PRINSIP-PRINSIP DASAR AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH
Berikut adalah sebagian besar dari prinsip-prinsip dasar Ahlussunnah wal Jama`ah yang pada hakikatnya adalah prinsip-prinsip Dinul Islam yang murni seperti yang disampaikan Rosululloh tanpa tercampur unsur-unsur dari luar wahyu Ilahi. Setelah mempelajari dasar-dasar ini akan bertambah keyakinan seseorang tentang kebenaran Islam, keyakinan bahwasanya Islam yang murni dan asli adalah manhaj Ahlussunnah wal Jama`ah. Betapa pentingnya akan prinsip-prinsip keselamatan ini sehingga mewajibkan kita semua untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan serta menda'wahkannya pula kepada orang lain. Dan yang terpenting lagi adalah kita semua dituntut untuk senantiasa istiqomah dengan berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip ini sampai akhir hayat menjemput kita nanti.
Sumber agama Islam dengan segala seginya adalah wahyu Alloh dalam bentuk al-Qur’an dan Hadits yang shohih. [1]
Dalil prinsip ini adalah Firman Alloh SWT :
“Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang amat lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. al-Isro` [17]: 9)
“Apa yang diberikan Rosul kepada kalian maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat keras hukumanNya.” (QS. al-Hasyr [59]: 7)
Rosululloh SAW bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah Rasyidin (yang terarahkan) dan mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah hal tersebut dengan gigi geraham”.[2]
Alloh SWT berfirman:
“Dan Alloh telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Sesungguhnya karunia Alloh sangat besar atasmu.” (QS. an-Nisa’ [4]: 113)
*). Arti Hikmah disini adalah as-Sunnah.
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm [53]: 4)
*). Ini berarti bahwa hadits-hadits Rosululloh pun adalah wahyu dari Alloh.
Rosululloh SAW bersabda:
اَلاَ اِنِّى اُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
“Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan al-Qur`an dan yang sejenisnya (Sunnah) bersama-sama dengannya”.[3]
Hasan bin `Athiyah berkata:
كاَنَ جِبْرِيْلُ يَنْزِلُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ بِاْلقُرْآنِ وَيُعَلِّمُهُ إِيَّاهَا كَمَا يُعَلِّمُهُ اْلقُرْآنَ
“Jibril turun kepada Rosululloh membawa sunnah sebagaimana dia turun membawa al-Quran. Dia pun mengajarkan kepada beliau sunnah sebagaimana dia mengajarkan Beliau al-Qur`an”.[4]
Pengikutan pada keduanya adalah pengikutan pada khabar dari Alloh dan tuntunan-Nya. Tidak ada suatu pun yang boleh menyaingi dan menandingi keduanya, tiada pertentangan di antara keduanya. Kalau terbayang adanya pertentangan dalam kaca mata kita, maka hal itu disebabkan oleh kesalah-pahaman (yang bisa disebabkan oleh banyak hal, terutama adalah kejahilan) atau hadits yang tidak shohih.
· Ijma` sahabat adalah hujjah syar’iyyah.[5]
Ini berarti bahwa ketika sahabat telah berijma’ pada suatu masalah dalam agama, maka ijma’ itu harus diikuti. Siapa yang melanggarnya akan berdosa dan sesat. Ijma` Sahabat adalah ma’sum, walaupun perorangan mereka tidaklah ma’sum. Ketika keyakinan mereka pada suatu masalah terbagi atas lebih dari satu, maka kita harus mengikuti salah satunya dan tidak boleh menentukan keyakinan lainnya.
Alloh SWT berfirman:
“Dan barangsiapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya serta mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115)
*). Orang-orang mu’min di ayat ini adalah Sahabat .
Rosululloh bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِي يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِي يَلُوْنَهُمْ … مَنْ أَرَاد بحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ
“Aku wasiatkan kalian (mengikuti) para Sahabatku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian generasi setelah itu... Barangsiapa yang menghendaki keluasan jannah, maka berpegang teguhlah dengan jama`ah”.[6]
*). Para Sahabat dan dua generasi itulah yang dimaksud dengan Jama’ah
Rosululloh bersabda:
لاَ يُجْمِعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا.
“Alloh tidak akan pernah menghimpun umat ini di atas kesesatan”.[7]
· Pemahaman al-Qur’an dan Hadits harus sesuai dengan pemahaman sahabat dan metode pemahaman mereka.[8]
Prinsip ini terlalu kuat dan terlalu penting dalam Dinul Islam. Kepentingan dan keutamaannya didukung oleh dalil-dalil yang kuat dan jelas sekali.
Di antara dalil-dalil yang mendukung prinsip ini adalah sebagai berikut:
ü Sahabat telah dipuji Alloh di banyak ayat suci al-Qur’an. Pujian yang diabadikan sepanjang masa dan tidak diberikan untuk orang-orang sesudah mereka.
Alloh SWT berfirman:
“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Alloh dan keridhoan (Nya) serta menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar”. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dijauhkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr [59]: 8-9)
“(Yaitu) orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Sesungguhnya mereka telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. al-Imran [3]: 173)
“Muhammad Rosululloh dan orang-orang yang bersama dia adalah tegar terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud, demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, dengan mereka Alloh menjengkelkan hati orang-orang kafir. Alloh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Fath [48]: 29)
Semua pujian ini menunjukan dengan nyata akan kebenaran manhaj sahabat . Alloh tidak mungkin memuji orang-orang dengan manhaj yang tidak diridhoi-Nya.
ü Sahabat telah diakui sebagai umat terbaik sepanjang umur dunia ini dan telah diridhoi Alloh .
Alloh SWT berfirman:
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Alloh.” (QS. ali-`Imron [3]: 110)
“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mu'min (sahabat ) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. al-Fath [48]: 18)
Dengan sendirinya umat yang terbaik adalah umat yang mempunyai manhaj yang terbaik juga.
ü Manhaj Sahabat telah dijadikan ukuran standar untuk mengukur keimanan setiap orang. Siapa-siapa yang cocok keimanannya dengan keimanan sahabat maka mereka telah mendapat hidayah dan barangsiapa yang tidak demikian, serta menolak manhaj Sahabat maka mereka telah sesat.
Alloh SWT berfirman:
“Maka jika mereka beriman seperti apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan. Maka Alloh akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 137)
· Ahlussunnah wal Jama`ah menolak semua bentuk bid’ah, baik bid’ah amaliah, aqidah maupun manhajiyah.[9]
Semua bid’ah dalam agama adalah buruk dan sesat, tidak ada satu bid’ah pun yang hasanah.
وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam dien), karena setiap perkara baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat dan setiap kesesatan berada di api neraka”.[10]
· Semua hadits sohih diterima sebagai dalil dan dasar untuk semua masalah termasuk masalah aqidah baik itu hadits mutawatir atau pun hadits ahad. [11]
As-Salafus sholeh tidak pernah membeda-bedakan antara hadits ahad dan hadits mutawatir, tetapi secara teknis ulama-ulama hadits di kemudian hari telah mengadakan pembagian yang demikian itu. Hadits ahad adalah hadits yang pada salah satu tingkatan perawinya mempunyai bilangan yang tidak sampai derajat mutawatir. Ahlul bid’ah banyak menolak hadits-hadits ahad ini sebagai dalil untuk aqidah dengan alasan hadits ahad tidak sampai pada derajat yakin. Alasan ini tidak diterima oleh Ahlussunnah wal Jama`ah sejak zaman Rosululloh sampai akhir zaman. Alasan seperti ini dilahirkan oleh kaidah-kaidah filsafat.
Semua ulama salaf dan kholaf sejak zaman sahabat dan zaman kita ini telah berijma’ menerima hadits ahad sebagai dalil untuk semua sisi agama Islam termasuk aqidah. Semua Imam-imam sunnah semasa sahabat dan sesudah mereka (seperti empat Imam madzhab: Malik , Abu Hanifah , Syafi’i dan Ahmad bin Hambal serta Imam Bukhori , dan Muslim serta seluruh perawi buku-buku sunan yang empat seperti Tirmidzi , Abu Dawud dan lain lainnya) semua mereka tidak membeda-bedakan penggunaan hadits-hadits shohih sebagai dalil untuk seluruh bagian agama Islam baik mutawatir maupun ahad.
Mereka telah meletakkan syarat-syarat yang ketat sekali untuk menyaring hadits-hadits ahad, untuk sampai pada keputusan tentang shohih atau tidaknya hadits tersebut. Para Sahabat yang mulia telah menerima ini di masa kehidupan mereka. Masing-masing mereka menerima hadits Rosululloh dari lainnya yang mereka percayai walau pun satu orang saja. Lebih dari itu Rosululloh sering mengutus utusan beliau ke daerah-daerah untuk menyampaikan risalah Islam dengan orang-perorang. Alloh pun telah mengutus Rosululloh untuk menyampaikan seluruh agamanya seorang diri.
· Wahyu dari Alloh tidak ada yang bertentangan dengan akal yang bersih. [12]
Kalau terjadi seakan-akan ada pertentangan antara keduanya, maka hal ini disebabkan ketidak jernihan akal yang terkotori hawa nafsu, kelemahan atau kejahilan. Dalam hal seperti ini wahyu harus didahulukan atas akal.
· Ahlussunnah beriman kepada semua khabar-khabar goib yang datang dari Alloh melalui al-Qur’an dan as-Sunnah dan tidak mempercayai khabar goib apa pun dari selain keduanya. [13]
Dalam hal beriman kepada hal-hal goib, Ahlus Sunnah membatasi keimanan mereka dengan batas-batas wahyu tanpa melebihinya atau menolak sebagiannya. Dalam manhaj Islami hal-hal goib yang dikhabarkan Alloh kepada kita adalah sebagian kecil saja, sedangkan sebagian besarnya tersembunyikan di sisi Alloh .
Alloh SWT berfirman:
“Katakan: (ya Muhammad) tak seorang pun yang mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi selain Alloh dan mereka tidak merasakan kapan mereka dibangkitkan.” (QS. an-Naml [27]: 65)
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتِهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اِسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki, yang dengan nama itu Engkau namakan diri-Mu atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu atau tetap Engkau simpan dalam ilmu goib di sisi-Mu”.[14]
Kita dilarang mencoba menambah pengetahuan tentang hal-hal goib dari selain wahyu yang sudah diturunkan kepada kita, seperti misalnya menerka-nerka atau malah mempertanyakannya.
· Al Iman terdiri dari empat unsur yaitu perkataan hati, perbuatan hati, perkataan lisan dan perbuatan anggota badan.
Perkataan hati adalah ilmu syar’i yang dipercayai oleh seseorang dan perbuatan hati adalah keadaan hati yang dilahirkan oleh perkataan hati seperti takut dan cinta kepada Alloh , cinta Rosululloh , Sahabat-nya dan kaum muslimin, benci kepada kekufuran dan kuffar (orang-orang kafir), tawakal dan lain-lainnya. Sedangkan perkataan lisan seperti syahadatain, istigfar, tasbih, da`wah dan lain-lain. Dan perbuatan anggota badan seperti sholat, shoum, haji, infaq dan lain-lain. Ketika perkataan hati dan perbuatan hati digabungkan, terkadang juga disebutkan sebagai aqidah.
Iman juga bisa berkurang dan bertambah. Berkurang dengan berkurangnya kapasitas unsur-unsurnya dan bertambah dengan bertambahnya kapasitas unsur-unsurnya atau berkurang dengan kema’siatan dan bertambah dengan keta’atan. Setiap unsur-unsur dari unsur-unsur iman disebut juga iman (dengan syarat tidak ada satu unsurpun yang absen) dan ketika salah satu unsur dari unsur-unsur tersebut tidak ada sama sekali atau bagian terdasar dari suatu unsur tidak ada atau terjadi salah satu pembatal iman, runtuhlah iman dengan seluruh unsur-unsurnya.
· Seseorang yang bersyahadatain adalah Muslim sampai terbukti kekufurannya.
Rosululloh SAW bersabda:
أُمِرْتُ اَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا/ يَشْهَدُوْا اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ أّنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga dia mengucapkan / bersyahadat bahwa tidak ada Ilah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad ` adalah utusan Alloh .”[15]
· Tauhidulloh (Pengesaan Alloh ) adalah dasar agama Islam yang terutama bahkan Islam seluruhnya berdiri di atas Tauhidulloh.
Barang siapa yang melakukan kesyirikan atau meng-aqidahkannya, lalu mati sebelum bertaubat, maka dia akan kekal di neraka jahannam dan tidak akan diampuni Alloh walaupun mempunyai amal sholeh sebesar bumi ini.
Alloh SWT berfirman:
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. an-Nisaa’ [4]: 48)
“Sesungguhnya Kami telah mengutus untuk setiap umat seorang Rosul, mereka memerintahkan (umatnya) untuk beribadah pada Alloh dan menjauhi Toghut.” (QS. an-Nahl [16]: 36)
*). Jadi setiap rosul datang dengan tauhid sebagai pokok ajaran.
· Ahlussunah beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merubah-rubahnya atau menolak sebagiannya atau menentukan hakikatnya atau menyamakan dengan makhluk-Nya. Ahlus Sunnah juga menyangkal semua sifat atas Alloh yang disangkal Alloh dan Rosul-Nya dan di waktu yang sama mengambil sikap diam terhadap sifat dan nama yang tidak ditetapkan atau pun disangkal oleh wahyu.
Nama-nama Alloh tidak diketahui batas bilangannya, sebagian telah dikhabarkan kepada kita dan sebagiannya lagi tidak dikhabarkan kepada kita. Sebuah kata (demikian juga dengan sifat) mempunyai tiga rukun, yaitu: lapadz, arti dan hakikat. Contoh: kata “kepala” lapadznya adalah “k-e-p-a-l-a” artinya adalah “bagian yang jadi ikutan bagian-bagian lainnya”. Sedangkan hakikatnya yaitu bentuk, isi, warna dan lain-lain adalah berbeda menurut pemilik kepala tadi. Kepala manusia berbeda dengan kepala sekolah dan berbeda dengan kepala kereta walaupun lapadz dan artinya sama.
Alloh mengkhabarkan pada kita lapadz sifat-sifat-Nya dan kita mengerti artinya, tetapi ketika Alloh tidak mengkhabarkan kepada kita hakikat dari sifat itu, maka kita pun tidak bisa mengetahuinya dan tidak boleh sama sekali mempertanyakannya atau menerka-nerka atau pun membayang-bayang kannya. Yang kita ketahui adalah sifat itu mempunyai hakikat yang sempurna, mulia, agung dan tidak menyerupai apapun dari sifat makhluk-makhluk-Nya.
· Penerapan hukum Alloh sebagai satu-satunya undang-undang yang memayungi kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah suatu kewajiban mutlaq yang besar. [16]
Penyingkiran hukum-hukum Alloh seluruhnya atau sebagiannya dan menggantikannya dengan hukum-hukum mahkluk adalah kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Penerapan hukum-hukum Alloh di bumi ini adalah bagian yang besar dari hak-hak Alloh (hak-hak uluhiyah).
Alloh SWT berfirman:
“Barangsiapa yang tidak berhukum pada apa-apa yang diturunkan Alloh, mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah [5] : 44)
Ketika dalam suatu negara yang menerapkan hukum-hukum Islam, seorang hakim mengganti hukum Alloh dengan hukum lainnya dalam suatu perkara tertentu tanpa menjadikan hukum lainnya itu suatu undang-undang tetap, maka hakim tersebut terjatuh di kufur asghor (kufur yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam), hal ini kalau dia merasa wajib atasnya penerapan hukum Alloh dan yakin bahwa hukum Alloh adalah lebih baik. Tetapi jika hakim tersebut merasa tidak wajib menerapkan hukum Alloh atau menganggap hukum lainnya tersebut lebih baik atau sama dengan hukum Alloh maka sang hakim pun telah keluar dari Islam. Apalagi jika yang terjadi adalah penyingkiran hukum-hukum Alloh dan menggantinya dengan hukum-hukum buatan makhluk.
· Ahlussunnah memberikan wala’ (loyalitas) yang mutlak (sepenuhnya) kepada Alloh dan Rosul-Nya .[17] Memberikan wala’ yang mutlak kepada kaum muslimin dalam jihad mereka melawan kuffar dan munafiqin.
Wala` kepada pribadi-pribadi muslim berbeda kapasitasnya dari suatu pribadi muslim dengan muslim lainnya menurut ketaqwaan dan jauh-dekatnya pribadi-pribadi itu dari manhajul haq. Wala` kepada seorang pribadi muslim bisa ter campurkan dengan baro’ nisbi menurut bobot ma`siatnya serta jauhnya dari manhaj yang haq. Ahlus Sunnah berbaro' (melepaskan diri) mutlak dari kuffar dan kekufuran.
Rosululloh SWT bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الإِيْمَانِ اَلْحُبُّ فِى اللهِ وَالْبُغْضُ فِى اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh”.[18]
Alloh SWT berfirman:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridho terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Alloh itulah golongan yang beruntung.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)
· Ahlussunnah beriman akan adanya malaikat dengan sifat-sifat dan nama-nama yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Hadits-hadits Rosululloh .
Alloh SWT berfirman:
“Kebajikan itu bukanlah dengan memalingkan wajah-wajah kalian ke timur dan ke barat, tetapi kebajikan adalah keimanan kepada Alloh, hari akhir dan malaikat-malaikat….” (QS. al-Baqoroh [2]: 177)
“Rosul telah beriman kepada yang diturunkan kepada-nya dari Robb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rosul-rosulNya. (Mereka me-ngatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun dari rosul-rosul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta'at”. (Mereka berdoa) “Ampunilah kami ya Robb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. al-Baqoroh [2]: 285)
· Ahlussunnah beriman bahwasannya Alloh telah mengutus Rosul-rosul-Nya kepada setiap umat dengan Tauhid. Ahlussunnah pun bersaksi bahwa para Rosul yang mulia itu telah menyampaikan risalah Alloh dan menunaikan amanah mereka.
Alloh SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus untuk setiap umat seorang Rosul, mereka memerintahkan (umat-nya) untuk beribadah pada Alloh dan menjauhi Toghut.” (QS. an-Nahl [16]: 36)
· Muhammad Ibnu Abdillah adalah Rosul (utusan) Alloh terakhir dan tidak ada nabi dan rosul sesudahnya sampai hari kiamat.
Setiap pengakuan nabi atau rosul sesudahnya adalah dusta belaka. Barangsiapa yang beriman kepada siapa pun yang mengaku nabi atau rosul sesudahnya, orang itu telah keluar dari Islam. Barang-siapa yang menganggap adanya kebolehan ber-ibadah kepada Alloh dengan selain syari’at beliau , maka orang itu telah kafir. Siapa yang keluar dari syari’at beliau, berarti dia telah keluar dari Islam.
Alloh SWT berfirman:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Ahzaab [33]: 40)
Rosululloh SAW bersabda:
وَ أَنَّهُ سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ ثَلاَثُوْنَ كَذَّابُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وّ أّنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي
“Sesungguhnya, pada umatku akan ada 30 orang pendusta yang semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi yang tidak ada nabi sesudahku”.[19]
Alloh SWT berfirman:
“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap hukum yang kamu putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa’ [4]: 65)
· Alloh telah menurunkan kitab-kitab-Nya yang tidak mengandung sedikit pun padanya kebatilan dan al-Qur’an adalah kitab terakhir yang menjadi satu-satunya kitab panutan setelah kebangkitan Nabi Muhammad .
· Alam Barzakh alam antara dunia dan akhirat adalah haq, pertanyaan Malaikat kepada ahlul kubur adalah haq. Azab dan ni’mat kubur adalah haq.
Semua itu telah datang padanya dalil-dalil yang tidak diragukan lagi.
Alloh SWT berfirman:
“Maka Alloh memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada Malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghoofir [40]: 45-46)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Dari Ibnu Abbas berkata: Nabi keluar dari tengah kota madinah, kemudian ia mendengar suara dua orang laki-laki yang sedang disiksa di kuburannya masing-masing, Lalu Nabi bersabda: Keduanya sedang diadzab, diadzab bukan karena sesuatu yang dianggap besar. Selanjutnya beliau mengatakan: dan di antara salah satu dari keduanya adalah tidak memakai penutup ketika sedang buang air kecil dan yang lainnya berjalan untuk menebar fitnah".[20]
Do’a Rosululloh ketika mengiringi tasyahud akhir:
اَللَّهُمَّ اِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ مَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Ya Alloh aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur dan api neraka jahannam serta fitnah kehidupan dan kematian juga fitnah masihid dajjal.”[21]
· Yaumul Qiyamah pasti datang. Tiada keraguan tentangnya. Tak ada seorang mahkluk pun yang tahu tentang waktunya, hanya Alloh lah yang mengetahuinya. Semua khabar dari al-Qur’an dan Hadits shohih tentang hari ini adalah haq.
Jannah dan Jahannam sudah ada pada saat ini dan keduanya kekal tak akan punah. Kaum musyrikin akan kekal di neraka Jahannam dan kaum muwahhidin akan kekal di Jannah.
· Ahlussunnah beriman kepada Qodarulloh, bahwasanya seluruh yang baik maupun yang buruk hanya dari Alloh saja.
Beriman kepada qodar sama halnya dengan beriman dengan hal-hal yang goib lainnya, yaitu harus sebatas yang diterangkan oleh wahyu Ilahi (al-Kitab dan as-Sunnah). Al-Kitab dan as-Sunnah mewajibkan kita beriman kepada empat rukun Qodar berikut ini:
Rukun pertama: Bahwasannya Alloh Maha Mengetahui segala-galanya. Ilmu Nya adalah azali, tidak pernah didahului oleh kejahilan. Mengetahui apa-apa yang akan, sedang dan sudah terjadi. Mengetahui apa-apa yang tidak akan terjadi, bagaimanakah terjadinya kalau seandainya hal itu terjadi.
Alloh mengetahui segala sesuatu:
Ayat-ayat berikut ini secara umum memastikan pengetahuan Alloh yang meliputi semua hal tentang segala sesuatu dari semua seginya.
Alloh SWT berfirman:
“... Bertaqwalah kalian kepada Alloh dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh itu Maha Mengetahui tentang segala sesuatu”. {Qs.Al Baqoroh [2]: 231}
“Alloh telah menjelaskan pada kalian agar kalian tidak sesat dan sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui tentang segala sesuatu”. {Qs. An Nisa [4]: 176}
Ayat-ayat yang senada dengan ayat tadi mencapai ratusan ayat.
Alloh mengetahui apa-apa yang tidak akan terjadi, bagaimana hakikatnya kalau hal itu terjadi.
Alloh SWT berfirman:
“Akan tetapi nampaklah pada mereka apa-apa yang mereka sembunyikan sebelumnya. Sekiranya mereka dikembalikan (ke dunia) maka mereka akan mengulangi lagi pelanggaran apa-apa yang mereka dilarang mengerjakannya. Sesungguhnya mereka adalah para pendusta”. {Qs. Al An’am [6]: 28}
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُ إِذْ خَلَقَهُمْ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ
Ibnu Abbas berkata: “Di tanya ` tentang anak-anak kaum musyrikin (yang mati sejak kecil), maka beliau pun bersabda: “Alloh Maha Tahu apa yang akan mereka perbuat (kalau mereka tidak mati kecil)”.[22]
Pengetahuan Alloh tentang apa-apa yang akan terjadi, menunjukan dengan pasti bahwa hal-hal yang akan terjadi sudah tertentukan.
Rukun kedua: Percaya bahwa Alloh l telah menuliskan semua hal-hal yang akan terjadi di Lauhul Mahfudz.
Alloh SWT berfirman:
“Tidakkah engkau mengetahui sesungguhnya Alloh mengetahui apa-apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya hal itu telah tertera dalam kitab (Lauhul Mahfudz), Semua yang demikian itu mudah sekali bagi Alloh.” {Qs. Al Hajj [22]: 70}
“Alloh-lah yang menciptakan kalian dari tanah kemudian dari nutfah (setetes air mani) kemudian menjadikan kalian berpasang-pasangan, tidaklah hamil seorang wanita dan tidak juga melahirkan kecuali dengan sepengetahuan-Nya serta tidak juga berkurang atau bertambah umur seseorang kecuali sudah tertera di sebuah kitab. Semua yang demikian itu mudah bagi Alloh”. {Qs. Fathir [35]: 11}
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
"Dari Abdullah Bin Amr’ Bin Al ’Ash a berkata: “Aku mendengar Rosululloh a bersabda: Alloh menuliskan qodar setiap makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi dan Ia pun bersabda: Dan `Ars-Nya berada di atas air”.[23]
Rukun ketiga: Bahwasanya kehendak Alloh pasti terwujud. Tidak ada satu kehendak lain pun yang mungkin terwujud jika berlainan dengan kehendak Alloh .
Apa-apa yang dikehendaki Alloh pasti terwujud dan apa-apa yang tidak dikehendaki Alloh tidak akan pernah terwujud.
Alloh SWT berfirman:
“Tidaklah kalian berkehendak melainkan Alloh Robb sekalian alam juga berkehendak.” {Qs.At Takwir [81]: 29}
“Sekiranya Kami menurunkan malaikat pada mereka kemudian mereka berbicara dengan yang telah meninggal kemudian Kami bangkitkan segala sesuatu tidaklah mereka beriman melainkan dengan kehendak Alloh, akan tetapi bebanyakan mereka adalah orang-orang bodoh”. {Qs. Al An’am [6]: 111}
“Sesungguhnya bila Ia menghendaki sesuatu, maka Ia akan mengatakan padanya ”jadilah” maka hal itu pun jadi”. {Qs. Yaasin [36]: 82}
“Sekiranya Robbmu menghendaki tentunya akan beriman orang-orang yang ada di bumi semuanya”. {Qs.Yunus [10]: 99}
Rukun keempat: Percaya bahwa Alloh l lah pencipta segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang bukan ciptaan Alloh l, termasuk manusia, kehendak manusia dan amal manusia.
“Alloh lah yang menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menanggung segala sesuatu”. {Qs. Az Zumar [39]: 62}
“Alloh lah yang menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian kerjakan”. {Qs. As Soffat [37]: 96}
Ketika seorang beriman kepada empat rukun tadi, maka orang itu telah beriman kepada al qodar.
Penjelasan lebih detail tentang al-iman bil qodar menurut kandungan dari keempat rukun tersebut sebagai berikut:
1). Segala sesuatu sudah tertentukan menurut kehendak Alloh . Ahlul jannah sudah tertentukan orang-orangnya sebelum Alloh ciptakan mereka. Demikian juga ahlunnaar.
“Berkata Umar Ibnu Khottob r.a, aku mendengar Rosululloh n bersabda: Setelah Alloh l menciptakan Adam, maka Dia mengusap punggungnya dengan tangan-Nya, maka dikeluarkan darinya keturunannya. Kemudian Alloh pun berfirman: Aku ciptakan mereka untuk Jannah dan dengan amal ahlul Jannah mereka beramal. Kemudian Alloh l mengusap lagi punggung Adam, maka dikeluarkannya darinya keturunannya, kemudian Alloh pun berfirman: Aku ciptakan mereka untuk neraka dan dengan amal penghuni neraka mereka beramal. Maka seorang laki-laki bertanya: Jadi apa dasarnya amal-amal kita ini? Maka Rosululloh pun menjawab: Orang-orang yang diciptakan sebagai ahlul Jannah, akan dipekerjakan dengan amal ahlul Jannah, sampai dia mati di atas amal-amal ahlul Jannah dan masuklah dia ke Jannah. Orang-orang yang Alloh ciptakan sebagai penghuni neraka, Alloh pun mempekerjakannya dengan amal-amal penghuni neraka sampai dia mati di atas amal-amal penghuni neraka, maka masuklah dia karena (amal-amal itu) ke neraka”.[24]
Di riwayatkan oleh imam Ahmad di dalam Musnadnya dengan sanad yang shohih dari Abu Darda r.a bahwa Nabi SAW bersabda:
“Ketika Alloh l menciptakan Adam, maka Alloh l memukul pundak kanannya, maka keluarlah keturunannya dengan warna putih seakan-akan addar. Kemudian dipukul pundak kirinya, maka keluarlah keturunannya dengan warna hitam seakan-akan arang. Maka Alloh l pun berfirman kepada yang di sebelah kanan: masuklah Jannah dan Aku tidak peduli. Kemudian berkata lagi kepada yang di sebelah kiri: masuklah Jahannam dan Aku tidak perduli”.[25]
2). Alloh-lah yang menciptakan manusia. Dia pula yang menciptakan amal-amal mereka dan kehendak-kehendak mereka. Semua itu tercipta menurut kehendak dan ilmu Alloh l, tidak ada suatu pun yang terjadi atau terwujud tanpa sekehendak dan sepengetahuan Alloh .
Manusia diberikan kehendak, dengan kehendak itulah mereka beramal. Tetapi kehendak manusia itu ciptaan Alloh dan tercipta menurut kehendak-Nya. Amal manusia yang dikerjakan dengan kehendaknya sendiri dan hasil dari amal itu pun adalah ciptaan Alloh dan menurut kehendak Alloh.
Alloh pencipta segala sesuatu, tentunya termasuk manusia, pekerjaan-pekerjaannya dan kehendaknya (karena kehendak adalah bagian dari manusia itu sendiri).
“Alloh-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menanggung segala sesuatunya itu”. {Qs.Az zumar [39]: 62}
“Alloh-lah Yang menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian kerjakan”. {Qs. As Soffat [37]: 96}
Manusia mempunyai kehendaknya sendiri dan dengan kehendak itu pulalah manusia beramal.
“Sesungguhnya ini adalah peringatan maka barangsiapa berkehendak ia akan mengambil jalan Robb-Nya (petunjuknya)”. {Qs. Al Insan [76]: 29}
“Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya yang haq itu dari Robb kalian, maka barangsiapa berkehendak berimanlah dan barangsiapa berkehendak maka kufurlah”. {Al Kahfi [18]: 29}
Kehendak manusia yang sama dengan kehendak Alloh akan terlaksana, sedangkan yang berbeda tidak akan terlaksana.
“Tidaklah bermanfaat nasehatku bagi kalian bila aku hendak menasehati kalian, jika Alloh hendak menyesatkan kalian. Dia-lah Tuhan kalian dan hanya kepadanyalah kalian dikembalikan”. {Qs. Huud [11]: 34}
Alloh yang memberi petunjuk dan Alloh pula yang menyesatkan. Tidak ada yang bisa menyesatkan seseorang yang Alloh beri petunjuk kepadanya dan tidak ada yang bisa memberi petunjuk bagi orang yang Alloh sesatkan.
“Sesungguhnya Kami mengutus (Para rosul) dengan bahasa kaumnya supaya jelas bagi kalian, maka Alloh menyesatkan dengannya siapa-siapa yang dikehendaki dan memberi petunjuk siapa-siapa yang dikehendaki. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Adil”. {Qs. Ibrahim [14]: 4}
“Sekiranya Alloh menghendaki tentunya Ia akan menjadikan kalian umat yang satu, akan tetapi Ia menyesatkan siapa saja yang dikehendaki dan memberikan petunjuk siapa saja yang dikehendaki dan Ia akan menanyakan kalian tentang apa-apa yang kalian perbuat”. {Qs. An Nahl [16]: 93}
Alloh tidak memaksa manusia untuk berbuat sesuatu. Manusia pun merasa dengan pasti bahwa dia mengerjakan sesuatu dengan kehendaknya sendiri tanpa paksaan. Tetapi Alloh-lah yang menjadikan manusia berkehendak demikian, Alloh-lah yang mengizinkan atau tidak mengizinkan suatu amal terwujud, Alloh pulalah yang memberi petunjuk dan Alloh pulalah yang menyesatkan.
Semua itu harus kita imani, karena semuanya ada di Al-Qur’an dan Hadits.
Lalu akal pun ingin memberontak, ingin mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang banyak sekali walaupun dalilnya sudah jelas bahwa kita harus beriman hanya sebatas wahyu saja dan kabar ghoib hanya sebagian saja yang dikabarkan kepada kita. Sedangkan sebagian lainnya tetap merupakan “sirrulloh” (Rahasia Alloh). Ingin mencari kepuasan! Ingin mengangkat diri-nya tanpa batas!
Pertanyaan yang terbesar adalah: Bukankah itu suatu kedzoliman? Setelah Alloh menentukan segala sesuatunya, lantas seseorang disiksa karena amalnya?
JAWAB:
Seperti kita beriman dengan hal-hal di atas karena didukung oleh dalil-dalil yang kuat maka kita pun sebagai Ahlussunnah wal jama’ah, firqotunnajiah yang mengikuti wahyu Alloh dengan pemahaman Sahabat, harus beriman pula bahwa Alloh tidaklah dzolim.
Alloh SWT berfirman:
“Sesungguhnya hal tersebut adalah dari apa-apa yang telah engkau kerjakan, dan sesungguhnya Alloh tidak mendzolimi hamba-hamba-Nya”. {Qs. Al Anfal [8]: 51}
“Sesungguhnya Alloh tidak mendzolimi seberat biji sawi pun, setiap kebaikan Ia menggenapkannya kemudian Ia mendatangkan pahala yang besar dari sisi-Nya”. {Qs. An Nisa [4]: 40}
Di sana ada suatu rahasia besar. Rahasia yang hanya Alloh-lah yang me-ngetahui. Rahasia yang tidak bisa kita ketahui. Oleh karena itu pula Al-Qodar disebut ”Sirrulloh” yaitu ”rahasia Alloh”. Alloh-lah yang mengetahui mengapa orang ini diciptakan untuk jannah dan yang satunya lagi untuk neraka. Semua itu berlangsung dengan hikmah yang tinggi dan mulia sekali.
“Katakan (hai Muhammad) sesungguhnya Alloh mempunyai hujjah yang kuat, kalau seandainya Ia menghendaki tentunya Ia memberi petunjuk kepada kalian semuanya”. {Qs. Al-An’am [6]: 149}
Kita dilarang Alloh l untuk mempertanyakan hal-hal goib yang tidak Alloh khabarkan. Karena hal itu akan membawa kita ke dalam kesesatan. Akal pikiran kita mempunyai kemampuan yang terbatas dan sebatas itu pulalah kita diberikan kabar-kabar ghoib oleh Alloh l. Pokok atau dasar atau pangkalnya qodar ada pada ilmu goib di sisi Alloh saja. Kita imani qodar hanya sebatas khabar wahyu seperti yang sudah dijelaskan pada lembaran-lembaran sebelumnya.
“Alloh berfirman: ‘Wahai Nuh sesungguhnya ia, bukanlah dari keluargamu, sesungguhnya ia amal buruk, maka janganlah engkau menanyakan kepada-Ku tentang apa-apa yang engkau tak mempunyai pengetahuan tentangnya. Aku mengingatkan engkau agar engkau tidak termasuk orang-orang yang jahil’”. {Qs. Hud [11]: 46}
Ilmu pada ayat di atas adalah ilmu yang terlarang penuntutannya yaitu ilmu goib yang tidak dikabarkan. Sebab ilmu ada dua macam: Ilmu yang terlarang penuntutannya dan ilmu yang diperintah penuntutannya, seperti dinyatakan di ayat berikut.
“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu melainkan orang-orang laki-laki yang Kami wahyukan pada mereka, maka bertanyalah kalian pada Ahli ilmu bila kalian tidak mengetahui”. {Qs. An Nahl [16]: 43}
Yang pertama penuntutannya mengantarkan ke kesesatan dan yang kedua penuntutannya mengantarkan ke hidayah, bi `idznillah.
Setelah penjelasan itu, jelaslah bagi kita bahwa kita harus beriman sebatas kabar-kabar wahyu dan tidak mencari kabar-kabar goib dari selain wahyu Ilahi, seperti misalnya melalui analisa-analisa akal pikiran. Kewajiban kita adalah harus percaya dan menerima.
Sudah banyak orang yang tersesatkan karena mereka tidak mengikuti manhaj Ahlussunnah dalam hal qodar. Banyak dari mereka yang sampai pada pendustaan al-qodar (Naudzubillah), maka keluarlah mereka dari Islam dan masuklah mereka ke lorong-lorong gelap yang tiada berujung. Semua itu karena mereka tidak puas dengan manhaj yang haq ini dan mencoba memecahkan “sirrullah” tadi.
Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa Alloh tidak mengetahui sesuatu sebelum hal itu terjadi dan hal-hal di masa depan belum tertentukan. Dengan akidah seperti ini, tuhan mereka bukanlah Alloh yang kita ibadahi. Tuhan mereka adalah tuhan lainnya yang jahil, yang sering terkaget-kaget oleh ulah makhluknya. Kalau tuhan mereka tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadi, dengan sendirinya yang menciptakan hal yang terjadi itu bukanlah Dia. Mereka akan mengatakan: Ya! Si pelakulah yang meng ”ada” kan hal itu, baik si pelaku itu manusia atau lainnya. Jadi di sini kita dapati adanya banyak pencipta. Syirik!! Tak ada nama lain untuk aqidah seperti ini!
Sebagai penutup masalah qodar ini, ada baiknya dijelaskan bahwa Alloh mempunyai dua hukum:
1). Hukum qodar (Kauni): hukum ini pasti terlaksana dan terwujud atas makhluk-makhlukNya. Kita tidak mengetahui tentang hukum ini, kecuali setelah terlaksana. Kewajiban kita menghadapi hukum ini adalah beriman kepadanya dan menerimanya. Kita tidak boleh berdalih dengan hukum ini sebelum hukum ini terjadi, karena kita tidak mengetahui sebelumnya. Kalau yang terjadi adalah kebaikan, maka kita syukuri hal itu. Kalau yang datang adalah keburukan, maka kita terima dan kita sabari serta tidak menyalahkan Sang Pencipta. Semua itu datang dari Alloh. Hukum ini adalah kehendak Alloh atas kita. Kita tidak dituntut untuk memikirkan dan melaksanakan kehendak ini. Kita hanya harus pasrah ketika hal itu telah terjadi.
2). Hukum syari’ah: Yaitu hukum-hukum agama yang harus kita laksanakan. Hukum ini adalah kehendak (tuntutan) Alloh dari kita. Kewajiban kita terhadap hukum ini adalah mengimani dan melaksanakannya semaksimal mungkin, tanpa berdalih dengan qodar untuk meninggalkannya.
· Ahlussunnah beriman pada wahyu (Kitab dan Sunnah) seluruhnya, tidak meninggalkan sebagian dan menerima sebagiannya lagi. Seluruh wahyu harus diterima dan ditegakkan.
· Ahlussunnah berprinsip menegakkan Amar Ma’ruf’ Nahi Munkar.[26]
لَتَأْمُرُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ اْلمُنْكَرِ ، أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهْ ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Kalian perintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar atau Alloh akan menurunkan hukuman dari sisi-Nya secara merata kemudian kalian berdoa kepada-Nya tetapi tidak dikabulkan-Nya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad yang hasan)
ماَ مِنْ قَوْمٍ يَكُوْنُ بَيْنَ أَظْهُرِهِمْ مَِنْ يَعْمَلُ اْلمَعَاصِي،هُمْ أَعَزُّ مِنْهُ وَأَمْنَعُ ، وَلَمْ يُغَيِّرُوْا ، إِلاَّ أَصَابَهُمُ اللهُ مِنْهُ بِعَذَابٍ
“Tidak ada satu kaumpun yang ditengah-tengah mereka ada orang yang berbuat maksiat padahal mereka lebih terhormat dan lebih kuat akan tetapi mereka tidak merubah maksiat tersebut kecuali Alloh akan menimpakan adzab kepada mereka” (HR. Abu dawud dengan sanad yang sohih).
______________________________________________________________
[1] Lihat kitab "Manhaj Al Istidlal `ala Masail Al I`tiqod `Inda Ahli As Sunnah wa Al Jama`ah", karya `Utsman bin `Ali Hasan : 1/ 40-44
[2] (HR. Abu Daud, no. 3607; Tirmidzi, no.2678; dan dia berkata, “Ini hadits hasan shohih”, Ibnu Majah, no.43; serta dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani, dalam Shohih Sunan Ibnu Majah, no.40-41)
[3] (HR. Abu Daud, no.4604; Imam Ahmad, 4/130; Ibnu Hibban, no.11; dan Tirmidzi, no.2666; dia berkata, “Ini hadits hasan ghorib dari jalan tersebut”, serta dishohihkan oleh Syeikh Al Albani, dalam Shohih Ibnu Majah, no.12)
[4] (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dalam Al Marosil, no.536; Syaikh Su`aib Al Arnauth berkata, “Rijalnya tsiqot, rijal Syaikhoin.”)
[5] Baca Kitab “Ma Ana `Alaihi wa Ashhabi”, Ahmad Salam
[6] (HR. Tirmidzi, no.2172; Imam Ahmad dalam musnadnya, 1/114; Ibnu Majah, no.2363; Ibnu Hibban, no.7254; dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no.431)
[7] (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, 1/115–117)
[8] Baca kitab “Hujjiyyah Qoul Sohabiy `inda As Salaf”, Dr. Tarhib bin Rubai`an bin Hadi Ad Dausiri. Kitab “Al Muwafaqot”, Asy Syatibi. Kitab “A`lam Al Muwaqqi`in”, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah.
[9] Baca “Hakikot Al Bid`ah wa Ahkamuha”, Sa`id bin Nasir Al Ghomidi
[10] (HR. Abu Daud, no.3607; Tirmidzi, no.2678; dan dia berkata, “Ini hadits hasan shahih”, Ibnu Majah, no.43; serta dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no.40-41)
[11] Baca Kitab “ Zawabi` Fi Wajh As Sunnah Qodiman wa Haditsan”, Sholahuddin Maqbul Ahmad serta Kitab “Ash Showaiq Al Mursalah”, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah.
[12] Baca Kitab “Manhaj Al Istidlal `Ala Masail Al I`tiqod”, `Utsman bin Ali Hasan.
[13] Baca Kitab “Mabahits Fi `Ulum Al `Aqidah”, Dr. Haedar bin Ahmad As Sofih : 6-7
[14] (HR. Imam Ahmad, 1/391)
[15] (HR. Bukhari, no.25; dan Muslim, no.22)
[16] Baca Kitab “Hukmulloh Wa Ma Yunafiha”, Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Al Abdul Lathif. Atau Kitab “Tahkim Al Qowanin”, Syeikh Muhammad bin Ibrohim Al Syeikh.
[17] Baca kitab “Al Madkhol Li Dirosat Al `Aqidah Al Islamiyyah”, Dr. Ibrohim Muhammad Al Buraikan : 224-228
[18] (HR. Ahmad, 4/286; Al Hakim dalam Al Mustadrok, 2/480 dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shohihah, 1728)
[19] (HR. Imam Ahmad, no.22269)
[20] (HR. Bukhori, no.209; Muslim, no.439; Tirmidzi, no.65; Abu Daud, no.19; An Nasai, no.31; Ibnu Majah, no.341; Ahmad, no.1877; dan Ad Darimi, no.732)
[21] (HR. Bukhori, no.789; Muslim, no.925; Abu Daud, no.746; An Nasai, no.1292; Ibnu Majah, no.3828; dan Ahmad, no.23166)
[22] (HR. Bukhori, no.1294; Muslim, no.4810; An Nasai, no.1925; Abu Daud, no.4088; dan Ahmad, no.1748)
[23] (HR. Muslim, no.4797; Tirmidzi, no.2082; dan Ahmad, no.6291)
[24] (HR. Imam Malik, no.1395; Tirmidzi, no.3001; Abu Daud, no.4081; dan Ahmad, no.294)
[25] Hr. Ahmad : 26216
[26] Baca Kitab “Al Amr bi Al Ma`ruf wa An Nahyu `An Al Munkar Ushuluh wa Dowabituh wa Adabuh”, Kholid bin `Utsman As Sabt.
Facebook : PRINSIP-PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH
Berikut adalah sebagian besar dari prinsip-prinsip dasar Ahlussunnah wal Jama`ah yang pada hakikatnya adalah prinsip-prinsip Dinul Islam yang murni seperti yang disampaikan Rosululloh tanpa tercampur unsur-unsur dari luar wahyu Ilahi. Setelah mempelajari dasar-dasar ini akan bertambah keyakinan seseorang tentang kebenaran Islam, keyakinan bahwasanya Islam yang murni dan asli adalah manhaj Ahlussunnah wal Jama`ah. Betapa pentingnya akan prinsip-prinsip keselamatan ini sehingga mewajibkan kita semua untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan serta menda'wahkannya pula kepada orang lain. Dan yang terpenting lagi adalah kita semua dituntut untuk senantiasa istiqomah dengan berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip ini sampai akhir hayat menjemput kita nanti.
Sumber agama Islam dengan segala seginya adalah wahyu Alloh dalam bentuk al-Qur’an dan Hadits yang shohih. [1]
Dalil prinsip ini adalah Firman Alloh SWT :
“Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang amat lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. al-Isro` [17]: 9)
“Apa yang diberikan Rosul kepada kalian maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat keras hukumanNya.” (QS. al-Hasyr [59]: 7)
Rosululloh SAW bersabda:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah Rasyidin (yang terarahkan) dan mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah hal tersebut dengan gigi geraham”.[2]
Alloh SWT berfirman:
“Dan Alloh telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Sesungguhnya karunia Alloh sangat besar atasmu.” (QS. an-Nisa’ [4]: 113)
*). Arti Hikmah disini adalah as-Sunnah.
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. an-Najm [53]: 4)
*). Ini berarti bahwa hadits-hadits Rosululloh pun adalah wahyu dari Alloh.
Rosululloh SAW bersabda:
اَلاَ اِنِّى اُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ
“Ketahuilah sesungguhnya aku diberikan al-Qur`an dan yang sejenisnya (Sunnah) bersama-sama dengannya”.[3]
Hasan bin `Athiyah berkata:
كاَنَ جِبْرِيْلُ يَنْزِلُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ بِالسُّنَّةِ كَمَا يَنْزِلُ عَلَيْهِ بِاْلقُرْآنِ وَيُعَلِّمُهُ إِيَّاهَا كَمَا يُعَلِّمُهُ اْلقُرْآنَ
“Jibril turun kepada Rosululloh membawa sunnah sebagaimana dia turun membawa al-Quran. Dia pun mengajarkan kepada beliau sunnah sebagaimana dia mengajarkan Beliau al-Qur`an”.[4]
Pengikutan pada keduanya adalah pengikutan pada khabar dari Alloh dan tuntunan-Nya. Tidak ada suatu pun yang boleh menyaingi dan menandingi keduanya, tiada pertentangan di antara keduanya. Kalau terbayang adanya pertentangan dalam kaca mata kita, maka hal itu disebabkan oleh kesalah-pahaman (yang bisa disebabkan oleh banyak hal, terutama adalah kejahilan) atau hadits yang tidak shohih.
· Ijma` sahabat adalah hujjah syar’iyyah.[5]
Ini berarti bahwa ketika sahabat telah berijma’ pada suatu masalah dalam agama, maka ijma’ itu harus diikuti. Siapa yang melanggarnya akan berdosa dan sesat. Ijma` Sahabat adalah ma’sum, walaupun perorangan mereka tidaklah ma’sum. Ketika keyakinan mereka pada suatu masalah terbagi atas lebih dari satu, maka kita harus mengikuti salah satunya dan tidak boleh menentukan keyakinan lainnya.
Alloh SWT berfirman:
“Dan barangsiapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya serta mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]: 115)
*). Orang-orang mu’min di ayat ini adalah Sahabat .
Rosululloh bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِي يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِي يَلُوْنَهُمْ … مَنْ أَرَاد بحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ
“Aku wasiatkan kalian (mengikuti) para Sahabatku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian generasi setelah itu... Barangsiapa yang menghendaki keluasan jannah, maka berpegang teguhlah dengan jama`ah”.[6]
*). Para Sahabat dan dua generasi itulah yang dimaksud dengan Jama’ah
Rosululloh bersabda:
لاَ يُجْمِعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ عَلَى الضَّلاَلَةِ أَبَدًا.
“Alloh tidak akan pernah menghimpun umat ini di atas kesesatan”.[7]
· Pemahaman al-Qur’an dan Hadits harus sesuai dengan pemahaman sahabat dan metode pemahaman mereka.[8]
Prinsip ini terlalu kuat dan terlalu penting dalam Dinul Islam. Kepentingan dan keutamaannya didukung oleh dalil-dalil yang kuat dan jelas sekali.
Di antara dalil-dalil yang mendukung prinsip ini adalah sebagai berikut:
ü Sahabat telah dipuji Alloh di banyak ayat suci al-Qur’an. Pujian yang diabadikan sepanjang masa dan tidak diberikan untuk orang-orang sesudah mereka.
Alloh SWT berfirman:
“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Alloh dan keridhoan (Nya) serta menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar”. “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dijauhkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr [59]: 8-9)
“(Yaitu) orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Sesungguhnya mereka telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. al-Imran [3]: 173)
“Muhammad Rosululloh dan orang-orang yang bersama dia adalah tegar terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud, demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Dan sifat-sifat mereka dalam Injil seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, dengan mereka Alloh menjengkelkan hati orang-orang kafir. Alloh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al-Fath [48]: 29)
Semua pujian ini menunjukan dengan nyata akan kebenaran manhaj sahabat . Alloh tidak mungkin memuji orang-orang dengan manhaj yang tidak diridhoi-Nya.
ü Sahabat telah diakui sebagai umat terbaik sepanjang umur dunia ini dan telah diridhoi Alloh .
Alloh SWT berfirman:
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Alloh.” (QS. ali-`Imron [3]: 110)
“Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mu'min (sahabat ) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. al-Fath [48]: 18)
Dengan sendirinya umat yang terbaik adalah umat yang mempunyai manhaj yang terbaik juga.
ü Manhaj Sahabat telah dijadikan ukuran standar untuk mengukur keimanan setiap orang. Siapa-siapa yang cocok keimanannya dengan keimanan sahabat maka mereka telah mendapat hidayah dan barangsiapa yang tidak demikian, serta menolak manhaj Sahabat maka mereka telah sesat.
Alloh SWT berfirman:
“Maka jika mereka beriman seperti apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan. Maka Alloh akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqoroh [2]: 137)
· Ahlussunnah wal Jama`ah menolak semua bentuk bid’ah, baik bid’ah amaliah, aqidah maupun manhajiyah.[9]
Semua bid’ah dalam agama adalah buruk dan sesat, tidak ada satu bid’ah pun yang hasanah.
وَ إِيَّاكُمْ وَ مُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam dien), karena setiap perkara baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat dan setiap kesesatan berada di api neraka”.[10]
· Semua hadits sohih diterima sebagai dalil dan dasar untuk semua masalah termasuk masalah aqidah baik itu hadits mutawatir atau pun hadits ahad. [11]
As-Salafus sholeh tidak pernah membeda-bedakan antara hadits ahad dan hadits mutawatir, tetapi secara teknis ulama-ulama hadits di kemudian hari telah mengadakan pembagian yang demikian itu. Hadits ahad adalah hadits yang pada salah satu tingkatan perawinya mempunyai bilangan yang tidak sampai derajat mutawatir. Ahlul bid’ah banyak menolak hadits-hadits ahad ini sebagai dalil untuk aqidah dengan alasan hadits ahad tidak sampai pada derajat yakin. Alasan ini tidak diterima oleh Ahlussunnah wal Jama`ah sejak zaman Rosululloh sampai akhir zaman. Alasan seperti ini dilahirkan oleh kaidah-kaidah filsafat.
Semua ulama salaf dan kholaf sejak zaman sahabat dan zaman kita ini telah berijma’ menerima hadits ahad sebagai dalil untuk semua sisi agama Islam termasuk aqidah. Semua Imam-imam sunnah semasa sahabat dan sesudah mereka (seperti empat Imam madzhab: Malik , Abu Hanifah , Syafi’i dan Ahmad bin Hambal serta Imam Bukhori , dan Muslim serta seluruh perawi buku-buku sunan yang empat seperti Tirmidzi , Abu Dawud dan lain lainnya) semua mereka tidak membeda-bedakan penggunaan hadits-hadits shohih sebagai dalil untuk seluruh bagian agama Islam baik mutawatir maupun ahad.
Mereka telah meletakkan syarat-syarat yang ketat sekali untuk menyaring hadits-hadits ahad, untuk sampai pada keputusan tentang shohih atau tidaknya hadits tersebut. Para Sahabat yang mulia telah menerima ini di masa kehidupan mereka. Masing-masing mereka menerima hadits Rosululloh dari lainnya yang mereka percayai walau pun satu orang saja. Lebih dari itu Rosululloh sering mengutus utusan beliau ke daerah-daerah untuk menyampaikan risalah Islam dengan orang-perorang. Alloh pun telah mengutus Rosululloh untuk menyampaikan seluruh agamanya seorang diri.
· Wahyu dari Alloh tidak ada yang bertentangan dengan akal yang bersih. [12]
Kalau terjadi seakan-akan ada pertentangan antara keduanya, maka hal ini disebabkan ketidak jernihan akal yang terkotori hawa nafsu, kelemahan atau kejahilan. Dalam hal seperti ini wahyu harus didahulukan atas akal.
· Ahlussunnah beriman kepada semua khabar-khabar goib yang datang dari Alloh melalui al-Qur’an dan as-Sunnah dan tidak mempercayai khabar goib apa pun dari selain keduanya. [13]
Dalam hal beriman kepada hal-hal goib, Ahlus Sunnah membatasi keimanan mereka dengan batas-batas wahyu tanpa melebihinya atau menolak sebagiannya. Dalam manhaj Islami hal-hal goib yang dikhabarkan Alloh kepada kita adalah sebagian kecil saja, sedangkan sebagian besarnya tersembunyikan di sisi Alloh .
Alloh SWT berfirman:
“Katakan: (ya Muhammad) tak seorang pun yang mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi selain Alloh dan mereka tidak merasakan kapan mereka dibangkitkan.” (QS. an-Naml [27]: 65)
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتِهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اِسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ
“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki, yang dengan nama itu Engkau namakan diri-Mu atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu atau tetap Engkau simpan dalam ilmu goib di sisi-Mu”.[14]
Kita dilarang mencoba menambah pengetahuan tentang hal-hal goib dari selain wahyu yang sudah diturunkan kepada kita, seperti misalnya menerka-nerka atau malah mempertanyakannya.
· Al Iman terdiri dari empat unsur yaitu perkataan hati, perbuatan hati, perkataan lisan dan perbuatan anggota badan.
Perkataan hati adalah ilmu syar’i yang dipercayai oleh seseorang dan perbuatan hati adalah keadaan hati yang dilahirkan oleh perkataan hati seperti takut dan cinta kepada Alloh , cinta Rosululloh , Sahabat-nya dan kaum muslimin, benci kepada kekufuran dan kuffar (orang-orang kafir), tawakal dan lain-lainnya. Sedangkan perkataan lisan seperti syahadatain, istigfar, tasbih, da`wah dan lain-lain. Dan perbuatan anggota badan seperti sholat, shoum, haji, infaq dan lain-lain. Ketika perkataan hati dan perbuatan hati digabungkan, terkadang juga disebutkan sebagai aqidah.
Iman juga bisa berkurang dan bertambah. Berkurang dengan berkurangnya kapasitas unsur-unsurnya dan bertambah dengan bertambahnya kapasitas unsur-unsurnya atau berkurang dengan kema’siatan dan bertambah dengan keta’atan. Setiap unsur-unsur dari unsur-unsur iman disebut juga iman (dengan syarat tidak ada satu unsurpun yang absen) dan ketika salah satu unsur dari unsur-unsur tersebut tidak ada sama sekali atau bagian terdasar dari suatu unsur tidak ada atau terjadi salah satu pembatal iman, runtuhlah iman dengan seluruh unsur-unsurnya.
· Seseorang yang bersyahadatain adalah Muslim sampai terbukti kekufurannya.
Rosululloh SAW bersabda:
أُمِرْتُ اَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا/ يَشْهَدُوْا اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ أّنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga dia mengucapkan / bersyahadat bahwa tidak ada Ilah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad ` adalah utusan Alloh .”[15]
· Tauhidulloh (Pengesaan Alloh ) adalah dasar agama Islam yang terutama bahkan Islam seluruhnya berdiri di atas Tauhidulloh.
Barang siapa yang melakukan kesyirikan atau meng-aqidahkannya, lalu mati sebelum bertaubat, maka dia akan kekal di neraka jahannam dan tidak akan diampuni Alloh walaupun mempunyai amal sholeh sebesar bumi ini.
Alloh SWT berfirman:
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. an-Nisaa’ [4]: 48)
“Sesungguhnya Kami telah mengutus untuk setiap umat seorang Rosul, mereka memerintahkan (umatnya) untuk beribadah pada Alloh dan menjauhi Toghut.” (QS. an-Nahl [16]: 36)
*). Jadi setiap rosul datang dengan tauhid sebagai pokok ajaran.
· Ahlussunah beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merubah-rubahnya atau menolak sebagiannya atau menentukan hakikatnya atau menyamakan dengan makhluk-Nya. Ahlus Sunnah juga menyangkal semua sifat atas Alloh yang disangkal Alloh dan Rosul-Nya dan di waktu yang sama mengambil sikap diam terhadap sifat dan nama yang tidak ditetapkan atau pun disangkal oleh wahyu.
Nama-nama Alloh tidak diketahui batas bilangannya, sebagian telah dikhabarkan kepada kita dan sebagiannya lagi tidak dikhabarkan kepada kita. Sebuah kata (demikian juga dengan sifat) mempunyai tiga rukun, yaitu: lapadz, arti dan hakikat. Contoh: kata “kepala” lapadznya adalah “k-e-p-a-l-a” artinya adalah “bagian yang jadi ikutan bagian-bagian lainnya”. Sedangkan hakikatnya yaitu bentuk, isi, warna dan lain-lain adalah berbeda menurut pemilik kepala tadi. Kepala manusia berbeda dengan kepala sekolah dan berbeda dengan kepala kereta walaupun lapadz dan artinya sama.
Alloh mengkhabarkan pada kita lapadz sifat-sifat-Nya dan kita mengerti artinya, tetapi ketika Alloh tidak mengkhabarkan kepada kita hakikat dari sifat itu, maka kita pun tidak bisa mengetahuinya dan tidak boleh sama sekali mempertanyakannya atau menerka-nerka atau pun membayang-bayang kannya. Yang kita ketahui adalah sifat itu mempunyai hakikat yang sempurna, mulia, agung dan tidak menyerupai apapun dari sifat makhluk-makhluk-Nya.
· Penerapan hukum Alloh sebagai satu-satunya undang-undang yang memayungi kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah suatu kewajiban mutlaq yang besar. [16]
Penyingkiran hukum-hukum Alloh seluruhnya atau sebagiannya dan menggantikannya dengan hukum-hukum mahkluk adalah kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Penerapan hukum-hukum Alloh di bumi ini adalah bagian yang besar dari hak-hak Alloh (hak-hak uluhiyah).
Alloh SWT berfirman:
“Barangsiapa yang tidak berhukum pada apa-apa yang diturunkan Alloh, mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah [5] : 44)
Ketika dalam suatu negara yang menerapkan hukum-hukum Islam, seorang hakim mengganti hukum Alloh dengan hukum lainnya dalam suatu perkara tertentu tanpa menjadikan hukum lainnya itu suatu undang-undang tetap, maka hakim tersebut terjatuh di kufur asghor (kufur yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam), hal ini kalau dia merasa wajib atasnya penerapan hukum Alloh dan yakin bahwa hukum Alloh adalah lebih baik. Tetapi jika hakim tersebut merasa tidak wajib menerapkan hukum Alloh atau menganggap hukum lainnya tersebut lebih baik atau sama dengan hukum Alloh maka sang hakim pun telah keluar dari Islam. Apalagi jika yang terjadi adalah penyingkiran hukum-hukum Alloh dan menggantinya dengan hukum-hukum buatan makhluk.
· Ahlussunnah memberikan wala’ (loyalitas) yang mutlak (sepenuhnya) kepada Alloh dan Rosul-Nya .[17] Memberikan wala’ yang mutlak kepada kaum muslimin dalam jihad mereka melawan kuffar dan munafiqin.
Wala` kepada pribadi-pribadi muslim berbeda kapasitasnya dari suatu pribadi muslim dengan muslim lainnya menurut ketaqwaan dan jauh-dekatnya pribadi-pribadi itu dari manhajul haq. Wala` kepada seorang pribadi muslim bisa ter campurkan dengan baro’ nisbi menurut bobot ma`siatnya serta jauhnya dari manhaj yang haq. Ahlus Sunnah berbaro' (melepaskan diri) mutlak dari kuffar dan kekufuran.
Rosululloh SWT bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الإِيْمَانِ اَلْحُبُّ فِى اللهِ وَالْبُغْضُ فِى اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Alloh dan membenci karena Alloh”.[18]
Alloh SWT berfirman:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridho terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Alloh itulah golongan yang beruntung.” (QS. al-Mujadilah [58]: 22)
· Ahlussunnah beriman akan adanya malaikat dengan sifat-sifat dan nama-nama yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan Hadits-hadits Rosululloh .
Alloh SWT berfirman:
“Kebajikan itu bukanlah dengan memalingkan wajah-wajah kalian ke timur dan ke barat, tetapi kebajikan adalah keimanan kepada Alloh, hari akhir dan malaikat-malaikat….” (QS. al-Baqoroh [2]: 177)
“Rosul telah beriman kepada yang diturunkan kepada-nya dari Robb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rosul-rosulNya. (Mereka me-ngatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun dari rosul-rosul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta'at”. (Mereka berdoa) “Ampunilah kami ya Robb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. al-Baqoroh [2]: 285)
· Ahlussunnah beriman bahwasannya Alloh telah mengutus Rosul-rosul-Nya kepada setiap umat dengan Tauhid. Ahlussunnah pun bersaksi bahwa para Rosul yang mulia itu telah menyampaikan risalah Alloh dan menunaikan amanah mereka.
Alloh SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus untuk setiap umat seorang Rosul, mereka memerintahkan (umat-nya) untuk beribadah pada Alloh dan menjauhi Toghut.” (QS. an-Nahl [16]: 36)
· Muhammad Ibnu Abdillah adalah Rosul (utusan) Alloh terakhir dan tidak ada nabi dan rosul sesudahnya sampai hari kiamat.
Setiap pengakuan nabi atau rosul sesudahnya adalah dusta belaka. Barangsiapa yang beriman kepada siapa pun yang mengaku nabi atau rosul sesudahnya, orang itu telah keluar dari Islam. Barang-siapa yang menganggap adanya kebolehan ber-ibadah kepada Alloh dengan selain syari’at beliau , maka orang itu telah kafir. Siapa yang keluar dari syari’at beliau, berarti dia telah keluar dari Islam.
Alloh SWT berfirman:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Ahzaab [33]: 40)
Rosululloh SAW bersabda:
وَ أَنَّهُ سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِيْ ثَلاَثُوْنَ كَذَّابُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وّ أّنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي
“Sesungguhnya, pada umatku akan ada 30 orang pendusta yang semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi yang tidak ada nabi sesudahku”.[19]
Alloh SWT berfirman:
“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap hukum yang kamu putuskan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisaa’ [4]: 65)
· Alloh telah menurunkan kitab-kitab-Nya yang tidak mengandung sedikit pun padanya kebatilan dan al-Qur’an adalah kitab terakhir yang menjadi satu-satunya kitab panutan setelah kebangkitan Nabi Muhammad .
· Alam Barzakh alam antara dunia dan akhirat adalah haq, pertanyaan Malaikat kepada ahlul kubur adalah haq. Azab dan ni’mat kubur adalah haq.
Semua itu telah datang padanya dalil-dalil yang tidak diragukan lagi.
Alloh SWT berfirman:
“Maka Alloh memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada Malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghoofir [40]: 45-46)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Dari Ibnu Abbas berkata: Nabi keluar dari tengah kota madinah, kemudian ia mendengar suara dua orang laki-laki yang sedang disiksa di kuburannya masing-masing, Lalu Nabi bersabda: Keduanya sedang diadzab, diadzab bukan karena sesuatu yang dianggap besar. Selanjutnya beliau mengatakan: dan di antara salah satu dari keduanya adalah tidak memakai penutup ketika sedang buang air kecil dan yang lainnya berjalan untuk menebar fitnah".[20]
Do’a Rosululloh ketika mengiringi tasyahud akhir:
اَللَّهُمَّ اِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ مَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Ya Alloh aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur dan api neraka jahannam serta fitnah kehidupan dan kematian juga fitnah masihid dajjal.”[21]
· Yaumul Qiyamah pasti datang. Tiada keraguan tentangnya. Tak ada seorang mahkluk pun yang tahu tentang waktunya, hanya Alloh lah yang mengetahuinya. Semua khabar dari al-Qur’an dan Hadits shohih tentang hari ini adalah haq.
Jannah dan Jahannam sudah ada pada saat ini dan keduanya kekal tak akan punah. Kaum musyrikin akan kekal di neraka Jahannam dan kaum muwahhidin akan kekal di Jannah.
· Ahlussunnah beriman kepada Qodarulloh, bahwasanya seluruh yang baik maupun yang buruk hanya dari Alloh saja.
Beriman kepada qodar sama halnya dengan beriman dengan hal-hal yang goib lainnya, yaitu harus sebatas yang diterangkan oleh wahyu Ilahi (al-Kitab dan as-Sunnah). Al-Kitab dan as-Sunnah mewajibkan kita beriman kepada empat rukun Qodar berikut ini:
Rukun pertama: Bahwasannya Alloh Maha Mengetahui segala-galanya. Ilmu Nya adalah azali, tidak pernah didahului oleh kejahilan. Mengetahui apa-apa yang akan, sedang dan sudah terjadi. Mengetahui apa-apa yang tidak akan terjadi, bagaimanakah terjadinya kalau seandainya hal itu terjadi.
Alloh mengetahui segala sesuatu:
Ayat-ayat berikut ini secara umum memastikan pengetahuan Alloh yang meliputi semua hal tentang segala sesuatu dari semua seginya.
Alloh SWT berfirman:
“... Bertaqwalah kalian kepada Alloh dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh itu Maha Mengetahui tentang segala sesuatu”. {Qs.Al Baqoroh [2]: 231}
“Alloh telah menjelaskan pada kalian agar kalian tidak sesat dan sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui tentang segala sesuatu”. {Qs. An Nisa [4]: 176}
Ayat-ayat yang senada dengan ayat tadi mencapai ratusan ayat.
Alloh mengetahui apa-apa yang tidak akan terjadi, bagaimana hakikatnya kalau hal itu terjadi.
Alloh SWT berfirman:
“Akan tetapi nampaklah pada mereka apa-apa yang mereka sembunyikan sebelumnya. Sekiranya mereka dikembalikan (ke dunia) maka mereka akan mengulangi lagi pelanggaran apa-apa yang mereka dilarang mengerjakannya. Sesungguhnya mereka adalah para pendusta”. {Qs. Al An’am [6]: 28}
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُ إِذْ خَلَقَهُمْ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ
Ibnu Abbas berkata: “Di tanya ` tentang anak-anak kaum musyrikin (yang mati sejak kecil), maka beliau pun bersabda: “Alloh Maha Tahu apa yang akan mereka perbuat (kalau mereka tidak mati kecil)”.[22]
Pengetahuan Alloh tentang apa-apa yang akan terjadi, menunjukan dengan pasti bahwa hal-hal yang akan terjadi sudah tertentukan.
Rukun kedua: Percaya bahwa Alloh l telah menuliskan semua hal-hal yang akan terjadi di Lauhul Mahfudz.
Alloh SWT berfirman:
“Tidakkah engkau mengetahui sesungguhnya Alloh mengetahui apa-apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya hal itu telah tertera dalam kitab (Lauhul Mahfudz), Semua yang demikian itu mudah sekali bagi Alloh.” {Qs. Al Hajj [22]: 70}
“Alloh-lah yang menciptakan kalian dari tanah kemudian dari nutfah (setetes air mani) kemudian menjadikan kalian berpasang-pasangan, tidaklah hamil seorang wanita dan tidak juga melahirkan kecuali dengan sepengetahuan-Nya serta tidak juga berkurang atau bertambah umur seseorang kecuali sudah tertera di sebuah kitab. Semua yang demikian itu mudah bagi Alloh”. {Qs. Fathir [35]: 11}
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
"Dari Abdullah Bin Amr’ Bin Al ’Ash a berkata: “Aku mendengar Rosululloh a bersabda: Alloh menuliskan qodar setiap makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi dan Ia pun bersabda: Dan `Ars-Nya berada di atas air”.[23]
Rukun ketiga: Bahwasanya kehendak Alloh pasti terwujud. Tidak ada satu kehendak lain pun yang mungkin terwujud jika berlainan dengan kehendak Alloh .
Apa-apa yang dikehendaki Alloh pasti terwujud dan apa-apa yang tidak dikehendaki Alloh tidak akan pernah terwujud.
Alloh SWT berfirman:
“Tidaklah kalian berkehendak melainkan Alloh Robb sekalian alam juga berkehendak.” {Qs.At Takwir [81]: 29}
“Sekiranya Kami menurunkan malaikat pada mereka kemudian mereka berbicara dengan yang telah meninggal kemudian Kami bangkitkan segala sesuatu tidaklah mereka beriman melainkan dengan kehendak Alloh, akan tetapi bebanyakan mereka adalah orang-orang bodoh”. {Qs. Al An’am [6]: 111}
“Sesungguhnya bila Ia menghendaki sesuatu, maka Ia akan mengatakan padanya ”jadilah” maka hal itu pun jadi”. {Qs. Yaasin [36]: 82}
“Sekiranya Robbmu menghendaki tentunya akan beriman orang-orang yang ada di bumi semuanya”. {Qs.Yunus [10]: 99}
Rukun keempat: Percaya bahwa Alloh l lah pencipta segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang bukan ciptaan Alloh l, termasuk manusia, kehendak manusia dan amal manusia.
“Alloh lah yang menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menanggung segala sesuatu”. {Qs. Az Zumar [39]: 62}
“Alloh lah yang menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian kerjakan”. {Qs. As Soffat [37]: 96}
Ketika seorang beriman kepada empat rukun tadi, maka orang itu telah beriman kepada al qodar.
Penjelasan lebih detail tentang al-iman bil qodar menurut kandungan dari keempat rukun tersebut sebagai berikut:
1). Segala sesuatu sudah tertentukan menurut kehendak Alloh . Ahlul jannah sudah tertentukan orang-orangnya sebelum Alloh ciptakan mereka. Demikian juga ahlunnaar.
“Berkata Umar Ibnu Khottob r.a, aku mendengar Rosululloh n bersabda: Setelah Alloh l menciptakan Adam, maka Dia mengusap punggungnya dengan tangan-Nya, maka dikeluarkan darinya keturunannya. Kemudian Alloh pun berfirman: Aku ciptakan mereka untuk Jannah dan dengan amal ahlul Jannah mereka beramal. Kemudian Alloh l mengusap lagi punggung Adam, maka dikeluarkannya darinya keturunannya, kemudian Alloh pun berfirman: Aku ciptakan mereka untuk neraka dan dengan amal penghuni neraka mereka beramal. Maka seorang laki-laki bertanya: Jadi apa dasarnya amal-amal kita ini? Maka Rosululloh pun menjawab: Orang-orang yang diciptakan sebagai ahlul Jannah, akan dipekerjakan dengan amal ahlul Jannah, sampai dia mati di atas amal-amal ahlul Jannah dan masuklah dia ke Jannah. Orang-orang yang Alloh ciptakan sebagai penghuni neraka, Alloh pun mempekerjakannya dengan amal-amal penghuni neraka sampai dia mati di atas amal-amal penghuni neraka, maka masuklah dia karena (amal-amal itu) ke neraka”.[24]
Di riwayatkan oleh imam Ahmad di dalam Musnadnya dengan sanad yang shohih dari Abu Darda r.a bahwa Nabi SAW bersabda:
“Ketika Alloh l menciptakan Adam, maka Alloh l memukul pundak kanannya, maka keluarlah keturunannya dengan warna putih seakan-akan addar. Kemudian dipukul pundak kirinya, maka keluarlah keturunannya dengan warna hitam seakan-akan arang. Maka Alloh l pun berfirman kepada yang di sebelah kanan: masuklah Jannah dan Aku tidak peduli. Kemudian berkata lagi kepada yang di sebelah kiri: masuklah Jahannam dan Aku tidak perduli”.[25]
2). Alloh-lah yang menciptakan manusia. Dia pula yang menciptakan amal-amal mereka dan kehendak-kehendak mereka. Semua itu tercipta menurut kehendak dan ilmu Alloh l, tidak ada suatu pun yang terjadi atau terwujud tanpa sekehendak dan sepengetahuan Alloh .
Manusia diberikan kehendak, dengan kehendak itulah mereka beramal. Tetapi kehendak manusia itu ciptaan Alloh dan tercipta menurut kehendak-Nya. Amal manusia yang dikerjakan dengan kehendaknya sendiri dan hasil dari amal itu pun adalah ciptaan Alloh dan menurut kehendak Alloh.
Alloh pencipta segala sesuatu, tentunya termasuk manusia, pekerjaan-pekerjaannya dan kehendaknya (karena kehendak adalah bagian dari manusia itu sendiri).
“Alloh-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menanggung segala sesuatunya itu”. {Qs.Az zumar [39]: 62}
“Alloh-lah Yang menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian kerjakan”. {Qs. As Soffat [37]: 96}
Manusia mempunyai kehendaknya sendiri dan dengan kehendak itu pulalah manusia beramal.
“Sesungguhnya ini adalah peringatan maka barangsiapa berkehendak ia akan mengambil jalan Robb-Nya (petunjuknya)”. {Qs. Al Insan [76]: 29}
“Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya yang haq itu dari Robb kalian, maka barangsiapa berkehendak berimanlah dan barangsiapa berkehendak maka kufurlah”. {Al Kahfi [18]: 29}
Kehendak manusia yang sama dengan kehendak Alloh akan terlaksana, sedangkan yang berbeda tidak akan terlaksana.
“Tidaklah bermanfaat nasehatku bagi kalian bila aku hendak menasehati kalian, jika Alloh hendak menyesatkan kalian. Dia-lah Tuhan kalian dan hanya kepadanyalah kalian dikembalikan”. {Qs. Huud [11]: 34}
Alloh yang memberi petunjuk dan Alloh pula yang menyesatkan. Tidak ada yang bisa menyesatkan seseorang yang Alloh beri petunjuk kepadanya dan tidak ada yang bisa memberi petunjuk bagi orang yang Alloh sesatkan.
“Sesungguhnya Kami mengutus (Para rosul) dengan bahasa kaumnya supaya jelas bagi kalian, maka Alloh menyesatkan dengannya siapa-siapa yang dikehendaki dan memberi petunjuk siapa-siapa yang dikehendaki. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Adil”. {Qs. Ibrahim [14]: 4}
“Sekiranya Alloh menghendaki tentunya Ia akan menjadikan kalian umat yang satu, akan tetapi Ia menyesatkan siapa saja yang dikehendaki dan memberikan petunjuk siapa saja yang dikehendaki dan Ia akan menanyakan kalian tentang apa-apa yang kalian perbuat”. {Qs. An Nahl [16]: 93}
Alloh tidak memaksa manusia untuk berbuat sesuatu. Manusia pun merasa dengan pasti bahwa dia mengerjakan sesuatu dengan kehendaknya sendiri tanpa paksaan. Tetapi Alloh-lah yang menjadikan manusia berkehendak demikian, Alloh-lah yang mengizinkan atau tidak mengizinkan suatu amal terwujud, Alloh pulalah yang memberi petunjuk dan Alloh pulalah yang menyesatkan.
Semua itu harus kita imani, karena semuanya ada di Al-Qur’an dan Hadits.
Lalu akal pun ingin memberontak, ingin mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang banyak sekali walaupun dalilnya sudah jelas bahwa kita harus beriman hanya sebatas wahyu saja dan kabar ghoib hanya sebagian saja yang dikabarkan kepada kita. Sedangkan sebagian lainnya tetap merupakan “sirrulloh” (Rahasia Alloh). Ingin mencari kepuasan! Ingin mengangkat diri-nya tanpa batas!
Pertanyaan yang terbesar adalah: Bukankah itu suatu kedzoliman? Setelah Alloh menentukan segala sesuatunya, lantas seseorang disiksa karena amalnya?
JAWAB:
Seperti kita beriman dengan hal-hal di atas karena didukung oleh dalil-dalil yang kuat maka kita pun sebagai Ahlussunnah wal jama’ah, firqotunnajiah yang mengikuti wahyu Alloh dengan pemahaman Sahabat, harus beriman pula bahwa Alloh tidaklah dzolim.
Alloh SWT berfirman:
“Sesungguhnya hal tersebut adalah dari apa-apa yang telah engkau kerjakan, dan sesungguhnya Alloh tidak mendzolimi hamba-hamba-Nya”. {Qs. Al Anfal [8]: 51}
“Sesungguhnya Alloh tidak mendzolimi seberat biji sawi pun, setiap kebaikan Ia menggenapkannya kemudian Ia mendatangkan pahala yang besar dari sisi-Nya”. {Qs. An Nisa [4]: 40}
Di sana ada suatu rahasia besar. Rahasia yang hanya Alloh-lah yang me-ngetahui. Rahasia yang tidak bisa kita ketahui. Oleh karena itu pula Al-Qodar disebut ”Sirrulloh” yaitu ”rahasia Alloh”. Alloh-lah yang mengetahui mengapa orang ini diciptakan untuk jannah dan yang satunya lagi untuk neraka. Semua itu berlangsung dengan hikmah yang tinggi dan mulia sekali.
“Katakan (hai Muhammad) sesungguhnya Alloh mempunyai hujjah yang kuat, kalau seandainya Ia menghendaki tentunya Ia memberi petunjuk kepada kalian semuanya”. {Qs. Al-An’am [6]: 149}
Kita dilarang Alloh l untuk mempertanyakan hal-hal goib yang tidak Alloh khabarkan. Karena hal itu akan membawa kita ke dalam kesesatan. Akal pikiran kita mempunyai kemampuan yang terbatas dan sebatas itu pulalah kita diberikan kabar-kabar ghoib oleh Alloh l. Pokok atau dasar atau pangkalnya qodar ada pada ilmu goib di sisi Alloh saja. Kita imani qodar hanya sebatas khabar wahyu seperti yang sudah dijelaskan pada lembaran-lembaran sebelumnya.
“Alloh berfirman: ‘Wahai Nuh sesungguhnya ia, bukanlah dari keluargamu, sesungguhnya ia amal buruk, maka janganlah engkau menanyakan kepada-Ku tentang apa-apa yang engkau tak mempunyai pengetahuan tentangnya. Aku mengingatkan engkau agar engkau tidak termasuk orang-orang yang jahil’”. {Qs. Hud [11]: 46}
Ilmu pada ayat di atas adalah ilmu yang terlarang penuntutannya yaitu ilmu goib yang tidak dikabarkan. Sebab ilmu ada dua macam: Ilmu yang terlarang penuntutannya dan ilmu yang diperintah penuntutannya, seperti dinyatakan di ayat berikut.
“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu melainkan orang-orang laki-laki yang Kami wahyukan pada mereka, maka bertanyalah kalian pada Ahli ilmu bila kalian tidak mengetahui”. {Qs. An Nahl [16]: 43}
Yang pertama penuntutannya mengantarkan ke kesesatan dan yang kedua penuntutannya mengantarkan ke hidayah, bi `idznillah.
Setelah penjelasan itu, jelaslah bagi kita bahwa kita harus beriman sebatas kabar-kabar wahyu dan tidak mencari kabar-kabar goib dari selain wahyu Ilahi, seperti misalnya melalui analisa-analisa akal pikiran. Kewajiban kita adalah harus percaya dan menerima.
Sudah banyak orang yang tersesatkan karena mereka tidak mengikuti manhaj Ahlussunnah dalam hal qodar. Banyak dari mereka yang sampai pada pendustaan al-qodar (Naudzubillah), maka keluarlah mereka dari Islam dan masuklah mereka ke lorong-lorong gelap yang tiada berujung. Semua itu karena mereka tidak puas dengan manhaj yang haq ini dan mencoba memecahkan “sirrullah” tadi.
Ada di antara mereka yang mengatakan bahwa Alloh tidak mengetahui sesuatu sebelum hal itu terjadi dan hal-hal di masa depan belum tertentukan. Dengan akidah seperti ini, tuhan mereka bukanlah Alloh yang kita ibadahi. Tuhan mereka adalah tuhan lainnya yang jahil, yang sering terkaget-kaget oleh ulah makhluknya. Kalau tuhan mereka tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadi, dengan sendirinya yang menciptakan hal yang terjadi itu bukanlah Dia. Mereka akan mengatakan: Ya! Si pelakulah yang meng ”ada” kan hal itu, baik si pelaku itu manusia atau lainnya. Jadi di sini kita dapati adanya banyak pencipta. Syirik!! Tak ada nama lain untuk aqidah seperti ini!
Sebagai penutup masalah qodar ini, ada baiknya dijelaskan bahwa Alloh mempunyai dua hukum:
1). Hukum qodar (Kauni): hukum ini pasti terlaksana dan terwujud atas makhluk-makhlukNya. Kita tidak mengetahui tentang hukum ini, kecuali setelah terlaksana. Kewajiban kita menghadapi hukum ini adalah beriman kepadanya dan menerimanya. Kita tidak boleh berdalih dengan hukum ini sebelum hukum ini terjadi, karena kita tidak mengetahui sebelumnya. Kalau yang terjadi adalah kebaikan, maka kita syukuri hal itu. Kalau yang datang adalah keburukan, maka kita terima dan kita sabari serta tidak menyalahkan Sang Pencipta. Semua itu datang dari Alloh. Hukum ini adalah kehendak Alloh atas kita. Kita tidak dituntut untuk memikirkan dan melaksanakan kehendak ini. Kita hanya harus pasrah ketika hal itu telah terjadi.
2). Hukum syari’ah: Yaitu hukum-hukum agama yang harus kita laksanakan. Hukum ini adalah kehendak (tuntutan) Alloh dari kita. Kewajiban kita terhadap hukum ini adalah mengimani dan melaksanakannya semaksimal mungkin, tanpa berdalih dengan qodar untuk meninggalkannya.
· Ahlussunnah beriman pada wahyu (Kitab dan Sunnah) seluruhnya, tidak meninggalkan sebagian dan menerima sebagiannya lagi. Seluruh wahyu harus diterima dan ditegakkan.
· Ahlussunnah berprinsip menegakkan Amar Ma’ruf’ Nahi Munkar.[26]
لَتَأْمُرُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ اْلمُنْكَرِ ، أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهْ ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Kalian perintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar atau Alloh akan menurunkan hukuman dari sisi-Nya secara merata kemudian kalian berdoa kepada-Nya tetapi tidak dikabulkan-Nya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad yang hasan)
ماَ مِنْ قَوْمٍ يَكُوْنُ بَيْنَ أَظْهُرِهِمْ مَِنْ يَعْمَلُ اْلمَعَاصِي،هُمْ أَعَزُّ مِنْهُ وَأَمْنَعُ ، وَلَمْ يُغَيِّرُوْا ، إِلاَّ أَصَابَهُمُ اللهُ مِنْهُ بِعَذَابٍ
“Tidak ada satu kaumpun yang ditengah-tengah mereka ada orang yang berbuat maksiat padahal mereka lebih terhormat dan lebih kuat akan tetapi mereka tidak merubah maksiat tersebut kecuali Alloh akan menimpakan adzab kepada mereka” (HR. Abu dawud dengan sanad yang sohih).
______________________________________________________________
[1] Lihat kitab "Manhaj Al Istidlal `ala Masail Al I`tiqod `Inda Ahli As Sunnah wa Al Jama`ah", karya `Utsman bin `Ali Hasan : 1/ 40-44
[2] (HR. Abu Daud, no. 3607; Tirmidzi, no.2678; dan dia berkata, “Ini hadits hasan shohih”, Ibnu Majah, no.43; serta dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani, dalam Shohih Sunan Ibnu Majah, no.40-41)
[3] (HR. Abu Daud, no.4604; Imam Ahmad, 4/130; Ibnu Hibban, no.11; dan Tirmidzi, no.2666; dia berkata, “Ini hadits hasan ghorib dari jalan tersebut”, serta dishohihkan oleh Syeikh Al Albani, dalam Shohih Ibnu Majah, no.12)
[4] (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dalam Al Marosil, no.536; Syaikh Su`aib Al Arnauth berkata, “Rijalnya tsiqot, rijal Syaikhoin.”)
[5] Baca Kitab “Ma Ana `Alaihi wa Ashhabi”, Ahmad Salam
[6] (HR. Tirmidzi, no.2172; Imam Ahmad dalam musnadnya, 1/114; Ibnu Majah, no.2363; Ibnu Hibban, no.7254; dan dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no.431)
[7] (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, 1/115–117)
[8] Baca kitab “Hujjiyyah Qoul Sohabiy `inda As Salaf”, Dr. Tarhib bin Rubai`an bin Hadi Ad Dausiri. Kitab “Al Muwafaqot”, Asy Syatibi. Kitab “A`lam Al Muwaqqi`in”, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah.
[9] Baca “Hakikot Al Bid`ah wa Ahkamuha”, Sa`id bin Nasir Al Ghomidi
[10] (HR. Abu Daud, no.3607; Tirmidzi, no.2678; dan dia berkata, “Ini hadits hasan shahih”, Ibnu Majah, no.43; serta dishahihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no.40-41)
[11] Baca Kitab “ Zawabi` Fi Wajh As Sunnah Qodiman wa Haditsan”, Sholahuddin Maqbul Ahmad serta Kitab “Ash Showaiq Al Mursalah”, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah.
[12] Baca Kitab “Manhaj Al Istidlal `Ala Masail Al I`tiqod”, `Utsman bin Ali Hasan.
[13] Baca Kitab “Mabahits Fi `Ulum Al `Aqidah”, Dr. Haedar bin Ahmad As Sofih : 6-7
[14] (HR. Imam Ahmad, 1/391)
[15] (HR. Bukhari, no.25; dan Muslim, no.22)
[16] Baca Kitab “Hukmulloh Wa Ma Yunafiha”, Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Al Abdul Lathif. Atau Kitab “Tahkim Al Qowanin”, Syeikh Muhammad bin Ibrohim Al Syeikh.
[17] Baca kitab “Al Madkhol Li Dirosat Al `Aqidah Al Islamiyyah”, Dr. Ibrohim Muhammad Al Buraikan : 224-228
[18] (HR. Ahmad, 4/286; Al Hakim dalam Al Mustadrok, 2/480 dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shohihah, 1728)
[19] (HR. Imam Ahmad, no.22269)
[20] (HR. Bukhori, no.209; Muslim, no.439; Tirmidzi, no.65; Abu Daud, no.19; An Nasai, no.31; Ibnu Majah, no.341; Ahmad, no.1877; dan Ad Darimi, no.732)
[21] (HR. Bukhori, no.789; Muslim, no.925; Abu Daud, no.746; An Nasai, no.1292; Ibnu Majah, no.3828; dan Ahmad, no.23166)
[22] (HR. Bukhori, no.1294; Muslim, no.4810; An Nasai, no.1925; Abu Daud, no.4088; dan Ahmad, no.1748)
[23] (HR. Muslim, no.4797; Tirmidzi, no.2082; dan Ahmad, no.6291)
[24] (HR. Imam Malik, no.1395; Tirmidzi, no.3001; Abu Daud, no.4081; dan Ahmad, no.294)
[25] Hr. Ahmad : 26216
[26] Baca Kitab “Al Amr bi Al Ma`ruf wa An Nahyu `An Al Munkar Ushuluh wa Dowabituh wa Adabuh”, Kholid bin `Utsman As Sabt.
Facebook : PRINSIP-PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar