Sabtu, 07 Juli 2007

.:: BID'AH


A. Penjelasan Tentang Bid’ah.
Sudah dijelaskan sebelumnya, arti dari kata Sunnah. Maka pada bab ini kita coba untuk menyelami arti bid’ah. Bid’ah adalah semua aqidah, amal perbuatan atau peribadatan yang mengatasnamakan Islam tetapi tidak pernah disyari’atkan oleh Islam. Semua bentuk ritual keagamaan yang dilakukan untuk mengharap-kan pahala dari Alloh  tetapi tidak ada dalam ajaran-ajaran Rosululloh ,  adalah bid’ah. Cara memahami dan menerapkan Islam yang berbeda dengan manhaj Rosululloh  dan para sohabatnya adalah bid’ah.         
Berikut beberapa hal yang berkaitan bid’ah yang harus diketahui:
1.    Dari segi berat dan ringannya, bid’ah terbagi atas dua tingkatan, yaitu bid’ah mukaffiroh (bid’ah yang menjadikan pelakunya kafir) dan bid’ah goir (bukan) mukaffiroh (bid’ah yang tidak menjadikan pelaku-nya kafir).        
Pelaku bid’ah mukaffiroh, biasanya tidak disebut sebagai ahlul bid’ah, tetapi sudah termasuk kuffar (orang-orang kafir). Sedangkan bid’ah goir mukaf-firoh, pelakunya masih di dalam lingkaran Islam.
Contoh bid’ah mukaffiroh; berdoa dan memohon kepada makhluk tentang hal-hal yang semestinya hanya diminta kepada Alloh l saja, seperti meminta keturunan kepada kuburan-kuburan dan lain-lain. Contoh bid’ah goir mukaffiroh, seperti merayakan maulid Nabi Muhammad SAW.
2.   Bid’ah dari segi bentuknya, terbagi menjadi dua ma-cam, yaitu bid’ah haqiqiyah (bid’ah asli) atau murni, artinya bid’ah yang memang tidak ada asalnya sama sekali pada ajaran Islam (contohnya seperti maulid Nabi n) dan bid’ah idofiyah (bid’ah penambahan), yaitu bid’ah yang sebenarnya merupakan amal per-buatan yang asalnya syar’i tetapi ditambah-tambah, seperti berdzikir secara jama’ah.
Bid’ah dalam istilah syar’i, hanya mencakup hal-hal yang berkaitan dengan peribadatan dan aqidah serta agama pada umumnya, dan tidak mencakup selain itu.
Bid’ah bisa bercampur dengan sunnah dalam suatu amal peribadatan. Ketika hal ini terjadi, maka secara keseluruhan amal tersebut masuk dalam kategori bid’ah.     
Sebuah amal mempunyai beberapa unsur seperti: isi, waktu, cara, jumlah dan lain-lainnya. Bid’ah mungkin bisa terjadi pada salah satu dari unsur-unsur tersebut atau semuanya. Contohnya berdzikir bersama-sama (dengan berbarengan) dan dengan suara yang keras. Berdzikir itu sendiri adalah sunnah dan isinya pun bisa sunnah, seperti istigfar atau kalimat tauhid, tetapi bila dengan cara berbarengan adalah bid’ah. Secara keseluruhan amal ini adalah bid’ah.
3.   Bid’ah juga terbagi atas bid’ah aqidah dan bid’ah ‘amaliyah. Karena aqidah lebih penting dari amal jasmani, maka bid’ah pada aqidah pun lebih buruk dari bid’ah ‘amaliyah, bahkan kebanyakan bid’ah ‘amaliyah didorong oleh bid’ah aqidah.
Semua bid’ah dalam agama (Islam) adalah buruk dan sesat, tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian orang bahwa bid’ah terbagi dua yaitu; bid’ah say-yiah (buruk) dan bid’ah hasanah (baik).
B. Keburukan Bid’ah.
Dengan menyimak hadits-hadits Rosululloh  dan perka-taan para salafussoleh di bawah ini, kita akan lebih me-nyadari keburukan dan bahaya bid’ah.
Rosululloh  bersabda: 
“Berhati-hatilah kalian dari hal-hal yang baru, se-sungguhnya setiap hal yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)                    
“Barangsiapa yang membuat hal-hal baru dalam agama ini, yang bukan bagian darinya, maka hal tersebut tertolak.” (HR. Bukhori)

Sesungguhnya Alloh telah mencegah taubat bagi orang yang mengerjakan bid’ah, sehingga ia me-ninggalkan bid’ahnya.” (HR. Tobroni dengan sanad yang hasan)
Imam Baihaqi  dalam Sunanulkubro meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas  bahwa ia berkata:
“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci Alloh  adalah bid’ah, dan di antara bid’ah adalah i’tikaf di masjid-masjid yang ada di rumah-rumah.” 
Hasan Basri  berkata:
“Alloh tidak akan menerima puasa, solat, haji dan umroh dari ahli bid’ah hingga ia mening-galkan bid’ahnya.”
Muhammad bin Aslam  berkata:
( مَنْ وَقَّرَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ اْلإِسْلاَمِ )
“Barangsiapa yang menghormati ahlul bid’ah, maka sesungguhnya ia telah memberikan pertolongan untuk merobohkan Islam!”                
Abu Ma’sar  berkata:
( سَأَلْتُ إِبْرَاهِيْمَ عَنْ شَىْءٍ مِنْ هَذِهِ اْلأَهْوَاءِ ، فَقَالَ: مَا جَعَلَ اللهُ فِيْ شَىْءٍ مِنْهَا مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، مَا هِىَ إِلاَّ نَزْغَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، عَلَيْكَ بِأَوَّلِ الاَمْرِ )
“Aku bertanya kepada Ibrahim tentang sesuatu yang menyangkut hawa nafsu ini (bid’ah), kemudian ia berkata: “Alloh tidak menjadikan sedikit kebaikan pun padanya. Bid’ah adalah suatu dorongan dari setan. Maka ikutilah agama yang murni!” 
Ayub Sikhtiyani  berkata:
( مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ إِجْتِهَاداً إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً )
“Tambah giat seorang ahlul bid’ah berbuat bid’ah, tam-bah jauh pula ia dari Alloh.” 
Sufyan Tsauri  berkata:
( اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، اَلْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لاَ يُتَابُ مِنْهَا )
“Bid’ah lebih disukai Iblis dari pada maksiat. Maksiat dapat diharapkan bertaubat orangnya, sedangkan bid’-ah tidak diharapkan taubatnya.”  
Fudoil bin ‘Iyad   berkata:
( إِذَا رَأَيْتَ مُبْتَدِعًا فِيْ طَرِيْقٍ فَخُذْ فِيْ طَرِيْقٍ آخَرَ، وَلاَ يَرْفَعُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ إِلَى اللهِ عَمَلٌ، وَمَنْ أَعَانَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ اْلإِسْلاَمِ )
“Apabila engkau melihat seorang ahlul bid’ah di jalan, tempuhlah olehmu jalan lain. Tidak ada suatu amal pun dari ahlul bid’ah yang sampai kepada Alloh. Barangsiapa yang membantu seorang pelaku bid’ah, maka berarti dia telah membantu merobohkan Islam!”.

Tidak ada komentar:

ARSIP HASMI SOLO