Realita keterpurukan ruhani di negeri kita pun sudah sangat mengerikan dan sudah banyak berpotensi mengundang adzab dari Alloh . Bahkan adzab-adzab itu memang sudah berdatangan bertubi-tubi bagaikan gelombang lautan yang terus menerus bergantian menghempas pantai.
Bukankah kita dapati banyak sekali "tuhan-tuhan palsu" yang dinobatkan untuk diibadahi oleh banyak orang? Kuburan-kuburan tempat berdo'a, pohon-pohon tempat bermohon, keris-keris yang dipelihara karena mengharapkan penjagaannya, simbol-simbol yang dipasang di atap-atap rumah untuk menolak bahaya dan lain-lain.
Bukankah semua kita tahu bahwa figur fiktif yang mungkin juga adalah seorang makhluk halus dan diberi nama Nyi Roro Kidul dipuja banyak orang dan dipersembahkan untuknya sesajen-sesajen?
Bukankah sampai sekarang ruwatan desa atau kampung dengan mempersembahkan sesajen kepada para "penguasa ghaib" masih terus berjalan dari waktu ke waktu demi "menyelamatkan" desa atau kampung? Sedangkan kita sudah mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya selain Alloh dan ditangan-Nya lah semua keputusan. Dia-lah satu-satunya yang berkuasa menentukan apa saja di bumi ini, tiada Tuhan selain Dia!
Bukankah sihir, yang tak mungkin didapat tanpa menyembah setan, banyak sekali menyebar di pelosok-pelosok negeri? Bahkan media televisi kita yang cukup banyak, gemar sekali menampilkan tayangan-tayangan kesyirikan. Media-media cetak kita memasang iklan-iklan penawaran pelayanan-pelayanan mistik dan semua media memuat ramalan-ramalan nasib manusia di masa depan, suatu kesyirikan menandingi Alloh di ilmu ghaib-Nya dan masih banyak sekali yang semacam itu. Semua ini menunjukkan adanya kepercayaan batil yang sangat bertentangan dengan kebenaran dan bertentangan dengan kemuliaan manusia. Inilah biang segala keterpurukan!!
Kemudian kita dapati banyak sekali ritual-ritual dan acara-acara keagamaan karangan manusia dimasukkan ke dalam kehidupan beragama kita, baik yang dilakukan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri. Perayaan-perayaan, peringatan-peringatan, haul-haul, ziarah “makam-makam keramat”, dzikir-dzikir berjama’ah yang tidak pernah diajarkan ataupun dianjurkan apalagi diperbuat oleh Rosululloh dan para sahabatnya. Semua itu sudah dianggap bagian dari Islam, padahal Islam sama sekali tidak mensyariatkannya. Ritual-ritual yang dikondisikan sedemikian rupa agar bisa menguras air mata para peserta dan “memberi kesejukan” kepada mereka. Peringatan-peringatan setelah kematian dan kelahiran dalam hitungan-hitungan hari tertentu yang sebenarnya adalah warisan Hindu-Budha, sudah menjadi keharusan. Semua itu menjadikan Islam suatu beban yang berat untuk para pemeluknya dan menarik mereka ke dalam kesedihan, kerugian, dan pengorbanan sia-sia. Seluruhnya dilakukan untuk mendapat “ganjaran dunia” walaupun dalam bentuk ketenangan hati. Yang paling celaka dari semua itu adalah bahwasanya para pencetus dan pengarang ritual-ritual itu telah menyaingi Alloh dalam menentukan substansi Islam. Menyaingi Alloh dalam mengarahkan manusia bagaimana seharusnya mereka berbuat! Para pencetus, pengarang dan penyelenggara semua kepalsuan-kepalsuan itu dengan seenaknya saja ”ikut” membentuk Islam baru yang tidak pernah diketahui oleh Muhammad ibnu Abdillah dan tidak pernah dibawa oleh Jibril , sehingga para pengikut ikut berdosa besar ketika mengikuti karangan palsu itu.
Para penantang Alloh dari anak-anak kaum Muslimin pun tambah menjamur di universitas-universitas kita. Ada yang berani menulis “daerah bebas Tuhan” ada pula yang berani menginjak-injak lafazh nama Alloh , ada pula yang berani mendakwahkan bahwa al-Qur’an adalah budaya manusia.
Kelompok-kelompok sesat menjamur dengan pesat. Ada yang mengaku sebagai Nabi perempuan dan anaknya adalah “titisan” Jibril atau Nabi Isa , ada pula yang membatalkan kewajiban solat atau membolehkan solat dengan bahasa Indonesia dan lain-lain.
Tidak heran bila pada masyarakat yang berakidah demikian, kita dapati banyak sekali pelanggaran-pelanggaran susila dari pameran aurat wanita sampai pada perzinaan. Korupsi besar-besaran yang semakin lama semakin marak, narkoba dan miras yang semakin turun lapangan penggunaannya mengarah ke tingkat anak-anak SD.
Para banci dan kaum homoseksual dengan beraninya memancing korban-korban mereka di perempatan jalan kota-kota besar dan hati-hati mereka yang melihat fenomena ini tidak tergerak untuk mengingkarinya. Tayangan TV? Ooh... ini adalah suatu bencana akhlak yang besar sekali!!
Semua itu adalah keterpurukan ruhani yang akan mengakibatkan keterpurukan duniawi dan keterpurukan ukhrawi (akhirat) kelak, yaitu ancaman siksa pedih dan abadi di akhirat nanti serta menjadi sebab tidak mampunya kita mengemban khilafah tauhid di bumi ini.
Bukankah kita dapati banyak sekali "tuhan-tuhan palsu" yang dinobatkan untuk diibadahi oleh banyak orang? Kuburan-kuburan tempat berdo'a, pohon-pohon tempat bermohon, keris-keris yang dipelihara karena mengharapkan penjagaannya, simbol-simbol yang dipasang di atap-atap rumah untuk menolak bahaya dan lain-lain.
Bukankah semua kita tahu bahwa figur fiktif yang mungkin juga adalah seorang makhluk halus dan diberi nama Nyi Roro Kidul dipuja banyak orang dan dipersembahkan untuknya sesajen-sesajen?
Bukankah sampai sekarang ruwatan desa atau kampung dengan mempersembahkan sesajen kepada para "penguasa ghaib" masih terus berjalan dari waktu ke waktu demi "menyelamatkan" desa atau kampung? Sedangkan kita sudah mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya selain Alloh dan ditangan-Nya lah semua keputusan. Dia-lah satu-satunya yang berkuasa menentukan apa saja di bumi ini, tiada Tuhan selain Dia!
Bukankah sihir, yang tak mungkin didapat tanpa menyembah setan, banyak sekali menyebar di pelosok-pelosok negeri? Bahkan media televisi kita yang cukup banyak, gemar sekali menampilkan tayangan-tayangan kesyirikan. Media-media cetak kita memasang iklan-iklan penawaran pelayanan-pelayanan mistik dan semua media memuat ramalan-ramalan nasib manusia di masa depan, suatu kesyirikan menandingi Alloh di ilmu ghaib-Nya dan masih banyak sekali yang semacam itu. Semua ini menunjukkan adanya kepercayaan batil yang sangat bertentangan dengan kebenaran dan bertentangan dengan kemuliaan manusia. Inilah biang segala keterpurukan!!
Kemudian kita dapati banyak sekali ritual-ritual dan acara-acara keagamaan karangan manusia dimasukkan ke dalam kehidupan beragama kita, baik yang dilakukan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri. Perayaan-perayaan, peringatan-peringatan, haul-haul, ziarah “makam-makam keramat”, dzikir-dzikir berjama’ah yang tidak pernah diajarkan ataupun dianjurkan apalagi diperbuat oleh Rosululloh dan para sahabatnya. Semua itu sudah dianggap bagian dari Islam, padahal Islam sama sekali tidak mensyariatkannya. Ritual-ritual yang dikondisikan sedemikian rupa agar bisa menguras air mata para peserta dan “memberi kesejukan” kepada mereka. Peringatan-peringatan setelah kematian dan kelahiran dalam hitungan-hitungan hari tertentu yang sebenarnya adalah warisan Hindu-Budha, sudah menjadi keharusan. Semua itu menjadikan Islam suatu beban yang berat untuk para pemeluknya dan menarik mereka ke dalam kesedihan, kerugian, dan pengorbanan sia-sia. Seluruhnya dilakukan untuk mendapat “ganjaran dunia” walaupun dalam bentuk ketenangan hati. Yang paling celaka dari semua itu adalah bahwasanya para pencetus dan pengarang ritual-ritual itu telah menyaingi Alloh dalam menentukan substansi Islam. Menyaingi Alloh dalam mengarahkan manusia bagaimana seharusnya mereka berbuat! Para pencetus, pengarang dan penyelenggara semua kepalsuan-kepalsuan itu dengan seenaknya saja ”ikut” membentuk Islam baru yang tidak pernah diketahui oleh Muhammad ibnu Abdillah dan tidak pernah dibawa oleh Jibril , sehingga para pengikut ikut berdosa besar ketika mengikuti karangan palsu itu.
Para penantang Alloh dari anak-anak kaum Muslimin pun tambah menjamur di universitas-universitas kita. Ada yang berani menulis “daerah bebas Tuhan” ada pula yang berani menginjak-injak lafazh nama Alloh , ada pula yang berani mendakwahkan bahwa al-Qur’an adalah budaya manusia.
Kelompok-kelompok sesat menjamur dengan pesat. Ada yang mengaku sebagai Nabi perempuan dan anaknya adalah “titisan” Jibril atau Nabi Isa , ada pula yang membatalkan kewajiban solat atau membolehkan solat dengan bahasa Indonesia dan lain-lain.
Tidak heran bila pada masyarakat yang berakidah demikian, kita dapati banyak sekali pelanggaran-pelanggaran susila dari pameran aurat wanita sampai pada perzinaan. Korupsi besar-besaran yang semakin lama semakin marak, narkoba dan miras yang semakin turun lapangan penggunaannya mengarah ke tingkat anak-anak SD.
Para banci dan kaum homoseksual dengan beraninya memancing korban-korban mereka di perempatan jalan kota-kota besar dan hati-hati mereka yang melihat fenomena ini tidak tergerak untuk mengingkarinya. Tayangan TV? Ooh... ini adalah suatu bencana akhlak yang besar sekali!!
Semua itu adalah keterpurukan ruhani yang akan mengakibatkan keterpurukan duniawi dan keterpurukan ukhrawi (akhirat) kelak, yaitu ancaman siksa pedih dan abadi di akhirat nanti serta menjadi sebab tidak mampunya kita mengemban khilafah tauhid di bumi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar