﴿ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ﴾
“Tunjukilah kami sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. al-Fatihah (1): 6]
Akan tetapi, ketika arti sirotulmustaqim adalah Islam itu sendiri, mengapa kita yang sudah menjadi orang-orang Islam, masih saja diperintahkan untuk terus memohon sirotulmustaqim, bahkan sampai akhir hidup kita? Bukankah kita sudah dan telah mendapatkannya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menyimak hal-hal berikut:
A. Arti “Hidayah”.
Dalam ayat-ayat al-Qur’an, hidayah mempunyai dua arti atau dua sisi dari satu arti. Yaitu:
1. Hidayah dalam arti “ilmu”.
Pada hakikatnya substansi kata-kata hidayah adalah “ilmu”. Yaitu ilmu yang benar yang menuntun se-seorang menuju sirotulmustaqim dan memandunya untuk meniti jalan tersebut.
Ilmu ini berasal dari Alloh dan diberikan kepada hamba-hamba-Nya melalui para rosul-Nya. Kemudian disebarkan kepada seluruh umat manusia oleh para pewaris kenabian, yaitu para ’ulama, bahkan siapa saja yang memiliki bagian dari ilmu yang dibawa oleh para nabi, mampu “memberikan” hidayah ini, sebatas ilmu yang mereka miliki.
Jadi hidayah dalam arti ilmu bisa dituntut dari para rosul, para ’ulama dan siapa saja yang memilikinya.
Ilmu yang dimaksud adalah ”ilmu tentang apa-apa yang harus kita percayai dan kita amalkan, serta apa-apa yang harus kita ingkari dan kita tinggalkan untuk mendapat keridoan Alloh ”.
Hidayah seperti ini dinamakan pula hidayatuddilalah. Tetapi pemberian hidayah ini oleh mereka yang me-milikinya hanya sampai pada tahap “penyampaian” saja.
﴿ …وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴾
”Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk (hidayah) kepada sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. asy-Syuro (42): 52]
Hidayah yang dimaksud dalam ayat tersebut di atas adalah hidayatuddilalah.
2. Sisi atau arti lain dari “hidayah” dinamakan “taufîq”.
Hidayah taufiqiyah adalah tuntunan Alloh atas hati kita dan pertolongan-Nya yang menjadikan kita menginginkan, mengetahui dan akhirnya mampu meniti sirotulmustaqim.
Hidayah ini disebut juga dengan nama hidayatut-taufiqiyah. Tanpa hidayah ini, maka hidayatul-‘ilmiyah atau hidayatuddilalah, tidak ada guna-nya sama sekali.
﴿ إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَآءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴾
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat mem-beri petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS. al-Qoshosh (28): 56]
Yang dimaksud hidayah dalam ayat di atas adalah hidayatuttaufiqiyah yang hanya Alloh sajalah yang bisa memberikannya. “Hidayah ini dimulai dari berimannya seseorang”, kemudian mencakup:
a. Kemauan dan kemampuan untuk belajar ilmu yang benar.
b. Mendapatkan guru atau sumber untuk belajar ilmu yang benar.
c. Mempelajari ilmu tersebut.
d. Memahami apa yang dipelajari.
e. Menerima apa yang telah dipahami.
f. Menerapkan dan mengamalkan apa-apa yang diterima.
g. Keikhlasan untuk meniti semua hal tersebut di atas.
h. Ittiba’ (pengikutan) kepada Rosululloh dalam pemahaman dan pengamalan.
Dikarenakan ajaran-ajaran Islam terlalu luas dan trik-trik atau tipu daya penyesatan dari setan pun terlalu banyak, maka jika kita menghendaki agar kita selalu berada dalam keislaman dan tetap dapat mem-pertahankan prestasi-prestasi keislaman (kebaikan atau amal perbuatan taat) yang sudah kita miliki, juga bila kita ingin selamat dari trik-trik penyesatan tersebut di setiap waktu, maka kita pun membutuhkan hidayah dengan kedua sisi dan seluruh cakupannya seumur hidup kita.
Dengan demikian jelaslah mengapa kita harus selalu memohon dan berusaha untuk mendapatkan hida-yah menuju sirotulmustaqim secara terus menerus.
B. Cara Mendapatkan Hidayah Menuju Sirotul-mustaqim.
1. Memohon kedua sisi hidayah tersebut dari yang memilikinya secara mutlak.
Kita harus terus menerus memohon hidayah kepada Alloh , baik dalam solat maupun di luar solat, karena hanya Dia-lah yang sanggup memberi-kannya kepada kita dalam bentuk yang sempurna dan berguna.
﴿ ...وَاللهُ يَهْدِي مَنْ يَشَآءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴾
“...Dan Alloh selalu memberi hidayah (petun-juk) kepada sirotulmustaqim (jalan yang lurus) untuk orang yang dikehendaki-Nya.” [QS. al-Baqoroh (2): 213]
Dalam hadits qudsi, Alloh berfirman:
(( يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ ))
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Aku beri hidayah (petunjuk), maka hendaklah kalian meminta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim)
2. Belajar dan beramal.
Setiap orang yang bermujahadah (bersungguh-sungguh) diri untuk mempelajari ilmu yang diberikan Alloh kepada para rosul-Nya dengan ikhlas dan mengamalkan apa-apa yang dipelajarinya, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu ilmu yang belum di-ketahuinya. Ketika mengamalkan ilmu baru terse-but, maka diberikan lagi baginya ilmu-ilmu yang belum pernah diketahuinya, demikian seterusnya.
﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴾
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (men-cari keridoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [QS. al-‘Ankabut (29): 69]
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir berkata:
( اَلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ بِمَا يَعْلَمُوْنَ يَهْدِيْهِمُ اللهُ لِمَا لاَ يَعْلَمُوْنَ )
“Yaitu orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, maka Alloh akan menunjuki mereka ilmu-ilmu yang belum mereka ketahui.”
3. Bertakwa kepada Alloh .
Selama seorang muslim memegang teguh perintah Alloh dan mentaati-Nya serta menjauhi dan menghindari larangan-Nya, selama itu pula Alloh akan memberi hidayah kepada hatinya, dan meng-anugerahinya cahaya yang akan meneranginya saat ia berjalan dalam kegelapan.
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَءَامِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ ﴾
“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rosul), bertaqwalah kepada Alloh dan ber-imanlah kepada Rosul-Nya, niscaya Alloh memberikan rahmat-Nya kepada kalian dua bagian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. al-Hadid (57): 28]
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ﴾
“Hai orang-orang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Alloh , niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqon dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar.” [QS. al-Anfal (8): 29]
Catatan:
Furqon adalah kemampuan untuk mengenal dan membe-dakan antara kebenaran dan kebatilan, dan ini adalah inti dari hidشyah.
Ibnu Katsir berkata:
( فُرْقَانًا: فَصْلاً بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ )
“Furqon adalah pembeda antara kebenaran dan ke-batilan.”
as-Sa’di berkata:
( اَلْفُرْقَانُ: وَهُوَ الْعِلْمُ وَالْهُدَى الَّذِيْ يُفَرِّقُ بِهِ صَاحِبُهُ بَيْنَ الْهُدَى وَالضَّلاَلِ، وَالْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ، وَأَهْلِ السَّعَادَةِ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ )
“Furqon adalah ilmu dan hidayah yang dengan kedua-nya pemiliknya dapat membedakan antara hidayah dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, yang halal dan haram, serta antara peniti jalan kebahagiaan dengan jalan keseng-saraan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar