yang menjadikan fadu lebih tinggi dibandingkan wajib pent.

[104] Musnad Ahmad V/151. Lihat Shahih al-Jami no.3074.

[105] HR.at-Thabarani dengan riwayat-riwayat yang serupa. Lihat as-Silsilah as-Shahihah II/533.

[106] Shahih Muslim no.109.

[107] Al-Fathul Bâri VII/471.

[108] Thariqul Hijratain hal.308.

[109] Ad-Dâ` wad Dawâ 170,289.

[110] Shoidul Khawâtir hal.137.

[111] Ad-Dâ` wad Dawâ`.

[112] HR. At-Tumudzi no.2307. Lihat Sahih al-Jami no.1210.

[113] HR. Al-Hakim 1/376.Lihat Sahih al-Jami no.4584

[114]HR.Muslim 3/65

[115]HR.Muslim no.974

[116] At-tadzkirah oleh al-Qurtubi hal:16 dan setelahnya dengan perubahan.

[117] Bait-bait syair Abdullah bin Muhammad Asy-Syantarini:Tafsir Ibnu Kasir 5/436.

[118] HR.Ahmad 3/48 lihat Shahih Al-Jami’ 4109

[119] HR. As-Syahikhân dan selain keduanya. Lafalnya merupakan gabungan dari beberapa riwayat. Lihat Ahkam al-Janaiz oleh al-Albani hal.67.

[120] Madaariju As-Saalikin 1/123.

[121] HR. Muslim no.899.

[122] Fathul Bâri II/545.

[123] HR.Ahmad VI/237. Lihat as-Silsilah as-Shahihah.

[124] HR.al-Bukhari no.423.

[125] HR.at-Turmudzi no.3375, dan berkata Hadits ini hasan gharib. Lihat sahih al-Kalim 3.

[126] Al-Wâbil as-Shoib Rôfi`ul Kalamut Toyyib hal.142.

[127] Madarijus Sâlikîn II/424.

[128] HR.Muslim no.482.

[129] HR. at-Thabarani dalam al-Kabîr I/198. Lihat silsilah as-Shahihah no.382.

[130] HR.Ibnu Mâjah no.4112. Lihat shahih at-Targhib no.71.

[131] HR.Ahmad I/402. Lihat as-Silsilah as-Shahihah no.389.

[132] H.R.Ibnu Majah 4118 Lihat as-Silsilah ash Sahih No.341

[133] Lihat an-Nihâyah karya Ibnu al-Atsir 1/110

[134] H.R.at-Tirmidzi No.2481 Lihat as-Silsilah ash-Shahihah 718

islamhouse.com/p/368620



ARSIP HASMI SOLO