- Rekomendasi Alloh dan Rosul-Nya terhadap Para Sahabat .
Yang dimaksud dengan sahabat adalah siapa saja yang pernah bertemu dengan Nabi dalam keadaan beriman dan meninggal di atas iman. Ahlus Sunnah wal Jama'ah memuliakan dan mengakui keutamaan-keutamaan para sahabat Nabi , mencintai mereka, membersihkan hati dan lidah dari caci maki terhadap para sahabat, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik dari umat ini. Alloh berfirman:
“Sesungguhnya Alloh telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. al-Fath [48]: 18) Jumlah para sahabat yang ikut dalam bai‟at tersebut adalah 1.400 orang. Mereka semua telah diridhai oleh Alloh . Dan barangsiapa yang Alloh telah ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga. Hal ini semakin ditegaskan lagi oleh Rosululloh dalam sebuah haditsnya yang shohih:
“Sesungguhnya Alloh telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. al-Fath [48]: 18) Jumlah para sahabat yang ikut dalam bai‟at tersebut adalah 1.400 orang. Mereka semua telah diridhai oleh Alloh . Dan barangsiapa yang Alloh telah ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga. Hal ini semakin ditegaskan lagi oleh Rosululloh dalam sebuah haditsnya yang shohih:
“Tidak akan masuk neraka seorangpun dari mereka yang telah berbaiat di bawah pohon.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi). Alloh berfirman:
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh telah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 100)
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh telah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 100)
- Keimanan para Sahabat Menjadi Standar Keimanan yang Benar.
Demikian tingginya kedudukan para sahabat Nabi sehingga Alloh menjadikan keimanan mereka sebagai satu-satunya standar keimanan yang benar. Artinya siapa saja yang keimanannya menyelisihi keimanan para sahabat, maka dia belum beriman. Alloh berfirman:
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan. Maka Alloh akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha men-dengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 137)
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan. Maka Alloh akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha men-dengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 137)
- Hukum Mengkafirkan Sahabat.
Siapa yang mencaci para sahabat dan mengatakan bahwa mayoritas mereka telah murtad, maka tidak diragukan lagi kekafirannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa mengklaim bahwa para sahabat telah murtad sepeninggal Rosululloh kecuali sekelompok kecil yang tidak melampaui sekian belas orang, atau sebagian besar mereka adalah orang-orang yang fasik, maka orang yang berkata seperti itu tidak diragukan lagi kekafirannya. Hal ini karena orang tersebut mendustakan nash-nash al-Qur'an yang menyebutkan bahwa Alloh telah ridho terhadap mereka dan memuji mereka. Bahkan siapa yang meragukan kekafiran orang tersebut maka ia ikut kafir.” Rosululloh juga pernah bersabda tentang kaum Anshor:
“Tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang membenci mereka kecuali orang munafik.” (HR. Bukhori dan Muslim)
“Tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang membenci mereka kecuali orang munafik.” (HR. Bukhori dan Muslim)
- Syi’ah Mengkafirkan para Sahabat.
Agama Syi‟ah dipenuhi dengan caci maki terhadap para sahabat. Mereka melontarkan berbagai tuduhan keji kepada para sahabat tersebut berdasarkan dugaan-dugaan yang buruk. Sebagian sahabat yang mereka caci itu justru termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin surga seperti: Abu Bakar, Umar bin Khoththob, Utsman bin Affan, Tholhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam . Mereka berkeyakinan bahwa sebagian besar sahabat Rosululloh telah murtad dan kembali kepada kekafiran sepeninggal beliau kecuali beberapa orang sahabat saja yang menurut mereka tetap setia dengan Kholifah Ali bin Abi Tholib . Penyusun Antologi Islam juga berkata, “Mengapa Nabi Muhammad menyamakan sahabat-sahabatnya dengan kaum Nasrani dan kaum Yahudi? Karena Alloh telah memberitahukannya bahwa sebagian besar sahabat akan berpaling, kecuali sedikit.”
- Ahlul Bait Berlepas Diri dari Keyakinan Syi’ah.
Sebuah fakta yang berusaha disembunyikan oleh Syi‟ah ialah bahwa Ali bin Abi Tholib sangat mencintai para sahabat Rosululloh khususnya tiga kholifah sebelumnya yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman . Beliau membai‟at ketiga kholifah sebelumnya itu dengan sukarela, bahkan menjadi penasihat bagi Kholifah Abu Bakar dan Umar . Sebagai bukti kecintaan Ali kepada tiga kholifah sebelumnya ialah beliau memberi nama seorang putranya dengan Abu Bakar, seorang lagi dengan nama Umar, dan seorang lagi dengan nama Utsman. Fakta ini ada dalam salah satu kitab rujukan Syi‟ah yaitu Tarikh al-Ya’qubi. Demikian pula dengan putra beliau yaitu Hasan bin „Ali bin Abi Tholib , ia memberi nama salah seorang putranya dengan Abu Bakar, dan seorang lagi dengan nama Umar. Hal ini juga termaktub dalam Tarikh al-Ya’qubi. Di samping itu Ali bin Abi Tholib juga menikahkan putrinya yaitu Ummu Kultsum dengan Umar bin Khoththob . Bahkan tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar ini diakui sendiri oleh Ali bin Abi Tholib . Dari Abdulloh bin Salamah ia berkata: ُ
“Aku telah mendengar Ali berkata, “Sebaik-baik manusia setelah Rosululloh adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik manusia setelah Abu Bakar adalah Umar.” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Albani) Imam Daruquthni meriwayatkan bahwa Ali pernah berkata:
“Tidak akan pernah berpadu dalam hati seorang Mukmin, mencintaiku dan membenci Abu Bakar serta Umar.” Kemudian pada saat kaum pemberontak mengepung rumah Kholifah yang ketiga yaitu Utsman bin Affan , Ali menyuruh kedua putranya yaitu Hasan dan Husain untuk mengawal rumah Kholifah. Ini tidak lain karena kesetiaan Ali terhadap Kholifah Utsman bin Affan .
“Tidak akan pernah berpadu dalam hati seorang Mukmin, mencintaiku dan membenci Abu Bakar serta Umar.” Kemudian pada saat kaum pemberontak mengepung rumah Kholifah yang ketiga yaitu Utsman bin Affan , Ali menyuruh kedua putranya yaitu Hasan dan Husain untuk mengawal rumah Kholifah. Ini tidak lain karena kesetiaan Ali terhadap Kholifah Utsman bin Affan .
- Kesimpulan akan Kufurnya Syi’ah.
Tidak diragukan lagi bahwa dengan sikapnya yang seperti itu kepada para sahabat , Syi‟ah telah kafir dan keluar dari millah Islam. Karena, mengkafirkan para sahabat berarti mendustakan sekian banyak nash-nash al-Qur‟an yang telah menegaskan keimanan para sahabat dan keridhoan Alloh kepada mereka. Padahal siapa saja yang mendus-takan satu nash saja dari al-Qur‟an, maka ia telah kafir.
_____________________________________________________
Kekufuran Syi'ah; Bab. III; Silsilah Tarbiyyah HASMI
_____________________________________________________
Kekufuran Syi'ah; Bab. III; Silsilah Tarbiyyah HASMI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar