Kamis, 12 Januari 2012

MACAM-MACAM SHOLAT

A. Pembagian Sholat.
Sholat terbagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Sholat Fardhu
Yaitu sholat yang diwajibkan Alloh kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan batas-batas yang telah dijelaskan-Nya, baik melalui perintah maupun larangan. Dalam hal ini adalah sholat (5) waktu dalam sehari semalam yaitu: Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya, Fajar atau Shubuh.
2. Sholat Tathowwu‘
Yaitu sholat sunnah atau tambahan dari sholat fardhu 5 waktu, baik bersifat wajib maupun tidak wajib.
B. Pembagian Sholat Tathowwu‘.
Sholat tathowwu‘ ini memiliki 2 bentuk:
1. Sholat tathowwu‘ mutlaq.
Yaitu sholat sunnah yang batas dan ketentuannya tidak ditentukan oleh syara’, dikerjakan dua roka’at-dua roka’at, baik dikerjakan pada siang hari maupun malam hari. Akan tetapi, hendaklah sholat tathowuu’ ini tidak dilakukan terus menerus seperti sunnah rawatib serta tidak mengarah kepada bid’ah atau serupa dengan pelakunya.
2. Sholat tathowwu’ muqoyyad (terikat).
Yaitu sholat sunnah yang batas dan ketentuannya telah ditentukan oleh syara’.
Dalam hal ini antara lain sholat-sholat sunnah rawatib, yaitu:
- Sholat rotibah Fajar yaitu sholat 2 roka’at sebelum sholat fajar.
- Sholat rotibah Zhuhur yaitu sholat 2 atau 4 roka’at sebelum ataupun sesudah Zhuhur.
- Sholat rotibah ‘Ashar yaitu sholat 4 roka’at sebelum sholat ‘Ashar.
- Sholat rotibah Maghrib yaitu sholat 2 roka’at sesudah sholat Maghrib.
- Sholat rotibah ‘Isya yaitu 2 roka’at sesudah sholat ‘Isya.
Ibnu ‘Umar berkata:
“Aku menghafal 10 roka’at (sholat) dari Nabi 2 roka’at sebelum Zhuhur dan 2 roka’at sesudahnya, 2 roka’at setelah Maghrib di rumahnya 2 roka’at setelah ‘Isya di rumahnya, dan 2 roka’at sebelum sholat shubuh di saat Nabi tidak boleh dimasuki orang lain.” (HR. Bukhori)
Rosululloh bersabda:
“Barangsiapa yang menjaga 4 roka’at sebelum Zhuhur dan 4 roka’at sesudahnya, maka Alloh akan mengharamkan api neraka baginya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Rosululloh bersabda:
“Alloh mengasihi seseorang yang sholat 4 roka’at sebelum ‘Ashar” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Abu Dawud)
Sholat-sholat lain yang disyari’atkan dalam bagian ini, antara lain ialah:
a. Sholat malam/tahajjud dan witir (atau sholat tarawih di bulan Ramadhan)
‘Aisyah berkata:
“Rosululloh sholat setelah selesai sholat ‘Isya hingga Fajar yaitu 11 Roka’at dengan salam setiap 2 roka’at dan witir 1 roka’at” (HR. Muslim)
b. Sholat Dhuha 2 roka’at sampai dengan 12 roka’at.
Rosululloh bersabda:
“Tidak ada yang selalu menjaga sholat dhuha kecuali orang-orang yang bertaubat. Itulah sholat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
c. Sholat Tahiyyatul Masjid.
Rosululloh bersabda:
“Apabila salah seorang kalian maasuk masjid, maka sholatlah 2 roka’at sebelum ia duduk.” (HR. Bukhori)
d. Sholat Istikharah.
Jabir bin Abdullah berkata:
“Rosululloh mengajarkan kami istikharah dalam segala perkara, sebagaimana beliau mengajarkan kami surah Al-Qur’an. Beliau bersabda: “Apabila salah seorang kalian bercita-cita dalam satu masalah, maka sholatlah 2 roka’at selain fardhu, kemudian berdo’alah: (Do’a dalam hadits) lalu sebutlah hajatnya.” (HR. Bukhori)
e. Sholat Gerhana.
Apabila terjadi gerhana bulan atau gerhana matahari dianjurkan berseru dengan ucapan, “Ashsholaatu Jaami’ah.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari, Muslim dan Nas’i)
Apabila masyarakat sudah berkumpul di masjid, maka sholatlah berjama’ah dua roka’at dipimpin satu imam. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari, Muslim, ‘Aunul Ma’bud dan Nas’i)
Pernah terjadi gerhana matahari di waktu Rosululloh masih hidup, maka Rosululloh pergi ke masjid, lalu para sahabat berbaris membuat (shaf-shaf) di belakangnya, kemudian beliau bertakbir, lalu Rosululloh membaca bacaan yang panjang, kemudian bertakbir, lalu ruku’ satu ruku’ yang panjang; kemudian mengucapkan ‘Sami Allohuliman Hamidah’, kemudian berdiri, tidak sujud, lalu membaca bacaan yang panjang, tetapi kurang daripada bacaan (ayat) pertama, kemudian bertakbir, lalu ruku’ yang panjang, tetapi kurang daripada ruku’ yang pertama, kemudian mengucapkan, “Sami Allohuliman Hamidah Robbanaa Lakal Hamdu”, kemudian beliau sujud, kemudian beliau berbuat seperti itu pada roka’at kedua hingga sempurna empat ruku’ dalam empat kali sujud, dan gerhana matahari pun selesai sebelum beliau usai (dari sholat itu).
Disunnahkan bagi imam, apabila selesai mengucapkan salam agar berkhutbah di hadapan hadirin, yang berisi peringatan dan nasihat buat mereka serta menganjurkan mereka agar rajin beramal sholeh. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari, Muslim dan ‘Aunul Ma’bud dan Nasa’i)
f. Sholat Istisqo’.
Apabila hujan sangat lama tidak turun dan tanah menjadi gersang, maka dianjurkan kaum muslimin pergi ke tanah lapang untuk menunaikan sholat istisqo’ dua roka’at dipimpin oleh seorang imam, memperbanyak do’a dan istighfar, dan memutar selendangnya yang sebelah kanan diletakkan ke sebelah kiri. ((Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari, Muslim, ‘Aunul Ma’bud, Tirmidzi dan Nasa’i)
g. Sujud Tilawah.
Ibnu Hajm al-Muhalla V:105-106, mengatakan: “Di dalam al-Qur’an terdapat empat belas ayat sajdah, yaitu; Di penghujung surah al-‘Araf: (26), surah ar-Ra'd: (15), surah an-Nahl: (50), surah al-Israa’: (109), surah Maryam: (158), surah al-Hajj: (18), sedang ayat ke 77 dari surah al-Hajj bukan ayat sajdah, surah al-Furqaan: (60), surah an-Naml: (26), surah as-Sajdah: (15), surah as-Shad: (24), surah Haa Miim: (38), surah an-Najm: (62), surah al-Insyiqaq: (21), dan al-‘Alaq: (19).”
Dalam halaman yang sama, Ibnu Hazm menegaskan,”Sujud tilawah bukan wajib namun sekedar keutamaan (anjuran) dalam sholat fardhu, dalam sholat tathowwu dan juga di luar sholat, serta ketika matahari terbit dan terbenam. Boleh dalam keadaan bersuci boleh juga tidak dalam keadaan bersuci.”
Rosululloh sering mengucapkan ketika sujud tilawah pada waktu sholat malam, dengan ucapan: “Sajada wajhi lilladzii khalaqahuu wa syaqqa sam’ahuu wa bashara huu bihaulihii wa quwwatih (Bersujudlah wajahku kepada (Alloh) yang telah menciptakannya dan membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya).
h. Sujud Syukur.
Dianjurkan bagi orang yang mendapat nikmat, atau selamat dari petaka, atau pun mendapat berita yang menyenangkan agar melakukan sujud. (Shahih Ibnu Majah, dan lafazh ini baginya, ‘Aunul Ma’bud dan Tirmidzi).
i. Sujud Sahwi.
Nabi telah mensyariatkan kepada umatnya sejumlah ketentuan tentang sujud sahwi, yang dapat diringkas sebagai berikut:
1) Apabila lupa duduk tasyahud awal.
Rosululloh sholat bersama sahabat dua roka’at dari sebagian sholat lima waktu, kemudian beliau bangun tanpa duduk (tahiyyat awal), maka para sahabat pun berdiri mengikutinya. Tatkala Rosululloh menyelesaikan sholatnya dan kami memperhatikan ucapan salamnya, ternyata beliau bertakbir sebelum salam, lalu sujud dua kali, lantas duduk lalu memberi salam. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari, Muslim, Nasa’i, ‘Aunul Ma’bud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
2) Kelebihan Roka’at.
Rosululloh pernah sholat Zhuhur lima roka’at, lalu ditanyakan kepadanya, “Apakah sholat ini (sengaja) ditambah?” Jawab Beliau, “Ada apa?” jawab Abdullah: “Engkau telah sholat lima roka’at.” Maka kemudian beliau langsung sujud sahwi dua kali sesudah mengucapkan salam. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Nasa’i)
3) Kurang Roka’at.
Rosululloh pernah sholat dua roka’at, terus salam, kemudian Dzul Yadain bertanya kepadanya, “Apakah sholat ini telah dipendekkan?, ataukah lupa, ya Rosululloh?” Rosululloh balik bertanya, Apakah pertanyaan Dzul Yadain ini benar?” Maka jawab para sahabat, “Ya betul”, kemudian Rosululloh sholat dua roka’at lagi, lalu mengucapkan salam, lalu takbir, kemudian sujud (sahwi) seperti sujud biasa atau lebih panjang, kemudian bangun (dari sujud kedua), duduk lalu salam. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari, Muslim, ‘Aunul Ma’bud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
4) Ragu-ragu, tidak tahu berapa jumlah roka’atnya. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari, Muslim, ‘Aunul Ma’bud, Nasa’i, Ibnu Majah)
5) Hukum sujud sahwi.
Sujud sahwi wajib hukumnya, karena ada perintah Nabi , sebagaimana tersebut dalam hadits di atas dan Rosululloh selalu sujud sahwi setiap kali mengalami kelupaan, tak pernah absen barang sedikitpun.
6) Tempat sujud sahwi.
“Pendapat yang paling kuat yaitu yang membedakan antara kelebihan roka’at dengan kekurangan roka’at, antara syak (ragu-ragu) yang disertai dengan usaha memilih mana yang lebih dekat dengan kebenaran, juga antara syak yang disertai dengan keputusan memilih yang diyakini. Semua ini mengacu kepada nash-nash yang kuat, dan perbedaan yang terjadi padanya adalah perbedaan yang ma’qul, logis.”
“Yaitu apabila terjadi kekurangan, seperti lupa tasyahud awal, maka sholat yang dikerjakan membutuhkan penambahan (penam-balan), penambahan dilakukan sebelum salam agar dengannya sholat tersebut menjadi sempurna; karena sesungguhnya salam adalah penutup sholat sehingga setelah salam, yang bersangkutan boleh melakukan pekerjaan selain sholat.”
“Kalau disebabkan kelebihan, misalnya kelebihan satu roka’at, maka sujud sahwinya tidak boleh dimasukkan dalam sholat yang jumlah roka’atnya yang sudah kelebihan ini, maka sujud sahwi ini dilakukan sesudah mengucapkan salam, karena sebagai pengusir/penakluk setan dan kedudukannya sama dengan satu roka’at sendiri yang fungsinya sebagai penambah bagi sholat yang kurang roka’atnya. Karena Nabi menjadikan dua kali sujud ini sebagai satu roka’at.”
“Begitu juga apabila seseorang ragu-ragu sambil berusaha memilih yang lebih dekat kepada yang benar, maka ia harus menyempurna-kan sholatnya dan sujud sahwinya setelah salam sebagai pelecehan atau penghinaan terhadap setan. Demikian manakala ia terlanjur mengucapkan salam padahal belum sempurna, masih kurang sholatnya, lalu ia menyempurnakannya, sedangkan ucapan salam pada akhir sholat penyempurna ini sebagai tambahan; dan sujud sahwinya dilakukan sesudah salam.”
“Adapun apabila ia syak (ragu) dan tidak jelas baginya mana yang lebih kuat, maka di sini mungkin ia sholat empat atau pun mungkin lima roka’at, nah jika ia telah sholat lima roka’at, maka sujud sahwinya itu sebagai penggenap bagi jumlah roka’at sholatnya, sehingga berarti seakan-akan ia sholat enam roka’at dan bukan lima roka’at dan sujud sahwi ini didasarkan sebelum salam.
Sholat Hari Raya
1. Pergi ke tanah lapang
2. Tidak dikumandangkan adzan dan iqomah baik pada hari raya Fitri maupun pada hari raya Adha. (Muttafaqun ‘alaih)
3. Sifat sholat ‘Id.
Sholat hari raya terdiri atas dua roka’at, yang berisi dua belas kali takbir, tujuh kali pada roka’at pertama sesudah takbiratul ihram, sebelum membaca ayat, dan lima kali takbir pada roka’at kedua sebelum membaca ayat. (Shahih Ibnu Majah dan Misya’atul Mashabih)
4. Surah yang dibaca pada sholat hari raya.
“Dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Rosululloh biasa membaca pada dua hari raya dan pada hari Jum’at Sabbihis Marobbikal A’laa dan Hal Ataaka Haditsul Ghasyiyah.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil, Muslim, ‘Aunul Ma’bud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
5. Khutbah setelah sholat.
Dari Ibnu Abbas , ia bercerita, “Aku menghadiri sholat ‘Id bersama Rosululloh, Abu Bakar, Umar dan Utsman mereka semuanya sholat sebelum khutbah.” (Muttafaqun ‘alaih)
6. Tidak disyariatkan sholat qobliyah atau ba’diyah di waktu sholat ‘Iedien.

Tidak ada komentar:

ARSIP HASMI SOLO