Alloh telah memancangkan suatu jalan yang lurus menuju kepada-Nya. Namun hanya ada satu jalan! Siapa yang menitinya sampai akhir, maka dia akan selamat dan men-dapatkan kehidupan yang baik ketika di dunia, dan menda-patkan kebahagiaan dan kenikmatan abadi tiada tara di akhirat nanti.
Jalan itu adalah sirotulmustaqim!
Jalan itu adalah Islam!
Untuk mengelabui manusia dan mengecohkan mereka agar tidak memilih sirotulmustaqim (Islam), setan pun membuat jalan-jalan lain di sekeliling Islam, yang merupakan agama-agama dan manhaj-manhaj sesat, baik klasik maupun kontemporer. Agama-agama, aliran-aliran dan manhaj-manhaj sesat tersebut disediakan setan sebagai wadah spiritual dan sospol alternatif untuk menampung mereka yang tersesatkan dari sirôtulmustaqîm dan tidak memasu-kinya, atau untuk mereka yang belum mendapatkan da’wah sirotulmustaqim.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللَّهِ
خَطًّا ثُمَّ قَالَ: (( هَذَا سَبِيْلُ اللَّهِ ))، ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: (( هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيْدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ: وأنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ))
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud , ia berkata bahwa suatu saat Rosululloh menggaris suatu garis lurus kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan Alloh’, kemudian beliau membuat beberapa garis di kanan dan kirinya, dan bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan, di setiap jalan ini ada setan yang menyeru kepadanya!’, kemudian beliau membaca ayat: ‘Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan jangan kalian ikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya akan menyimpangkan kalian dari jalan-Nya.” QS. al-An’am (6): 153.” (HR. Bukhori, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi)
Di sini jelas sekali digambarkan bahwa setan menyeru kepada jalan-jalan alternatif, yang tidak diragukan lagi akan menuntun penitinya ke pintu-pintu Jahannam. Na’udzu billah!
Untuk mengeluarkan mereka yang sudah meniti sirotul-mustaqim, setan pun membuat ajaran-ajaran dan aliran-aliran yang mencampuradukkan antara kebenaran Islam dengan kebatilan. Jalan-jalan ini menempel ke jalan sirotulmustaqim, hingga seakan-akan merupakan cabang-cabangnya. Sehingga orang yang berjalan di atasnya akan berpijak dengan satu kakinya di dalam Islam dan kaki satunya lagi berada di luar Islam, atau bisa jadi keduanya di luar Islam.
Ditinjau dari bagaimana posisi kakinya yang di dalam Islam dan bagaimana yang di luar Islam, mereka terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
1. Mereka yang sudah keluar dari Islam (murtad).
2. Mereka yang belum keluar dari Islam (ahlul bid’ah).
Semua bentuk penyelisihan tersebut, selain disebab-kan hawa nafsu dan kejahilan manusia sendiri, juga dika-renakan peranan setan dalam menjerumuskan manusia sangat dominan.
Rosululloh bersabda:
(( ضَرَبَ اللهُ تَعَالَى مَثَلاً صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُوْرَانِ، فِيْهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى اْلأَبْوَابِ سُتُوْرٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُوْلُ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيْعًا وَلاَ تَعْوَجُّوْا، وَدَاعٍ يَدْعُوْ مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ اْلإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ اْلأَبْوَابِ قَالَ: وَيْحَكَ لاَ تَفْتَحْهُ، إِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، فَالصِّرَاطُ اْلإِسْلاَمُ، وَالسُّوْرَانِ حُدُوْدُ اللهِ تَعَالَى، وَاْلأَبْوَابُ المُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللهِ تَعَالَى، وَذَلِكَ الدَّاعِي كِتَابُ اللهِ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ ))
“Alloh mengumpamakan sirotulmustaqim sebagai sebuah jalan yang di samping kanan dan kirinya terdapat pagar, pada masing-masing pagar terda-pat pintu-pintu yang terbuka, pada pintu-pintu itu terdapat tirai yang terurai. Di pangkal sirot ada penyeru yang mengatakan: ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke dalam sirot dan jangan membelok!’. (Di samping itu) ada pula penyeru (lain) dari atas sirot yang jika seseorang ingin membuka sesuatu dari pintu-pintu tersebut ia berkata: ‘Celaka kamu, jangan engkau buka pintu itu, jika engkau membukanya, maka engkau akan masuk ke dalamnya!’.
Sirot tersebut adalah Islam, dua pagar adalah hudud (ketentuan-ketentuan) Alloh, dan pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan Alloh, adapun yang menyeru di pangkal sirot adalah penyeru Kitabulloh, dan penyeru dari atas sirot adalah peringatan Alloh yang ada pada hati setiap muslim.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Hakim)
Jadi (al-Qur’an) adalah yang menyeru manusia untuk meniti sirotulmustaqim (masuk Islam) setelah ia mena-pakinya. Alloh memberikan kepada setiap orang wa’iz (pemberi peringatan) di dalam hatinya, sebesar kadar ketakwaannya. Setiap orang yang ingin melanggar hudud (larangan-larangan atau batasan-batasan) Alloh , maka “pemberi peringatan” tersebut akan memperingatkannya. Siapa yang mentaatinya ia akan selamat, dan setiap orang yang menolak peringatannya serta terus melanggarnya, dia akan terjebak ke dalam bahaya yang mengancam. Kalau pelanggarannya sampai mengelu-arkan dirinya dari Islam, maka dia menjadi seorang kafir. Kalau pelanggarannya belum mengeluarkannya dari Islam, seperti kebid’ahan dan kemaksiatan (pengabaian perintah atau pelanggaran larangan), maka akan tetap berstatus muslim dengan menyandang noda-noda kesalahan yang kelak ketika ia menyeberangi jembatan di atas Jahannam akan berupa luka-luka dikarenakan pukulan jangkar-jangkar yang mungkin saja akan menjatuhkannya ke neraka. Kecuali kalau ia mendapat ampunan dari Alloh , baik dengan sebab taubatnya di dunia maupun tanpa taubat, yaitu karena pahala-pahala amalannya atau semata-mata karena rahmat Alloh saja.
Oleh karena itu, ketika di dunia kita semua hendaknya meniti sirotulmustaqim dengan sungguh-sungguh, karena kesungguhan ini akan berlanjut kepada kemudahan peni-tian sirot ketika di akhirat kelak, karena amal perbuatan akan diganjar dengan balasan yang setimpal.
﴿ ...تُجْزَوْنَ إِلاَّ مَاكُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾
“...Tiadalah kalian dibalasi, melainkan (setimpal) de-ngan apa yang dahulu kalian kerjakan.” [QS. an-Naml (27): 90]
Maka dari itu, masing-masing kita hendaknya memperha-tikan banyaknya syubhat dan syahwat yang merintangi penitian kita dalam meniti sirotulmustaqim, karena sesungguhnya syubhat dan syahwat tersebut tiada lain adalah jangkar-jangkar yang ada di kedua sisi sirot yang akan kita lalui ketika di akhirat nanti. Ya, jangkar-jangkar yang dapat menjerumuskan dan menghalangi orang-orang yang akan melewatinya. Bila ketika di dunia kita menyandang banyak noda kesalahan karena syubhat dan syahwat, maka di akhirat kita pun akan membawa banyak goresan luka akibat tikaman jangkar!
﴿ مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَا وَمَارَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِّلْعَبِيدِ ﴾
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang soleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Robbmu menganiaya hamba-hamba-(Nya).” [QS. Fushshilat (41): 46]
Pintu-pintu yang terbuka dan bertirai itu adalah jalan-jalan penyelisihan dari sirotulmustaqim bagi mereka yang telah memasukinya. Setan membujuk manusia untuk memasuki jalan-jalan itu dengan segala tipu muslihat.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa penyelisihan dari sirotul-mustaqim terbagi atas tiga bagian utama, yaitu:
1. Tidak masuk sirotulmustaqim sama sekali, atau keluar total dari sirotulmustaqim setelah memasukinya (murtad).
Penyelisihan semacam ini adalah bentuk kekafiran atau kesyirikan. Pelakunya, jika tidak memasuki (kembali) sirotulmustaqim, maka sampai mati akan kekal di neraka. Dasar dari penyelisihan ini adalah tidak meneri-ma syahadatain secara bulat dan tidak mau berkomit-men kepadanya.
2. Penyelisihan kedua terjadi pada mereka yang meneri-ma syahadatain, mengikrarkan dan menerima “TIADA ILAH (TUHAN) YANG BENAR SELAIN ALLOH” dan “MUHAMMAD ADALAH ROSULULLOH”, tetapi mereka jatuh ke dalam kesalahan mendasar dalam ittiba’ (pengikutan kepada Rosululloh
) dalam pemaha-man dan penerapan terhadap beberapa bagian dari Islam. Tetapi hal itu hanya dikarenakan berpegang pada prinsip-prinsip dasar yang salah dalam ittiba’, tanpa sengaja menolak ittiba’.
Atau setelah menerima syahadatain dan mau berko-mitmen kepada ittiba’ serta tidak berpegang kepada salah satu prinsip bid’ah, namun penerapan keislaman mereka tetap didominasi oleh praktek-praktek kebid’ahan. Kedua golongan ini adalah ahlul bid’ah.
Walaupun pada umumnya mereka masih berada di dalam lingkaran Islam, akan tetapi apa yang mereka kerjakan adalah dosa-dosa yang sangat besar. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang terus berkembang kebid’ahannya sampai terjerumus kepada kekafiran yang nyata. Walaupun secara teori penyelisihan ini lebih kecil dibanding penyelisihan pertama, tetapi penyelisihan ini bisa dinamakan pembunuhan terha-dap Islam secara perlahan-lahan, karena dengan terus berkembangnya bid’ah, maka ajaran Islam yang benar (Sunnah) lama kelamaan akan tergantikan oleh bid’ah tersebut hingga pada akhirnya akan menghilang. Walaupun secara praktek hilangnya Islam tidak akan terjadi karena Alloh
telah berjanji untuk menjaganya dan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman.
3. Penyelisihan ketiga adalah penyelisihan yang berbentuk “pengabaian perintah” atau “pelanggaran larangan”.
Penyelisihan ini pada asalnya tidak didasarkan pada penolakan syahâdatain dan bukan juga jatuh pada ke-salahan mendasar dalam ittiba’, tetapi hanya dikarena-kan kelemahan dalam melawan hawa nafsu dan juga seringkali dikarenakan kejahilan.
Pengabaian atau peninggalan perintah seperti; perintah menutup aurat, menutup mata terhadap aurat orang lain, berbakti kepada orang tua, meninggalkan solat lima waktu dan sebagainya. Sedangkan pelanggaran larangan misalnya: menggunjing, pacaran, berzina, mencuri, menipu, dan lain-lain.
Walaupun akibat penyelisihan ini cukup mengerikan, baik ketika di dunia maupun di akhirat dikarenakan noda-noda dosa yang bisa menghitamkan hati (kebanyakan orang tidak menyadarinya), tetapi pada umumnya bukanlah penyelisihan yang mendasar. Kecuali beberapa bentuk darinya yang bisa sampai mengeluarkan sese-orang dari Islam (seperti meninggalkan solat lima waktu misalnya), dan sebagian lain termasuk dosa-dosa besar (seperti berzina, mencuri, dan lain-lain), yang dapat mengantarkan seseorang untuk menetap sangat lama di neraka Jahannam, sebelum dikeluarkan untuk memasuki surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar