- Pemahaman Ahlul Bait yang Benar.
Secara bahasa Ahlul bait artinya keluarga. Sedangkan yang dimaksud dalam pembahasan ini ialah mereka yang haram menerima zakat karena kekerabatannya dengan Rosululloh , yaitu keluarga Ali bin Abi Tholib, keluarga Ja‟far, keluarga Aqil, dan keluarga Abbas bin Abdul Muttholib. Mereka semua dari Bani Hasyim. Termasuk dalam Ahlul bait adalah para istri Nabi . Beliau bersabda:
“Dan Ahlul bait-ku. Aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang Ahlul bait-ku, Aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang Ahlul bait-ku, Aku ingatkan kalian kepada Alloh tentang Ahlul bait-ku.” Kemudian Hushoin (seorang tabi‟in yang meriwayatkan dari Zaid) berkata, “Siapakah Ahlul bait-nya wahai Zaid? Bukankah para istri beliau termasuk Ahlul bait-nya?” Zaid menjawab, “Para istri beliau termasuk Ahlul bait-nya. Tetapi Ahlul bait-nya juga adalah siapa yang haram menerima sedekah sepeninggal beliau.” “Siapakah mereka itu?” tanya Hushoin. Zaid menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Ja‟far, keluarga Aqil, dan keluarga Abbas.” “Mereka semua diharamkan menerima sedekah?” tanya Hushoin. Zaid menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)
Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Kemudian, sesuatu yang tidak diragukan lagi oleh siapapun yang mentadabburi al-Qur‟an adalah bahwa istri-istri Nabi termasuk dalam firman Alloh :
“Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)
Karena, siyaqul kalam (konteks pembicaraan) ayat tersebut mengenai istri-istri Nabi .
- Penyimpangan terhadap Pemahaman Ahlul bait.
Syi‟ah membatasi makna Ahlul bait hanya sebatas keluarga Ali bin Abi Tholib saja. Dalam hal ini penyusun buku Antologi Islam berkata, “Bagi Syi‟ah, Ahlul bait Nabi Muhammad hanya terdiri atas individu-individu berikut ini: Fathimah Zahroh, Ali, Hasan, Husain, dan sembilan orang imam keturunan Husain. Dan jika dimasukkan Nabi Muhammad ke dalamnya, mereka akan menjadi empat belas orang. Sementara itu Nabi ketika terjadi haditsul ifki (kisah pencemaran nama baik), Rosululloh berkhutbah di tengah-tengah manusia lalu berkata:
“Wahai manusia, kenapa ada orang-orang yang menyakitiku dalam keluargaku (ahli baitku) serta berkata tentang mereka tanpa kebenaran. Demi Alloh, aku tidak mengetahui tentang mereka kecuali kebaikan.” (HR. Ibnu Ishaq; dishohihkan oleh al-Albani) Dalam hadits tersebut, Nabi jelas-jelas menyebut „Aisyah dengan ahli baiti (keluargaku).
- Mereka (Syi’ah) Bukan Menjunjung Tinggi Ahlul bait tetapi Mencela Ahlul bait.
Al-Majlisi meriwayatkan dalam Biharul Anwar, sesungguhnya Amirul Mukminin („Ali bin Abi Tholib) berkata, “Saya bepergian bersama Rosululloh sementara tidak ada pelayan bagi beliau selain diriku. Beliau mempunyai selimut yang tidak berselimut dengannya kecuali saya, Rosululloh dan „Aisyah. Beliau tidur di antara saya dan „Aisyah. Sementara tidak ada di atas kami bertiga selimut yang lain. Jika Rosululloh bangun untuk shalat malam beliau menyingkapkan selimut itu dengan tangannya dari bagian tengah, yaitu antara saya dan „Aisyah hingga selimut tersebut menyentuh alas tidur yang ada di bawah kami.” Riwayat di atas sangat merendahkan Rosululloh dan „Ali sekaligus. Sebab riwayat itu menyifati Rosululloh sebagai seorang yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. Bagaimana mungkin Rosululloh membiarkan istrinya tidur satu ranjang dengan seorang laki-laki yang bukan mahromnya? Kemudian bagaimana mungkin „Ali ridho dengan hal tersebut? Hal ini jelas melecehkan kepribadian Rosululloh dan Ali .
Disebutkan dalam kitab Biharul Anwar bahwa diriwayatkan dari Abu Abdillah , ia berkata, "Didatangkan kepada Umar seorang wanita yang telah terikat dengan seorang laki-laki Anshor dan ia sangat mengingin-kannya. Lalu dia mengambil sebutir telur dan menumpahkan bagian putihnya pada baju dan kedua paha wanita itu. Maka Ali berdiri dan melihat kedua pahanya kemudian menuduh keduanya (berbuat zina).” Pantaskah jika Ali dikatakan melihat kedua paha wanita yang bukan mahramnya? Ini sanjungan ataukah celaan? Diriwayatkan dalam kitab Rijalul Kisysyi, bahwa Sufyan bin Abi Laila masuk kepada Hasan sementara ia sedang ada di dalam rumahnya, maka ia berkata kepada Imam Hasan, “Assalamu „alaika wahai orang yang menghinakan kaum Mukminin!” Riwayat ini jelas mencaci Hasan dengan sebutan yang tidak terhormat yaitu wahai orang yang menghinakan kaum mukminin. Padahal Hasan telah disabdakan oleh Rosululloh sebagai penghulu para pemuda surga.
Disebutkan dalam kitab Biharul Anwar bahwa diriwayatkan dari Abu Abdillah , ia berkata, "Didatangkan kepada Umar seorang wanita yang telah terikat dengan seorang laki-laki Anshor dan ia sangat mengingin-kannya. Lalu dia mengambil sebutir telur dan menumpahkan bagian putihnya pada baju dan kedua paha wanita itu. Maka Ali berdiri dan melihat kedua pahanya kemudian menuduh keduanya (berbuat zina).” Pantaskah jika Ali dikatakan melihat kedua paha wanita yang bukan mahramnya? Ini sanjungan ataukah celaan? Diriwayatkan dalam kitab Rijalul Kisysyi, bahwa Sufyan bin Abi Laila masuk kepada Hasan sementara ia sedang ada di dalam rumahnya, maka ia berkata kepada Imam Hasan, “Assalamu „alaika wahai orang yang menghinakan kaum Mukminin!” Riwayat ini jelas mencaci Hasan dengan sebutan yang tidak terhormat yaitu wahai orang yang menghinakan kaum mukminin. Padahal Hasan telah disabdakan oleh Rosululloh sebagai penghulu para pemuda surga.
- Ahlul Bait yang Masuk Kategori Sahabat Dikafirkan.
Al-Kisysyi dalam kitabnya Rijalul Kissyyi menyatakan bahwa Muhammad al-Baqir pernah berkata, “Pada suatu hari ada seorang datang kepada ayahku (yakni „Ali Zainal Abidin) lalu berkata, “Abdulloh bin Abbas mengklaim bahwa dirinya mengerti setiap ayat al-Qur‟an, kapan dan berkenaan dengan soal apa ayat itu diturunkan. Ali Zainal Abidin menjawab, “Coba tanyakan kepadanya tertuju kepada siapakah ayat-ayat ini ketika turunnya:
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. al-Isro’ [17]: 72)
“Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kalian. Sekiranya Alloh hendak menyesatkan kalian, Dia adalah Tuhan kalian dan kepada-Nya-lah kalian dikembali-kan.” (QS. Hud [11]: 34)
“Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Alloh supaya kalian beruntung.” (QS. Ali Imron [3]: 200) Tatkala orang itu mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ayat-ayat tersebut Ibnu Abbas menjawab, “Aku lebih suka kalau engkau mempertemukan aku dengan orang yang menyuruhmu membawa per-tanyaan-pertanyaan ini, tapi tanyakanlah dulu kepadanya: Apakah Arsy itu, kapan ia diciptakan dan bagaimana keadaannya?!” Orang itu lalu pergi menghadap ayahku dan mengatakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Ayahku bertanya, “Apakah Ibnu Abbas menjawab pertanyaan mengenai ayat-ayat yang kupesankan kepadamu?” Orang itu menyahut, “Tidak.” Ayahku melanjutkan, “Baiklah sekarang kuterangkan kepadamu mengenai ayat-ayat itu berdasarkan cahaya dan ilmu, bukan dengan mengaku-aku. Ayat pertama dan kedua diturunkan berkenaan dengan ayah Abdullah bin Abbas (yakni Abbas bin Abdul Mutthalib paman Nabi), sedangkan ayat yang ketiga diturunkan berkenaan dengan ayahku dan kami (Ahlul bait).” Riwayat di atas menisbatkan Abbas bin Abdul Muttholib kepada kekafiran karena kedua ayat tersebut berkenaan dengan orang-orang kafir. Padahal Abbas bin Abdul Muttholib adalah salah seorang Ahlul bait Nabi . 5. Kesyirikan terhadap Sebagian Ahlul Bait (Menempatkan Sebagian Ahlul Bait pada Derajat Uluhiyah). Termasuk dari sikap ghuluw kaum Syi‟ah terhadap Ali adalah pernyataan penyusun Antologi Islam menyatakan bahwa tidak ada orang yang dapat melintasi shiroth (jembatan di atas neraka) kecuali dengan izin „Ali. Keyakinan semacam ini jelas syirik sebab hanya Alloh sajalah yang dengan izin-Nya seseorang dapat selamat melintasi shiroth atau celaka. Al-Kulaini juga meriwayatkan dalam Ushul al-Kaafi pada bab: Innal Ardho kullaha lil-Imaam sebuah perkataan dari Imam Abu Abdillah yang berkata, “Dunia dan akhirat itu milik imam. Ia meletakkannya sebagaimana yang ia inginkan dan memberikannya kepada siapa yang ia inginkan.”
Ni‟matulloh al-Jazairi, seorang ulama Syi'ah menyebutkan dalam kitabnya al-Anwarun Nu‟maniyyah, sebuah riwayat dari Ali yang berkata, “Demi Alloh sesungguhnya akulah yang bersama Ibrahim di dalam api, dan akulah yang menjadikan api itu dingin dan selamat baginya, dan aku bersama Nuh di dalam bahtera (kapal), dan akulah yang menyelamatkannya dari tenggelam. Dan aku bersama Musa, lalu aku ajarkan ia Taurat. Dan akulah yang membuat Isa dapat berbicara di waktu masih bayi, dan akulah yang mengajarkannya Injil. Dan aku bersama Yusuf di dalam sumur, lalu aku selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani (terbang), dan akulah yang menundukkan angin untuknya.” Syi‟ah berkeyakinan bahwa para imam mengetahui kapan mereka akan meninggal dan mereka tidak akan meninggal kecuali atas kehendak mereka.
- Kekufuran akan Pandangan di Atas.
Aqidah Syi‟ah tentang para imam mereka sungguh suatu kekufuran yang nyata dan riddah (kemurtadan) dari Islam berdasarkan ijma‟ kaum Muslimin. Para ulama telah sepakat bahwa barangsiapa yang mengatakan ada seorang nabi atau malaikat atau wali yang bisa mengetahui perkara-perkara ghaib, mengetahui semua yang di langit dan di bumi mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, maka orang itu telah kafir secara ijma‟. Karena sesungguhnya Alloh telah mengkhususkan diri-Nya dalam hal ilmu ghaib. Tidak ada yang mengaku dapat menyaingi Alloh dalam hal ini kecuali seorang musyrik. Alloh berfirman:
“Katakanlah, tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Alloh, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (QS. an-Naml [27]: 65)
Rosululloh juga bersabda:
“Kunci perkara yang ghaib itu ada lima. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh semata yaitu: tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi besok, tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim, tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan dilakukannya besok, dan tidak seorangpun yang tahu di bumi mana ia akan mati, serta tidak ada seorangpun yang tahu kapan turunnya hujan.” (HR. Bukhori)
Kekufuran Syi'ah; Bab. IV; Silsilah Tarbiyyah HASMI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar