URGENSI DA'WAH KEMURNIAN
- Sejarah Penyimpangan Umat Manusia
Agama yang lurus adalah agama fitrah yang Alloh fitrahkan kepada manusia, oleh karena itu agama ini sudah ada sejak adanya manusia, sebagaimana Alloh berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alloh); (tetaplah atas) fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan (makhluk) Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]:30)
Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia telah benar-benar Alloh fitrahkan di atas aqidah yang selamat. Dan Adam adalah manusia pertama yang terfitrahkan dengan aqidah selamat ini. Dengan demikian Adam adalah seorang yang bertauhid kepada Alloh dengan tauhid yang murni, seorang yang berkeyakinan kepada Alloh tentang apa-apa yang diwajibkan berupa ta’zhim (pengagungan), ketaatan, roja’ (berharap baik) dan khosyyah (ketakutan kepada-Nya). Kemudian Alloh pun telah mengambil perjanjian dari anak keturunan Adam bahwa Dia adalah Robb mereka dan mempersaksikan atas diri mereka sendiri di sulbi-sulbi mereka, sebagaimana firman Alloh :
“Dan (ingatlah), ketika Robbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Robb kalian?”. Mereka menjawab: "Betul (Engkau Robb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (tauhid).” (QS. Al-A’raf [7]:172)
Ayat ini bisa difahami bahwa semua manusia dilahirkan di atas fitrah, sebagaimana juga sabda Rosululloh dalam hadits qudsi:
“… dan sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku di atas agama yang lurus semuanya, lalu datang kepada mereka Setan mengalihkan agama mereka, menghalalkan apa-apa yang haram dan memerintahkan agar menyekutukan-Ku dengan suatu yang tidak ada penjelasannya.” (HR Muslim)
Dan sabda beliau :
“Tidaklah seseorang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka ibu dan bapaknyalah yang akan membuat ia Yahudi, Nashrani atau Majusi…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits tersebut berlaku untuk seluruh manusia, maka Adam dan generasi pertama dari keturunannya adalah lebih pantas untuk berada di atas aqidah selamat. Adapun syirik dan kesesatan adalah perkara yang muncul kemudian setelah beberapa zaman dan generasi secara bertahap.
II. Kapan mulai terjadinya penyimpangan
Sejak Adam , umat manusia ada dalam aqidah selamat, di atas agama yang murni, namun setahap demi setahap terus menyimpang, sebagaimana firman Alloh :
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Alloh memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Alloh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqoroh [2]:213)
Ibnu Katsir berkata: Dari Ibnu Abbas ia berkata:
“Antara Nuh dan Adam adalah sepuluh generasi, semua di atas syari’at al-haq, lalu mereka berikhtilaf (menyimpang), maka Alloh mengutus para nabi-Nya untuk memberi kabar gembira dan peringatan.”
Ayat di atas menunjukkan bahwa sebelumnya manusia berada di atas jalan yang lurus, di atas agama yang murni tanpa kesyirikan dan kekufuran. Kemudian manusia menyimpang dari kemurnian sampai titik kekufuran kepada Alloh setelah 10 kurun, lalu diutuslah para nabi-Nya untuk mengembalikan mereka kepada agama yang lurus dan murni. Nabi pertama yang diutus ketika terjadi penyimpangan adalah Nuh .
III. Pelopor penyimpangan.
Pelopor penyimpangan adalah Iblis, ketika Alloh memerintahkan kepadanya untuk bersujud kepada Adam , lalu dia menentang perintah Alloh , sebagaimana firman Alloh :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqoroh [2]:34)
Maka murkalah Alloh kepada Iblis..!! Kemudian Alloh mengusirnya dari surga. Ketika itu Iblis meminta ditangguhkan untuk hidup hingga hari akhir dan Alloh pun memberikan tangguh kepadanya. Lalu Iblis bersumpah untuk manyesatkan seluruh manusia, dari sinilah episode penyesatan manusia dimulai..!!
Alloh berfirman:
“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkata: “Ya Robbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Alloh berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas (ikhlash) di antara mereka.” (QS. Shad [38]:77-83)
Keberhasilan Iblis menyesatkan umat manusia yang pertama kalinya pada zaman Nuh adalah hasil kerja kerasnya selama berabad-abad, dan setelah manusia lupa dari peringatan Alloh .
Alloh berfirman:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sekutu (teman) bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-‘Araf [7]:27)
Akhirnya kaum Nuh menyembah patung orang-orang shaleh di antara mereka yang bernama: Wadd’, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.
Kejadiannya adalah ketika orang-orang shaleh di antara mereka telah meninggal dunia, mereka mulai beri’tikaf di kuburannya, namun mereka tidak merasa puas dengan hanya beri’tikaf saja, lalu mereka membuat patungnya, kemudian setahap demi setahap Iblis menanamkan kecintaan dan pensucian terhadap mereka, akhirnya sepeninggal para pendahulunya (para pembuat patung-patung itu) maka keturunan mereka beribadah kepada patung-patung tersebut.
Manhaj dasar Iblis dalam misi penyimpangan dari kemurnian adalah seperti manhajnya ketika menentang perintah Alloh , yaitu dengan alasan akal, sebagaimana firman Alloh :
“Alloh berfirman: Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Shad [38]:75-76)
Berkata Ibnul Qayyim :
“Sesungguhnya penentangan terhadap wahyu dengan akal adalah warisan Syaikh Abu Murrah (Iblis), dia menentang wahyu dengan akal dan mengedepankan akal atas wahyu. Sesungguhnya Alloh ketika memerintahkan dia untuk bersujud kepada Adam, Iblis menentang perintah-Nya dengan qiyas akal yang tersusun dari dua muqaddimah, pertama perkataan: “Aku lebih baik daripadanya” ini muqaddimah shughra (kecil), sedangkan muqaddimah kubra (besar)-nya dihapus, yaitu: “Yang utama tidaklah bersujud kepada yang kurang utama”. Kemudian dia menyebutkan sandaran muqaddimah pertama, disebut juga sebagai qiyas hamly (tersusun dari dua muqaddimah dan kesimpulannya) yang terhapus dari satu di antara muqaddimahnya, lalu dia berkata: “Karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (ash Shawa’iq III/998-999)
Alasan yang rusak ini selanjutnya menjadi kaidah dan “manhaj” ahli hawa nafsu dalam menentang para nabi dan menentang kebenaran dari sisi Alloh .
- Sejarah Penyimpangan Umat Nabi Muhammad
Alloh benar-benar telah menetapkan fakta (penyimpangan) untuk umat manusia sebagai ketentuan Alloh yang tidak dapat ditolak. Hal ini merupakan ujian bagi manusia, kemudian Alloh mengutus para rosul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya agar tegaknya hujjah dan jelasnya jalan yang terang dari yang gelap. Maka berimanlah orang-orang yang beriman dengan terang dan sesatlah orang-orang yang sesat dengan terang pula tanpa ada yang dizholimi.
Dalam hal ini Imam asy Syathibi memberikan penjelasan yang sangat baik sebagai berikut:
Alloh berfirman:
“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Robbmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”…. (QS. Hud [11]:118-119)
Alloh mengabarkan bahwa mereka senantiasa berselisih pendapat selama-lamanya, karena memang Alloh menciptakan mereka untuk berselisih pendapat. Yaitu sebagaimana perkataan para ahli tafsir dalam ayat: “Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”, maknanya adalah untuk berselisih pendapatlah Alloh menciptakan mereka. Hal ini diriwayatkan dari Malik bin Anas , dia berkata: Alloh menciptakan mereka agar sebagian mereka masuk jannah dan sebagian mereka masuk neraka, dan hal yang senada diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri . Kata ganti “mereka” dalam kalimat “Alloh menciptakan mereka” kembali kepada manusia, dan itu tidak mungkin terjadi (penyimpangan) kecuali setelah datangnya ilmu (kepada mereka). Selisih pendapat yang dimaksud di sini bukanlah selisih pendapat dalam rupa, seperti bagus, jelek, panjang dan pendek. Tidak pula selisih pendapat dalam warna, seperti merah dan hitam. Tidak pula dalam bentuk fisik seperti fisik sempurna, buta, melihat, tuli dan mendengar. Tidak pula dalam perangai seperti pemberani, pengecut, pemurah dan bakhil. Dan tidak pula dari perbedaan sifat-sifat sejenis lainnya.
Sesungguhnya yang dimaksud adalah selisih pendapat tertentu (selisih pendapat dalam perkara tauhid atau akidah), yaitu selisih pendapat yang Alloh mengutus para nabi-Nya untuk menghukumi di antara orang-orang yang berselisih pendapat, sebagaimana firman Alloh :
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…” (QS. Al-Baqoroh [2]:213)
Ini adalah selisih pendapat bentuk dalam perbedaan dari hasil pemikiran, aliran-aliran, agama-agama dan keyakinan-keyakinan yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kecelakaan manusia di dunia dan akhirat.” (al I’thisham II/165, dikutip dari Dirasat fil Ahwa wal Firaq wal Bida’ hal. 295-296).
Maka perselisihan itu benar-benar terjadi dan hakiki serta tidak dapat diingkari, sementara orang-orang yang mendapat taufik dari Alloh akan meniti jalan keselamatan dan menjauhi jalan-jalan kesesatan.
II. Penyimpangan umat ijabah (umat penerima dakwah Nabi Muhammad )
Demikianlah penyimpangan demi penyimpangan terus bergulir. Dan penyimpangan yang sampai pada derajat kekafiran adalah sebuah keterpurukan yang sangat dahsyat. Namun Alloh senantiasa mengutus para nabi-Nya setiap kali manusia berada dalam jurang keterpurukan, hal ini untuk sebuah misi kebangkitan menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Gelombang keterpurukan dan kebangkitan senantiasa terjadi silih berganti hingga sampailah Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia di saat kegelapan meliputi dunia. Dakwah Nabi menghasilkan orang-orang yang mengijabahi dan menjadi pelopor kebangkitan umat manusia setelahnya, sisanya tetap dalam kekufuran dan bahkan menjadi musuh dakwah.
Bukan berarti bahwa umat yang mengijabahi dakwah Nabi Muhammad adalah umat yang tidak terancam dengan penyimpangan dan terlepas dari sunnatulloh. Sungguh sejak dini Alloh telah memperingatkan agar bersatu, berpegang teguh dengan tali Alloh dan tidak berpecah belah (menyimpang dari kemurnian), sebagaimana firman Alloh :
“Dan berpegang-teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepada kalian ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian orang yang bersaudara; karena nikmat-Nya dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran [3]:103)
Nabi Muhammad pun telah berwasiat untuk berpegang teguh dengan sunnahnya:
(( أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرُعَلَيْكُمْ عَبْدٌحَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ))
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Alloh dan dengar serta taatlah walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habsyi. Sesungguhnya orang yang hidup dari kalian sepeninggalku akan melihat penyimpangan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa rasyidin al-Mahdiyin, pegang teguhlah ia dan gigitlah dengan gigi geraham (benar-benar berpegang teguh). Dan jauhilah urusan-urusan baru (syari’at baru), sebab semua yang baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud)
Maka sepeninggal Nabi Muhammad penyimpangan pun dimulai, umatnya ada yang murtad, keluar dari Islam dan para sahabat telah memerangi mereka di bawah pimpinan Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq . Kemudian disusul penyimpangan demi penyimpangan dari kemurnian sebagai firqoh dhollah (golongan sesat) walaupun belum keluar dari Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad :
((...وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً قَالُوْا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ.))
“...dan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Mereka (para sahabat) bertanya; ”Siapakah satu kelompok itu wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak sahabat-sahabatku.” (HR. At-Tirmidzi No: 2643, Al-Hakim dalam al-Mustadrok: 1/218 dan Al-lalikai: 1/99)
“Terpecah..!!” Itulah kenyataannya…
Hadits perpecahan umat ini adalah bukti nubuwwah Nabi , sebab realita telah menunjukkan adanya perpecahan umat sejak dini dan terus disusul dengan perpecahan-perpecahan yang menghasilkan firoq dhollah (golongan-golongan sesat) lainnya hingga sekarang dan akan terus terjadi hingga hari kiamat.
Perpecahan pertama terjadi pada sekitar tahun 37 H pada masa kekhi-lafahan Ali bin Abi Thalib tepatnya, ketika peristiwa tahkim bi kitabillah (berhukum dengan Kitab Alloh). Keluarlah Khawarij dari jama’atul muslimin lalu disusul pada masa setelahnya oleh Syi’ah, Murji’ah, Mu’tazilah, dan lainnya.
III. Hadits iftiraq al-ummah (hadits perpecahan umat)
a. Keshahihan hadits perpecahan:
Hadits perpecahan umat adalah hadits shahih yang bersumber dari beberapa jalan sebagaimana diterangkan oleh Imam ash Shan’any: (lihat: Iftiraq al-Ummah wa Bayan al-Firqatun Najiyah, ditulis: al ‘Allamah asy Syaikh Muhammad bin Isma’il al Amir ash Shan’any 1099-1182H)
- Dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Mu’awiyah :
(( أَلا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ ))
“Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahli Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan terpecah-belah menjadi 73 golongan, 72 di neraka dan satu di jannah, yaitu al Jama’ah.”
[Isnadnya hasan, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam awal kitab Syarah as Sunnah -4597-, Imam Ahmad dalam Musnadnya – IV/102-, al Hakim dalam Mustadraknya –I/128- dan riwayat lainnya dari jalan Shafwan bin Amr, berkata: “Telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah al-Harazy, dari Abi ‘Amir al-Hauzany dari Mu’awiyah” – hadits ini isnad rijalnya tsiqat kecuali Azhar dia shaduq].
- Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah :
((اِفْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ أَوْ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَلِكَ وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً -وَفِي رواية أبي داود - اِفْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ))
“Telah berpecah-belah Yahudi menjadi 71 atau 72 golongan, dan Nashara juga seperti itu. Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Dalam riwayat Abu Dawud: “Telah berpecah-belah Nashara menjadi 71 atau 72 golongan, dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan.”
[Sanadnya Hasan, telah meriwayatkan: Abu Dawud (4596), at Tirmidzy (2640), Ibnu Majah (2391), Ahmad (II/332), Ibnu Hibban sebagaimana dalam al Ihsan (VIII/48)(6213), al-Hakim (I/6, 128), dan riwayat lainnya dari jalan Muhammad bin ‘Amr dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dan Muhammad bin ‘Amr haditsnya hasan. Al-Bukhari memakai riwayat dari jalan Muhammad bin ‘Amr didampingi dengan yang lainnya, juga Muslim dalam al Mutabi’at].
- Dikeluarkan oleh Tirmidzi dari Ibnu ‘Amr bin al ‘As:
(( لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي ))
“Akan benar-benar datang atas umatku apa yang telah dikerjakan Bani Israil persis setapak demi setapak sehingga jika mereka mendatangi ibunya (menyetubuhi ibunya) terang-terangan, maka tentu dalam umatku ada orang yang berbuat seperti itu. Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah-belah menjadi 72 golongan dan akan berpecah belah umatku menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan, mereka (para saha-bat) bertanya: “Siapakah yang satu golongan itu wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Apa saja yang Aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
(Hasan dengan syawahid, telah meriwayatkan Tirmidzi [2641], al-Hakim [I/129] dan yang lainnya)
- Hadits no. 3 juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari ‘Auf Bin Malik dan Anas.
Ada anggapan yang keliru dari beberapa orang, mereka ber-kata: “Kenapa hadits ini tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.!”
Sesungguhnya Imam al-Bukhari dan Muslim tidak meng-ambil semua hadits-hadits yang shahih di dalam kitabnya, sebagaimana al-Bukhari berkata: “Aku tidak masukkan ke dalam kitabku al Jami’ kecuali yang shahih, dan aku tinggalkan hadits-hadits shahih lainnya karena akan panjang lebar.” Dan berkata Muslim: “Tidaklah semua yang shahih yang ada padaku aku tulis di sini.” Oleh karena itu tidak adanya hadits perpecahan dalam kitab kedua imam tersebut bukanlah dalil tidak adanya keshahihan hadits tersebut atau tidak adanya syarat keshahihan dari keduanya.! (lihat catatan kaki Iftraq al-Ummah Imam ash-Shan’any).
Anggapan lain bahwa hadits ini lemah karena bertentangan dengan perintah bersatu dan tidak bolehnya berpecah-belah dalam al-Qur’an maupun hadits. Anggapan ini adalah ang-gapan yang salah. Sebab hadits ini adalah suatu berita akan adanya perpecah-belahan, bukan perintah berpecah-belah atau bolehnya berpecah-belah. Bahkan realitanya benar-benar telah terjadi perpecah-belahan sejak awal abad hijriyah hingga sekarang, hal ini justru menguatkan kashahihan hadits iftiraq (perpecahan).
b. Kesalahan dalam menyikapi hadits iftiraq (Perpecahan):
1). Mereka beranggapan bahwa hadits ini bukan berlaku untuk umat yang menerima seruan dakwah Nabi Muhammad .
Anggapan bahwa firqoh najiyah (golongan selamat) adalah umat yang mengijabahi dakwah Nabi Muhammad , sedangkan 72 golongan sesat adalah umat yang tidak meng-ijabahi (kafir) adalah anggapan yang salah, karena lafazh umati (أمّتي) -umatku- dalam hadits iftiraq dan hadits-hadits yang lain adalah umat yang mengijabahi, seperti hadits:
- (لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ) “Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan di atas kebenaran…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
- (أُمَتِي هذِهِ أُمَةٌ مَرْحُوْمَةٌ) “Umatku ini adalah umat yang dirahmati…”
Jadi, hadits perpecahan adalah berkaitan dengan umat yang mengijabahi. Perpecahannya bukanlah perpecahan yang sampai kepada kekafiran, sehingga ancaman api neraka dalam hadits tersebut adalah tidak kekal. Jika mereka tidak diampuni akan dimasukkan ke dalam neraka hingga terbakarlah dosa-dosanya, kemudian barulah dimasukkan ke dalam surga. Ketika perpecahannya telah sampai kepada derajat kekafiran maka tidak lagi termasuk 72 golongan sesat dan kekal di neraka.
2). Umat Nabi Muhammad adalah umat terbanyak yang akan masuk surga, sedangkan hadits perpecahan tersebut menunjukkan yang sesat lebih banyak dibanding yang selamat..!
Hadits perpecahan di atas tidak otomatis menunjukkan bahwa banyaknya golongan sesat berarti banyak pula jumlah pengikut kesesatan. Secara total dari awal hingga akhir jumlah yang selamat lebih banyak dibandingkan yang celaka, walaupun boleh saja di suatu zaman kesesatan lebih banyak dari keselamatan. Terutama umat ini adalah umat yang dirahmati oleh Alloh ,, namun ada yang diadzab di dunia dalam bentuk fitnah, gempa, pembunuhan dan berbagai bencana sebagai pengampunan dari dosa-dosanya sehingga di akhirat tidak diadzab.
3). Anggapan bahwa dengan hadits iftiraq tersebut berarti bolehnya berpecah-belah.!
Hadits iftiraq adalah berita kenabian, bentuknya bukan perintah untuk berpecah-belah atau boleh untuk berpecah-belah. Akan tetapi justru berpecah-belah adalah sangat dilarang dan persatuan suatu yang diperintahkan.
4). Kesalahan dalam Penafsiran atau Pemahaman:
Beberapa pihak menerima akan adanya hadits ini, namun salah dalam memahaminya, sehingga gambaran firqoh najiyah (golongan selamat) atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidaklah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi . Seperti klaim bahwa Asya’irah atau Asy’ariyah adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.! Padahal dalam pemahaman tentang Sifat-Sifat Alloh mereka tidak mengikuti pemahaman Ahlus Sunnah, mereka menolak sebagian besar sifat-sifat Alloh , keyakinan ini adalah keyakinan sesat..!! Sebab semua orang harus beriman terhadap sifat-sifat yang telah Alloh sifatkan sendiri dalam kitab-Nya dan yang Rosul sifatkan dalam sunnahnya sebagaimana zhohir lafazhnya tanpa takyif (menghakikatnya), ta’thil (penolakan), tasybih (penyerupaan dengan makhluk-Nya), tahrif (perubahan huruf) dan ta’wil (pengalihan makna).
c. Bahaya penolakan hadits perpecahan dan indikasi termakan faham sekuler dan liberal:
Penolakan terhadap hadits shahih ini sangat berbahaya, karena berarti menolak sabda Nabi Muhammad , apalagi jika penolakan hadits tersebut dilakukan oleh orang yang bukan spesialis belajar hadits (ahli hadits). Sementara para ahli hadits berbicara dengan ilmu, mereka akan menolak semua hadits-hadits palsu dan lemah berdasarkan keilmuan, ketika tidak didapati bahwa hadits tersebut palsu atau lemah, maka tidak ada alasan untuk menolaknya, tanpa membeda-bedakan apakah hadits tersebut Mutawattir atau Ahad.
Penolakan adanya “satu saja yang selamat” dalam hadits iftiraq akan membawa kepada pemahaman yang sangat berbahaya, yaitu pemahaman sekuler yang beranggapan bahwa kebenaran ada di mana saja, semua benar dan tidak boleh ada klaim bahwa hanya golongannya yang benar. Pandangan seperti ini telah mengantarkan kepada kesimpulan bahwa semua agama benar..!!
Benar…, bahwa klaim hanya golongannya yang benar dan yang lain sesat adalah dakwaan yang perlu bukti, sebab kebenaran itu ada kriterianya dan menjadi milik golongan mana saja..!! Kriterianya adalah bahwa siapa saja yang berdiri di jalan Nabi Muhammad dan para sahabatnya maka dia di atas kebenaran..!!
d. Musuh-musuh Alloh sangat geram dengan hadits ini:
Musuh-musuh Alloh sangat terpukul dengan adanya hadits perpecahan..!! Sebab dengan hadits ini tersingkaplah penyimpangan-penyimpangan dari kemurnian. Sehingga mereka berusaha keras untuk menolak keberadaan hadits ini dengan berbagai tipu daya, seperti: menolak keshahihan hadits iftiraq, membenturkan hadits ini dengan nash persatuan dan lain-lain. Sebab pada dasarnya hadits ini telah membangkitkan keseriusan dalam menjaga dan mengawal terhadap kemurnian.
Alloh berfirman:
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. As-Shaff [61]:8)
- Urgensi Kulluha Finnar illa Wahidah
Hadits iftiraq sangat bombastis ketika disabdakan: “semuanya masuk neraka kecuali satu” menunjukkan betapa bahayanya ancaman kesesatan yang sedang mengancam Umat Islam. Yaitu ancaman masuk Neraka Jahannam..!! Semua terancam dengan api neraka..!!
Dari sabda Nabi Muhammad ini sudah selayaknya umat Islam waspada terhadap segala ancaman yang akan mengantarkan ke dalam firqoh dhollah (kelompok sesat). Ancaman ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Semua orang tidak boleh merasa tenang karena ancaman penyimpangan datang setiap saat tanpa pandang bulu, karena manusia diciptakan berpotensi untuk berpecah belah, kecuali orang-orang yang dirahmati Alloh .
Alloh berfirman:
“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat (menyimpang atau berpecah-belah), kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Robbmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka (untuk berpecah-belah). Kalimat Robbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan; sesung-guhnya Aku akan memenuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud [11]:118-119)
Alloh telah memerintahkan agar orang-orang beriman berpegang teguh dengan tali Alloh dan tidak bercerai-berai, dan Rosul-Nya Muhammad pun telah memperingatkan orang-orang yang beriman agar berpegang teguh dengan sunnahnya.
Firman Alloh :
“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepada kalian ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Alloh orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran [3]:103)
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]:153)
Sabda Nabi Muhammad :
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Alloh, dengar serta taatlah walaupun yang memimpin kalian seorang hamba sahaya Habsyi. Sesungguhnya orang yang masih hidup dari kalian sepeninggalku akan melihat penyimpangan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa rasyidin al-Mahdiyin, pegang teguhlah ia dan gigitlah dengan gigi geraham (benar-benar berpegang teguh). Dan jauhilah urusan-urusan baru (syari’at baru), sebab semua yang baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud)
Ketika orang-orang yang beriman lengah dari peringatan ini, maka mereka akan terjatuh dalam lubang-lubang kesesatan, sebab Iblis dan bala tentaranya terus bekerja tanpa henti untuk mengeluarkan manusia dari cahaya menuju kegelapan. Bahkan Adam pun pernah tergelincir oleh tipu daya Iblis karena melupakan peringatan Alloh dan tidak kuat dalam memegang azam (keteguhan).
Alloh berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya keteguhan (azam).” (QS. Taha [20]:115)
II. Para sahabat bertanya tentang firqoh wahidah najiyah (satu golongan yang selamat) bukan bertanya tentang golongan yang sesat (72 golongan sesat), menunjukkan urgensi pengetahuan firqoh najiyah.
Betapa pentingnya mengetahui golongan atau kelompok yang selamat, yang berada di atas kemurnian. Para sahabat pun bertanya tentang yang satu itu. Para sahabat adalah generasi terbaik, sehingga pertanyaannya bukanlah keluar begitu saja. Pertanyaannya menunjukkan betapa urgennya memahami golongan yang selamat agar tidak terjerumus ke dalam golongan sesat.
Ketika seseorang telah benar-benar meniti di atas jalan Nabi Muhammad dan para sahabatnya dengan keilmuannya, maka ia telah selamat dari api neraka dan terpelihara dari terjerumus ke dalam firqoh dhollah. Dia seolah-olah telah terimunisasi untuk kebal dari segala virus kesesatan..!!
Najiyah (keselamatan) sangat identik dengan kemurnian. Dia adalah Islam yang tidak tercemari dengan kepalsuan. Sedangkan dhollah (kesesatan) identik dengan kepalsuan, dia adalah Islam yang tidak murni, tercampur dengan kesesatan, seseorang yang meniti kesesatan berarti keluar dari firqoh najiyah, terlempar ke dalam firqoh dhollah, walaupun belum keluar dari Islam.
Semakin besar seseorang mengabaikan kemurnian, sebesar itu pula ia terancam kesesatan. Dan semakin besar seseorang meninggalkan kemurnian, sebesar itu pula ia terjatuh dalam kesesatan.
- Kemurnian Versus Kesesatan
Alloh berfirman:
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Alloh Robb kalian yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kalian dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Yunus [10]:32)
Kemurnian dan kesesatan, keduanya menuju kepada arah yang bertolak belakang.
Alloh berfirman:
“Alloh wali (Pelindung) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, wali-walinya (pelindung-pelindungnya) ialah thoghut (setan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 257]
Para nabi adalah pelopor kemurnian, bahkan identik dengan kemurnian. Alloh mengutus para Nabi-Nya setiap kali manusia terjatuh dalam keterpurukan total untuk membangkitkan umat manusia dari keter-purukannya, mengembalikan kegelapan kepada cahaya. Begitu juga para da’i (ahli waris) nabi yang berjalan di atas syari’at kenabian. Demikianlah bendera kemurnian terus berkibar tanpa henti, susul-menyusul, walaupun di suatu masa tertentu meredup karena kegelapan begitu hebat menutup dunia yang keluar dari rel kenabian.
Ibnu Taimiyah berkata:
“Barangsiapa keluar dari kenabian, maka pasti akan terjatuh dalam kesyirikan dan yang lainnya… Tidaklah kesyirikan itu suatu yang asli pada anak keturunan Adam . Bahkan Adam dan orang-orang yang berjalan di atas agamanya dari keturunannya adalah berada di atas tauhidullah karena kepengikutan mereka kepada nubuwwah, sebagaimana firman Alloh : “Dan tidaklah manusia dahulunya melainkan umat yang satu, lalu mereka menyimpang (berikhtilaf)…” Ibnu Abbas berkata: “Antara Adam dan Nuh adalah sepuluh generasi, semuanya di atas Islam. Dikarenakan mereka tidak berittiba’ kepada syari’at para nabi, maka mereka jatuh dalam kesyirikan.” (Majmu’ al-Fatawa juz 20 hal. 106, lihat: Ahlus Sunnah wal Jama’ah Ma’alim Intilaq al Kubra hal. 25)
Dan dari Qatadah , ia berkata:
“Mereka semuanya di atas petunjuk, lalu menyimpang, maka Alloh mengutus para nabi-Nya dan Nuh adalah nabi pertama yang diutus Alloh . Begitulah perkataan Mujahid sebagaimana Ibnu Abbas pun berkata seperti itu… karena manusia dahulunya berada di atas agama Adam hingga mereka menyembah kepada patung. Lalu Alloh mengutus Nuh kepada mereka, Dialah rosul pertama untuk penduduk bumi.” (Tafsir Ibnu Katsir juz I hal. 250, lihat: Ahlus Sunnah wal Jama’ah Ma’alim Intilaq al Kubra hal. 21).
Pergulatan Nuh dalam mendakwahkan kemurnian mengembalikan umatnya yang telah terjatuh dalam keterpurukan total berlangsung selama 950 tahun, namun tidak ada yang mau menerimanya kecuali sedikit saja. Konfrontasi antara kemurnian dan kesesatan berjalan dalam episode dakwah yang melelahkan. Hal ini secara khusus diabadikan dalam al-Qur’an Surat Nuh yang berakhir dengan turunnya adzab Alloh kepada orang-orang yang tidak mau kembali kepada agama bapaknya, Adam , sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang beriman.
Demikianlah gelombang diutusnya para nabi dan rosul susul-menyusul setiap kali manusia telah sampai kepada keterpurukan total. Ini merupa-kan Rahmat Alloh kepada hamba-Nya, bahwa Alloh tidak akan mengadzab seseorang pun kecuali setelah tegak hujjah kepadanya.
Firman Alloh :
“…Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang rosul.” (QS. Al-Isra [17]: 15)
“(Mereka Kami utus) selaku rosul-rosul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Alloh sesudah diutusnya rosul-rosul itu. Dan adalah Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa [4]: 165)
Konfrontasi berjalan terus sejak Adam hingga diutusnya nabi terakhir Muhammad untuk seluruh manusia dan jin hingga hari kiamat. Konfrontasi tersebut bahkan sampai kepada pertempuran fisik yang hebat antara pendukung kemurnian dan kesesatan, antara cahaya dan kegelapan.
Alloh berfirman:
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa [4]:76)
Firman Alloh :
“Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang pada bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Alloh, kafir kepada Alloh, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Alloh. Dan berbuat kesyirikan lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Baqoroh (2):217]
Pergesekan sengit pun terjadi di kalangan umat yang mengijabahi dakwah Nabi Muhammad antara pembawa panji kemurnian dan panji kepalsuan, antara pengusung golongan selamat dan golongan sesat. Hal ini sudah menjadi sunnatulloh (ketentuan Alloh) yang tidak dapat dihindari. Bahkan pergesekan sengit telah menumpahkan darah sejak meninggalnya Nabi Muhammad di sepertiga abad pertama Hijriyah.
Golongan-golongan yang sesat atau kelompok-kelompok sesat telah meninggalkan sebagian prinsip kemurnian Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan membawa keyakinan-keyakinan kufur, walaupun keyakinan kufurnya belum sampai melemparkan dirinya ke dalam kekafiran, namun keyakinan tersebut telah membawa pada permusuhan yang tidak dapat ditolak. Oleh karena itu, perjuangan mengusung bendera kemurnian akan mendapatkan permusuhan ganda, yaitu permusuhan total dengan orang-orang kafir dan permusuhan nisbi dengan orang-orang yang melumuri kemurnian dengan kepalsuan. Sebab, seorang yang beriman di satu sisi harus berwala’ (loyal) dengan keimanan yang dimiliki oleh seseorang dan di sisi lain harus bara’ (berlepas diri) dengan kemaksiatannya dan kepalsuannya.
- Dakwah Kemurnian
Semua nabi dan rosul diturunkan dengan misi kebangkitan untuk meraih kemurnian, dengan tujuan mengembalikan umat manusia dari penyim-pangannya, yaitu mengembalikan penyimpangan peribadatan kepada selain Alloh kepada peribadatan hanya kepada Alloh saja. Ter-kandung juga di dalamnya pengembalian peran kekhilafahan yang semestinya, sebagaimana amanat yang telah diterima manusia.
Alloh berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Ibadahilah Alloh (saja), dan jauhilah Thogut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rosul-rosul). (QS. An-Nahl [16]:36)
Prof. DR. Nashir bin Abdul Karim al ‘Aql memberikan penjelasan dalam Kitabnya tentang ayat di atas, dia berkata: “Risalah para rosul semua tegak di atas dua kaidah agung dan pokok yang besar, yaitu: ‘Ibadahilah Alloh saja’ dan ‘Jauhilah Thogut’ (sebagaimana firman Alloh dalam QS. 16:36). Maka semua dakwah yang tidak menancapkan tujuan akhir dan manhajnya atas dua pokok ini adalah dakwah yang menyelisihi manhaj para rosul dan tidak sempurna (cacat), sertan tidak akan ada buah yang diharapkan.
Kaidah ‘Ibadahilah Alloh saja’ adalah: Realisasi tauhid dan aqidah yang lurus, ketaatan kepada Alloh serta ittiba’ (mengikuti) syariat-Nya, sedangkan kaidah ‘Jauhilah Thogut’ adalah: Menjauhi hawa nafsu, perpecahan, bid’ah dan apa saja yang membawa kepada kesyirikan, kekufuran, kedzoliman, kefasikan dan berpalingnya dari Agama Alloh.
Semua kandungan agama secara global dan rinci berkisar atas dua pokok ini. Oleh karena itu dakwah kepada Alloh mengandung dua tujuan akhir yang tidak akan benar kecuali dengan dua rukun asasi, yaitu: Pertama: Penancapan agama, aqidah dan syariah. Serta pembelajaran, pengajaran, penyebaran dan pengamalan. Kedua: Penjagaan agama, aqidah, dan syari’ah. Serta pembelaan dan penjelasan semua yang menyelisihinya. (Dirasat fil Ahwa wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifis Salaf minha, juz I hal. 5-6)
II. Kemurnian tauhid adalah ruh yang menggerakkan segalanya.
Kemurnian tauhid adalah landasan segalanya, jika baik maka baiklah seluruhnya dan jika cacat maka cacatlah seluruhnya. Tauhid adalah yang pertama dan yang terakhir. Nabi Muhammad pun memulai dakwahnya bukan dengan dakwah akhlak, padahal beliau telah mendapatkan gelar al-Amin, sehingga mungkin dengan dakwah akhlak manusia akan langsung berbondong-bondong masuk Islam. Namun itu tidak dilakukannya, akan tetapi beliau memilih jalan dakwah tauhid, karena dengan dakwah tauhid itulah justru permusuhan dimulai. Inilah pilihannya, inilah landasan agung untuk semua kesuksesan.
Pencanangan kemurnian adalah sebuah kemutlakan, bahwa seluruh nabi diutus untuk meluruskan penyimpangan, membawa manusia dari asfala safilin (kedudukan yang serendah-rendahnya) menuju ahsani taqwim (kedudukan yang paling baik). Jaminan kemenangan akhirat dalam hadist iftiraq (perpecahan umat) dan thaifah manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) dalam kemenangan dunia sangatlah jelas, yaitu saat mereka di atas kebenaran, di atas kemurnian, bukan kepalsuan.
III. Terpalingkan dari kemurnian pasti akan sesat
Kemurnian adalah suatu kemutlakan untuk mendapatkan jaminan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Sebab tidak ada setelah al haq (yang benar-benar hak dari Alloh tanpa kepalsuan) kecuali kesesatan. Ketika kemurnian dilalaikan atau dikesampingkan maka segera akan diisi dengan arus kesesatan. Bahkan setiap orang harus tetap terus terjaga dari ancaman para penyesat terutama Iblis, dia adalah imam kesesatan. Apalagi telah berhasil menggelincirkan bapak manusia Adam , firman Alloh :
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu teman sekutu (kawan) bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf [7]:27)
Betapa bahayanya makhluk (Iblis atau setan) ini, sehingga Alloh meng-ajarkan doa dengan lafazh-lafazh langsung dari-Nya untuk berlindung dari tipu dayanya, sebagaimana firman Alloh :
“Dan katakanlah: “Wahai Robb, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu wahai Robbku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al-Mu’minun [23]:97-98)
Lafazh-lafazh doa khusus ini harus diamalkan setiap saat agar terlepas dari tipu daya mereka. Ketika kemurnian terabaikan atau kurang mendapat perhatian pasti akan terjatuh dalam lubang-lubang kesesatan..!!
IV. Dakwah yang tidak mencanangkan dan mengusung kemurnian adalah dakwah sesat.
Dakwah ilalloh adalah tugas kenabian. Setiap kali dakwah keluar dari jalur kenabian, maka akan tercampakkan dalam kesyirikan atau yang lainnya. Kemurnian tidak bisa dipisahkan dari kenabian, bahkan diturunkannya para nabi adalah karena penyimpangan umat manusia dari rel sirotul-mustaqim, rel kemurnian. Oleh karena itu, semua dakwah yang tidak mengusung dan mencanangkan kemurnian adalah dakwah yang sesat…!!
Realita telah membuktikan, berapa banyak duat (para dai) atau organisasi yang telah mendukung munculnya kepalsuan. Berapa banyak para pendukung revolusi Iran dan para pemimpin agama Syi’ah yang mengusung kekufuran dan kesyirikan. Berapa banyak aliran-aliran sesat atau guru-guru kesesatan didukung atau dibiarkan berkembang, bahkan dipuja.
Tidak kalah juga, partai-partai Islam yang mau berjuang untuk kejayaan Islam, bahkan pejuang-pejuang yang membawa nama jihad telah menanggalkan kemurnian demi semata-mata mencapai tampuk kekuasaan. Ini tidak lain karena kemurnian tidak dipancangkan dengan kuat sehingga terkalahkan oleh strategi-strategi praktis atau yang lainnya.
V. Penggalian, penjagaan dan penyebaran kemurnian adalah jihad yang besar
Walaupun perpecahan dan penyimpangan terjadi di seantero dunia, namun bendera sunnah akan tetap terus berkibar di setiap zaman dan tempat. Ini adalah merupakan janji Alloh untuk memelihara Agama-Nya. Lalu bermunculanlah para tokoh penegak Agama Alloh.
Alloh berfirman:
“Di antara orang-orang mu'min itu ada para pejuang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Alloh; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab [33]:23)
Di mulai dari para sahabat yang telah melaksanakan amanat ini dengan sebaik-baiknya, lalu disusul dengan generasi selanjutnya, yaitu para tabi’in yang telah menerima secara estafet agama dari para sahabat yang telah melaksanakan amanat dengan sebaik-baiknya. Dan seterusnya, generasi demi generasi bendera sunnah dipikul oleh para pendekarnya hingga hari kiamat.
Rosululloh bersabda:
“Senantiasa ada sekelompok umatku yang dimenangkan di atas kebenaran, tidak akan memudorotkan mereka orang yang menelantarkan (tidak menolong) mereka hingga hari Kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu.” (HR. Muslim)
Janji kemenangan dalam hadits ini adalah kemenangan dengan hujjah selama-lamanya dan kemenangan dengan pedang pada saat-saat tertentu. Kemenangan dengan hujjah adalah kemenangan yang sangat besar. Inilah lambang keterpeliharaan agama yang dijanjikan oleh Alloh . Ini adalah jihad yang besar. Dengan hujjah-hujjah para pendekar sunnah yang tertulis dan terbukukan dengan rapi. Itulah kehebatan Agama-Nya yang dapat dirasakan oleh setiap generasi. Keharuman hujjah-hujjah mereka yang tertulis dalam kitab-kitab warisan dapat lebih dirasakan dan sangat bermanfaat hingga hari kiamat dibandingkan perang yang mereka lakukan yang kita tidak bisa ikut larut dalam suka-dukanya.
Penjagaan Alloh terhadap agama ini bukan hanya penjagaan lafazhnya saja, tetapi termasuk penjagaan maknanya. Oleh karena itu, penjagaan kitab-kitab warisan sangat penting. Bentuk penjagaannya adalah mempelajari, menggali dan mentransfer kepada umat masa kini dan masa yang akan datang.
VI. Musuh-musuh akan serempak menghadang kemurnian
Konfrontasi dengan Iblis dan bala tentaranya tidak akan pernah berhenti dan surut. Sejak seseorang menyuarakan kemurnian, maka sejak saat itu pula musuh akan muncul untuk menghadangnya. Sebesar kemurnian yang dipikul, sebesar itu pula bobot permusuhannya. Oleh karena itu, para pengusung kemurnian tidak akan pernah tenang dan lengah terhadap musuh-musuhnya yang senantiasa mengintai. Baik musuh-musuh yang terlihat maupun yang tidak terlihat dari bangsa manusia dan jin.
Konfrontasi dari zaman ke zaman memiliki pola yang berbeda-beda. Konspirasi yang mengubur cahaya Alloh semakin rumit, bahkan jenis perang pun sangat berbeda. Ini adalah bentuk ujian yang Alloh berikan kepada hamba-Nya untuk masing-masing meraih derajatnya di surga kelak dan kedekatannya dengan Alloh . Maka ketika manusia tidak menyadari hal ini, dia akan tergelincir dalam tipu daya Iblis dan bala tentaranya serta akan terkalahkan dalam medan laga yang setiap saat mengancam kemurnian.
Facebook : URGENSI DA'WAH KEMURNIAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar