Jumat, 05 April 2013

.:: Sejarah Penyimpangan Umat Manusia.


I. Dahulunya umat manusia adalah umat yang berada di atas agama yang lurus.


Agama yang lurus adalah agama fitrah yang Alloh  fitrahkan kepada manusia, oleh karena itu agama ini sudah ada sejak adanya manusia, sebagaimana Alloh  berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alloh); (tetaplah atas) fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan (makhluk) Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]:30)

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia telah benar-benar Alloh fitrahkan di atas aqidah yang selamat. Dan Adam  adalah manusia pertama yang terfitrahkan dengan aqidah selamat ini. Dengan demikian Adam  adalah seorang yang bertauhid kepada Alloh  dengan tauhid yang murni, seorang yang berkeyakinan kepada Alloh tentang apa-apa yang diwajibkan berupa ta’zhim (pengagungan), ketaatan, roja’ (berharap baik) dan khosyyah (ketakutan kepada-Nya). Kemudian Alloh  pun telah mengambil perjanjian dari anak keturunan Adam  bahwa Dia adalah Robb mereka dan mempersaksikan atas diri mereka sendiri di sulbi-sulbi mereka, sebagaimana firman Alloh :

“Dan (ingatlah), ketika Robbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Robb kalian?”. Mereka menjawab: "Betul (Engkau Robb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (tauhid).”  (QS. Al-A’raf [7]:172)

Ayat ini bisa difahami bahwa semua manusia dilahirkan di atas fitrah, sebagaimana juga sabda Rosululloh  dalam hadits qudsi:
“… dan sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku di atas agama yang lurus semuanya, lalu datang kepada mereka Setan mengalihkan agama mereka, menghalalkan apa-apa yang haram dan memerintahkan agar menyekutukan-Ku dengan suatu yang tidak ada penjelasannya.” (HR Muslim)

Dan sabda beliau :
“Tidaklah seseorang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka ibu dan bapaknyalah yang akan membuat ia Yahudi, Nashrani atau Majusi (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut berlaku untuk seluruh manusia, maka Adam  dan generasi pertama dari keturunannya adalah lebih pantas untuk berada di atas aqidah selamat. Adapun syirik dan kesesatan adalah perkara yang muncul kemudian setelah beberapa zaman dan generasi secara bertahap.


II. Kapan mulai terjadinya penyimpangan.

Sejak Adam , umat manusia ada dalam aqidah selamat, di atas agama yang murni, namun setahap demi setahap terus menyimpang, sebagaimana firman Alloh :
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Alloh memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Alloh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqoroh [2]:213)

Ibnu Katsir  berkata: Dari Ibnu Abbas  ia berkata:
“Antara Nuh  dan Adam  adalah sepuluh generasi, semua di atas syari’at al-haq, lalu mereka berikhtilaf (menyimpang), maka Alloh mengutus para nabi-Nya untuk memberi kabar gembira dan peringatan.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa sebelumnya manusia berada di atas jalan yang lurus, di atas agama yang murni tanpa kesyirikan dan kekufuran. Kemudian manusia menyimpang dari kemurnian sampai titik kekufuran kepada Alloh  setelah 10 kurun, lalu diutuslah para nabi-Nya untuk mengembalikan mereka kepada agama yang lurus dan murni. Nabi pertama yang diutus ketika terjadi penyimpangan adalah Nuh .


III. Pelopor penyimpangan.

Pelopor penyimpangan adalah Iblis, ketika Alloh  memerintahkan kepadanya untuk bersujud kepada Adam , lalu dia menentang perintah Alloh , sebagaimana firman Alloh :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqoroh [2]:34)

Maka murkalah Alloh  kepada Iblis..!!  Kemudian Alloh  mengusirnya dari surga. Ketika itu Iblis meminta ditangguhkan untuk hidup hingga hari akhir dan Alloh  pun memberikan tangguh kepadanya. Lalu Iblis bersumpah untuk manyesatkan seluruh manusia, dari sinilah episode penyesatan manusia dimulai..!!
Alloh  berfirman:
“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkata: “Ya Robbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”.  Alloh berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas (ikhlash) di antara mereka.” (QS. Shad [38]:77-83)

Keberhasilan Iblis menyesatkan umat manusia yang pertama kalinya pada zaman Nuh  adalah hasil kerja kerasnya selama berabad-abad,  dan setelah manusia lupa dari peringatan Alloh .

Alloh  berfirman:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sekutu (teman) bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-‘Araf [7]:27)

Akhirnya kaum Nuh  menyembah patung orang-orang shaleh di antara mereka yang bernama: Wadd’, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.
Kejadiannya adalah ketika orang-orang shaleh di antara mereka telah meninggal dunia, mereka mulai beri’tikaf di kuburannya, namun mereka tidak merasa puas dengan hanya beri’tikaf saja, lalu mereka membuat patungnya, kemudian setahap demi setahap Iblis menanamkan kecintaan dan pensucian terhadap mereka, akhirnya sepeninggal para pendahulunya (para pembuat patung-patung itu) maka keturunan mereka beribadah kepada patung-patung tersebut.
Manhaj dasar Iblis dalam misi penyimpangan dari kemurnian adalah seperti manhajnya ketika menentang perintah Alloh , yaitu dengan alasan akal, sebagaimana firman Alloh :
“Alloh  berfirman: Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Shad [38]:75-76)

Berkata Ibnul Qayyim :
“Sesungguhnya penentangan terhadap wahyu dengan akal adalah warisan Syaikh Abu Murrah (Iblis), dia menentang wahyu dengan akal dan mengedepankan akal atas wahyu. Sesungguhnya Alloh  ketika memerintahkan dia untuk bersujud kepada Adam, Iblis menentang perintah-Nya dengan qiyas akal yang tersusun dari dua muqaddimah, pertama perkataan: “Aku lebih baik daripadanya”  ini muqaddimah shughra (kecil), sedangkan muqaddimah kubra (besar)-nya dihapus, yaitu: “Yang utama tidaklah bersujud kepada yang kurang utama”. Kemudian dia menyebutkan sandaran muqaddimah pertama, disebut juga sebagai qiyas hamly (tersusun dari dua muqaddimah dan kesimpulannya) yang terhapus dari satu di antara muqaddimahnya, lalu dia berkata: “Karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (ash Shawa’iq III/998-999)


Alasan yang rusak ini selanjutnya menjadi kaidah dan “manhaj” ahli hawa nafsu dalam menentang para nabi dan menentang kebenaran dari sisi Alloh .

Tidak ada komentar:

ARSIP HASMI SOLO