Jumat, 05 April 2013

.:: Penyimpangan Umat Ijabah (umat penerima dakwah Nabi Muhammad ).

Penyimpangan demi penyimpangan terus bergulir. Dan penyimpangan yang sampai pada derajat kekafiran adalah sebuah keterpurukan yang sangat dahsyat. Namun Alloh   senantiasa mengutus para nabi-Nya setiap kali manusia berada dalam jurang keterpurukan, hal ini untuk sebuah misi kebangkitan menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Gelombang keterpurukan dan kebangkitan senantiasa terjadi silih berganti hingga sampailah Nabi Muhammad  diutus untuk seluruh manusia di saat kegelapan meliputi dunia. Dakwah Nabi  menghasilkan orang-orang yang mengijabahi dan menjadi pelopor kebangkitan umat manusia setelahnya, sisanya tetap dalam kekufuran dan bahkan menjadi musuh dakwah.
Bukan berarti bahwa umat yang mengijabahi dakwah Nabi Muhammad  adalah umat yang tidak terancam dengan penyimpangan dan terlepas dari sunnatulloh. Sungguh sejak dini Alloh  telah memperingatkan agar bersatu, berpegang teguh dengan tali Alloh  dan tidak berpecah belah (menyimpang dari kemurnian), sebagaimana firman Alloh :
“Dan berpegang-teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepada kalian ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hati kalian, lalu jadilah kalian orang yang bersaudara; karena nikmat-Nya dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran [3]:103)

Nabi Muhammad  pun telah berwasiat untuk berpegang teguh dengan sunnahnya:
(( أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرُعَلَيْكُمْ عَبْدٌحَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ )) 
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Alloh dan dengar serta taatlah walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habsyi. Sesungguhnya orang yang hidup dari kalian sepeninggalku akan melihat penyimpangan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa rasyidin al-Mahdiyin, pegang teguhlah ia dan gigitlah dengan gigi geraham (benar-benar berpegang teguh). Dan jauhilah urusan-urusan baru (syari’at baru), sebab semua yang baru adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud) 

Maka sepeninggal Nabi Muhammad  penyimpangan pun dimulai, umatnya ada yang murtad, keluar dari Islam dan para sahabat telah memerangi mereka di bawah pimpinan Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq . Kemudian disusul penyimpangan demi penyimpangan dari kemurnian sebagai firqoh dhollah (golongan sesat) walaupun belum keluar dari Islam, sebagaimana sabda Nabi Muhammad :
((...وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِى النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً قَالُوْا: مَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَ أَصْحَابِيْ.))
“...dan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok keagamaan. Seluruhnya berada di api neraka, kecuali satu kelompok. Mereka (para sahabat) bertanya; ”Siapakah satu kelompok itu wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Mereka yang mengikuti jejakku dan jejak sahabat-sahabatku.” (HR. At-Tirmidzi No: 2643, Al-Hakim dalam al-Mustadrok: 1/218 dan Al-lalikai: 1/99)

“Terpecah..!!”   Itulah kenyataannya…

Hadits perpecahan umat ini adalah bukti nubuwwah Nabi , sebab realita telah menunjukkan adanya perpecahan umat sejak dini dan terus disusul dengan perpecahan-perpecahan yang menghasilkan firoq dhollah (golongan-golongan sesat) lainnya hingga sekarang dan akan terus terjadi hingga hari kiamat.
Perpecahan pertama terjadi pada sekitar tahun 37 H pada masa kekhi-lafahan Ali bin Abi Thalib  tepatnya, ketika peristiwa tahkim bi kitabillah (berhukum dengan Kitab Alloh). Keluarlah Khawarij dari jama’atul muslimin lalu disusul pada masa setelahnya oleh Syi’ah, Murji’ah, Mu’tazilah, dan lainnya.

Tidak ada komentar:

ARSIP HASMI SOLO