Adapun bencana-bencana yang bermunculan akibat pelanggaran tersebut sudah bukan rahasia lagi. Tentunya buku setebal apapun tidak akan cukup jika kita ingin mencatat semua musibah yang menimpa negeri ini walaupun hanya sejak kemerdekaan sampai akhir abad ke-20 lalu saja.
Di antara rentang waktu antara proklamasi kemerdekaan sampai pemberontakan-pemberontakan yang banyak menelan harta dan jiwa yang tak terhitung banyaknya sampai krisis moneter di penghujung abad ke-20 itu, banyak sekali musibah-musibah berupa bencana-bencana alam yang saling susul menyusul.
Bencana-bencana yang tambah cepat jarak waktu dari satu bencana ke bencana lainnya terus berdesakan sejak kita memasuki abad ke-21 ini. Di antaranya Tsunami yang menelan lebih dari dua ratus ribu jiwa dan memporak-porandakkan habis-habisan sebagian dari negeri ini.
Goyangan-goyangan gempa yang mematikan dan letusan-letusan gunung-gunung berapi yang membakar anak-anak bangsa hidup-hidup serta melenyapkan harta benda milik mereka yang tersisa hidup.
Banjir yang bukan hanya menghancurkan banyak dari infrastruktur negeri ini, akan tetapi juga menjadikan para korban yang masih hidup terpaksa menyandang profesi baru sebagai pengemis, karena kehilangan harta milik mereka.
Jatuhnya pesawat terbang dengan korban-korbannya, kebakaran yang seakan-akan tak akan pernah berhenti, sampai-sampai terjadi di atas laut yang luas, membakar kapal berpenumpang penuh. Sampai sekarang samudera masih terus menggertak dan menakut-nakuti kota Jakarta dengan banjir yang muncul dari waktu ke waktu. Seakan-akan memberi peringatan bahwa amarahnya sudah mendekati batas maksimal. Seakan terdengar lamat-lamat geretakan gigi-giginya, sambil bergumam mengancam: "Aku sudah siap, tinggal menunggu perintah Tuhanku..!!!".
Lalu... Lapindo... ya Rawa Lapindo yang sangat aneh! Tidak bisa dicerna oleh akal secara jelas! Menelan korban harta yang tak terhitung banyaknya, terus merayap entah bagaimana jadinya.
Semua ini adalah akibat keterpurukan ruhani yang ditambah buruk lagi oleh keterpurukan peran.
Benarkah?
Mari kita simak firman Ilahi dari sumber tersuci yang tidak ada dusta padanya atau keraguan sedikitpun juga.
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh menimpakan mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan kalian sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. As-Syuro [42]: 30)
Semua itu dari perbuatan kita sendiri!
Benarkah??? Bagaimana bisa tidak benar!!??
Bukankah itu adalah firman Pencipta alam semesta!?! Bukankah kita sudah beriman kepadanya?! Ataukah kita lebih mempercayai perkataan-perkataan para ilmuwan, para intelektual dan para orang-orang pandai yang sangat jahil dalam timbangan agama?!? Yang selalu melupakan ayat-ayat ini dalam analisa-analisa mereka.
Mari kita simak firman-firman Robbul 'Alamin yang lebih merincikan hubungan antara amal perbuatan buruk manusia dengan bencana-bencana yang ada di dunia ini.
Bencana Massal
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Israa' [17]: 16)
Angin Topan
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. Mereka berkata: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah adzab yang kalian minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Robbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang penuh dosa.” (QS. Al-Ahqof [46]: 24-25)
Banjir, gempa bumi, halilintar
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Alloh sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al'ankabut [29]: 40)
Kelaparan dan ketakutan (ketidakamanan)
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Alloh; Karena itu Alloh merasakan kepada mereka kondisi kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl [16]: 112).
Di antara rentang waktu antara proklamasi kemerdekaan sampai pemberontakan-pemberontakan yang banyak menelan harta dan jiwa yang tak terhitung banyaknya sampai krisis moneter di penghujung abad ke-20 itu, banyak sekali musibah-musibah berupa bencana-bencana alam yang saling susul menyusul.
Bencana-bencana yang tambah cepat jarak waktu dari satu bencana ke bencana lainnya terus berdesakan sejak kita memasuki abad ke-21 ini. Di antaranya Tsunami yang menelan lebih dari dua ratus ribu jiwa dan memporak-porandakkan habis-habisan sebagian dari negeri ini.
Goyangan-goyangan gempa yang mematikan dan letusan-letusan gunung-gunung berapi yang membakar anak-anak bangsa hidup-hidup serta melenyapkan harta benda milik mereka yang tersisa hidup.
Banjir yang bukan hanya menghancurkan banyak dari infrastruktur negeri ini, akan tetapi juga menjadikan para korban yang masih hidup terpaksa menyandang profesi baru sebagai pengemis, karena kehilangan harta milik mereka.
Jatuhnya pesawat terbang dengan korban-korbannya, kebakaran yang seakan-akan tak akan pernah berhenti, sampai-sampai terjadi di atas laut yang luas, membakar kapal berpenumpang penuh. Sampai sekarang samudera masih terus menggertak dan menakut-nakuti kota Jakarta dengan banjir yang muncul dari waktu ke waktu. Seakan-akan memberi peringatan bahwa amarahnya sudah mendekati batas maksimal. Seakan terdengar lamat-lamat geretakan gigi-giginya, sambil bergumam mengancam: "Aku sudah siap, tinggal menunggu perintah Tuhanku..!!!".
Lalu... Lapindo... ya Rawa Lapindo yang sangat aneh! Tidak bisa dicerna oleh akal secara jelas! Menelan korban harta yang tak terhitung banyaknya, terus merayap entah bagaimana jadinya.
Semua ini adalah akibat keterpurukan ruhani yang ditambah buruk lagi oleh keterpurukan peran.
Benarkah?
Mari kita simak firman Ilahi dari sumber tersuci yang tidak ada dusta padanya atau keraguan sedikitpun juga.
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh menimpakan mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan kalian sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. As-Syuro [42]: 30)
Semua itu dari perbuatan kita sendiri!
Benarkah??? Bagaimana bisa tidak benar!!??
Bukankah itu adalah firman Pencipta alam semesta!?! Bukankah kita sudah beriman kepadanya?! Ataukah kita lebih mempercayai perkataan-perkataan para ilmuwan, para intelektual dan para orang-orang pandai yang sangat jahil dalam timbangan agama?!? Yang selalu melupakan ayat-ayat ini dalam analisa-analisa mereka.
Mari kita simak firman-firman Robbul 'Alamin yang lebih merincikan hubungan antara amal perbuatan buruk manusia dengan bencana-bencana yang ada di dunia ini.
Bencana Massal
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Israa' [17]: 16)
Angin Topan
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. Mereka berkata: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah adzab yang kalian minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Robbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang penuh dosa.” (QS. Al-Ahqof [46]: 24-25)
Banjir, gempa bumi, halilintar
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Alloh sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al'ankabut [29]: 40)
Kelaparan dan ketakutan (ketidakamanan)
Alloh subhanahu wata'ala berfirman (artinya):
“Dan Alloh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Alloh; Karena itu Alloh merasakan kepada mereka kondisi kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl [16]: 112).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar