Dalam hal ini Imam asy Syathibi memberikan penjelasan yang sangat baik sebagai berikut:
Alloh berfirman:
“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Robbmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”…. (QS. Hud [11]:118-119)
Alloh mengabarkan bahwa mereka senantiasa berselisih pendapat selama-lamanya, karena memang Alloh menciptakan mereka untuk berselisih pendapat. Yaitu sebagaimana perkataan para ahli tafsir dalam ayat: “Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”, maknanya adalah untuk berselisih pendapatlah Alloh menciptakan mereka. Hal ini diriwayatkan dari Malik bin Anas , dia berkata: Alloh menciptakan mereka agar sebagian mereka masuk jannah dan sebagian mereka masuk neraka, dan hal yang senada diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri . Kata ganti “mereka” dalam kalimat “Alloh menciptakan mereka” kembali kepada manusia, dan itu tidak mungkin terjadi (penyimpangan) kecuali setelah datangnya ilmu (kepada mereka). Selisih pendapat yang dimaksud di sini bukanlah selisih pendapat dalam rupa, seperti bagus, jelek, panjang dan pendek. Tidak pula selisih pendapat dalam warna, seperti merah dan hitam. Tidak pula dalam bentuk fisik seperti fisik sempurna, buta, melihat, tuli dan mendengar. Tidak pula dalam perangai seperti pemberani, pengecut, pemurah dan bakhil. Dan tidak pula dari perbedaan sifat-sifat sejenis lainnya.
Sesungguhnya yang dimaksud adalah selisih pendapat tertentu (selisih pendapat dalam perkara tauhid atau akidah), yaitu selisih pendapat yang Alloh mengutus para nabi-Nya untuk menghukumi di antara orang-orang yang berselisih pendapat, sebagaimana firman Alloh :
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…” (QS. Al-Baqoroh [2]:213)
Ini adalah selisih pendapat dalam bentuk perbedaan dari hasil pemikiran, aliran-aliran, agama-agama dan keyakinan-keyakinan yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kecelakaan manusia di dunia dan akhirat.” (al I’thisham II/165, dikutip dari Dirasat fil Ahwa wal Firaq wal Bida’ hal. 295-296).
Maka perselisihan itu benar-benar terjadi dan hakiki serta tidak dapat diingkari, sementara orang-orang yang mendapat taufik dari Alloh akan meniti jalan keselamatan dan menjauhi jalan-jalan kesesatan.
Alloh berfirman:
“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Robbmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”…. (QS. Hud [11]:118-119)
Alloh mengabarkan bahwa mereka senantiasa berselisih pendapat selama-lamanya, karena memang Alloh menciptakan mereka untuk berselisih pendapat. Yaitu sebagaimana perkataan para ahli tafsir dalam ayat: “Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”, maknanya adalah untuk berselisih pendapatlah Alloh menciptakan mereka. Hal ini diriwayatkan dari Malik bin Anas , dia berkata: Alloh menciptakan mereka agar sebagian mereka masuk jannah dan sebagian mereka masuk neraka, dan hal yang senada diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri . Kata ganti “mereka” dalam kalimat “Alloh menciptakan mereka” kembali kepada manusia, dan itu tidak mungkin terjadi (penyimpangan) kecuali setelah datangnya ilmu (kepada mereka). Selisih pendapat yang dimaksud di sini bukanlah selisih pendapat dalam rupa, seperti bagus, jelek, panjang dan pendek. Tidak pula selisih pendapat dalam warna, seperti merah dan hitam. Tidak pula dalam bentuk fisik seperti fisik sempurna, buta, melihat, tuli dan mendengar. Tidak pula dalam perangai seperti pemberani, pengecut, pemurah dan bakhil. Dan tidak pula dari perbedaan sifat-sifat sejenis lainnya.
Sesungguhnya yang dimaksud adalah selisih pendapat tertentu (selisih pendapat dalam perkara tauhid atau akidah), yaitu selisih pendapat yang Alloh mengutus para nabi-Nya untuk menghukumi di antara orang-orang yang berselisih pendapat, sebagaimana firman Alloh :
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…” (QS. Al-Baqoroh [2]:213)
Ini adalah selisih pendapat dalam bentuk perbedaan dari hasil pemikiran, aliran-aliran, agama-agama dan keyakinan-keyakinan yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kecelakaan manusia di dunia dan akhirat.” (al I’thisham II/165, dikutip dari Dirasat fil Ahwa wal Firaq wal Bida’ hal. 295-296).
Maka perselisihan itu benar-benar terjadi dan hakiki serta tidak dapat diingkari, sementara orang-orang yang mendapat taufik dari Alloh akan meniti jalan keselamatan dan menjauhi jalan-jalan kesesatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar