Seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini, bahwa gerakan-gerakan Islam yang berorientasi kepada pembangkitan umat saling berbeda pandangan atau persepsi tentang realita umat sekarang dan tentang pangkal penyebab realita itu. Perbedaan ini telah melahirkan perbedaan strategi dalam mencapai tujuan setiap harokah.
A. Pandangan dan strategi pertama :
Bahwasanya umat hanya mengalami keterpurukan duniawi yang terbatas pada keterbelakangan pada mayoritas bidang kehidupan. Kemudian keterbelakangan ini melahirkan keterpurukan-keterpurukan lainnya seperti kemiskinan dan kelemahan sampai kepada pembantaian di mana-mana. Menurut pandangan ini, semua itu tidak ada hubungannya dengan keterpurukan ruhani seperti tidak ada hubungan antara keterpurukan ruhani dan bencana-bencana alam yang terjadi.
Sebab dari keterpurukan duniawi menurut penganut pandangan ini adalah kepincangan dalam memanajemen umat dan solusinya adalah memperbaiki manajemen tersebut. Adapun keterpurukan ruhani, mereka anggap harus diterima sebagai suatu bentuk keragaman (pluralitas) dan warna-warninya kehidupan. Pandangan ini tidak akan melahirkan "usaha-usaha Islami". Karena itu strategi pelaksanaannya tidak masuk dalam pembahasan buku ini.
B. Pandangan dan strategi kedua :
Pandangan ini mengakui adanya keterpurukan ruhani, peran dan duniawi. Para peyakin pandangan ini berbeda pendapat dalam menilai bobot masing-masing keterpurukan dan hubungan di antaranya. Malah ada organisasi yang berpendapat bahwa keterpurukan terbesar adalah keterpurukan pemikiran dan politik. Hanya saja semua mereka sependapat bahwa penyebab semua ini adalah tidak dimanajemennya umat dengan sistem Islami atau dengan kata lain "tidak adanya negara Islam" baik dalam taraf nasional, maupun internasional (khilafah).
Para peyakin pandangan ini tidak atau kurang mendasarkan strategi mereka pada keyakinan bahwa keterpurukan ruhani adalah sebab segala-galanya dan kebangkitan ruhani akan menjadi ibu dari semua kebangkitan.
Tsaqofah mereka terkonsentrasi pada "wajibnya mendirikan negara Islam" yang setelah berdiri akan melahirkan "kejayaan umat". Jadi solusi keterpurukan adalah berdirinya negara Islam. Karena itu penganut pandangan ini berusaha keras untuk menggenggam tampuk kekuasaan dan mencurahkan seluruh potensi yang dimiliki untuk mencapainya. Strategi ini kita namakan strategi tampuk kekuasaan.
Dalam menentukan strategi mencapai tujuan, secara global para penganut pandangan ini terbagi dalam dua kelompok yang sama besarnya:
1. Kelompok pertama :
Kelompok ini memilih jalan politik Parlementer untuk mencapai tampuk kekuasaan.
2. Kelompok kedua :
Kelompok ini memilih jalan kekerasan untuk meraih tampuk kekuasaan.
Catatan :
Adapun Hizbut Tahrir yang telah menyatakan organisasinya sebagai sebuah organisasi (partai?) politik dan bukan organisasi dakwah, serta memilih strategi tampuk kekuasaan, telah menolak jalan politik parlementer. Akan tetapi posisinya dari jalur kekerasan tidaklah jelas. Walaupun dalam teori (menurut yang kita dapati di buku-buku Hizb), kekerasan adalah jalan penuntasan yang mereka pilih, akan tetapi yang jelas mereka tidak mempunyai kegiatan kekerasan yang riil. Jadi strategi Hizbut Tahrir tidak cukup jelas untuk bisa dikategorikan di salah satu dari dua strategi dari pembahasan ini.
C. Pandangan dan strategi ketiga :
Pandangan ini adalah rangkuman dari butir-butir berikut :
A. Pandangan dan strategi pertama :
Bahwasanya umat hanya mengalami keterpurukan duniawi yang terbatas pada keterbelakangan pada mayoritas bidang kehidupan. Kemudian keterbelakangan ini melahirkan keterpurukan-keterpurukan lainnya seperti kemiskinan dan kelemahan sampai kepada pembantaian di mana-mana. Menurut pandangan ini, semua itu tidak ada hubungannya dengan keterpurukan ruhani seperti tidak ada hubungan antara keterpurukan ruhani dan bencana-bencana alam yang terjadi.
Sebab dari keterpurukan duniawi menurut penganut pandangan ini adalah kepincangan dalam memanajemen umat dan solusinya adalah memperbaiki manajemen tersebut. Adapun keterpurukan ruhani, mereka anggap harus diterima sebagai suatu bentuk keragaman (pluralitas) dan warna-warninya kehidupan. Pandangan ini tidak akan melahirkan "usaha-usaha Islami". Karena itu strategi pelaksanaannya tidak masuk dalam pembahasan buku ini.
B. Pandangan dan strategi kedua :
Pandangan ini mengakui adanya keterpurukan ruhani, peran dan duniawi. Para peyakin pandangan ini berbeda pendapat dalam menilai bobot masing-masing keterpurukan dan hubungan di antaranya. Malah ada organisasi yang berpendapat bahwa keterpurukan terbesar adalah keterpurukan pemikiran dan politik. Hanya saja semua mereka sependapat bahwa penyebab semua ini adalah tidak dimanajemennya umat dengan sistem Islami atau dengan kata lain "tidak adanya negara Islam" baik dalam taraf nasional, maupun internasional (khilafah).
Para peyakin pandangan ini tidak atau kurang mendasarkan strategi mereka pada keyakinan bahwa keterpurukan ruhani adalah sebab segala-galanya dan kebangkitan ruhani akan menjadi ibu dari semua kebangkitan.
Tsaqofah mereka terkonsentrasi pada "wajibnya mendirikan negara Islam" yang setelah berdiri akan melahirkan "kejayaan umat". Jadi solusi keterpurukan adalah berdirinya negara Islam. Karena itu penganut pandangan ini berusaha keras untuk menggenggam tampuk kekuasaan dan mencurahkan seluruh potensi yang dimiliki untuk mencapainya. Strategi ini kita namakan strategi tampuk kekuasaan.
Dalam menentukan strategi mencapai tujuan, secara global para penganut pandangan ini terbagi dalam dua kelompok yang sama besarnya:
1. Kelompok pertama :
Kelompok ini memilih jalan politik Parlementer untuk mencapai tampuk kekuasaan.
2. Kelompok kedua :
Kelompok ini memilih jalan kekerasan untuk meraih tampuk kekuasaan.
Catatan :
Adapun Hizbut Tahrir yang telah menyatakan organisasinya sebagai sebuah organisasi (partai?) politik dan bukan organisasi dakwah, serta memilih strategi tampuk kekuasaan, telah menolak jalan politik parlementer. Akan tetapi posisinya dari jalur kekerasan tidaklah jelas. Walaupun dalam teori (menurut yang kita dapati di buku-buku Hizb), kekerasan adalah jalan penuntasan yang mereka pilih, akan tetapi yang jelas mereka tidak mempunyai kegiatan kekerasan yang riil. Jadi strategi Hizbut Tahrir tidak cukup jelas untuk bisa dikategorikan di salah satu dari dua strategi dari pembahasan ini.
C. Pandangan dan strategi ketiga :
Pandangan ini adalah rangkuman dari butir-butir berikut :
- Umat Islam secara global dewasa ini berada di dalam keterpurukan ruhani, peran dan duniawi.
- Keterpurukan ruhani adalah ibu dari semua keterpurukan.
- Keterpurukan ruhani pun mengancam berjuta umat di akhirat nanti dengan keterpurukan ukhrawi yang sangat dahsyat.
- Kebangkitan ruhani adalah kembalinya umat secara jama’i meniti Sirotulmustaqim. Ini berarti dominasi manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah secara utuh atas kehidupan umat bermasyarakat.
- Tak ada jalan untuk keselamatan ukhrawi dan terwujudnya kebangkitan peran dan duniawi tanpa kebangkitan ruhani.
- Jalan kebangkitan total harus dirintis dengan dakwah yang bertarget kebangkitan ruhani secara kaffah.
Mereka yang meyakini pandangan ini memilih jalan dakwah sebagai "strategi menuju perubahan". Straregi ini kita namakan "Strategi Dakwah"
Di samping usaha-usaha Islami dari gerakan-gerakan Islamiyyah yang bersifat luas dan bermuatan kebangkitan yang tinggi, ada pula usaha-usaha lainnya yang sejalan, namun tidak sama dalam sifat (keluasan) dan muatannya. Walaupun tidak bisa diandalkan untuk melahirkan suatu kebangkitan, akan tetapi pengaruh positifnya dalam mencegah melajunya kemerosotan pun tidak bisa disangkal. Contoh dari usaha-usaha seperti ini misalnya pengajian-pengajian Islami, ceramah-ceramah, penulisan buku-buku Islami dan lain-lainnya. Tidak masuknya usaha-usaha ini dalam kategori bermuatan kebangkitan dikarenakan beberapa sebab, di antaranya (ketika) dilakukan secara parsial, tidak terorganisir, tidak mempunyai tujuan-tujuan strategis yang tertata serta meluas dalam menghadapi realita keterpurukan. Ditambah lagi dengan "kekurangpekaan" dalam membaca realita.
Demikian juga orientasi hanya kepada lembaga-lembaga pendidikan, karena mayoritas dari lembaga-lembaga ini tidak menitikberatkan pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dan tidak mengarah pada penghimpunan umat menuju kebangkitan.
Di samping usaha-usaha Islami dari gerakan-gerakan Islamiyyah yang bersifat luas dan bermuatan kebangkitan yang tinggi, ada pula usaha-usaha lainnya yang sejalan, namun tidak sama dalam sifat (keluasan) dan muatannya. Walaupun tidak bisa diandalkan untuk melahirkan suatu kebangkitan, akan tetapi pengaruh positifnya dalam mencegah melajunya kemerosotan pun tidak bisa disangkal. Contoh dari usaha-usaha seperti ini misalnya pengajian-pengajian Islami, ceramah-ceramah, penulisan buku-buku Islami dan lain-lainnya. Tidak masuknya usaha-usaha ini dalam kategori bermuatan kebangkitan dikarenakan beberapa sebab, di antaranya (ketika) dilakukan secara parsial, tidak terorganisir, tidak mempunyai tujuan-tujuan strategis yang tertata serta meluas dalam menghadapi realita keterpurukan. Ditambah lagi dengan "kekurangpekaan" dalam membaca realita.
Demikian juga orientasi hanya kepada lembaga-lembaga pendidikan, karena mayoritas dari lembaga-lembaga ini tidak menitikberatkan pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dan tidak mengarah pada penghimpunan umat menuju kebangkitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar