Sejak kurang dari seratus tahun yang lalu, khilafah struktural yang diperankan oleh khilafah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki telah runtuh. Diruntuhkan oleh keterpurukan ruhani sebelum dihancurkan oleh gempuran invasi militer musuh!
Berikut adalah saduran bebas dan singkat dari buku: "Daulah Utsmaniyyah" yang disusun oleh DR. 'Ali Muhammad as-Sollabi, cetakan ke-4 2006 M oleh "Darul Ma'rifah"- Beirut , yang memberi gambaran singkat tentang keterpurukan ruhani di waktu itu:
"Daulah Utsmaniyyah yang sejak berdirinya pada tahun 700 H-1300 H, berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah, memerangi kesyirikan, bid'ah-bid'ah dan khurofat serta menegakkan hukum-hukum syariat Islamiyyah dan berjihad menyebarkan Islam di seluruh bumi ini, telah mulai tenggelam pada kesyirikan, bid'ah dan tahayul pada akhir-akhir masa hidupnya di abad ke-13 H (19 M) dan awal abad ke-14 H (20 M).”
Kesyirikan dalam peribadatan berbentuk do'a-do'a, nadzar-nadzar, penyerahan kurban-kurban kepada kuburan-kuburan, pohon-pohon, batu-batu dan benda-benda mati lainnya, telah menyebar di pelosok Khilafah pada umumnya dan di Turki pada khususnya. Senjata-senjata peninggalan nenek moyang banyak yang menjadi sesembahan dan tempat meminta kesembuhan dari berbagai penyakit. Demikian juga bid'ah telah merasuk di kehidupan umat. Segala macam ritual aneh dan tidak berdalil menjadi bagian dari peribadatan sehari-hari, membangun masjid dan kubah di atas kubur sudah menjadi bagian dari keterpurukan. Negara pun tak ketinggalan dalam membangun masjid-masjid di atas kuburan-kuburan "keramat". Sebagai contoh ikutnya negara dalam keterpurukan ini: pada tahun 1305 H (±1900M) Sultan Abdul Hamid II memerintahkan untuk memasang kelambu-kelambu mewah masing-masing untuk kuburan Zubair bin Awwam dan Utbah bin Ghozwan. Kelambu-kelambu itu terbuat dari sutra merah yang mewah tersulam dengan perak. Lalu memberinya dua pedupa dan kubah dari perak pada kedua kuburan itu. Waktu diperintahkannya hal itu oleh Sultan Abdul Hamid II adalah waktu-waktu terakhir runtuhnya khilafah, di mana beliau naik tahta ketika kaum sekuler agen-agen Freemason sudah menguasai pemerintahan. Konon Sultan Abdul Hamid II berniat untuk membangun khilafah kembali dan mengusir kaum sekuler dari tampuk pemerintahan. Kalau hal ini benar, maka mungkin saja perintahnya ini untuk menghias kedua makam itu adalah untuk "mengambil simpati" kaum Sufi yang sudah menguasai kehidupan beragama ummat hampir di seluruh dunia Islam, bahkan extrem Sufi-lah yang telah menjadi pionir dalam menanamkan dan mengembangbiakkan kesesatan pada waktu itu. Kekuatan Sufiyyah waktu itu digambarkan oleh Syaikh Muhammad Qutub di buku beliau "Waqi‘una al Mu‘asir" halaman 155 sebagai berikut:
"Sufiyah sudah mulai menyebar pada waktu khilafah Abbasiyyah. Tetapi pada waktu itu mereka masih berupa kelompok-kelompok yang terasingkan dari masyarakat dan bersifat tertutup. Tetapi pada dua abad terakhir dari khilafah Utsmaniyyah, Sufiyyah sudah merupakan pengganti Islam. Sampai pribahasa "barangsiapa yang tidak mempunyai Syaikh (maksudnya syaikh tarekat) maka syaikhnya adalah setan" sudah menjadi pegangan kehidupan para orang awam. Maka jadilah Sufiyyah untuk orang awam pintu gerbang Islam, tidak bisa memasuki Islam dari pintu selain pintu itu bahkan Sufiyyah sudah menjadi aplikasi dari Islam itu sendiri".
Kemurnian mulai runtuh di khilafah Utsmaniyyah dengan menjamurnya aliran-aliran sesat seperti Sufiyyah, Bahaiyyah, Ismailiyyah dan lain-lain. Penjamuran ini memang tidak lepas dari makar-makar musuh-musuh Islam dari luar, tetapi tidak akan meluas, bahkan tidak akan tetap ada kalau di "otak" dan "syaraf" negara, kemurnian masih dalam kadar yang cukup. Penyisihan kemurnian melahirkan semua elemen-elemen keterpurukan ruhani yang kemudian melahirkan keterpurukan peran dengan disisihkannya hukum Islam dan ditegakkannya hukum-hukum buatan manusia dan runtuhlah segalanya..!!
Setelah perang dunia kedua berakhir sistem penjajahan pun dirubah, dari sistem penjajahan langsung ke sistem penjajahan tidak langsung. Penjajahan dan cengkraman yang didasarkan atas keunggulan militer, ekonomi dan teknologi para penjajah, melalui sistem keuangan dan pengawalan wilayah yang kuat.
Di bawah cengkaraman Yahudi dan Salibis internasional itu, kaum muslimin pun terpuruk di semua lapangan kehidupan. Hukum Islam adalah hal utama dan pertama yang harus disingkirkan dari kehidupan umat ini. Pendidikan dijauhkan dari norma-norma Islam. Sekulerisme dipupuk dan didukung habis-habisan, nasionalisme dijadikan dasar persaudaraan. Wanita ditipu besar- besaran untuk keluar dari peranannya yang sebenarnya, digiring dan diseret dengan segala bentuk rayuan ke dalam jurang penderitaan lahir dan batin dijadikan bumerang untuk merusak umat sendiri dengan iming-iming emansipasi. Anak-anak belia diracuni dengan segala macam perusakan akhlak, narkoba, dan lain-lain dan pada akhirnya dijadikan musuh-musuh agama mereka sendiri. Dakwah-dakwah iblis diperkuat tanpa batas. Semua itu dalam lingkup internasional (seluruh negara-negara kaum muslimin) dalam rangka memenangkan pergulatan merebut kedaulatan atas kehidupan manusia untuk dipersembahkan kepada iblis! Negara-negara kaum Muslimin pun tidak banyak berdaya melawan tekanan-tekanan Salibis Internasional ini.
Umat ini adalah umat yang kuat dan jaya. Kekuatan dan kejayaan yang bersandarkan kepada satu-satunya agama pencipta alam semesta Yang Maha Berkuasa yang telah menjanjikan kemenangan untuk umat ini. Sejarah pun telah membuktikan! Tetapi mengapa kita sekarang menjadi kaum terbelakang dan tertindas?!
Jawabannya adalah karena kita bukanlah kita lagi!! Sebelum benteng terakhir umat ini runtuh pun, mayoritas kita sudah berjalan di luar kemurniaan Islam dan cinta dunia sudah merasuk ke dalam hati. Cinta dunia sudah menjauhkan kita dari cinta juang! Sehingga kaum muslimin sangat takut kalau ia harus kehilangan satu-satunya nyawa untuk membela dinullah yang haq ini! Menjadikan kehidupan akhirat di hati-hati kita hampir-hampir hanya sekedar dongeng sebelum tidur!!
Umatpun tenggelam di keterpurukan yang kelam...
Berikut adalah saduran bebas dan singkat dari buku: "Daulah Utsmaniyyah" yang disusun oleh DR. 'Ali Muhammad as-Sollabi, cetakan ke-4 2006 M oleh "Darul Ma'rifah"- Beirut , yang memberi gambaran singkat tentang keterpurukan ruhani di waktu itu:
"Daulah Utsmaniyyah yang sejak berdirinya pada tahun 700 H-1300 H, berjalan di atas manhaj Ahlus Sunnah, memerangi kesyirikan, bid'ah-bid'ah dan khurofat serta menegakkan hukum-hukum syariat Islamiyyah dan berjihad menyebarkan Islam di seluruh bumi ini, telah mulai tenggelam pada kesyirikan, bid'ah dan tahayul pada akhir-akhir masa hidupnya di abad ke-13 H (19 M) dan awal abad ke-14 H (20 M).”
Kesyirikan dalam peribadatan berbentuk do'a-do'a, nadzar-nadzar, penyerahan kurban-kurban kepada kuburan-kuburan, pohon-pohon, batu-batu dan benda-benda mati lainnya, telah menyebar di pelosok Khilafah pada umumnya dan di Turki pada khususnya. Senjata-senjata peninggalan nenek moyang banyak yang menjadi sesembahan dan tempat meminta kesembuhan dari berbagai penyakit. Demikian juga bid'ah telah merasuk di kehidupan umat. Segala macam ritual aneh dan tidak berdalil menjadi bagian dari peribadatan sehari-hari, membangun masjid dan kubah di atas kubur sudah menjadi bagian dari keterpurukan. Negara pun tak ketinggalan dalam membangun masjid-masjid di atas kuburan-kuburan "keramat". Sebagai contoh ikutnya negara dalam keterpurukan ini: pada tahun 1305 H (±1900M) Sultan Abdul Hamid II memerintahkan untuk memasang kelambu-kelambu mewah masing-masing untuk kuburan Zubair bin Awwam dan Utbah bin Ghozwan. Kelambu-kelambu itu terbuat dari sutra merah yang mewah tersulam dengan perak. Lalu memberinya dua pedupa dan kubah dari perak pada kedua kuburan itu. Waktu diperintahkannya hal itu oleh Sultan Abdul Hamid II adalah waktu-waktu terakhir runtuhnya khilafah, di mana beliau naik tahta ketika kaum sekuler agen-agen Freemason sudah menguasai pemerintahan. Konon Sultan Abdul Hamid II berniat untuk membangun khilafah kembali dan mengusir kaum sekuler dari tampuk pemerintahan. Kalau hal ini benar, maka mungkin saja perintahnya ini untuk menghias kedua makam itu adalah untuk "mengambil simpati" kaum Sufi yang sudah menguasai kehidupan beragama ummat hampir di seluruh dunia Islam, bahkan extrem Sufi-lah yang telah menjadi pionir dalam menanamkan dan mengembangbiakkan kesesatan pada waktu itu. Kekuatan Sufiyyah waktu itu digambarkan oleh Syaikh Muhammad Qutub di buku beliau "Waqi‘una al Mu‘asir" halaman 155 sebagai berikut:
"Sufiyah sudah mulai menyebar pada waktu khilafah Abbasiyyah. Tetapi pada waktu itu mereka masih berupa kelompok-kelompok yang terasingkan dari masyarakat dan bersifat tertutup. Tetapi pada dua abad terakhir dari khilafah Utsmaniyyah, Sufiyyah sudah merupakan pengganti Islam. Sampai pribahasa "barangsiapa yang tidak mempunyai Syaikh (maksudnya syaikh tarekat) maka syaikhnya adalah setan" sudah menjadi pegangan kehidupan para orang awam. Maka jadilah Sufiyyah untuk orang awam pintu gerbang Islam, tidak bisa memasuki Islam dari pintu selain pintu itu bahkan Sufiyyah sudah menjadi aplikasi dari Islam itu sendiri".
Kemurnian mulai runtuh di khilafah Utsmaniyyah dengan menjamurnya aliran-aliran sesat seperti Sufiyyah, Bahaiyyah, Ismailiyyah dan lain-lain. Penjamuran ini memang tidak lepas dari makar-makar musuh-musuh Islam dari luar, tetapi tidak akan meluas, bahkan tidak akan tetap ada kalau di "otak" dan "syaraf" negara, kemurnian masih dalam kadar yang cukup. Penyisihan kemurnian melahirkan semua elemen-elemen keterpurukan ruhani yang kemudian melahirkan keterpurukan peran dengan disisihkannya hukum Islam dan ditegakkannya hukum-hukum buatan manusia dan runtuhlah segalanya..!!
Setelah perang dunia kedua berakhir sistem penjajahan pun dirubah, dari sistem penjajahan langsung ke sistem penjajahan tidak langsung. Penjajahan dan cengkraman yang didasarkan atas keunggulan militer, ekonomi dan teknologi para penjajah, melalui sistem keuangan dan pengawalan wilayah yang kuat.
Di bawah cengkaraman Yahudi dan Salibis internasional itu, kaum muslimin pun terpuruk di semua lapangan kehidupan. Hukum Islam adalah hal utama dan pertama yang harus disingkirkan dari kehidupan umat ini. Pendidikan dijauhkan dari norma-norma Islam. Sekulerisme dipupuk dan didukung habis-habisan, nasionalisme dijadikan dasar persaudaraan. Wanita ditipu besar- besaran untuk keluar dari peranannya yang sebenarnya, digiring dan diseret dengan segala bentuk rayuan ke dalam jurang penderitaan lahir dan batin dijadikan bumerang untuk merusak umat sendiri dengan iming-iming emansipasi. Anak-anak belia diracuni dengan segala macam perusakan akhlak, narkoba, dan lain-lain dan pada akhirnya dijadikan musuh-musuh agama mereka sendiri. Dakwah-dakwah iblis diperkuat tanpa batas. Semua itu dalam lingkup internasional (seluruh negara-negara kaum muslimin) dalam rangka memenangkan pergulatan merebut kedaulatan atas kehidupan manusia untuk dipersembahkan kepada iblis! Negara-negara kaum Muslimin pun tidak banyak berdaya melawan tekanan-tekanan Salibis Internasional ini.
Umat ini adalah umat yang kuat dan jaya. Kekuatan dan kejayaan yang bersandarkan kepada satu-satunya agama pencipta alam semesta Yang Maha Berkuasa yang telah menjanjikan kemenangan untuk umat ini. Sejarah pun telah membuktikan! Tetapi mengapa kita sekarang menjadi kaum terbelakang dan tertindas?!
Jawabannya adalah karena kita bukanlah kita lagi!! Sebelum benteng terakhir umat ini runtuh pun, mayoritas kita sudah berjalan di luar kemurniaan Islam dan cinta dunia sudah merasuk ke dalam hati. Cinta dunia sudah menjauhkan kita dari cinta juang! Sehingga kaum muslimin sangat takut kalau ia harus kehilangan satu-satunya nyawa untuk membela dinullah yang haq ini! Menjadikan kehidupan akhirat di hati-hati kita hampir-hampir hanya sekedar dongeng sebelum tidur!!
Umatpun tenggelam di keterpurukan yang kelam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar